Erabaru.net. Laporan media Tiongkok mengenai kartu identifikasi yang baru untuk warganegara Tiongkok telah menghasilkan banyak diskusi di internet — karena sejumlah informasi akan disimpan di dalamnya.

Meskipun sejak itu beberapa kantor polisi berusaha memadamkan kekhawatiran publik dengan mengatakan laporan media hanyalah rumor, netizen masih saja mengomentari topik tersebut pada platform media sosial populer seperti Weibo dan WeChat.

Kartu Identitas Generasi Ketiga

Gagasan untuk meningkatkan mutu kartu identitas, yang digunakan oleh semua warganegara Tiongkok, pertama kali diusulkan oleh Huang Guangmiao, anggota Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, sebuah badan penasihat politik, pada bulan Maret 2011.

Situs web resmi pemerintah menunjukkan bahwa kartu identitas yang baru masih dalam tahap desain.

Tetapi sejak tanggal 9 April 2019, banyak media Tiongkok telah mulai melaporkan fitur-fitur teknologi baru pada kartu identitas tersebut, mencatat bahwa pihak berwenang akan segera meluncurkan kartu identitas yang baru.

Portal berita Sohu melaporkan bahwa kartu identitas yang baru memiliki beberapa fungsi baru, termasuk modul GPS tertanam yang akan melacak lokasi geografis si pemegang kartu identitas setiap saat. Laporan tersebut menjelaskan bahwa fitur tersebut dapat membantu polisi menemukan kartu identitas tersebut jika hilang.

Kartu identitas tersebut juga akan mengintegrasikan fungsi kartu perbankan, kartu kredit, kartu jaminan sosial, dan loyalitas pengecer atau kartu keanggotaan seseorang ke dalam kartu identitas yang multifungsi tersebut. Sidik jari seseorang, yang sudah disimpan pada kartu identitas saat ini, dapat digunakan untuk keperluan verifikasi saat melakukan pembayaran elektronik dengan kartu identitas yang baru.

Kartu ini juga akan menyimpan data biometrik seseorang, seperti golongan darah dan informasi DNA. Laporan Sohu menjelaskan bahwa fitur ini dapat membantu polisi dalam menyelidiki kasus kriminal, serta membantu rumah sakit yang mungkin mencari donor organ yang sesuai.

Kartu yang multifungsi ini mengingatkan sistem kredit sosial Tiongkok, yang memberikan skor untuk perilaku publik semua warganegara Tiongkok. Skor dicatat di bawah masing-masing nomor identitas warga, sehingga memudahkan polisi untuk melihat skor kredit sosial seseorang setelah memindai kartu identitas tersebut.

Seseorang dengan skor kredit rendah dapat dilarang menggunakan transportasi umum atau menginap di hotel. Ratusan orang telah diblokir dari naik pesawat karena nilai kredit yang rendah.

Laporan media mengenai kartu identitas yang baru telah memicu kegemparan publik. China Youth Daily yang dikelola pemerintah melaporkan pada tanggal 10 April 2019 bahwa kartu identitas yang baru tidak akan memiliki fungsi GPS yang ditanamkan, mengutip informasi yang diperoleh dari “saluran resmi resmi.”

Adapun fungsi lainnya, otoritas Tiongkok belum membuat tanggapan resmi untuk mengatasinya.

Sistem Kartu Identitas Tiongkok

Setelah Partai Komunis Tiongkok mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949, negara itu awalnya tidak menerapkan sistem kartu identitas. Orang-orang menggunakan catatan keluarga atau memperoleh surat resmi dari pemerintah setempat jika mereka perlu memverifikasi identitas mereka.

Pada tahun 1984, Tiongkok meluncurkan kartu identitas generasi pertama, kartu kertas hitam-putih yang dibungkus film poliester; tetapi kartu dapat dengan mudah rusak dan disalin.

Pada bulan Januari 2004, rezim Tiongkok memutakhirkannya menjadi kartu non-kontak dengan chip tertanam yang menyimpan foto pemilik dan 10 sidik jarinya.

Pihak berwenang sering memeriksa kartu identitas orang untuk masuk ke kereta, bus, dan hotel. Akibatnya, para pembangkang dan banyak etnis minoritas yang diawasi dengan ketat oleh rezim Tiongkok sering tidak dapat bepergian tanpa terdeteksi oleh polisi. Untuk memungkinkan perjalanan, banyak yang beralih ke pasar gelap untuk mendapatkan kartu identitas palsu. (Nicole Hao/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular