Erabaru.net. Peternak babi di provinsi Guangxi dan Guangdong di selatan Tiongkok telah menyaksikan secara langsung kematian babi akibat penyebaran demam babi Afrika. Tetapi pihak berwenang setempat menyangkal bahwa kematian babi tersebut adalah akibat epidemi demam babi Afrika.

Sementara itu, beberapa pedagang babi memproses bangkai babi dan mengambil untung dari penjualan daging babi tersebut kepada konsumen yang tidak tahu, menurut akun lokal.

Kasus demam babi Afrika pertama terdeteksi di Tiongkok di provinsi timur laut Liaoning pada tanggal 3 Agustus 2018. Pada tanggal 19 April, hanya lebih dari 8 bulan kemudian, kasus tersebut telah menyebar ke 31 provinsi, wilayah, dan kota di Tiongkok.

Demam babi Afrika adalah penyakit yang sangat menular dan mematikan yang menyerang babi dan babi hutan; tidak ada obat atau vaksin untuk penyakit ini. Namun, diketahui penyakit ini tidak memiliki efek berbahaya pada manusia, bahkan jika produk babi yang terinfeksi dikonsumsi oleh manusia.

Beberapa negara terdekat seperti Mongolia, Kamboja, dan Vietnam telah melaporkan wabah demam babi Afrika — yang belum pernah melihat penyakit ini sebelum epidemi di Tiongkok.

Tumpukan Bangkai Babi

Seorang penduduk lokal di kabupaten Bobai, Guangxi memposting sebuah video online pada tanggal 25 Maret, di mana bangkai babi-babi tampak ditumpuk di sisi-sisi jalan. Seorang pengendara mengatakan dalam video bahwa ia hampir tidak dapat mengemudi melalui tumpukan bangkai tersebut.

Kabupaten Bobai adalah daerah pengembangbiakan babi terbaik di Guangxi, di mana lebih dari 5 juta babi dipelihara di peternakan lokal setiap tahun, menurut data pemerintah.

Menanggapi video tersebut, pihak berwenang setempat menerbitkan pengumuman di situs web pemerintah kabupaten pada hari berikutnya, mengatakan bahwa dokter hewan telah menentukan bahwa babi-babi tersebut mati akibat penyakit paru babi dan erysipelas, penyakit kulit menular yang sering ditandai oleh lesi berbentuk berlian.

Pengumuman itu juga mengklaim bahwa pada tanggal 19 Maret, di bawah arahan tim pengawasan pertanian dan pedesaan setempat, sampel biologis diambil dari rumah jagal kabupaten Bobai dan beberapa peternakan babi. Semua hasil uji adalah negatif untuk demam babi Afrika.

Tetapi penduduk setempat mengatakan sebaliknya. Seorang netizen, dengan nama samaran “Tiga Tahun,” mengatakan kepada Epoch Times berbahasa Mandarin pada tanggal 29 April bahwa Bobai adalah kota kelahirannya. Orangtuanya di Bobai memberitahunya bahwa bangkai babi menumpuk di seluruh wilayah. Di beberapa peternakan babi, seluruh kawanan babi telah dimusnahkan. Mereka percaya bahwa kematian massal hanya dapat disebabkan oleh penyakit yang sangat menular dan mematikan seperti demam babi Afrika.

Pemerintah pusat memastikan merebaknya  demam babi Afrika pertama di Guangxi pada bulan Februari, di kota Beihai, sekitar 100 mil jauhnya dari Bobai.

Demikian pula, seorang warga bermarga Ji di kota Maoming, provinsi tetangga, Guangdong mengatakan kepada Epoch Times berbahasa Mandarin bahwa ia yakin demam babi Afrika telah menyebar ke kota itu sejak akhir 2018 dan belum diatasi.

“Pada dasarnya tidak ada babi hidup di daerah kami sekarang. Gejalanya sangat jelas, dan induk babi biasanya menunjukkan gejala lebih cepat. Mereka akan menderita demam tinggi dan berhenti makan, dan akan mati dalam dua atau tiga hari,” kata Ji. Gejala ini sesuai dengan gejala demam babi Afrika.

Maoming adalah kota pengembangbiakan babi terbesar di Provinsi Guangdong. Menurut Ji, peternakan babi ditutup satu demi satu. Tetapi pemerintah daerah terus mengatakan bahwa tidak ada satu pun kasus demam babi Afrika di Maoming. Pada bulan April, pemerintah daerah mengeluarkan larangan “meninggalkan bangkai mati,” yang secara diam-diam mengakui bahwa ada jumlah kematian babi yang tinggi.

Otoritas pusat telah memastikan kasus demam babi Afrika di Provinsi Guangdong sejak tanggal 19 Desember 2018, termasuk kasus pertama di Zhuhai, yang berdekatan dengan kota Guangzhou dan Huizhou.

Pada bulan September 2018, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertanian Tiongkok mengumumkan bahwa mereka akan memberikan kompensasi kepada peternak babi, baik untuk memusnahkan babi di peternakan yang terinfeksi atau untuk disinfeksi dan pembuangan bangkai yang tepat.

Namun, di daerah di mana pemerintah daerah — seperti Maoming dan Bobai — menyangkal wabah demam babi Afrika, peternak babi tidak dapat menerima kompensasi seperti itu.

Kasus yang tidak dilaporkan

Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa secara nasional, ada 1.161 kasus yang terinfeksi dan 783 kematian akibat demam babi Afrika, untuk bulan Maret dan April.

Tetapi menurut sumber yang dapat dipercaya  dalam industri dan peternak di Tiongkok percaya bahwa penyebaran demam babi Afrika jauh lebih luas daripada yang digambarkan oleh pihak berwenang.

“Kami sangat curiga pada jumlah kasus tidak dilaporkan,” kata Paul Sundberg, direktur eksekutif di Pusat Informasi Kesehatan Babi di Ames, Iowa, kepada Reuters.

Dirk Pfeiffer, seorang profesor epidemiologi kedokteran hewan di City University of Hong Kong, menunjuk kepada “keacakan spasial” dari wabah yang dilaporkan di Tiongkok, tidak biasa untuk penyakit menular, yang biasanya berkembang dalam kelompok. Ia juga menduga epidemi demam babi Afrika lebih buruk dari yang dilaporkan.

Pihak berwenang tidak mengizinkan penjualan komersial alat uji demam babi Afrika. Konfirmasi resmi harus datang dari laboratorium yang disetujui negara.

Untuk berbagi informasi, sejumlah peternak babi di seluruh Tiongkok telah membentuk grup obrolan di WeChat, sebuah platform media sosial populer. Salah satu anggota obrolan membagikan tangkapan layar dari diskusi ruang obrolan dengan Epoch Times berbahasa Mandarin.

Peternak babi bernama Liao Zhibiao (nama pengguna WeChat) dari kota Maoming menulis: “Stasiun TV Maoming berani melaporkan bahwa‘ saat ini tidak ada satu pun kasus demam babi Afrika di seluruh kota!’”

Peternak babi bernama Yan, juga dari kota Maoming, menulis, “Ada beberapa babi yang tersisa di Maoming. Bahkan semua induk babi [yang biasanya dipelihara untuk berkembangbiak] telah dikirim ke pasar!” Babi yang belum mati disembelih dan diolah menjadi daging babi untuk dijual.

“Harganya sangat rendah, di luar imajinasi anda. Lebih murah daripada harga buah atau sayuran di pasar. Saya harap pemerintah akan berhenti berbohong,” tulis Yan.

Orang lain menanggapi Yan, mengatakan dalam obrolan: “Di daerah kami saja, jumlah babi yang terinfeksi di satu kota melebihi beberapa ratus ekor. Setiap peternak bekerja keras untuk menjual semua babi yang masih hidup, karena demam babi Afrika pada akhirnya akan memusnahkan semua babi.”

Daging Babi yang Berasal dari Babi yang Sakit Dijual di Pasar

Warga di Provinsi Guangdong juga telah melaporkan bahwa ada sekelompok pedagang babi yang mendekati peternak babi di daerah yang terkena dampak demam babi Afrika untuk membeli babi yang sakit atau mati dari mereka. Sebuah sumber yang tidak ingin disebut namanya mengatakan kepada Epoch Times berbahasa Mandarin bahwa banyak pedagang babi telah melakukan tawar-menawar dengan peternak babi, kemudian mengolah dan menjual daging babi atau produk babi kepada penduduk perkotaan.

Mereka beriklan kepada peternak babi bahwa “kami akan menyelesaikan semua kerepotan dan kekhawatiran anda dalam satu hari,” dan membeli babi masing-masing seharga 150 yuan (22,3 dolar Amerika Serikat).

Sumber tersebut memberikan nomor telepon dari salah satu pedagang babi. Ketika Epoch Times berbahasa Mandarin berkomunikasi dengannya, pedagang babi itu berkata, “apa pun kondisi babi yang anda miliki, kami dapat membeli semuanya.” Ia juga menyebutkan bahwa babi-babi tersebut dapat diangkut ke provinsi lain. “Kami telah mengirimkan sejumlah daging babi olahan melalui kapal ke Provinsi Henan.” Henan terletak di tengah Tiongkok, sekitar 880 mil di utara Guangdong.

Virus demam babi Afrika tidak diketahui memiliki efek berbahaya pada manusia, tetapi beberapa ahli telah menyatakan keprihatinannya bahwa belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mempelajari dampaknya pada tubuh manusia. Chen Bingzhong, seorang ahli kesehatan Tiongkok, mengatakan kepada Epoch Times berbahasa Mandarin dalam wawancara pada bulan Februari bahwa virus tersebut berpotensi mempengaruhi sistem saraf, kardiovaskular, dan pernapasan seseorang, mengingat perilaku khas virus tersebut.

Netizen “Tiga Tahun” juga mengatakan orangtuanya memberitahunya mengenai pedagang babi. “Masyarakat lokal tidak berani membeli daging babi. Mereka tidak akan membeli dengan harga lebih rendah hingga satu yuan [15 sen Amerika Serikat] per 450 gram. Orangtua saya mengatakan mereka tidak akan makan produk daging babi tahun ini, termasuk kue bulan yang mengandung babi yang merupakan favorit mereka,” katanya. (Olivia Li/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular