- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Pengantin ISIS Shamima Begum Dapat Bantuan Hukum Perjuangkan Kewarganegaraan Inggris

London – Pengantin ISIS, Shamima Begum diberikan bantuan hukum yang didanai oleh wajib pajak Inggris dalam upayanya untuk membatalkan keputusan yang mencabut kewarganegaraan Inggris-nya. Meskipun, Begum sendiri belum meminta bantuan hukum untuk menangani kasusnya.

Begum melakukan perjalanan ke Suriah pada usia 15 tahun dari Inggris. Dia kemudian bergabung dengan apa yang disebut kekhalifahan, yang dikuasai oleh milisi ISIS.

Kewarganegaraannya dicabut oleh Menteri Dalam Negeri Inggris setelah serangkaian wawancaranya dari sebuah kamp pengungsi, dimana dia menyatakan hanya ada sedikit penyesalan. Akan tetapi, dia mengatakan ingin kembali ke Inggris.

Keluarganya mengajukan gugatan hukum untuk mengembalikan kewarganegaraannya. Menurut BBC, pengacaranya telah berhasil mengajukan permohonan dana untuk menangani kasusnya.

Keputusan itu telah ditentang oleh beberapa anggota parlemen, yang menuntut perubahan peraturan. Aturan yang memungkinkan pengacara untuk berhasil mengajukan permohonan pendanaan hingga ratusan ribu pound, untuk memperjuangkan kembalinya Begum ke Inggris.

Sistem hukum Inggris memungkinkan siapa pun yang menjadi penggugat di pengadilan Inggris, apakah mereka warga negara atau tidak, untuk mengajukan permohonan pendanaan hukum jika mereka tidak mampu membayar pengacara.

[1]
(Kiri ke Kanan) Kadiza Sultana, Amira Abase, dan Shamima Begum dalam foto yang dirilis oleh polisi. (Foto : Polisi Metropolitan London)

Menurut BBC, kasus ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

“Kasus-kasus sebelum Komisi Banding Imigrasi Khusus (SIAC) adalah salah satu tantangan hukum paling rumit yang dihadapi oleh pemerintah,” kata koresponden Urusan Dalam Negeri BBC Dominic Casciniani.

“Ini karena mereka biasanya melibatkan kombinasi kompleks dari laporan intelijen MI5, yang tidak dapat diungkapkan kepada penggugat, dan hukum lama tentang mencapai sidang yang adil.”

Tory MP Tim Loughton, mantan ketua komite pemilihan urusan dalam negeri, mengatakan kepada Daily Mail, “Memainkan kartu korban ketika dia jelas telah menjadi peserta aktif organisasi teroris paling barbar di dunia. Padahal Inggris seharusnya tidak ada hubungannya dengan dia.”

Anggota parlemen Tory Philip Davies mengatakan kepada surat kabar itu, “Benar-benar menjijikkan bagaimana kita mendanai orang ini yang merupakan seseorang yang bergabung dengan organisasi yang ingin menghancurkan cara hidup kita dan negara kita.”

Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt mengatakan kepada BBC, “Pada tingkat pribadi, itu membuat saya sangat tidak nyaman karena dia membuat serangkaian pilihan dan dia tahu pilihan yang dia buat.”

“Namun, kami adalah negara yang percaya bahwa orang dengan kemampuan terbatas harus memiliki akses ke sumber daya negara jika mereka ingin menantang keputusan yang dibuat oleh negara tentang mereka dan, untuk alasan yang jelas, keputusan itu dibuat independen.”

Begum bepergian ke Suriah sebagai anak sekolah, yang baru berusia 15 tahun, dari rumahnya di London. Dia baru-baru ini melahirkan di sebuah kamp pengungsi Kurdi, setelah memicu kontroversi dengan sejumlah wawancara dengan wartawan.

Dalam wawancara, dia mengindikasikan ingin kembali ke Inggris. Akan tetapi, dia menyatakan sedikit penyesalan atau indikasi bahwa dia telah melepaskan ideologi kekhalifahan.

Klaim pengacara atas uang bantuan hukum datang sehari setelah sebuah laporan oleh Sunday Telegraph mengklaim bahwa Dia adalah anggota ‘polisi moral’ ISIS yang ditakuti.

Begum bekerja untuk al-Hisba, menurut sumber yang mengatakan kepada surat kabar itu bahwa dia menegakkan aturan berpakaian yang ketat berdasar kultus teror. Ketika bertugas, anggota al-Hisba selalu menenteng AK-47. Mereka memiliki reputasi sebagai penegak hukum yang kejam.

The Telegraph mengutip seorang aktivis yang menceritakan bagaimana Begum diduga meneriaki wanita-wanita Suriah di kota Raqqa karena memakai sepatu berwarna cerah.

Aghiad al-Kheder, seorang aktivis yang mendokumentasikan kejahatan ISIS, mengatakan kepada media itu, “Anggota kelompok kami dari Raqqa mengenalnya dengan baik.”

Laporan itu juga mengklaim Begum berperan dalam membujuk wanita lain untuk bergabung dengan perjuangan jihad.

Seorang juru bicara Badan Bantuan Hukum Inggris mengatakan kepada Daily Mail, “Kami tidak dapat mengomentari kasus individu. Siapa pun yang mengajukan permohonan bantuan hukum dalam kasus ‘Komisi Banding Imigrasi Khusus’ akan menjalani tes kelayakan yang ketat.” (SIMON VEAZEY/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :