Madrid – Seorang matador remaja meninggal dunia setelah ditanduk oleh seekor banteng di Spanyol. Korban meninggal dalam agenda festival musim semi di Spanyol.

Fran Gonzalez adalah orang kedua yang meregang nyawa oleh sapi jantan, dalam beberapa hari festival tradisional. Festival itu menampilkan perlombaan lari dan perkelahian banteng dari berbagai tradisi.

Gonzalez ditanduknya di pangkal paha oleh seekor banteng pada 1 Mei 2019. Remaja 19 tahun itu kehilangan kesadaran di tempat kejadian, sebelum dibawa ke rumah sakit tempat Dia dinyatakan meninggal beberapa saat kemudian.

Gonzalez adalah peserta reguler dalam gaya bebas adu banteng tanpa kekerasan. Nomor kompetisi yang kadang-kadang digambarkan sebagai ‘lompatan banteng’, seperti dikutip dari Levante.

Menurut El Espanol, sapi jantan itu menanduk Gonzalez beberapa saat setelah dilepaskan dari kandangnya dan melompat dengan keras dan agresif ke arena.

Penyelenggara festival San Vicente Ferrer untuk sementara menangguhkan perayaan sebagai tanda penghormatan dan berkabung.

Gonzalez memiliki reputasi lokal sebagai seorang recortadore, sejenis petarung banteng tangan kosong tanpa kekerasan. Tidak seperti matador, mereka tidak mengenakan jubah banteng atau senjata. Dalam arena pertarungan, recortadore hanya menampilkan pertunjukan atletik dan keberanian.

Para recortador berlomba untuk mendapatkan poin berdasarkan keberanian dan keterampilan mereka, ketika melakukan gerakan akrobatik untuk menghindari hewan yang hendak menyeruduknya. Banteng dan recortador diperbolehkan untuk kembali ke kandang tanpa terluka.

Seorang ‘recortador’ melompati seekor banteng dalam pertunjukan adu banteng di ‘bullring’ Plaza Monumental, Barcelona pada 25 September 2009. (Foto : Lluis Gene/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Pekan lalu seorang pria berusia 74 tahun meninggal setelah ditanduk oleh seekor sapi jantan, selama festival di Vejer de la Frontera dekat Cadiz di Spanyol barat daya.

Cedera dalam festival banteng di Spanyol cukup umum, ketika masyarakat menguji kecakapan atletik mereka. Akan ada reaksi dan konflik dalam adu keberanian dengan banteng yang dilepaskan di jalan-jalan sempit.

Dalam tradisi matador, banteng umumnya diadu dengan matador yang dipersenjatai dengan jubah merah, tombak, dan pedang. Cedera biasanya cukup umum terjadi, akan tetapi kematian jarang terjadi.

Selama 30 tahun, tidak ada satu pun matador Spanyol yang terbunuh di atas ring, sampai Victor Barrio yang berusia 29 tahun, yang tayang langsung di televisi nasional, diseruduk di dada oleh tanduk banteng pada tahun 2016.

Pada 2013, 31 matador ditanduk dalam adu banteng di Spanyol dalam satu tahun, menurut The Telegraph.

Januari lalu, seorang lelaki Kolombia ditanduk sampai mati di salah satu acara ‘corralejas’ Kolombia, yang menampilkan perkelahian manusia melawan banteng. Dalam acara tersebut, para kontestan memberi umpan pada hewan itu dengan jubah merah sebelum mencoba menghindari banteng yang sedang menyerang.

Jorge Barrios, seorang pekerja konstruksi, tidak dapat keluar dari jalan dan tertusuk oleh tanduk banteng. Beberapa orang mengatakan bahwa dia mungkin mabuk ketika mencoba untuk berkompetisi, menurut Metro.

Menurut Humane Society International, sebuah kelompok hak-hak binatang, perkelahian melawan banteng sudah kuno atau ketinggalan zaman.

“Perkelahian banteng bukanlah ‘perkelahian yang adil’ antara banteng dan matador, tetapi bentuk kekejaman terhadap hewan yang sangat dipentaskan, disetujui dan disubsidi oleh pemerintah. Kacamata yang ketinggalan jaman ini melanggengkan gagasan bahwa melukai dan membunuh binatang untuk hiburan dapat diterima,” kata situs web kelompok itu.

“Tradisi itu masih berlangsung di Spanyol, Prancis, Portugal, Kolombia, Venezuela, Peru, Ekuador, dan Meksiko,” sambung komunitas itu. (SIMON VEAZEY/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular