- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Dua Kisah Menyentuh Tentang Seorang Ibu

Erabaru.net. Ini adalah dua kisah tentang perjuangan seorang wanita dan juga sebagai seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya.

Seorang wanita apoteker

[1]
Ilustrasi.

Dia adalah seorang apoteker, tetapi juga seorang wanita yang malang. Baru menikah, suaminya sudah meninggal karena kecelakaan. Ketika ingin menyusul suaminya, ia mendapati dirinya sedang hamil.

Dia berkata pada dirinya bahwa dia tidak punya hak melarang anaknya untuk lahir ke dunia, jadi dia merawat kandungannya hingga anaknya lahir. Awalnya ia berencana menyusul sang suami bersama dengan anaknya, tetapi ketika melihat wajah mungil anaknya yang merah merona, dia pun memutuskan untuk membesarkan anaknya samapi dewasa, tidak peduli betapa sulitnya.

Dia bekerja sambil merindukan putranya di rumah, hingga suatu hari, karena tidak konsentrasi pada pekerjaannya, ia memberikan obat yang salah kepada pasien, dan hampir fatal akibatnya, dia pun diberhentikan dari pekerjaannya.

Setelah itu, demi putranya, dia melakukan pekerjaan apa pun meski sangat menguras tenaga dan melelahkan. Putranya kemudian tumbuh dewasa dan dia mencarikan calon istri untuknya. Dia seperti sebuah pelita yang menghabiskan minyaknya sendiri.

Kerja keras selama bertahun-tahun hingga membuatnya menderita batuk menahun.

Menantu perempuannya mulai bersikap kurang ajar, dan membujuk putranya untuk mengusirnya.

Sadar akan sikap menantu perempuannya, dan agar tidak membuat dilema putranya, dia pergi dan bekerja sebagai pembantu pada keluarga orang lain, sehingga dengan demikian, dia punya alasan untuk pindah.

Setelah sekian lama, kesehatan fisiknya semakin memburuk, dan tak sanggup untuk bekerja lagi, sehingga terpaksa kembali ke rumah putranya. Tetapi biaya obat bulanan membuat putranya yang sederhana ini cukup kewalahan juga.

Pada suatu hari, putra menyiapkan obat untuknya, kemudian pergi. Ketika pulang ke rumah, dia menemukan ibunya telah bunuh diri dengan memotong urat nadinya. Di atas meja tampak semangkuk obat yang sangat bersih, dan sepucuk surat untuk putranya.

“Anakku, apa kamu lupa dengan pekerjaan ibumu dulu. Jika ibu minum obat yang kamu siapkan, polisi akan menemukanmu. Obatnya sudah ibu buang, mangkuknya juga sudah ibu cuci bersih. Ibu mengerti apa maksudmu. Ibu hanya berharap jagalah dirimu baik-baik.”

Dan anaknya pun seketika jatuh pingsan setelah membaca surat peninggalan ibunya……..

Kisah seorang ibu tiri

[2]
Ilustrasi.

Mungkin cukup banyak orang yang tidak suka begitu berbicara tentang ibu tiri. Ya, selama ribuan tahun, citra ibu tiri sebagai sosok orang yang kejam telah berurat berakar dalam hati setiap orang.

Tapi dalam cerita ini mengisahkan sesosok ibu tiri yang sangat baik dan penuh kasih.

Sambil membesarkan putrinya, dia menikah dengan seorang pria dua anak. Sejak saat itu, wanita konservatif ini menjadi bagian dari keluarga miskin ini.

Kedua anak tirinya sangat tidak suka padanya, mereka sengaja memajang foto ibu kandungnya sebagai tanda bahwa mereka hanya punya satu orang ibu, sang suami tidak tahan dengan sikap kedua putranya, lalu berusaha menghentikan perilaku mereka.

“Biarkan saja mereka menggantung foto ibunya sebagai pelepas rindu,” katanya dengan lembut.

Kedua putranya tidak suka sekolah, mereka selalu mebolos. Sehingga dia sering dipanggil ke sekolah oleh gurunya.

Dia selalu memandangi guru dengan rendah hati dan tutur kata yang santun. Sementara kedua anak tirinya selalu menghardiknya di depan guru.

‘Dia bukan ibu kandung kami, ibu kandung kami sudah meninggal”.

Saat putri kandungnya berusia 17 tahun, di mana demi menghemat, dia dengan tega menikahkan putri satu-satunya yang berusia 17 tahun itu ke tempat yang jauh ke Mongolia Dalam.

Pada hari dia mengantar putrinya ke stasiun kereta api, dia melambaikan tangan ke putrinya di peron.

Tangannya tampak begitu kusam …. sementara itu, anak tirinnya yang tidak tahan melihat pemandangan itu, tiba-tiba berteriak memanggilnya ibu, dan dengan terkejut dia menoleh ke belakang memandang kedua anak tirinya itu.

Kedua anak tirinya kembali berseru memanggilnya ‘Ibu’, mendengar panggilan itu, dia pun tak kuasa menahan tangisnya. Pengorbanannya selama ini tak sia-sia, kedua anak tirinya akhirnya memanggilnya ibu untuk pertama kalinya.

Sejak itu, kedua anak tirinya itu menjadi sangat tekun, mereka berhasil diterima di universitas, dan di saat anak-anaknya itu punya kesempatan untuk membalas budinya, dia sudah tiada, dia pergi dengan tenang dalam senyuman.

Seolah-olah dia akan jauh, sebelumnya dia telah mencuci dan merapikan pakaian anak-anaknya, kemudian menyiapkan sepanci besar roti kukus untuk mereka.

Dia adalah seorang wanita sederhana yang buta huruf, tetapi dia berhaisl mendidik kedua anak tirinya hingga menjadi sarjana, dia bagaikan lilin yang menerangi masa depan kedua anak tirinya itu, sementara dia sendiri yang mengorbankan diri untuk keduanya.

Tidak ada hati yang lebih lembut dan penuh kasih di dunia selain hati seorang ibu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: