Erabaru.net. Sony Corp menutup pabrik telepon pintar di Beijing, kata seorang juru bicara pada tanggal 28 Maret 2019, saat raksasa elektronik Jepang itu berupaya memangkas biaya supaya lebih menguntungkan karena merugi dalam memproduksi  handset.

Bisnis memproduksi  handset ini adalah salah satu dari sedikit titik lemah Sony dan menghadapi kerugian 95 miliar yen (863 juta dolar Amerika Serikat) untuk tahun keuangan yang berakhir bulan Maret 2019.

Juru bicara yang menolak disebutkan namanya itu mengatakan keputusan untuk menutup pabrik itu tidak terkait dengan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Juru bicara itu mengatakan produksi akan berhenti pada akhir bulan Maret 2019, tetapi menolak mengatakan berapa banyak bidang pekerjaan yang akan terpengaruh oleh penutupan tersebut.

Setelah penutupan, Sony hanya akan membuat telepon pintar di pabriknya di Thailand tetapi akan terus melakukan pengalihandaya beberapa produksi untuk kontrak produsen, demikian kata juru bicara tersebut.

Beberapa analis mengatakan Sony harus menjual bisnis telepon pintarnya mengingat persaingan harga yang tajam dengan pesaingnnya di Asia. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar global kurang dari satu persen, hanya mengirimkan 6,5 juta handset pada tahun keuangan ini, terutama ke Jepang dan Eropa.

Namun, Sony mengatakan tidak berniat menjual perusahaannya karena mengharapkan telepon pintar menjadi bagian sentral dari jaringan nirkabel generasi kelima, di mana mobil dan berbagai perangkat dapat terhubung, yang akan menguntungkan perusahaannya pada tahun keuangan yang dimulai April 2020.

Fujitsu Ltd tahun lalu menjual bisnis telepon selulernya ke dana investasi Polaris Capital Group, sehingga hanya menyisakan tiga produsen telepon pintar di Jepang, yaitu  — Sony, Sharp Corp, dan Kyocera Corp — di pasar global yang didominasi oleh Apple Inc, Samsung Electronics Co Ltd, dan pesaing dari Tiongkok yang lebih murah.

Samsung akhir tahun lalu mengatakan akan menghentikan operasi di salah satu pabrik telepon selulernya di Tiongkok, karena penjualannya di pasar telepon pintar terbesar di dunia itu merosot.

Foto: Seorang fotografer memegang telepon pintar Sony Xperia Z3 di Berlin, Jerman. File yang terinfeksi di telepon pintar tersebut ditemukan untuk menyampaikan data ke Tiongkok. (Sean Gallup / Getty Images)

Terjadi Penurunan Pengiriman Telepon Pintar

Tiongkok membanggakan diri sebagai pasar telepon pintar terbesar di dunia, tetapi ekonomi yang melambat, diperburuk oleh perang dagang dengan Amerika Serikat, telah menyebabkan permintaan gadget menurun di seluruh sektor teknologi.

Pengiriman telepon pintar ke Tiongkok pada bulan Februari 2019 turun ke level terendah dalam enam tahun, data pasar mengindikasikan, karena konsumen terus-menerus menunda mengganti telepon pintarnya dengan yang baru akibat perlambatan ekonomi.

Jumlah telepon pintar yang dikirim dari pabrik ke pengecer tidak sesuai dengan jumlah yang dibeli konsumen.

Pengiriman telepon pintar ke Tiongkok berjumlah 14,5 juta unit pada bulan Februari 2019, turun 19,9 persen dari tahun lalu, menurut data dari Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi Tiongkok, sebuah lembaga penelitian yang berafiliasi dengan pemerintah Tiongkok.

Pengiriman telepon pintar ke Tiongkok pada bulan Februari 2019 adalah pengiriman yang terendah sejak Februari 2013, di mana saat itu pengiriman telepon pintar ke Tiongkok mencapai 20,7 juta unit. (Pei Li & Josh Horwitz/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular