Zhou Xiaohui

Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya berencana untuk menetapkan Korps Garda Republik Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris asing. Langkah itu, pertama kali disampaikan kepada media dalam video konfrensi pers pada 8 April 2019.

 Jika resmi diumumkan, semua perusahaan dan perorangan tidak diperbolehkan memberikan dukungan dalam bentuk apa pun bagi perusahaan yang dikendalikan oleh IRGC ataupun bagi pejabat IRGC, seperti layanan finansial, peralatan pelatihan, rekomendasi pakar, senjata atau transportasi dan lain sebagainya.

 Pejabat IRGC dan pihak yang terkait transaksi akan dikenakan hukum perdata atau pidana, termasuk dituntut. Selain itu, bagi perwakilan IRGC di luar negeri atau perusahaan yang dikendalikannya, akan dilarang masuk atau berdiam di wilayah Amerika Serikat.

 Analisa menunjukkan, ini adalah pertama kalinya AS menetapkan institusi pemerintah negara asing sebagai organisasi teroris, ini adalah tindakan yang belum pernah terjadi dalam sejarah, dan akan berdampak sangat mendalam.

 Akan tetapi, ada juga pejabat AS seperti ketua Kepala Staf Gabungan Joseph Dunford berpendapat, tindakan ini mungkin tak akan menimbulkan efek merusak ekonomi Iran, sebaliknya justru memicu perlawanan keras oleh Iran terhadap AS.

 Lalu, mengapa AS menetapkan Garda Revolusi Iran tersebut sebagai kelompok teroris?

 Umumnya ada anggapan, politik Iran memiliki tiga kaki: pemimpin tertinggi, presiden dan garda revolusi Iran (IRGC). Garda Revolusi Iran yang dibentuk pada 1979 itu awalnya beranggotakan 500 personel yang seluruhnya merupakan warga Iran yang mengabdi pada pemimpin agama tertinggi Iran waktu itu yakni Ayatollah Khomeini. Tujuan awal pembentukannya adalah untuk mengukuhkan rezim, menekan angkatan bersenjata nasional sebelumnya yang setia pada Raja/Shah Iran, posisinya setara dengan pasukan bersenjata.

 Setelah terbentuk, garda revolusi pun mendapat kepercayaan sangat tinggi dari Khomeini.  Pada tahun 1980 membesar hingga mencapai 500.000 personel, yang dikuasai oleh 500 orang perwira awal pembentukannya. Dalam konflik dalam negeri maupun Perang Irak-Iran, prestasi garda revolusi sangat menonjol. Tahun 1985, berkat dukungan Khomeini, garda ini diperluas hingga memiliki pasukan darat, laut, dan udara, kedudukannya pun perlahan mulai berada di atas tantara konvensional Iran yang ada.

Pada April 1988, Garda Revolusi Iran melakukan serangan terhadap armada kapal AS yang keluar masuk Teluk Persia, dengan menempatkan ranjau pada jalur pelayaran utama Teluk Persia, mengakibatkan kapal frigate “Roberts” milik AL Amerika menabrak ranjau dan mengalami kerusakan.

Tahun 1989, Ali Khamenei terpilih sebagai pemimpin agama tertinggi di Iran, kekuatan pendukung intinya berasal dari garda revolusi. Kemampuan garda revolusi di bidang militer erat kaitannya dengan pemimpin tertinggi, menyebabkan pengaruh kendalinya di Iran memasuki berbagai lapisan, termasuk bidang ekonomi, media massa dalam negeri serta tiga institusi intelijen Iran.

Akan tetapi, Khamenei membatasi intervensinya pada kekuasaan politik, oleh sebab itu intervensi garda revolusi terhadap urusan dalam dan luar negeri presiden agak lemah.

Pada 1990, garda revolusi mendirikan perusahaannya sendiri yakni Ghorb Group, perusahaan ini awalnya bertugas mengerjakan proyek penggalian parit perang dan perbaikan benteng, kemudian juga membangun bangunan sipil, sektor finansial, pertanian, konsultasi dan lain sebagainya, direkturnya juga merupakan anggota garda revolusi.

Tahun 2005, Ahmadinejad yang pernah menjabat di garda revolusi terpilih menjadi presiden dan menjabat kembali di tahun 2013. Selama periode ini, garda revolusi pun masuk ke dunia bisnis dan terbentuklah sebuah “kerajaan bisnis” yang sangat besar.

Saat ini, berbagai perusahaan di bawah panji garda revolusi mencapai ratusan, yang tidak hanya mendapat kontrak dalam jumlah besar dari pemerintah, dan mengendalikan sebanyak 60 jalur perbatasan di selatan Iran, mengendalikan 57% impor dan 30% ekspor Iran kecual minyak bumi. Sementara industri obat-obatan, minyak bumi dan telekomunikasi Iran, pada dasarnya diawasi oleh garda revolusi.

Ahmadinejad bahkan pernah mengeluarkan perintah, agar memperluas kekuasaan garda revolusi dalam bidang ekonomi. Salah satunya adalah menempatkan perwakilan garda revolusi untuk duduk di dalam jajaran dewan direksi Bank Sentral Iran. Tanpa perintah garda revolusi, direksi Bank Sentral tidak boleh membuat keputusan apa pun, khususnya kredit bernilai lebih dari USD 1 juta dolar. Bahkan menempatkan perwakilan garda revolusi dalam organisasi investigasi dan perencanaan nasional, mengawasi telekomunikasi dan informasi di Iran.

Dengan sendirinya perusahaan di bawah naungan garda revolusi juga terlibat dalam impor senjata, persenjataan yang diimpor dari Tiongkok dan Rusia. Ini dapat dilihat pada parade militer garda revolusi setiap tahunnya. Hingga saat ini, pemerintah Iran telah memanfaatkan “minyak bumi ditukar dengan senjata” untuk membina hubungan dan mendapat bantuan militer dari Beijing dan Moskow.

Seorang kaum reformis moderat yang pernah bekerja di sisi Khomeini yakni Hassan Rouhani setelah terpilih sebagai Presiden Iran, senantiasa berusaha menjaga jarak dengan garda revolusi, dan reformasi ekonominya telah menganggu kepentingan garda revolusi.

Tahun 2014 dalam pidatonya Rouhani secara tidak langsung menyinggung tuntutan garda revolusi dalam hal ekonomi dengan mengatakan, “Yang dulunya dilakukan secara diam-diam sekarang harus berubah menjadi terbuka.” Komentar ini menyulut kemarahan petinggi garda revolusi.

Akan tetapi, Khamenei yang mengandalkan garda revolusi pun tidak bisa bersikeras dengan Rouhani. Apalagi Rouhani adalah pilihan rakyat Iran yang sah, membawa aspirasi rakyat, Khamenei masih membutuhkannya untuk menjaga kelangsungan pemerintahan Iran. Di dalam negeri Iran juga terdapat konflik.

Pada Agustus tahun lalu pemerintahan Trump menetapkan sanksi baru terhadap Iran, melarang segala bentuk transaksi terkait mata uang dolar AS, emas, dan logam langka seperti aluminium, pesawat komersil, dan batubara.

Lalu AS juga mengeluarkan sanksi lebih lanjut untuk membatasi garda revolusi, khususnya perusahaan di bawah naungannya. Tujuannya selain “memutus dana yang digunakan rezim tersebut untuk memperkuat diri, serta mendukung kematian dan pengrusakan”, mungkin juga membantu kaum reformis Iran, secara tidak langsung memerangi PKT dan Rusia.

Mengenai dampak yang akan ditimbulkan akibat tindakan ini, apakah Garda Revolusi Iran akan menempuh tindakan pembalasan radikal, masih harus menunggu perubahan seiring waktu. (SUD/WHS/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular