oleh Wu Ying

Pentagon memutuskan untuk tidak menyediakan dana bagi universitas di Amerika yang bekerja sama dengan Institusi Konfusius. Langkah ini telah membuat tiga buah universitas menutup Institut Konfusius. Diperkirakan masih akan ada lebih banyak universitas yang menyusul.

Dalam tahun-tahun terakhir, komunis Tiongkok terus berupaya memperluas pengaruh global dengan mengulurkan tangannya ke negara lain. Langkah ini telah menarik perhatian masyarakat internasional, terutama Institut Konfusius yang didanai oleh Beijing yang telah banyak mendapatkan kritikan karena melanggar kebebasan akademik.

Pada bulan Agustus tahun lalu, Presiden Trump menandatangani Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional atau National Defense Authorization Act yang disingkat NDAA yang mana disahkan oleh Kongres AS. Salah satu ketetapannya adalah mengharuskan Kementerian Pertahanan AS untuk menghentikan pendanaan kepada universitas yang menyelenggarakan kerja sama dengan Institut Konfusius.

Pentagon baru-baru ini memberikan konfirmasi kepada Newsweek bahwa sejak NDAA mulai berlaku, pihaknya tidak lagi mensubsidi universitas-universitas tersebut, begitu pula kepada 13 universitas yang mengajukan pembebasan tahun ini, permohonannya juga ditolak.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Jessica Maxwell mengatakan bahwa menurut NDAA, Wakil Menteri Pertahanan memiliki kekuasaan untuk memutuskan apakah akan memberikan pengecualian, tetapi “Setelah ditinjau, Kementerian Pertahanan memperkirakan bahwa jika diberikan pengecualian, maka aturan itu tidak berpihak pada kepentingan nasional.”

Pentagon menyatakan bahwa keputusan ini telah diberitahukan ke semua universitas yang mengajukan pengecualian. Dengan demikian berarti bahwa universitas-universitas tersebut  harus memilih antara pendanaan federal atau pendanaan komunis Tiongkok.

Western Kentucky University pekan lalu mengumumkan keputusannya untuk menutup Institut Konfusius dengan alasan tidak dapat memperoleh pengecualian dari Kementerian Pertahanan. Bob Skipper, juru bicara universitas ini kepada Newsweek juga meyakini Kemenhan AS tidak akan memberikan pengecualian.

BACA JUGA :  Bagaimana Komunis Tiongkok Mencuri Rahasia-Rahasia dan Menjadi Ancaman Keamanan AS

Laporan ‘Inside Higher ED’ pada 1 Mei menyebutkan, selain Western Kentucky University, San Francisco State University dan University of Oregon baru-baru ini juga mengumumkan rencana penutupan Institut Konfusius di tempat mereka.

University of Hawaii di Manoa yang memperkirakan tidak akan memperoleh pengecualian dari Kementerian Pertahanan AS juga bermaksud untuk mengikuti jejak universitas lainnya.

Institut Konfusius yang didanai oleh komunis Tiongkok pertama kali diluncurkan di Amerika Serikat pada tahun 2004. Sekitar 100 universitas di Amerika Serikat telah mendirikan Institut Konfusius. Dalam 18 bulan terakhir, setidaknya 15 universitas di Amerika Serikat telah menutup Institut Konfusius, termasuk Indiana University dan University of Rhode Island dan University of Minnesota.

Newsweek melaporkan bahwa pejabat komunis Tiongkok mengakui bahwa Institut Konfusius memainkan peran penting dalam memperluas kekuatan lunak dan pekerjaan propaganda komunis Tiongkok, ia pun diintegrasikan dengan Organisasi underbownya, United Front Work Department.

Tahun lalu, Direktur FBI Christopher Wray saat bersaksi dalam sidang dengar pendapat di Komite Intelijen Senat Amerika mengatakan bahwa FBI sangat prihatin dengan Institut Konfusius dan telah melakukan penyelidikan terhadap keadaan tertentu.

Alexander Dukalskis, seorang pakar politik Asia di University College Dublin mengatakan bahwa manfaat terbesar dari penutupan Institut Konfusius adalah untuk menghilangkan ancaman potensial terhadap kebebasan akademik di kampus.

“Sejak dahulu komunis Tiongkok mengkaji penelitian akademik, berusaha mengendalikan pengajaran, dan memenjarakan para cendekiawan, perilaku tersebut sampai sekarang juga tidak ditinggalkan”, kata Alexander Dukalskis.

Ia mengatakan bahwa jika ada orang berpikir bahwa Institut Konfusius tidak akan mempengaruhi pandangan luar negeri terhadap komunis Tiongkok, atau tidak akan mengancam kebebasan akademik, itu terlalu naif.

Sejak tahun 2002, Pentagon telah mendanai Program Unggulan Bahasa (Language Flagship Program) untuk membantu lulusan universitas dengan penguasaan bahasa Arab, Mandarin, Korea, Persia, Portugis, Rusia atau Turki, serta memupuk bakat bahasa bagi kandidat di lembaga keamanan nasional.

Setelah penyelidikan selama 8 bulan oleh Permanent Subcommittee on Investigations, laporan investigasi telah dirilis pada bulan Pebruari tahun ini, laporan mengindikasikan bahwa komunis Tiongkok telah memberikan dana lebih dari 158 juta dolar Amerika Serikat kepada Institut Konfusius untuk mempromosikan penyebaran konsep komunis Tiongkok.

Laporan itu menyebutkan : Pejabat universitas AS mengatakan kepada Subkomite bahwa Institut Konfusius bukan tempat untuk memantau topik-topik kontroversial seperti kemerdekaan Taiwan atau pembantaian Lapangan Tiananmen 1989 dan lainnya”.

“Seperti yang dijelaskan oleh seorang administrator universitas AS kepada subkomite, ketika pemerintah Tiongkok mensubsidi sesuatu, Anda akan tahu apa yang bakal Anda peroleh”.

Laporan tersebut mengusulkan kepada Kementerian Kehakiman AS agar segera memutuskan apakah semua Institusi Konfusius atau stafnya perlu didaftarkan sebagai agen asing.  (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular