Erabaru.net. Itu adalah tahun 2013 ketika Mazin Mukhtar dan Parmita Sarma pertama kali bertemu di India. Mereka memiliki satu cita-cita bersama — untuk mendorong perubahan di bidang pendidikan. Tiga tahun kemudian, pada tahun 2016, hasrat mereka mendorong mereka untuk membangun Akshar, sekolah gratis di Assam.

(Foto: The Better India)

Sebuah sekolah kecil yang dimulai dengan 20 siswa sekarang memiliki hampir 100 siswa berusia antara 4 dan 15. Pemikir muda ini diajari pentingnya pendidikan, kelestarian lingkungan dan memberikan kembali kepada komunitas mereka dengan melibatkan mereka sepenuhnya dalam setiap kegiatan sekolah.

Penduduk di Desa Pamohi sebagian besar kurang mampu. Anak-anak khususnya, dikirim oleh orangtua untuk bekerja di tambang batu di dekat daerah itu untuk sumber penghasilan tambahan 30 – 40 ribu rupiah 0per hari.

(Foto: Instagram)

Sekarang, anak-anak ini memiliki kesempatan untuk belajar. Yang perlu mereka lakukan hanyalah membawa sampah plastik sebagai biaya sekolah.

Tantangan pertama yang dihadapi pasangan itu adalah meyakinkan penduduk desa untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah. Tantangan kedua adalah memberantas penggunaan ekstensif sampah plastik di desa.

Menurut Parmita, penduduk desa akan menimbun gundukan besar sampah plastik, membakar mereka dan menghangatkan diri di depannya selama musim dingin. Mereka tidak tahu bahwa asap beracun yang dilepaskan dari plastik yang terbakar berbahaya bagi lingkungan dan juga bagi mereka.

Mereka menemukan solusi ideal untuk memberikan pendidikan dan menciptakan kesadaran adalah dengan memanfaatkan sampah plastik untuk tujuan yang lebih baik. Setiap siswa akan membawa kantong plastik berisi sekitar 25 item sampah plastik setiap minggu sebagai biaya dan meminta mereka mendaur ulang.

Siswa membantu para guru untuk mengolah sampah plastik yang dapat membantu menciptakan infrastruktur yang lebih baik di sekolah.

(Foto: The Better India)

Gagasan ini mendapat tanggapan yang sangat besar dari penduduk desa sehingga mereka secara sukarela berpartisipasi dalam upaya daur ulang untuk membantu menyebarkan kesadaran dengan memasang tanda-tanda di rumah dan toko mereka.

Selain itu, kurikulum sekolah mengelola model pembelajaran peer-to-peer. Siswa yang lebih tua akan mengajar yang lebih muda, dan mendapatkan hadiah dalam mata uang mainan. Uang kertas mainan tersebut kemudian digunakan untuk berbelanja di toko terdekat untuk sepatu, makanan ringan, mainan, pakaian, dll.

Siswa Akshar diajar berdasarkan tingkat pengetahuan mereka, bukan nilai.

(Foto: Facebook)

Mazin dan Parmita berencana untuk menyiapkan 100 Akshars lagi dalam lima tahun ke depan. Dengan visi yang ditentukan oleh mereka, kami yakin bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka untuk terus menginspirasi satu desa pada satu waktu!(yant)

Sumber: Goodtimes

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular