Reli yang dipicu oleh kredit di Q1 berbau keuntungan jangka pendek dengan risiko derita jangka panjang, demikian menurut China Beige Book

Erabaru.net. Tiongkok kembali ke kebiasaan lama yang buruk dengan menopang perekonomian setelah terpuruk pada tahun 2018, namun hal itu tidak akan bertahan lama, demikian menurut China Beige Book. Membandingkan Tiongkok dalam jangka panjang dengan Jepang adalah sangat tepat mengingat proliferasi ekonomi zombie, kata Shehzad Qazi, direktur pelaksana China Beige Book International.

China Beige Book, sebuah layanan penelitian yang berbicara kepada ribuan perusahaan dan bankir di Tiongkok, melaporkan dalam tampilan awal pada kuartal pertama bahwa rebound di Tiongkok terutama karena didorong oleh kredit — meminjamkan kepada siapa saja dan semua orang telah mencapai tingkat yang tidak tampak sejak tahun 2013. Berkurangnya peluang tarif yang lebih keras karena pembicaraan perdagangan Tiongkok-Amerika Serikat semakin mendekati penyelesaian juga membantu.

Rebound berbasis luas, di mana perusahaan kecil meminjam lebih banyak daripada perusahaan besar, dan perusahaan swasta meminjam lebih banyak daripada perusahaan milik negara. Investasi naik dua digit dalam isyarat kuat bahwa Beijing sedang memutar haluan dari pedoman lama yang berusaha ditinggalkannya.

Shanghai Composite telah melonjak setelah bencana 2018. Shanghai Composite naik 21 persen pada tahun 2019, sementara yuan naik 2,5 persen year-to-date.

Tetapi China Beige Book memiliki alasan kuat untuk meragukan kekuatan reli yang bertahan karena dorongan rezim komunis untuk mengurangi ketergantungan pada kredit. Untuk pertama kalinya dalam setahun, biaya kredit di bank meningkat pada kuartal pertama. Bahkan, biaya pinjaman rata-rata telah melonjak — ke level tertinggi sejak pertengahan tahun 2017 dan secara dramatis lebih tinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Biaya kredit di bank rata-rata 6,90 persen, dan di pasar obligasi 9,91 persen.

Biaya bunga harus jatuh atau dipinjamkan, kata China Beige Book.

Dan yang lebih buruk lagi, penggunaan shadow banking meningkat dan mengalami peningkatan biaya kredit terbesar, mencapai level tertinggi dalam 4 tahun yaitu sebesar 11,42 persen, menurut data China Beige Book.

Rumusan bencana datang dari permintaan yang melambat dan beban utang yang tinggi. Tekanan deflasi masih mengganggu manufaktur dan komoditas. Ini adalah perkembangan yang mengkhawatirkan dalam jangka panjang.

“Beijing mulai membongkar keuangan bayangan, dengan konsekuensi lebih lanjut untuk kredit macet, transparansi keuangan, dan bahkan berpotensi stabilitas politik,” kata Shehzad Qazi.

“Karena tiada artinya meniadakan penghapusan utang dan penyeimbangan kembali sektoral, Beijing hanya fokus pada jangka pendek, menghindari perlambatan yang mengkhawatirkan secara politik,” tambah Shehzad Qazi.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menegaskan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto Tiongkok tidak akan turun di bawah 6 persen. Untuk tujuan ini, Tiongkok dapat mengurangi persyaratan cadangan bank dan suku bunga.

Dan hal ini telah menopang kebangkrutan untuk waktu yang lama. Namun, hal itu tidak dapat berjalan tanpa batas waktu dan memiliki konsekuensi pengembalian modal, yang akan menyebabkan perlambatan yang lebih buruk di masa depan. Dengan demikian, Beijing berencana untuk membersihkan tindakannya dan melakukan kampanye penghapusan utang.

Tetapi kemudian perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat melanda dan ekonomi Tiongkok berjuang di paruh kedua tahun 2018.

‘Japanifikasi’ Tiongkok

Ekonomi Jepang telah terpuruk selama beberapa dekade dengan tingkat suku bunga terendah, pertumbuhan minimal, dan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto yang tertinggi di G7.

“Tiongkok masih dalam tahap awal dinamika ini, tetapi sudah pasti berada di dalam proses itu,” kata Shehzad Qazi.

Banyak yang meragukan bahwa menurut rezim komunis, Tiongkok tumbuh dengan laju sekitar 6 persen. Inflasi diredam dan reli di bidang properti sangat didorong oleh perusahaan milik negara.

“Tahun 2018 dimulai dengan cukup baik tetapi berakhir dengan sedikit penerimaan atas klaim pertumbuhan stabil Beijing yang tak henti-hentinya,” menurut laporan China Beige Book.

Saat Tiongkok membuka kucuran kredit, perusahaan-perusahaan yang seharusnya bangkrut memperpanjang tanggal kadaluarsa utangnya dan “hidup” terus, dan pengurasan pertumbuhan di masa depan akan menjadi semakin memberatkan, kata Shehzad Qazi. (Rahul Vaidyanath/ Vv)

Ikuti Rahul di Twitter @RV_ETBiz

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular