Erabaru.net. Skandal vaksin lain telah terjadi, menambah serangkaian insiden baru-baru ini di Tiongkok yang melibatkan vaksin yang cacat.

Skandal terbaru berpusat di sekitar Rumah Sakit Internasional Perawatan Kesehatan Boao-Yinfeng, yang terletak di pulau Hainan, selatan Tiongkok. Dioperasikan oleh perusahaan swasta Yinfeng Biological Group, rumah sakit tersebut ditemukan telah menyuntikkan vaksin “9-valent HPV” pada 38 orang secara ilegal dengan sejak bulan Januari 2018 tanpa memperoleh izin vaksinasi yang tepat, menurut laporan 28 April oleh media pemerintah Tiongkok Xinhua, mengutip pengumuman yang dibuat oleh komisi kesehatan pemerintah Hainan.

Di antara 38 orang tersebut, 37 orang masing-masing membayar 9.000 yuan (1.337 dolar Amerika Serikat) untuk vaksinasi, sementara seorang karyawan rumah sakit mendapat suntikan vaksinasi secara gratis, menurut pengumuman pemerintah Hainan pada tanggal 28 April. Komisi kesehatan pemerintah Hainan mendenda rumah sakit tersebut sebesar 8.000 yuan (1.188 dolar Amerika Serikat), menyita semua uang yang diperoleh dari 37 orang tersebut, dan mencabut izin operasi rumah sakit.

Komisi kesehatan pemerintah Hainan saat ini menginvestasikan sumber vaksin “9-valent HPV” ini, menurut pengumuman tersebut.

Saat ini, Gardasil 9 adalah satu-satunya vaksin “9-valent HPV” yang tersedia di dunia yang melindungi terhadap sembilan jenis human papillomavirus, yang diproduksi oleh raksasa farmasi Amerika Serikat, Merck. Bila tidak diobati, human papillomavirus dapat menyebabkan kanker serviks dan kanker vagina pada wanita, dan kanker anus  dan kutil kelamin pada pria. Vaksin produksi Merck tersebut dapat diberikan dalam dua atau tiga kali suntikan.

Sementara Administrasi Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat menyetujui Gardasil 9 untuk pasar Amerika Serikat pada bulan Desember 2014, vaksin tersebut tidak tersedia di Tiongkok hingga bulan Mei 2018, setelah regulator obat di Tiongkok  menyetujuinya, menurut media Tiongkok Caixin.

Skandal saat ini menjadi perhatian publik pada tanggal 22 April 2019, ketika seorang pengguna di platform media sosial Tiongkok yang terkenal Weibo, bernama “Wang Xi Anna,” mengklaim dalam sebuah pos bahwa rumah sakit tersebut menyuntikkan  vaksin HPV 9-valent palsu kepadanya.

Wang Xi Anna kemudian berbicara dengan stasiun radio pemerintah Tiongkok CNR, menjelaskan bahwa pada bulan Januari 2018 pertama kali ia disuntik vaksin HPV 9-valent, setelah staf rumah sakit mengatakan kepadanya bahwa rumah sakit tersebut adalah tempat pengujian yang membuat vaksin HPV tersedia sebelum disetujui oleh otoritas Tiongkok pada bulan Mei 2018.

Wang Xi Anna mengatakan bahwa ia mulai curiga terhadap vaksin tersebut setelah dia menerima panggilan telepon dari seorang petugas polisi di pesisir Provinsi Jiangsu di Tiongkok pada bulan Maret. Petugas polisi mengatakan kepadanya bahwa vaksin itu adalah palsu yang diproduksi di sebuah pabrik di kota Siping di Provinsi Jilin, timur laut Tiongkok.

Petugas polisi juga memberitahu Wang Xi Anna bahwa pabrik itu memiliki gudang di Jiangsu, yang memasok vaksin palsu ke banyak wilayah di Tiongkok. Petugas polisi juga menghubungi para penerima vaksin tersebut. Tidak jelas bagaimana petugas polisi itu tahu bahwa vaksin HPV yang disuntikkan pada mereka adalah palsu.

Bapak Chen dari Hainan, yang juga menerima suntikan vaksin tersebut rumah sakit itu, mengatakan kepada CNR bahwa ia telah pergi ke rumah sakit lain untuk memeriksa kesehatannya. Namun, rumah sakit lain itu tidak dapat  memberitahunya apakah ia memiliki kekebalan terhadap HPV dari vaksin yang sudah disuntikkan padanya, atau apakah ia akan rentan terhadap bahaya kesehatan.

Dalam pengumuman tanggal 28 April yang diterbitkan di situs resminya, rumah sakit tersebut  menyalahkan vaksinasi ilegal di salon kecantikan di kota Qingdao di Provinsi Shandong, timur Tiongkok.

Rumah sakit mengatakan bahwa salon kecantikan tersebut, yang sebelumnya telah menandatangani perjanjian kerja sama, telah mempromosikan dan mengelola vaksin HPV “yang tidak diketahui asalnya” tanpa sepengetahuannya. Pernyataan itu tidak menjelaskan lebih lanjut, tetapi mengatakan bahwa rumah sakit tersebut bekerja sama dengan pihak berwenang dalam penyelidikan mereka.

Pemerintah Hainan memastikan dalam pengumumannya bahwa rumah sakit itu secara ilegal meminjamkan izin estetika medisnya ke salon kecantikan Qingdao di bawah perjanjian kerja sama yang ditandatangani pada bulan November 2017 yang berakhir pada Juli 2018. Namun pihak berwenang tidak memberikan perincian mengenai apakah salon kecantikan ini terlibat dalam pengadaan atau pemberian vaksin ilegal.

Wanita lain yang menerima vaksin, Zheng Li (nama samaran), mengatakan kepada surat kabar milik pemerintah The Paper bahwa ia ragu dengan klaim rumah sakit bahwa rumah sakit itu tidak mengetahui vaksin tersebut. Ketika ia menerima suntikan pertamanya pada bulan Maret 2018, kartu vaksinasi dan kwitansi miliknya dicap dengan stempel rumah sakit.

Pada tahun 2018, sebuah skandal mengguncang Tiongkok setelah perusahaan farmasi Tiongkok Changsheng Bio-technology ditemukan telah mengirimkan lebih dari 250.000 dosis vaksin DTaP yang cacat (kombinasi vaksin untuk difteri, pertusis, dan tetanus), yang berdampak pada lebih dari 200.000 anak.

Warga Tiongkok Daratan diketahui melakukan perjalanan ke Hong Kong dan Taiwan untuk menerima vaksin tertentu, termasuk Gardasil 9, karena kurangnya kepercayaan mereka terhadap keamanan vaksin di Tiongkok.

Di Weibo, netizen Tiongkok sangat marah dengan berita skandal vaksin lain.

Seorang netizen dari Provinsi Zhejiang menulis, “Mampukah kita memperkuat peraturan [negara] mengenai vaksin? Mampukah menerapkan  hukuman yang lebih berat untuk kejahatan yang terkait dengan vaksin?”

Beberapa netizen menyatakan keterkejutannya  terhadap denda yang kecil yang harus dibayar oleh rumah sakit, mengingat kesehatan masyarakat menjadi berisiko. (Frank Fang,/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular