Washington – Diperlukan ratusan atau bahkan ribuan tahun bagi umat manusia untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelajahi ruang antar-bintang. Sampai saat itu, justru hanya material ruang antarbintang yang ‘mendatangi’ planet kita.

Sebuah penelitian baru oleh dua peneliti Harvard mengungkapkan bahwa kosmos mungkin telah ‘mengirim masuk’ material tata surya lain ke galaksi Bimasakti, pada lima tahun lalu atau pada tahun 2014. Sebuah meteor kecil menabrak Bumi dekat Papua Nugini di Pasifik Selatan. Menurut penelitian mereka, objek selebar 1,5 kaki ini kemungkinan besar datang jauh-jauh dari tata surya lain.

Jika suatu objek, yang bermula ribuan tahun cahaya jauhnya dari Bumi, kemudian jatuh ke laut. Implikasinya sama luas dan misterius, dengan ruang terbuka yang luas di tempat asalnya.

“Hampir semua benda yang menghantam Bumi berasal dari tata surya kita,” jelas Dr. Abraham Loeb, ketua Departemen Astronomi di Universitas Harvard, dan rekan penulis penelitian. “Mereka terbuat dari bahan yang sama yang membuat tata surya kita. Sedangkan benda langit yang antarbintang, berasal (terbuat) dari sumber lain. Ini seperti menerima pesan dalam botol dari lokasi yang jauh. Kami benar-benar dapat memeriksanya, sama seperti jika kita berjalan di pantai dan melihat kerang yang tersapu ke pantai, kita dapat mempelajari sesuatu tentang lautan.”

Kapsul Waktu
Loeb dan rekannya, Amir Siraj mempelajari kecepatan benda yang memasuki atmosfer Bumi, yang dapat digunakan untuk memprediksi apakah benda itu bergerak dalam kaitannya dengan orbit matahari kita.

“Apa yang kami lakukan adalah mengambil sifat-sifat meteor dan mengambil kecepatan pada saat tabrakan dan memperkirakan apakah itu terikat pada matahari atau tidak,” kata Loeb.

Dari tiga objek tercepat yang tercatat, yang tercepat jelas terikat pada matahari kita. Yang tercepat ketiga tidak dapat dikategorikan dengan jelas. Tapi yang tercepat kedua, kata Loeb, memiliki semua keunggulan karena benar-benar tidak berasal dari tata surya ini.

“Pada kecepatan ini, dibutuhkan puluhan ribu tahun untuk sebuah benda bergerak dari satu bintang ke bintang lainnya,” katanya.

Karena mereka tidak tahu persis dari mana asalnya, mereka tidak bisa mengatakan dengan tepat berapa umurnya, tetapi itu bisa saja sangat kuno.

“Untuk menyeberangi galaksi itu akan memakan waktu ratusan juta tahun,” sambung Loeb.

Tanda Kehidupan yang Potensial
Dari semua kemungkinan yang terbungkus dalam objek yang relatif kecil ini, mungkin yang paling menarik adalah gagasan bahwa, secara teoritis, objek antarbintang dapat membawa kehidupan dari sistem tata surya lain.

“Yang paling penting, ada kemungkinan bahwa kehidupan dapat ditransfer antar bintang. Pada prinsipnya, kehidupan bisa bertahan di inti batu. Baik bakteri, atau tardigrades (hewan mikroskopis, penghuni air); mereka dapat bertahan hidup dalam kondisi keras di luar angkasa dan tiba tepat waktu dihadapan kita,” beber Loeb.

Meskipun objek yang dirinci dalam makalah ini adalah meteor antarbintang pertama yang tercatat yang menabrak Bumi, studi tersebut memperkirakan benda-benda tersebut memasuki atmosfer bumi setiap sepuluh tahun atau lebih. Fakta yang berarti, kemungkinan ada satu juta objek antarbintang berbeda yang mengambang di sekitar tata surya kita, dan menunggu untuk diperiksa.

Pembaca mungkin ingat asteroid antarbintang yang jauh lebih besar terlihat pada tahun 2017, memantul dan mengancam melalui lingkungan antarplanet di Galaksi Bimasakti. ‘Nugget’ sepanjang 1.300 kaki (sekitar 400 meter), dijuluki ‘Oumuamua’, adalah penemuan yang sama-sama menggiurkan.

Lagipula, jika sebuah batu ruang angkasa kecil di Pasifik Selatan dapat menyimpan petunjuk tentang apa yang terjadi di seluruh alam semesta, bayangkan apa yang bisa dijelaskan oleh benda ukuran seratus kali lipat dari ukuran itu, kepada para peneliti. (THE ASSOCIATED PRESS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular