Epochtimes.com

Pada saat yang sama dengan Lao Tzu (Tionghoa: 老子, pinyin: Lǎo Zǐ, lahir 601 SM) merupakan ahli filsafat yang terpopuler dan juga merupakan pendiri Taoisme kini di Tiongkok, Buddha Sakyamuni dilahirkan di Asia Selatan. 500 tahun sesudah itu, di Israel, Asia Barat juga dilahirkan seorang sang Sadar yang disebut: Yesus Kristus.

Baik Lao Zi, Buddha Sakyamuni maupun Yesus Kristus, dititahkan turun ke bumi guna menyebarkan hukum alam semesta dan menyelamatkan umat manusia serta meletakkan fondasi kebudayaan kultivasi.

Penyebab utamanya adalah Sang Pencipta telah mengenali bahwa moralitas umat manusia mulai menuju kebobrokan maka dilakukanlah pengaturan untuk generasi turun temurun.

Di tingkatan terendah kebudayaan kultivasi aliran Tao, juga sesuai takdirnya telah dilahirkan Konfusius (Kong Zi, Kong Hu Cu, seorang guru atau orang bijak yang terkenal dan juga filsuf sosial Tiongkok. Falsafahnya mementingkan moralitas pribadi dan pemerintahan, serta menjadi populer karena asasnya yang kuat pada sifat-sifat tradisonal Tionghoa, 551 SM – 479 SM).

Dia memimpin para siswa mengelilingi semua negara (vassal) guna mengkhotbahkan “Jalan Tengah Emas (zhōng yōng zhī dào)” serta “Kebajikan, Keadilan, Kesantunan, Kearifan dan Komitmen” sebagai prinsip menjadi manusia di dunia fana.

Konfusius meneliti secara mendalam sistem etika dan tata krama dari Tiga Zaman: dinasti Xia, Shang dan Zhou Barat, yang dimulai dari kaisar Tang – Yao, Yu – Shun hingga Qin Mogong, membenahi dan mengedit kembali sejarah dan kebudayaan dari para leluhur kaisar Tiongkok dalam mengatur negara, yang kemudian oleh generasi sesudahnya disebut sebagai: 6 kitab aliran Konfusius.

Lao Zi membicarakan cara berkultivasi; Konfusius hanyalah meninggalkan kepada umat manusia bagaimana caranya menjadi manusia yang dibekali dengan ideologi Jalan Tengah Emas.

“Untuk kali pertama Kong Hu Cu beraudiensi kepada Lao Zi” dari halaman buku ilustrasi “Gambar Jejak Agung Kong Hu Cu”, pelukis anonym dari dinasti Ming. (public domain)

Hukum Taoisme dan Konfusianisme di zaman Chun Qiu (Musim Semi dan Gugur) dan Zhan Guo (Negara vassal saling berperang) muncul didunia, ratusan aliran juga serempak muncul, yang lurus dan sesat tercampur baur, asli dan palsu sulit dibedakan. Mereka ialah:  Bing Jia (aliran kemiliteran), Mo Jia (aliran Mo Zi), Fa Jia (aliran Legal), Zong Heng Jia (aliran malang melintang), Yin Yang Jia (aliran Yin dan Yang), Ming Jia (aliran Kenamaan), Yi Jia (aliran Kedokteran), Nong Jia (aliran Pertanian), Za Jia (aliran Campuran), Shu Hua Jia (aliran lukis dan kaligrafi) dan puluhan aliran utama lainnya, selain itu masih ada para tokoh arif bijaiksana: Yan Zi, Sun Zi, Guan Zi, Zhuang Zi, Xun Zi, Meng Zi, Mo Zi, Gui Gu Zi, Han Fei Zi dan Zi-Zi lainnya (Zi adalah sebutan untuk para orang suci dan orang bijak di zaman Chun Qiu – Zhan Guo; 770 SM – 221 SM).

Tentu saja ada yang diutus ke dunia untuk memperkaya kebudayaan, namun ada pula cukup banyak tokoh yang datang untuk mengacau dan merusak penyebaran hukum ortodoks yang lurus.

Untuk itu, kaisar Qin Shi Huang selain membutuhkan kekuatan militer guna menaklukkan 6 negara (vassal) lainnya juga terlebih lagi harus membenahi dari sumbernya, yakni menjernihkan pikiran sekilas yang lurus, demi melindungi kebudayaan warisan Dewata dari bangsa Tionghoa.

Pada saat yang sama di Tiongkok berada pada periode akhir Chun Qiu yakni para kesatria penguasa saling bermunculan, ratusan aliran berebut menyatakan filsafatnya, muncul Lao Zi dan Konfusius, di Eropa Sang Pencipta juga mengatur munculnya peradaban Yunani kuno.

Di Yunani kuno juga muncul sekelompok filsuf seperti Thales, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles. Orang-orang bijak Timur dan Barat ini menciptakan dua sistem peradaban utama umat manusia.   

Nabi Yunani kuno Socrates memprakarsai peradaban Yunani kuno. Peradaban Yunani kuno warisan Dewata berpengaruh besar bagi pasca Kekaisaran Romawi, ketika Kaisar Caesar menaklukkan Laut Mediterania dan benua Eropa, juga membawakan peradaban Yunani kuno ke sekitar Laut Mediterania dan banyak daerah di daratan Eropa, ia telah meletakkan landasan bagi seluruh peradaban Barat.

Kaisar Caesar berkuasa dengan kekuatan militer dan memerintah dengan birokrasi sipil berperan sebagai aktor B dari peran AB keseluruhan drama besar sejarah dunia, efek backup-nya dapat diselesaikan, maka juga sudah menjadi sejarah.

Selanjutnya, pemikiran, filosofi dan kebudayaan Eropa memiliki kesenjangan pengembangan lebih dari 1.000 tahun, sampai pada awal abad ke-13, pasukan besar Klan Emas dari penguasa dunia Jenghis Khan telah menjebol kegelapan Renaisans Eropa sebelum fajar, dan pada saat yang sama juga berfungsi sebagai pembangkit kehidupan bagi pemikiran dan Renaisans Eropa

Seluruh sejarah periode ini sepertinya mirip penyebaran ajaran Tao dan Kong Hu Cu dari Tiongkok ke dunia yang telah menegakkan iman yang tulus terhadap sang Pencipta; sebuah replika dari Kaisar Qin dan Kaisar Wu dari dinasti Han yang mengembangkan, membesarkan dan melindungi budaya warisan Dewata.

Status Qin Shi Huang sebagai Kaisar, Putra Langit, pengemban tugas berat memprakarsai dinasti baru, segala prinsip, hukum dan tata cara duniawi semuanya di pilih dan dipergunakan oleh Qin Shi Huang.

Generasi penerus senantiasa ingin mencari tahu sumber pemikiran Qin Shi Huang sebenarnya berasal dari mana, apakah dari aliran Legal (Fa Jia) atau aliran Konfusianisme atau aliran Tao, Yin Yang Jia (aliran Yin & Yang) dan lain sebagainya, namun selalu tidak dapat  menemukan pintu alirannya.

Sebenarnya pemikiran/filsafat dari semua aliran ini “hanya untuk dipergunakan” dan “menyediakan untuk dipilih” bagi dirinya saja.

Qin Shi Huang mendirikan sendiri sistem hukum yang dipergunakan untuk mendidik rakyat, sebenarnya berbeda sistem dari “hukum” Shang Yang (390 SM –  338 SM, Seorang negarawan dan reformator Negara Qin selama periode Zhan Guo) yang disebut sebagai ahli Fa Jia di awal Negara Qin berdiri.

Selain itu kemunculan ratusan aliran disebabkan oleh karena Qin Shi Huang akan memprakarsai era baru budaya warisan Dewata, maka semua sistem Surga di badan langit ingin mengikat jodoh dengan Tanah Dewata, untuk siap dipilih, agar budaya, pemikiran dan keistimewaan mereka dimasukkan kedalam panggung besar sejarah 5.000 tahun Tiongkok.  (LIN/Whs/asr)

Bersambung

Share

Video Popular