Erabaru.net. Sebagai generasi muda, sulit bagi kita untuk bisa memahami kesedihan dan kepedihan karena kehilangan anggota keluarga yang kita sayangi semasa perang. Selain itu juga sangat sulit rasanya untuk bisa bertemu kembali begitu anggota keluarga kita tercerai berai karena kecamuk perang.

Pada tahun 1950, saat pecahnya perang di Semenanjung Korea, puluhan ribu rakyat Korea Selatan dan Korea Utara terpaksa berpisah dari kerabat dan teman-teman mereka. Seorang gadis cilik berusia 5 tahun yang lahir di P’yŏngan Selatan, Korea Utara, kehilangan orangtuanya akibat perang itu.

Pada saat itu, ia menyaksikan rakyat yang tak berdaya kehilangan nyawanya, gadis cilik yang belum tahu apa-apa itu seketika menahan histeris, dan bahkan lupa dengan namanya sendiri…

Pada waktu itu, Turki menempatkan 15.000 tentara untuk mendukung PBB, termasuk Suleyman, seorang perwira militer berusia 25 tahun, yang terpaksa meninggalkan tunangannya dan dikirim bersama sahabat karibnya ke pulau terpencil dan miskin itu.

Dia bertugas memperbaiki kendaraan dan mesin di pasukannya, tetapi mereka diserang oleh The Chinese People’s Liberation Army (PLA) atau Tentara Pembebasan Rakyat China, sehingga mereka harus bergegas ke pos militer AS di sekitar P’yŏngan Selatan, dan di sinilah Suleyman bertemu dengan gadis cilik berusia 5 tahun itu.

Suleiman tidak tega melihat bocah cilik yang tak berdaya itu, kemudian membawanya ke kamp, mengingat pertemuan mereka di bawah sinar Bulan yang cerah kala itu, Suleyman menamai gadis cilik dengan nama “Ayla”, yang memiliki arti “Bulan” dalam bahasa Turki, dan melambangkan keberadaannya seperti cahaya Bulan.

Ayla tumbuh besar di bawah asuhan para tentara Turki, meskipun beda bahasa, tetapi Ayla perlahan-lahan membuka hatinya pada Suleyman yang sudah seperti sesosok ayah baginya, dia memanggilnya “baba” dalam bahasa Turki, bahkan belakangan dia belajar bahasa Turki, dan menjadi jembatan komunikasi antara bangsa Korea dan Turki.

Dalam proses kebersamaan dengan Ayla, Suleyman sangat menyayangi Ayla seperti putri kandungnya, mereka mengabadikan banyak foto hitam putih. Namun, kebersamaan ayah dan anak ini hanya berlangsung selama satu setengah tahun.

Pada tahun 1953, tentara Turki diperintahkan untuk kembali ke negaranya. Suleyman yang melihat Semenanjung Korea yang terbelakang dan miskin ketika itu, kemudian memutuskan membawa Ayla ke Turki. Suleyman secara diam-diam memasukkan Ayla ke dalam sebuah peti kayu berikut persediaan roti dan air di dalamnya.

Awalnya Suleyman ingin membawa kotak kayu itu ke kapal, tetapi rencana itu diketahui atasannya. Akhirnya Suleyman dan putri angkatnya itu terpisah. Suleyman yang kehilangan sahabat dan Ayla, putri angkatnya kembali ke Turki sendirian, sedangkan Ayla dititipkan ke Ankara College, yang khusus menampung anak yatim di Suwon City, Gyeonggido, Korea Selatan.

Waktu ditarik ke tahun 2010, ketika itu bertepatan dengan peringatan 60 tahun Perang Korea. Suleyman yang sudah berusia 85 tahun saat itu, bukan lagi seorang pemuda gagah seperti saat Perang Korea, tetapi ia tetap rindu pada Ayla, seorang anak yang tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dengannya.

Dia meminta bantuan pada “The Korean War Commemorative Committee” di Turki. Melalui bantuan warga Korea setempat, mereka menghubungi stasiun TV MBC di Korea Selatan. Kebetulan pada saat itu, stasiun TV setempat sedang membuat film dokumenter. Mereka menerima permohonan Suleyman untuk membantunya mencari Ayla yang tak diketahui keberadaannya selama 60 tahun.

Namun, karena Suleyman tidak tahu nama Korea Ayla, sehingga sangat sulit mencarinya hanya dengan nama Ayla. Lalu berkat bantuan Duta Besar Turki untuk Korea Selatan, tim produksi akhirnya menemukan Cui Dongnan, yang juga seorang anak yatim pasca perang, dan dari ceritanya diketahui bahwa Ayla adalah sahabat karib adik perempuannya ketika itu. Belakangan mereka berdua pindah ke Seoul, dan Ayla menggunakan nama ketiga dalam hidupnya di Ankara College, yakni Ayla – Eunja Kim.

Namun, setelah Eunja Kim pindah ke Seoul, ia dan adik Cui Dongnan perlahan-lahan berpisah hingga akhirnya kehilangan kontak.

Setelah beberapa bulan pencarian, tim produksi akhirnya mengetahui Eunja Kim telah menetap di Incheon dan memiliki seorang putra dan putri. Saat itu, tim produksi memperlihatkan foto hitam putih yang ditinggalkan Eunja Kim 60 tahun silam.

Eunja Kim dengan seksama memandangi gadis cilik di foto itu. “Ternyata gadis cilik dalam foto ini adalah saya …” dan matanya tampak berkaca-kaca sambil menatap foto dirinya semasa kecil hingga tak kuasa membendung linangan air mata.

“Bagi saya, ayah bagaikan sesosok orang yang hanya akan muncul dalam mimpi, saya telah mencarinya selama puluhan tahun … tak disangka ayah (Suleyman) juga sedang mencariku ternyata !”katanya tertahan sambil menahan tangis.

Menurut laporan stasiun TV setempat, Eunja Kim melahirkan sepasang anak setelah menikah pada usia 24 tahun. Namun malang, suaminya meninggal karena kecelakaan, meninggalkannya sendirian membesarkan anak-anaknya. Sekarang Eunja Kim telah menjadi seorang nenek dari dua cucu laki-laki dan cucu perempuan.

Pada tahun 2010 lalu, Suleyman ke Korea Selatan bersama teman-teman seperjuangannya yang masih hidup untuk menghadiri upacara peringatan ke-60 tahun Perang Korea kala itu. Tim produksi kemudian mempertemukan ayah dan anak ini di bangunan Ankara School di Yeouido-dong (Taman Yeouido), Seoul, Korea Selatan.

Sebelumnya, Eunja Kim secara khusus membelikan jas baru untuk Suleyman, ayah angkatnya, sedangkan Suleyman juga menyiapkan makanan ringan Turki yang mungkin disukai Eunja Kim, dan melampirkan uang kertas sebagai uang saku. Meski telah berpisah selama 60 tahun, namun dalam hati Suleyman, Eunja Kim selamanya adalah Ayla-nya yang lucu.

Ayah dan anak itu akhirnya bertemu kembali setelah menanti selama beberapa dekade. Keduanya tidak bisa menahan tangis saat bertemu, dalam pertemuan itu Ayla yang bernama Korea Eunja Kim berseru memanggil “baba”(Ayah) dalam bahasa Turki.

Saat mengenang semasa kecilnya, Ayla Eunja Kim masih ingat Suleyman, ayah angkatnya akan membuat selimut untuknya. Meski pun sangat sibuk di kamp militer, Suleyman pasti akan menyempatkan diri untuk menyuapinya roti, dan susu setiap hari.

“Saya tidak akan pernah berada di sini sekarang jika tidak ada baba/ayah ketika itu !”kata Ayla-Eunja Kim menahan isak tangis harunya

Eunja Kim membawa serta putra dan cucunya untuk bertemu dengan suami istri Suleyman. Ketika Suleyman melihat raut wajah anak-anak yang sama dengan Alya, dia pun tidak bisa menahan senyum bahagianya. Sekeluarga kemudian mengabadikan foto keluarga!

Pada tahun 2017 lalu, Suleyman yang sudah berusia 91 tahun tak mampu lagi melawan takdir hidupnya yang akan segera berakhir, Ayla Eunja Kim bergegas terbang ke Istanbul, Turki untuk menjenguk ayahnya yang terakhir kali sebelum berpulang kepada-Nya.

Ketika dia melihat ayahnya berbaring lemah di tempat tidur, dia pun tak kuasa menahan tangisnya. Sementara, dalam detik-detik pertemuan itu, Suleyman tetap saja selalu merindukan putrinya.

“Sebagai manusia, dan sesosok ayah, saya selalu berdo’a agar Ayla Eunja Kim memiliki hidup yang sempurna.” Terakhir ayah dan anak itu saling berpegangan erat dan menjadi pertemuan terakhir mereka di dunia.

Kisah nyata Suleyman dan Ayla Eunja Kim diangkat ke layar lebar di Turki dengan judul “Ayla: The Daughter of War”, dan film itu seketika mengharukan jutaan penonton saat ditayangkan pada tahun 2017.

Setelah menunggu dalam penantian yang panjang, akhirnya mereka bertemu kembali dengan kerabat yang dirindukan sepanjang masa setelah 60 tahun kemudian. Yakin, cinta dan kasih sayang antara ayah dan anak ini telah melintasi kebangsaan dan jarak, dan menjadi ikatan batin yang paling indah dalam kehidupan ini!

Meskipun Ayla kehilangan ayah angkatnya, namun, Ayla tidak kehilangan sentuhannya dengan Turki dan rakyatnya: Dia telah menjadi bagian dari Turki.(jhn/yant)

sumber :avjet、MBC

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular