Erabaru.net. Tiongkok berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertamanya di Laut Kuning tahun ini, dan telah mengumumkan rencana untuk membangun sekitar 20 pembangkit listrik tenaga nuklir lagi dalam waktu dekat jika yang pertama berhasil.

Berita ini telah menimbulkan kecurigaan pihak Korea Selatan, yang terletak tepat di seberang Laut Kuning dari Tiongkok.

Pembangkit listrik Tenaga Nuklir Lepas Pantai

CCTV, penyiaran yang dikelola pemerintah Tiongkok menerbitkan laporan pada tanggal 12 Maret 2019 bahwa tahun ini Tiongkok akan mulai membangun pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertamanya di Laut Kuning di lepas pantai kota Yantai, Provinsi Shandong.

Laporan tersebut mengutip Luo Qi, direktur Institut Tenaga Nuklir Tiongkok, badan penelitian dan pengembangan Perusahaan Nuklir Nasional Tiongkok milik negara, yang mengatakan bahwa pembangkit listrik tersebut akan menggunakan reaktor tenaga nuklir kecil ACP100S, sebuah sistem yang dikembangkan secara eksklusif oleh institut tersebut.

Proyek ini akan menelan biaya 14 miliar yuan (2,08 miliar dolar Amerika Serikat), dan siap untuk beroperasi pada tahun 2021.

Majalah militer Global Times yang dikelola pemerintah melaporkan pada tanggal 3 Mei 2018, bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir terapung juga memiliki aplikasi militer.

Laporan tersebut mengatakan pembangkit listrik tersebut dapat bertindak sebagai “kapal induk nuklir yang tidak tenggelam” untuk pangkalan-pangkalan pulau, karena kekuatannya yang dihasilkan dapat menjaga peralatan militer tetap beroperasi untuk jangka waktu yang lama.

“Pembangkit listrik tenaga nuklir terapung dapat menjamin bahwa peralatan militer di sebuah pulau, termasuk radar, jet tempur, rudal pertahanan udara, dan rudal anti-kapal, bekerja terus-menerus,” menurut laporan tersebut.

Sementara itu, laporan bulan Januari 2016 oleh China Securities Journal yang dikelola negara mencatat bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir terapung  juga dapat memenuhi permintaan energi produksi minyak lepas pantai di Laut Bohai, sebuah teluk  yang terletak di dalam Laut Kuning. Untuk menyediakan tenaga bagi produksi minyak semacam itu, pembuat kapal milik negara Tiongkok berencana untuk bekerja sama dengan Perusahaan Nuklir Nasional Tiongkok untuk membangun 20 pembangkit listrik terapung, menurut laporan tersebut.

Dalam sebuah laporan pada bulan November 2018, Jaringan Bisnis Tiongkok yang dikelola pemerintah mengutip Ye Qizhen, seorang pakar tenaga nuklir terkemuka, yang mengatakan ACP100S dapat menghasilkan listrik dan melakukan desalinasi air laut, yang dapat menyediakan tenaga dan air untuk staf yang bekerja di platform minyak lepas pantai.

Kepedulian Korea Selatan

Karena Laut Kuning terletak antara Tiongkok dengan semenanjung Korea, setiap kebocoran nuklir akan mencemari air laut dan tanah di dekatnya. Outlet media Korea Selatan, News Pulse melaporkan pada tanggal 22 Maret 2019 bahwa beberapa warganegara Korea Selatan menyuarakan kekhawatiran bahwa “setiap kecelakaan nuklir di luar negeri akan menimbulkan kekacauan di Korea Selatan.”

Posting blog Februari 2016 oleh Singularity University yang berbasis di Amerika Serikat menjelaskan bahwa tsunami atau gempa bumi dapat menyebabkan kebocoran nuklir, yang menyebabkan polusi radiasi.

Rezim Tiongkok telah merangkul tenaga nuklir meskipun ada kekhawatiran beberapa negara mengenai kecelakaan nuklir. Menurut Asosiasi Energi Nuklir Tiongkok, negara itu saat ini memiliki 44 unit pembangkit listrik tenaga nuklir di darat, dan berencana membangun lebih dari 100 unit pembangkit listrik tenaga nuklir di darat pada akhir 2020.

Sejauh ini, Rusia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir terapung, bernama Akademik Lomonosov. Pembangkit listrik ini memiliki dua reaktor, dan direncanakan untuk operasi formal musim panas ini, menurut Bellona, ​​sebuah organisasi nirlaba lingkungan yang berbasis di Eropa. (Nicole Hao/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular