- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Kisah yang Menyentuh: Cinta, Hidup dan Mati!

Erabaru.net. Rongga mata pria itu tampak menjorok ke dalam, tulang pipinya nampak mencuat, tampak sangat kurus dan lemah. Meskipun masih diinfus, dan terus disuntik dengan pereda sakit dosis tinggi, namun (organ) hati pria itu tetap saja terasa nyeri tak tertahankan. Dia menderita kanker hati, dan telah mencapai garis batas kematian.

Sementara itu, seorang wanita dengan perut buncitnya berjalan ke samping tempat tidur, dan duduk di samping pria itu. Ia membelai perut pria itu dan berkata dengan perlahan : “Tak lama lagi kamu akan melihat anak kita, kamu akan segera menjadi ayah!”

Pria itu membuka matanya dan melihat perut buncit wanita di sampingnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum sekilas dengan susah payah. Dalam sekejap, wajah pria mengkerut, tampak ekspresi yang menyakitkan, ia menyeringai menahan nyeri pada organ hatinya. Pria itu memandangi perut wanita itu lagi sambil meneteskan air mata sedih, tampaknya dia tidak sempat lagi menunggu kelahiran anaknya.

[1]
Ilustrasi.

Wanita itu segera memegang tangan pria itu dan menghiburnya, kamu harus bertahan, tidak lama lagi anak kita akan lahir. Kamu akan segera melihat anak kita! Kata-kata ini merupakan analgesik si wanita untuk menenangkan si pria, sekaligus obat ajaib untuk memperpanjang usia hidupnya.

Wanita itu selalu menghibur dengan kalimat ini setiap saat pria itu kesakitan. Selama sebulan sejak dirawat di rumah sakit, si wanita selalu mengucapkan kalimat ini untuk memberi kekuatan dan kepercayaan diri pada si pria untuk bertahan hidup.

Wanita itu tahu masa kelahiran anaknya masih 13 hari lagi. Tapi bisakah si pria bertahan hingga sampai saat itu? Sepertinya sangat sulit, tanda-tanda kematian pria itu telah muncul dalam dua hari terakhir.

Wanita itu menjadi gelisah saat membayangkan kondisi pria di depan matanya itu. Dia berkata pada ibu dan mertuanya bahwa dia mau ke kamar mandi, meminta kedua ibunya untuk menjaga sebentar pria itu. Padahal wanita itu berbohong, dia tidak ke ke kamar kecil, tetapi menemui dokter.

Wanita itu memohon kepada dokter dan meminta dokter berusaha meringankan rasa sakit pria itu dan bantu dia bertahan lebih dari 10 hari.

Namun, dokter menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa penyakit pria itu telah mencapai batasnya, meminta wanita itu untuk segera menyiapkan pemakaman.

Wanita itu pun menangis mendengar keterangan dokter. Sambil terisak, ia berkata bahwa dia tidak bisa membiarkan pria itu pergi begitu saja membawa penyesalan, dia harus berusaha agar pria itu bisa melihat kelahiran bayinya.

[2]
Ilustrasi.

Akhirnya, wanita itu berkata kepada dokter bahwa masa persalinannya masih ada 13 hari lagi, tapi dia tidak bisa menunggu lagi sampai saat itu, dia minta dioperasi caesar!

Dokter itu tersentuh oleh cinta kasih wanita itu dan ia segera menghubungi dokter kandungan. Dokter mengatur jadwal operasi caesar pada pukul 9 pagi keesokannya.

Wanita itu kembali ke kamar dan berkata pada si pria, badannya tiba-tiba merasa tidak enak waktu ke kamar mandi, kemudian periksa ke dokter kandungan dan dokter bilang akan segera melahirkan ! Dokternya bilang paling lambat besok jam 9 pagi sudah akan melahirkan, kamu bisa melihat putra kita besok !

Tiba-tiba terdengar “ah” suara si pria saking gembiranya. Pria yang tampak seperti daun layu itu tiba-tiba tampak segar kembali seakan disiram embun pagi. Dia tertawa bahagia dan berkata, aku akan melihat putraku besok! aku akan menjadi ayah !

Malam itu, si pria sampai tak bisa memejamkan mata/tidur saking gembiranya dan rasa nyeri di hatinya juga tampaknya tidak kambuh lagi.

Pada jam 9 keesokan harinya, orangtua wanita itu, mertuanya dan pria yang berbaring di atas ranjang pasien, mengantar wanita itu ke ruang bersalin. Kedua keluarga menunggu di luar ruang bersalin dengan suasana tegang, dan diam-diam berdoa agar ibu dan anak yang akan lahir itu selamat.

Jarum jam dinding yang tergantung di atas pintu terus berdetak, orantua wanita itu, mertuanya dan pria itu semuanya tampak tegang seakan ikut berdetak seperti detakan jarum jam yang terus berdetak.

Semenit demi semenit berlalu. Ketika jarum jam bergerak ke angka 10: 8, pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter wanita berkostum biru langit muncul di pintu dan berkata singkat “kabar baik.” Pria yang tengah berbaring di atas ranjang pasien tiba-tiba bangkit dan duduk.”

[3]
Ilustrasi.

Dokter wanita itu tersenyum dan berjalan ke hadapan pria itu, selamat ya! Istri Anda melahirkan seorang bayi mungil ! Jangan khawatir ibu dan anak itu selamat! katanya sambil tersenyum pada pria itu

Tak lama kemudian sayup-sayup terdengar isak tangis bayi dari dalam ruang bersalin.

Mendengar tangisan bayi, pria itu sangat gembira dan tertawa bahagia. Dia tertawa sekuatnya karena merasa bahagia dan berkata dengan keras, aku mendengar anakku memanggilku ayah! Aku….

Belum sempat melanjutkan kata-katanya, pria itu tiba-tiba memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: