The Associated Press

Erabaru.net. Baru-baru ini, sejumlah laporan dari aktivis dan pejabat kepada Associated Press menemukan ratusan wanita muda dari minoritas Kristen Pakistan telah diperdagangkan ke Tiongkok. Mereka dijadikan sebagai “pengantin” dalam beberapa bulan terakhir karena  kemiskinan mereka hingga menjadi target pasar pernikahan secara agresif.

Para broker menawarkan kepada orangtua dari keluarga miskin dengan ribuan dolar untuk memberikan anak gadis mereka menikah dengan pria Tiongkok, bahkan menyasar di luar gereja untuk mencari calon pengantin potensial.

Mereka dibantu oleh pendeta-pendeta Kristen yang dibayar untuk mengabarkan ke sidang-sidang jamaat mereka dengan janji kekayaan sebagai imbalan bagi anak perempuan mereka.

Begitu tiba di Tiongkok, gadis-gadis itu — yang paling sering menikah dengan kehendaknya sendiri — akhirnya menemukan diri mereka terisolasi di daerah pedesaan, rentan terhadap penyalahgunaan, tidak dapat berkomunikasi dan hanya bergantung pada aplikasi terjemahan bahkan hanya untuk segelas air.

Dimingi suami Kristen yang kaya raya, tetapi pada akhirnya calon pengantin pria sering kali ternyata bukan keduanya, sebagaimana diungkap berdasarkan laporan dari korban pengantin wanita, orangtua mereka, seorang aktivis, pendeta dan pejabat pemerintah yang berbicara kepada The Associated Press.

“Ini adalah penyelundupan manusia,” kata Ijaz Alam Augustine, menteri hak asasi manusia dan minoritas di provinsi Punjab Pakistan, kepada The Associated Press.

“Keserakahan benar-benar bertanggung jawab atas pernikahan ini  Saya telah bertemu dengan beberapa gadis ini dan mereka sangat miskin,” tambahnya.

The Associated Press mewawancarai lebih dari belasan korban pengantin Kristen Pakistan dan calon pengantin perempuan yang melarikan diri sebelum mengikat janji perkawinan. Semuanya memiliki kisah serupa tentang proses yang melibatkan calo dan pendeta.

Iklan grafiti agen perkawinan dilukis dengan semprotan di dinding sebuah gudang di Kabupaten Pei di Provinsi Jiangsu, China timur, 29 April 2019. Di Tiongkok, permintaan untuk pengantin asing telah meningkat, warisan aturan satu anak yang membuat keseimbangan gender negara terhadap laki-laki. (Foto Dake Kang / AP)

“Ini semua penipuan dan kecurangan. Semua janji yang mereka buat palsu,” kata korban Muqadas Ashraf, yang berusia 16 tahun ketika orangtuanya menikahkan dirinya dengan seorang pria Tiongkok tahun lalu. Kurang dari lima bulan kemudian, dia lari ke Pakistan, hamil dan memutuskan perceraian.

Di Tiongkok, permintaan untuk pengantin asing telah meningkat, sebuah warisan dari aturan satu anak Komunis Tiongkok yang membuat krisis keseimbangan gender  terhadap laki-laki.

Pengantin wanita awalnya sebagian besar berasal dari Vietnam, Laos dan Korea Utara. Akan tetapi kini, menurut Mimi Vu, selaku direktur advokasi di Pacific Links, yang mengadvokasi dalam kasus perdagangan perempuan asal Vietnam, sekarang laki-laki Tiongkok mencari pengantin dari negara lebih jauh. Mimi Vu mengatakan kasus ini murni penawaran dan permintaan. Mimi vu memaparkan “Dulu,” Apakah dia berkulit terang? Sekarang seperti,” Apakah dia seorang perempuan?” Pakistan tampaknya telah masuk dalam radar broker pernikahan pada akhir tahun lalu.

Seorang aktivis Kristen, Saleem Iqbal, mengatakan ia pertama kali mulai melihat sejumlah besar perkawinan dengan laki-laki Tiongkok pada bulan Oktober lalu. Sejak itu, diperkirakan 750 hingga 1.000 gadis telah dinikahkan.

Komunitas kecil Kristen Pakistan sangat rentan terhadapa kasus ini. Mereka adalah salah satu yang termiskin di negara itu dan memiliki sedikit dukungan politik atau sosial, berjumlah sekitar 2,5 juta dari populasi Muslim Pakistan yang berjumlah 200 juta jiwa. Di antara semua agama di Pakistan, orangtua sering memutuskan pasangan pernikahan anak perempuan.

Masyarakat yang sangat patriarkal sering menganggap anak perempuan sebagai beban karena keluarga pengantin perempuan harus membayar mahar dan biaya pernikahan.

Sebaliknya, calon pengantin pria Tiongkok menawarkan uang kepada orangtua dan membayar semua biaya pernikahan.

Beberapa calon pengantin pria berasal dari antara puluhan ribu orang Tiongkok di Pakistan yang mengerjakan proyek infrastruktur  One Belt, One Road atau OBOR. Calon pengantin pria lainnya mencari langsung dari Tiongkok melalui jaringan internet. Mereka membungkus diri mereka sebagai orang yang baru masuk Kristen, tetapi para pendeta yang terlibat dalam kesepakatan tidak meminta dokumentasi apa pun. Saleem Iqbal mengungkapkan mereka membayar rata-rata 3.500 dolar AS hingga 5.000 dolar AS, termasuk pembayaran kepada orangtua, pendeta dan broker.

Ibu Muqadas, Nasreen, mengatakan dia dijanjikan sekitar 5.000 dolar AS, termasuk biaya pernikahan. Akan tetapi, dia tak melihat apapun yang dijanjikan.

“Saya benar-benar percaya bahwa saya memberinya kesempatan hidup yang lebih baik dan juga kehidupan yang lebih baik bagi kita,” kata Nasreen. Ketika putrinya menjadi semakin sengsara di Tiongkok, Nasreen menghubungi suaminya dan meminta putrinya dipulangkan.

Lentera menggantung di pintu depan bekas rumah Li Tao dan Mahek Liaqat di kota kelahiran Li, Chenlou, Kabupaten Pei di Provinsi Jiangsu, Tiongkok, 29 April 2019. Li pergi ke Pakistan untuk membangun jalan beberapa tahun lalu sebagai bagian dari Sabuk Tiongkok dan inisiatif Jalan. Dia menikahi Liaqat melalui seorang agen di sana dan kembali ke Tiongkok dengan musim dinginnya yang terakhir, tetapi pernikahan itu gagal dengan cepat dan Liaqat kembali ke Pakistan beberapa bulan kemudian. (Foto Dake Kang / AP)

Menteri provinsi minoritas, yang beragama Kristen, Augustine mengatakan belasan rohaniawan Pakistan dibayar oleh calo untuk mencari pengantin bagi pria Tiongkok, terbanyak dari gereja-gereja evangelis kecil yang berkembang pesat di Pakistan.

Menurut laporan akitvisi Kristen, di wilayah Gujranwala misalnya, sebuah kota di utara Lahore, lebih dari 100 wanita dan gadis Kristen lokal telah dinikahkan dengan orang Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir.

Kota ini memiliki beberapa lingkungan yang sebagian besar beragama Kristen dari golongan miskin dan tinggal di sepanjang jalan-jalan kumuh yang sempit.

Pastor Munch Morris, yang melayani di sebuah gereja evangelis lokal, menentang praktik pernikahan semacam itu. Tetapi dia mengakui dirinya mengenal sekelompok pendeta di lingkungannya yang bekerja dengan seorang broker perkawinan swasta Tiongkok. Menurut Pastor Munch Morris, di antara mereka adalah seorang rekan pendeta di gerejanya yang memberi tahu kepada kawanannya bahwa, “Tuhan senang karena anak-anak lelaki Tionghoa ini masuk Kristen. Mereka membantu gadis-gadis Kristen yang miskin. ”

Rizwan Rashid, seorang umat di Gereja Katolik Roma Saint John, mengatakan bahwa dua minggu sebelumnya, sebuah mobil menepi di luar gerbang gereja. Dua pria Pakistan dan seorang wanita Tiongkok di dalamnya bertanya kepadanya apakah dia tahu ada gadis yang ingin menikah dengan pria Tiongkok.

“Mereka memberi tahu saya bahwa hidupnya akan luar biasa,” kata Rizwan.

Mereka bersedia membayarnya untuk membantu, tetapi dia menolak karena pendeta gereja sering memperingatkan umatnya melawan pernikahan semacam itu.

Human Rights Watch menyerukan Tiongkok dan Pakistan untuk mengambil tindakan agar mengakhiri perdagangan pengantin wanita.  HRW memperingatkan dalam pernyataan 26 April lalu tentang “semakin banyak bukti bahwa perempuan dan anak perempuan Pakistan menghadapi risiko perbudakan seksual di Tiongkok.”

Pada 6 Mei lalu, Geo TV melaporkan bahwa badan Investigasi Federal Pakistan berhasil menangkap delapan warga negara Tiongkok dan empat warga Pakistan dalam penggerebekan di Punjab sehubungan dengan perdagangan manusia. Penggerebekan itu menyusul operasi penyamaran terdiri menghadiri sebuah pernikahan yang diatur. (asr)

Oleh Kathy Gannon & Dake Kang

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular