Erabaru.net. Robin Li, pendiri dan CEO Baidu, situs mesin pencari terbesar di Tiongkok, baru-baru ini dinominasikan untuk menjadi anggota Akademi Teknik Tiongkok, sebuah lembaga penelitian yang dikelola negara yang diperuntukkan bagi para insinyur top negara tersebut.

Tetapi setelah pengumuman Akademi Teknik Tiongkok pada tanggal 30 April, melalui internet banyak netizen mengutarakan keberatannya, mengkritik Robin Li karena menjalankan perusahaan yang dikenal mematuhi aturan sensor rezim Tiongkok dan bersekongkol dengan iklan palsu perusahaan yang berbuat curang.

Akademi Teknik Tiongkok menominasikan akademisi baru setiap dua tahun. Robin Li termasuk di antara 531 nominasi, bersama dengan wakil presiden senior Baidu untuk kecerdasan buatan, Wang Haifeng.

Sistem akademis Akademi Teknik Tiongkok didirikan pada tahun 1994. Ini adalah gelar akademik tertinggi dalam sains dan teknologi teknik di Tiongkok. Menjadi seorang akademisi adalah kehormatan seumur hidup; mereka menikmati manfaat dan paket pensiun yang sama dengan wakil menteri di pemerintahan.

Reaksi Warganet

Zhou Jian, pemilik akun media sosial yang menerbitkan berita di Weibo, platform seperti Twitter, menerbitkan sebuah artikel yang menjelaskan mengapa ia yakin Robin Li tidak pantas mendapatkan gelar itu.

Zhou Jian menunjuk contoh-contoh Baidu yang mendapat untung dari praktik tidak etis yang melibatkan rumah sakit palsu.

Kasus yang paling menonjol terjadi pada tahun 2016, ketika Wei Zexi, seorang mahasiswa berusia 21 tahun dari provinsi Shaanxi di barat laut Tiongkok, meninggal di rumah sakit militer Tiongkok di Beijing setelah menerima perawatan imunoterapi yang tidak diakui yang ia temukan melalui iklan online Baidu. Wei Zexi menderita kanker yang langka yaitu  sarkoma sinovial.

Media dan netizen Tiongkok mengungkapkan bahwa Baidu menghasilkan pendapatan iklan dari sindikat medis Tiongkok yang dikenal sebagai “Jaringan Putian,” yang memiliki sejarah memasarkan obat palsu dan perawatan palsu — termasuk yang menyebabkan kematian Wei Zexi. Rumah sakit mengklaim bahwa perawatan itu terbukti 80 hingga 90 persen efektif untuk menyembuhkan penyakit.

Beijing Evening News juga melaporkan sebuah insiden pada tahun 2013, ketika orangtua seorang gadis cilik berusia 3 tahun yang menderita epilepsi mencari pengobatan melalui daftar “rumah sakit yang dianjurkan” Baidu yang diurus secara khusus.

Setelah melihat bahwa Rumah Sakit Haihua di Beijing termasuk dalam daftar sebagai fasilitas dengan ahli pengobatan epilepsi, orangtuanya membawa gadis cilik tersebut ke sana dan membayar 20.000 yuan (2.957 dolar Amerika Serikat) untuk perawatan.

Setelah sekitar dua minggu, kondisi gadis cilik tersebut menjadi lebih parah; ia menderita demam tinggi dan kejang terus-menerus. Ketika keluarga tidak lagi memiliki uang untuk perawatan, staf rumah sakit mengusir mereka dan meninggalkan mereka di Rumah Sakit Anak-Anak Beijing.

Para dokter di Rumah Sakit Anak-Anak Beijing melakukan pemeriksaan dan menyatakan bahwa gadis cilik tersebut dalam kondisi kritis. Diagnosis mereka menunjukkan bahwa akibat  kurangnya perawatan yang efektif, gadis cilik tersebut “menderita radang otak, diperparah dengan gagal napas, fungsi otak tidak normal, dan lain-lain. Ia dapat meninggal kapan saja,” Beijing Evening News melaporkan.

Rumah Sakit Haihua secara salah mengiklankan dirinya sebagai rumah sakit umum ketika itu, pada kenyataannya, adalah fasilitas yang dikelola secara pribadi. Pada tahun 2012, Asosiasi Pengobatan Epilepsi Beijing telah mencabut keanggotaannya karena alasan itu. Tetapi Baidu mendaftarkan rumah sakit tersebut sebagai fasilitas yang dianjurkan.

Akibat keterlambatan dalam perawatan yang cukup, otak gadis cilik tersebut rusak parah, meskipun ia selamat setelah menerima perawatan yang menyelamatkan jiwanya di Rumah Sakit Anak-Anak Beijing.

Netizen lainnya membagikan pendapat mereka dengan NTD, bagian dari Epoch Media Group.

Seorang netizen Tiongkok bermarga Zhang, dari Provinsi Jilin, percaya Baidu berperan penting dalam menjaga informasi bebas di Tiongkok. “Sebagai raksasa internet yang memonopoli, [Baidu] mencekik hak kami untuk mengekspresikan diri. Apa yang ingin kami katakan tidak dapat dipublikasikan secara online, dan informasi yang kami peroleh dari internet tidak dapat diandalkan.”

Hasil pencarian topik yang dianggap tabu oleh rezim Tiongkok, seperti Pembantaian Lapangan Tiananmen adalah tidak ada atau sangat dibatasi.

Netizen lain yang bermarga Zheng dari kota Xi’an, Provinsi Shaanxi, mempertanyakan surat mandat Robin Li.

“Robin Li bukanlah seorang ilmuwan. Bagaimana ia dapat terpilih sebagai akademisi? Otoritas Tiongkok memilih beberapa orang untuk menjadi akademisi berdasarkan kebutuhannya dari sudut pandang politik,” kata Zheng kepada NTD.

Baidu juga mendapat kecaman pada bulan Januari karena memberikan hasil pencarian yang bias demi layanan koleksi kontennya sendiri, yang disebut Baijiahao, setelah jurnalis Tiongkok Fang Kecheng mendokumentasikan bukti-bukti tersebut dalam serangkaian posting media sosial. (Olivia Li/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular