Erabaru.net. Namaku Zhang Xia, kenal dengan suami dari seorang teman. Keluarga suamiku berasal dari kota, memiliki usaha toserba di kota. Kondisi ekonomi jauh lebih baik daripada keluargaku.

Awalnya aku tidak mau bertemu, karena kondisi ekonomi keluarga yang terpaut jauh. Aku seorang gadis dari desa, punya ibu yang terbaring sakit di rumah, sementara kesehatan ayah juga tidak begitu baik.

Ilustrasi.

Tetapi temanku bilang sudah terlanjur membuat janji ketemu. Akhirnya mau tidak mau aku pergi menemuinya, dan kesan pertama aku merasa suamiku itu lumayan juga, kemudian aku mencoba menjalaninya dulu.

Setelah memastikan hubungan lebih serius, suatu hari aku diajak ke rumahnya. Orangtuanya tidak terlalu menyukaiku. Aku menyadari itu karena kondisi ekonomi keluargaku yang tidak sepadan. Mereka merasa aku tidak pantas bersanding dengan putranya, tetapi putranya hanya mau menikah denganku, akhirnya orangtua mau tidak mau setuju.

Saat pernikahan, tidak ada satu pun hadiah untukku. Aku juga tidak mempermasalahkannya, yang penting suamiku bisa bersikap baik padaku, itu sudah cukup.

Setelah menikah, mertuaku tidak pernah lagi ke toko. Kami berdua yang mengelola toko itu, mulai dari belanja, menghitung sirkulasi barang, dan sebagainya, setiap hari bukan main lelahnya.

Ilustrasi.

Suatu malam saat akan tutup toko dan pulang, gudang di dalam toserba tiba-tiba terbakar, suami bergegas memadamkan api, dan aku juga ikut masuk ke dalam karena takut terjadi apa-apa dengan suamiku. Akibatnya, demi menyelamatkan suami, wajahku terbakar dan rusak. Untungnya, kami berdua baik-baik saja, sementara barang-barang di gudang hanya terbakar sebagian kecil.

Aku dirawat selama lebih dari sebulan di rumah sakit, selama perawatan, suamiku yang menjaga dan mengurus semua keperluanku, sedangkan ibu mertua hanya menjenguk sekali kemudian tidak pernah muncul lagi.

Karena area wajah yang terbakar cukup besar, sehingga meninggalkan bekas, dan tampak menyeramkan, dan karena faktor ini, ibu mertua semakin tidak menyukaiku. Ia tidak pernah mengatakan aku bisa seperti ini karena demi menyelamatkan putranya, sebaliknya malah bilang itu adalah hal yang sudah sewajarnya aku lakukan.

Ilustrasi.

Ditambah lagi, perkawinanku yang sudah berjalan beberapa tahun aku belum punya anak, sehingga semakin menambah kebencian ibu mertuaku, dan wajahku sekarang juga rusak.

Aku tidak punya status sedikit pun di rumah, dan aku juga tidak bisa ke toko untuk membantu suamiku, aku tak tega melihatnya yang pastinya kelelahan setiap hari tanpa ada yang membantu.

Ibu mertuaku selalu memprovokasi sumaiku untuk menceraikanku. Hingga akhirnya, suamiku pun tidak tahan lagi dengan tekanannya, mengajukan cerai dan memberiku satu unit rumah sebagai kompensasi.

Pada hari itu, ibu mertua memintaku untuk pindah. Aku pun mengemasi barang-barangku dan pergi sambil menitikkan air mata.

Aku tidak pergi ke rumah yang baru, aku pulang ke rumah ibuku. Aku membuka koper dan merapikan barang-barang, ketika mengeluarkan pakaian, aku melihat sesuatu di bawah tumpukan barang-barangku, dan aku terpaku. Itu adalah foto manisku bersama suami dari awal kenalan sampai menikah.

Ilustrasi.

Selain iu juga sebuah buku tabungan, dan sepucuk surat. Ternyata suamiku takut aku akan menderita di luar, jadi ia menabungkan Rp 500 juta dalam buku tabungan untukku, ia menyelipkan semua itu tanpa sepengetahuan ibunya.

Aku terpakusambil melihat foto-foto kenangan bersama suami, dan tanpa bisa ditahan lagi aku pun menangis sambil memandangi foto itu.

Rasa cinta kami berdua masih ada, tetapi kenyataan membuat kami tidak bisa bersama. Mungkin ini akan lebih baik baginya juga untukku. Kami hanya memilih cara lain untuk saling mencintai.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular