Erabaru.net. Nama saya Aya. Usiaku 23 tahun dan baru lulus kuliah. Universitas tempat kuliahku juga bukan universitas yang sangat terkenal. Zaman sekarang ini semakin banyak lulusan perguruan tinggi.

Sebagian besar perusahaan dalam merekrut karyawan menilai dari pengalaman dan ketrampilan kerja, jadi saya memilih sebuah perusahaan periklanan yang baru berkembang sebagai sales.

Sebagai seorang wanita, mungkin banyak sekaum saya tidak mau bekerja sebagai sales lapangan, tetapi saya suka menjalin hubungan dengan orang-orang , dan saya ingin melatih kemampuan saya melalui penjualan, karena itu, saya juga tidak peduli besaran gaji saya, akhirnya saya memutuskan bekerja di perusahaan itu.

Perusahaan start-up itu tidak besar, total karyawan juga kurang dari 30 orang. Saya adalah pribadi yang supel dan suka menjalin persahabatan dengan siapa pun, lagipula saya yang terlahir di desa juga tak takut yang namanya hidup susah.

Jadi, meskipun baru bekerja, tapi kinerja saya sangat menonjol. Baru beberapa bulan bergabung dengan perusahaan, saya telah memenangkan beberapa penghargaan, dan saya merasa masa depan saya pasti cerah, tetapi saya menemukan fenomena aneh.

Setiap saat saya mendapatkan penghargaan, entah kenapa teman-teman kerja lainnya selalu memandang saya dengan penuh curiga atau tatapan hina, hal ini membuat saya sangat tidak nyaman. Bahkan supervisor kami itu juga bersikap sinis, bukankah seharusnya dia senang mengetahui kinerja anak buahnya sangat memuaskan ?

Inilah yangn membuatku tidak habis pikir, tetapi saya selalu merasa lebih baik mengerjakan tugas saya sendiri, lainnya masa bodohlah, namun satu hal yang terjadi kemudian benar-benar mengubah sikap saya.

Pagi itu saya berangkat ke kantor dengan sepeda motor. Ketika hampir tiba di kantor, saya melihat banyak orang yang berkerumun, entah apa yang terjadi.

Saya pun ke sana dan melihat seorang pengemis ditabrak mobil, sementara penabrak langsung kabur, tidak peduli dengan pengemis itu di pinggir jalan. Orang-orang yang menonton kasak kusuk, tetapi tidak ada yang peduli dengan pengemis itu.

Saya sendiri tanpa banyak pikir lagi segera menghubungi ambulan, dan menunggu di tempat. Saat itu, banyak orang membujukku untuk tidak turut campur dengan kejadian itu. Saya hanya tersenyum dan diam saja.

Setelah ambulan tiba, saya ikut mengantar pengemis itu ke rumah sakit dan membayar biaya pengobatan. Setelah itu, saya kembali ke kantor.

Hari itu saya sangat gembira sepanjang hari, karena bisa menyelesaikan segala urusan dengan lancar, tetapi siapa sangka keesokan paginya saat ke kantor, saya diberitahu bahwa saya telah dipecat.

Saya tidak terima kemudian menemui personalia untuk menanyakan alasannya, tetapi saya justru diberitahu bahwa saya telah menabrak orang dan tidak bertanggung jawab. Bos dengan terang-terangan berkata, : “Tidak ada yang berani mempekerjakan karyawan seperti itu.”

Saat itu, saya benar-benar tak bisa berkata apa-apa, dan juga tidak ada bukti, akhirnya dengan kesal mau tak mau harus mengurus surat pengunduran diri.

Sesampainya di rumah, saya semakin dongkol ketika memikirkan hal itu, lalu mengirim pesan pendek kepada bos untuk menjelaskan kronologinya.

Dan tak disangka, setengah jam kemudian, bos langsung menelepon saya, pertama, ia minta maaf, lalu memujiku sebagai karyawan yang membanggakan perusahaan. Bos berencana mengundang media setempat untuk mewawancarai saya.

Sampai di sini, saya seketika tahu dengan maksud bos. Perusahaan yang baru dibangun membutuhkan reputasi, demikian juga dengan perusahaan periklanan kami, jadi bos memanfaatkan saya pada kesempatan itu.

Saya datang ke rumah sakit pada keesokannya seperti yang dijanjikan, pengemis yang saya tolong mengucapkan terima kasih atas bantuan saya.

Saya menceritakan kronologinya sambil menghadap lensa kamera, dan terakhir saya menambahkan beberapa patah kata yang telah saya siapkan : “Meskipun perusahaan kami baru membangun bisnisnya, tapi kami berprinsip melayani masyarakat. Saya percaya pimpinan kami akan bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan korban selama perawatan”.

Saya melirik bos sekilas usai wawancara, bos jelas tidak tahu saya akan berkata seperti itu, dari wajahnya itu jelas agak terkejut dan tidak senang, tetapi di hadapan media, mau tidak mau dia harus berkomitmen untuk menuntaskan masalah itu, sementara saya sendiri diam-diam merasa sangat senang karena tujuan saya tercapai.

Usai wawancara, bos langsung menggerutu di depanku, dia bilang tidak seharusnya saya berjanji membantu biaya pengobatan si pengemis.

Namun saya langsung menanggapinya : “Pertama, saya bukan karyawan Anda sekarang, jadi jangan menyalahkan dan mengecam tindakan saya. Kedua, saya tidak bisa menerima budaya intrik perusahaan Anda, jadi saya juga tidak akan kembali lagi. Ketiga, moralitas palsu tidak bisa bertahan lama, kertas tak mungkin membungkus api (Kebohongan akan terkuak dengan sendirinya suatu hari nanti).”

Setelahb itu, saya langsung pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan mantan bos-ku yang berdiri sendirian sambil ternganga.

Belakangan saya mendengar orang yang melaporkan saya itu ternyata supervisor kami, mungkin dia juga ada di sana saat kejadian, tetapi dia juga dipecat karena hal ini. Saya benar-benar tidak habis mengerti untuk apa melakukan sesuatu yang merugikan orang juga mencelakai diri sendiri ?(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular