Erabaru.net. Pada tanggal 1 April 2019 raksasa teknologi Tiongkok, Alibaba secara resmi mengumumkan  bahwa mereka telah mengembangkan alat kecerdasan buatan untuk memerangi penyebaran berita palsu online.

Dinamakan “Rumor Shredder,” perusahaan Alibaba mengklaim bahwa alat ini mampu menguji keaslian informasi internet, dengan tingkat akurasi 81 persen.

Menurut laporan tanggal 1 Maret 2019 dari media Tiongkok Qianjiang Evening News, algoritma alat kecerdasan buatan ini dikembangkan oleh sekelompok peneliti di laboratorium penelitian dan pengembangan Alibaba untuk teknologi mutakhir, DAMO Academy (Akademi untuk Penemuan, Petualangan, Momentum, dan Pandangan).

Li Quanzhi, kepala ilmuwan di DAMO Academy yang mengembangkan proyek itu, mengatakan kepada Qianjiang Evening News bahwa Rumor Shredder pertama-tama melacak pos asli atau sumber informasi untuk membuat penilaian awal mengenai keaslian penerbit asli: apakah itu media outlet atau perorangan; apa yang telah diedarkan penerbit sebelumnya; dan apakah penerbit memiliki catatan menyebarkan berita palsu.

Ini juga akan melihat kepercayaan dari platform tempat berita tersebut pertama kali diterbitkan. Misalnya, Rumor Shredder menganggap media yang dikelola pemerintah Xinhua dan platform pemerintah lainnya sebagai sumber yang “dapat dipercaya.”

Kemudian, algoritme mengidentifikasi elemen-elemen kunci dari artikel berita, dan membandingkannya dengan database artikel berita yang sudah dikumpulkan — memeriksa untuk melihat apakah berita tersebut tampak logis dan beralasan. Jika berita tersebut tampaknya tidak  berdasarkan informasi rezim Tiongkok, maka skor keaslian akan berkurang.

“Kecerdasan buatan Shredder Rumor” ini diharapkan dapat membantu mengurangi beban kerja untuk “auditor media sosial,” menurut Si Luo, kepala ilmuwan di DAMO Academy. Auditor semacam itu disewa oleh platform media sosial Tiongkok dan sensor internet rezim Tiongkok untuk memantau dan menyaring konten yang menurut rezim Tiongkok tidak pantas.

Li Yuanhua, mantan asisten profesor sejarah di China Capital Normal University yang kini tinggal di Sydney, mengatakan kepada Epoch Times berbahasa Mandarin dalam wawancara tanggal 5 April 2019 bahwa alat kecerdasan buatan ini kemungkinan akan digunakan oleh rezim Tiongkok sebagai alat penindasan.

“Setiap penelitian ilmiah murni, ketika berada di tangan rezim komunis Tiongkok, akan diubah menjadi alat untuk menekan suara-suara pembangkang, dan pada akhirnya akan melayani tujuan jahat.”

Li Yuanhua menunjukkan bahwa para peneliti Alibaba mendefinisikan Xinhua sebagai situs web yang kredibel, padahal Xinhua sebenarnya bagian dari perangkat propaganda rezim Tiongkok. “Jika basis kebohongan didefinisikan sebagai sumber yang dapat dipercaya, analisis lebih lanjut tidak ada artinya,” kata Li Yuanhua.

Pengamat Tiongkok yang independen, Gu He juga percaya memeriksa plagiarisme adalah alasan untuk menutupi fungsi “polisi internet” alat kecerdasan buatan.

“Ini akan membantu pemerintah Tiongkok menekan ‘penyebar rumor,'” kata Gu He dalam wawancara tanggal 5 April 2019 dengan Epoch Times berbahasa Mandarin. Istilah ini sering digunakan oleh pihak berwenang untuk menuntut pembangkang yang kritis terhadap rezim Tiongkok.

“Dengan menggunakan ‘Rumor Shredder,’ pemerintah Tiongkok tidak hanya menghemat  tenaga kerja, tetapi juga menindak lebih keras terhadap para pembangkang.”

Alat Alibaba ini juga menarik perhatian para pengguna internet Tiongkok.

“Menanti untuk menggunakan produk ini untuk mengevaluasi China Central Television [penyiar negara], People’s Daily, dan Global Times [keduanya koran pemerintah],” tulis seorang netizen di bagian komentar di artikel berita mengenai alat baru tersebut.

Netizen lain menulis: “Rezim komunis Tiongkok selalu mengklaim bahwa mereka melayani rakyat Tiongkok. Semoga alat kecerdasan buatan ini dapat  menguji apakah hal itu benar.”

Seorang netizen menyebutkan sebuah topik tabu, Pembantaian Lapangan Tiananmen yang terjadi 30 tahun lalu: “Dapatkah kecerdasan buatan ini memberitahu kami apakah tank menghancurkan pengunjuk rasa yang mati selama gerakan demokrasi mahasiswa Tiananmen 1989?” (Olivia Li/Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular