Erabaru.net. Gao Yinglan menghabiskan sepanjang hidupnya mencari nafkah dengan menjadi pemulung, tetapi yang membanggakan, meski dengan susah payah ia berhasil membesarkan kedua anaknya.

Gao Yinglan sekarang berusia lebih dari 70 tahun, Wang Chuan putranya telah berkeluarga dan tinggal di kota, sedangkan Wang Tingting putrinya menikah dengan seorang petani miskin di desa.

Ilustrasi.

Orang yang sudah berusia lanjut memang rentan jatuh sakit, demikian juga dengan Gao Yinglan, karena itulah dia berencana tinggal di rumah putranya di kota. Tetapi baru beberapa hari, menantu perempuannya mulai tidak suka, dan menghinanya.

Menantunya tidak mau duduk dan makan semeja dengannya, sementara Wang Chuan putranya juga tidak peduli.

Setelah sekitar satu minggu, menantu perempuannya mulai tidak sabar dan menyuruh Wang Chuan membawa pulang ibunya itu ke kampung.

Bu, ibu sudah terbiasa dengan kehidupan di desa, suasana di kota tidak cocok untuk ibu, sebaiknya ibu pulang ke desa saja. O ya ibu kan punya simpanan sendiri dari hasil menjual barang-barang bekas, jadi tidak perlu saya kirimi uang lagi kan ?” Kata putranya.

Tak disangka, sang putra berkata seperti itu pada ibu kandungnya. Ibunya diam saja mendengar kata-kata putranya, dia pulang ke kampung sambil menangis sedih.

Ilustrasi.

Sementara itu, Wang Tingting, anak perempuannya telah dikarunia 3 anak. Menantu laki-lakinya bekerja sebagai buruh tani untuk menghidupi keluarganya. Hidup mereka juga serba memprihatinkan.

Meskipun putrinya dikenal sebagai anak yang berbakti, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, dan tak bisa banyak membantu selain membawakan kebutuhan pokok sehari-hari setiap bulan untuknya.

Kini, usia Gao Yinglan semakin tua, gerakan kakinya tidak selincah dan sekuat dulu lagi, matanya juga mulai rabun, kondisi kesehatannya semakin memburuk dari hari ke hari dan akhirnya jatuh sakit.

“Orang-orang bilang melahirkan dan membesarkan anak untuk bersandar di masa tua”. Namun, Selama jatuh sakit beberapa hari itu, Gao Yinglan telah menelepon putranya agar bisa pulang ke kampung sejenak. Namun, putranya selalu menghindar dengan berbagai alasan.

Sementara itu, Gao Yinglan tidak memberitahu kondisinya kepada putri dan menantu laki-lakinya, karena mereka bekerja di tempat yang jauh.

Tak lama kemudian, Gao Yinglan yang sudah lemah akhirnya tak sanggup melawan takdir dan meninggal dalam kesedihan.

Ilustrasi.

Setelah mendapat kabar dari kepala desa, kedua anak Gao Yinglan pulang untuk pemakaman. Wang Chuan pulang dengan mobil mewahnya, sedangkan Wang Tingting datang dengan naik bus.

Sesampainya di rumah, Wang Chuan bukannya mengurus pemakaman ibunya, ia dan istrinya malah sibuk mencari-cari sesuatu di kamar mendiang ibunya.

Mereka pikir ibunya pasti meninggalkan sedikit simpanan, namun setelah lama mencari-cari, mereka tidak menemukan sepeser pun dan tidak ada barang apa pun yang berharga.

“Dasar wanita tua, masa selama lebih dari 30 tahun memulung tidak ada simpanan sedikit pun, apalagi hidupnya kan hemat, huh, sudah mati harus kita pula yang urus,” kata menantu perempuannya menggerutu.

Sementara itu, putrinya dan menantunya tampak sangat sedih dengan kepergian ibunya yang mendadak itu, mereka sibuk mengurus pemakamannya.

Setelah Wang Chuan tidak menemukan apa pun, dia berpikir ibunya pastu sudah memberikan semua uangnya untuk Wang Tingting. Lalu dia bertanya kepada kakak perempuannya itu, dan karena masalah ini, kedua kakak beradik pun bertengkar hebat.

Ilustrasi.

Pemakaman Gao Yinglan diadakan secara sederhana. Setelah pemakaman selesai, Wang Chuan dan istrinya bergegas kembali ke kota. Sementara itu, Wang Tingting masih sibuk merapikan barang-barang peninggalan ibunya. Saat mengemasi barang-barang di kamar mendiang ibunya, Wang Tingting juga merapikan foto mendiang ibu dan ayahnya.

Ketika Wang Tingting mengambil foto ayahnya, ia menemukan ada buku tabungan lama di balik bingkai foto itu. Ada lebih dari Rp 600 juta tertera dalam buku tabungan itu. Semua uang itu adalah hasil tabungan ibunya selama bertahun-tahun dan tidak pernah digunakan sedikit pun meski dalam keadaan sakit.

Di lembaran terakhir buku tabungan tertulis kata sandi, dan itu membuat Wang Tingting dan suaminya terkejut.

Ilustrasi.

Saat itulah, Wang Tingting baru ingat bahwa ketika dia menjenguk ibunya saat itu, ibunya selalu bercerita tentang ayahnya semasa hidup, ia bercerita tentang liku-liku hidup mereka, dan mengingatkannya agar jangan lupa membawa pulang foto dirinya berikut foto ayahnya nanti saat dia tiada.

Ternyata sang ibu telah memikirkan dengan matang, ia tahu persis Wang Chuan, adiknya itu tidak akan menyentuh potret ayahnya. Sampai di sini, Wang Tingting pun tak tahan menahan air mata sedih dan haru sambil mendekap potret almarhum ayah dan ibunya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular