c. Menyimpangkan Struktur Keluarga Melalui Homoseksualitas

Gerakan lesbian, gay (homoseksual), biseksual, dan transgender (disingkat LGBT) telah dikaitkan erat dengan komunisme sejak utopian pertama mulai menggembar-gemborkan praktik homoseksualitas sebagai hak asasi manusia. Karena gerakan komunis mengklaim membebaskan manusia dari ikatan moralitas tradisional, ideologi komunisme secara alami menyerukan hak LGBT sebagai bagian dari program “seks bebas”. Banyak pendukung seks bebas yang dengan setia mendukung homoseksualitas adalah kaum komunis atau berbagi pandangan mereka.

Gerakan LGBT besar pertama di dunia dimulai oleh tokoh senior Partai Sosial Demokrat Jerman selama tahun 1890-an. Dipimpin oleh Magnus Hirschfeld, kelompok ini mempromosikan homoseksualitas sebagai “alami” dan “moral.” Pada tahun 1897, Komite Ilmiah-Kemanusiaan, yang dikenal di Jerman sebagai Wissenschaftlich-humanitäres Komitee, didirikan oleh Magnus Hirschfeld untuk menyokong penyebab LGBT dan memulai kampanye publik pertamanya tahun itu.

Pada tahun 1895, ketika penulis Inggris Oscar Wilde diselidiki karena hubungan seksualnya dengan pria lain, Partai Sosial Demokrat adalah satu-satunya kelompok yang teguh membela. Pemimpin Partai Sosial Demokrat Eduard Bernstein mengusulkan RUU untuk membatalkan hukum yang melarang sodomi.

Salah satu contoh seks bebas paling radikal di era tersebut mengikuti Revolusi Oktober Bolshevik di Rusia. Kebijakan seksual Soviet, yang dibahas sebelumnya dalam bab ini, menghapuskan larangan hukum mengenai hubungan homoseksual, menjadikan Uni Soviet sebagai negara paling liberal di dunia berdasarkan standar sayap kiri.

Pada tahun 1997, Kongres Nasional Afrika di Afrika Selatan mengesahkan konstitusi pertama di dunia yang mengakui homoseksualitas sebagai hak asasi manusia. Kongres Nasional Afrika, anggota International Sosialis (sebelumnya cabang dari International Kedua yang sudah tidak ada lagi), secara konsisten mendukung homoseksualitas.

Terinspirasi oleh Komite Ilmiah-Kemanusiaan Magnus Hirschfeld, pada tahun 1924, Henry Gerber mendirikan Masyarakat untuk Hak Asasi Manusia, organisasi hak LGBT Amerika pertama. Masyarakat untuk Hak Asasi Manusia berumur pendek, karena beberapa anggotanya ditangkap segera setelah didirikan. Pada tahun 1950, komunis Amerika Harry Hay mendirikan Masyarakat Mattachine di kediamannya di Los Angeles. Organisasi ini adalah kelompok LGBT berpengaruh pertama di Amerika Serikat, yang merilis publikasi sendiri dan diperluas ke daerah lain.

Pada tahun 1957, ahli zoologi Evelyn Hooker menyatakan dalam penelitiannya bahwa tidak ada perbedaan mental antara pria homoseksual dengan pria heteroseksual. Karyanya kemudian menjadi “dasar ilmiah” utama yang digunakan untuk membenarkan homoseksualitas. Evelyn Hooker memiliki hubungan dengan anggota Masyarakat Mattachine, yang membujuknya untuk mendukung homoseksualitas. Studinya telah dikritik karena memilih semua subjeknya dari jajaran Masyarakat Mattachine. [15]

Pada 1960-an, mengiringi gelombang seks bebas dan gerakan hippie, penyebab homoseksual dipublikasikan. Pada tahun 1971, Organisasi Nasional untuk Wanita, sebuah organisasi feminis utama di Amerika, menyatakan dukungannya untuk hak kaum homoseksual.

Pada tahun 1974, Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat mengutip penelitian Evelyn Hooker sebagai bukti utama untuk menghilangkan homoseksualitas dari daftar gangguan mental. Namun dalam pemungutan suara yang sebenarnya, keputusan ini ditentang oleh 39 persen anggota Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat. Dengan kata lain, penelitian itu jauh dari meyakinkan dengan suara bulat.

Evelyn Hooker dan para peneliti tindak lanjutnya memilih hasil uji penyesuaian sebagai ukuran status psikologis homoseksual. Sederhananya, jika seseorang dapat beradaptasi dengan masyarakat, mempertahankan harga diri dan hubungan interpersonal yang baik, dan tidak memiliki hambatan psikologis dalam kehidupan sosial yang biasa, maka ia dapat dianggap sebagai orang normal secara psikologis.

Pada tahun 2015, Dr. Robert L. Kinney III menerbitkan sebuah artikel di jurnal medis Lincore yang membahas kekurangan dalam standar yang digunakan Evelyn Hooker untuk menentukan ada tidaknya gangguan mental.

Sebagai contoh, ada jenis penyakit mental yang disebut xenomelia, yang menciptakan keinginan kuat pada penderitanya untuk memotong anggota tubuhnya yang sehat dan berfungsi. Mirip yang terjadi pada beberapa kaum homoseksual yang merasa yakin bahwa mereka dilahirkan dengan organ seks yang salah, penderita xenomelia sangat percaya bahwa satu atau lebih bagian tubuhnya bukan miliknya. Penderita xenomelia sepenuhnya mampu beradaptasi dengan masyarakat, mempertahankan harga diri dan hubungan interpersonal yang baik, dan tidak memiliki hambatan psikologis untuk berfungsi dalam masyarakat. Penderita xenomelia mengalami kepuasan saat anggota tubuh yang mengganggu diamputasi dan melaporkan bahwa tindakan tersebut meningkatkan kualitas hidupnya. [16]

Laporan Robert Kinney mengutip penyakit mental lainnya. Sebagai contoh, orang-orang dengan jenis gangguan psikologis tertentu menikmati makan plastik, korban yang tidak bunuh diri yang menderita penyakit lain memiliki keinginan kuat untuk melukai dirinya secara fisik, dan sebagainya. Penderita-penderita ini sering memiliki “penyesuaian” sosial yang baik, terbukti telah mendapatkan gelar sarjana. Namun, semua kondisi ini adalah kelainan psikologis yang diakui oleh komunitas ilmiah. [17]

Banyak penelitian memastikan bahwa kaum homoseksual memiliki angka penularan AIDS yang jauh lebih tinggi, lebih sering melakukan bunuh diri dan menyalahgunakan obat dibandingkan populasi umum, bahkan di negara seperti Denmark, di mana pernikahan sesama jenis telah lama sah dan tidak ditabukan. [18] [19] Prevalensi AIDS dan sifilis di kalangan kaum homoseksual adalah antara 38 dan 109 kali dari populasi normal. [20] Sebelum terobosan dalam pengobatan AIDS yang dibuat pada tahun 1990-an, usia rata-rata kaum homoseksual adalah delapan tahun hingga dua puluh tahun lebih pendek dari populasi rata-rata. [21] Fakta-fakta ini tidak menunjukkan bahwa kaum homoseksualitas adalah normal atau sehat.

Ketika gerakan LGBT terus tumbuh, label “homofobia” yang “benar secara politis” digunakan untuk menyerang penentang homoseksualitas dan para ahli yang menyajikan temuan bahwa homoseksualitas adalah penyakit mental terpinggirkan. Sejumlah besar kaum homoseksual telah memperoleh gelar dalam bidang psikologi dan psikiatri dan telah menjadi “ahli” dalam “studi aneh.”

Bukti ilmiah yang diduga dikutip secara luas hari ini untuk mendukung homoseksualitas sebagai perilaku “normal” adalah “Laporan Gugus Tugas mengenai Respons Terapi yang Sesuai untuk Orientasi Seksual,” yang ditulis oleh kelompok kerja yang ditunjuk oleh Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat pada tahun 2009. Robert Kinney mencatat bahwa dari tujuh anggota kelompok kerja, enam, termasuk ketua, adalah kaum homoseksual atau biseksual. Studi ini tidak dapat dianggap netral secara ilmiah.

Joseph Nicolosi, mendiang presiden Institut Studi Gay dan Lesbian Nasional, mengungkapkan bahwa pada saat itu, para ahli yang paling memenuhi syarat telah mendaftar untuk bergabung dengan kelompok kerja, tetapi karena para ahli ini berasal dari sekolah akademik yang mendukung penggunaan perawatan untuk mengoreksi homoseksualitas, tidak ada yang diterima. [22] Nicholas Cummings, mantan presiden Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, mengatakan dalam sebuah pernyataan publik bahwa politik mengalahkan ilmu pengetahuan dalam Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, yang telah diambil alih oleh para pendukung hak kaum homoseksual. [23]

Saat ini, standar penyesuaian yang didukung oleh “ahli” studi aneh dan pendukung gerakan homoseksual juga banyak digunakan oleh Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat untuk mengukur kelainan psikologis-seksual lainnya, seperti pedofilia.

Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, seorang pedofil didefinisikan sebagai orang dewasa yang merasa sangat terangsang atau memiliki fantasi seksual saat melihat seorang anak, terlepas dari apakah rangsangan ini ditindaklanjuti atau tidak. Tetapi selama seorang pedofil mampu menunjukkan “penyesuaian,” maka orientasi seksual pedofil harus dianggap “normal.” Sebaliknya, hanya ketika pedofil merasa malu, konflik batin, atau jenis tekanan psikologis yang melemahkan lainnya maka dianggap sebagai suatu gangguan.

Standar diagnosis ini benar-benar bertentangan dengan nilai manusia normal: Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, seseorang yang merasa malu dan bersalah karena memiliki rangsangan yang tidak dapat diterima adalah sakit mental, tetapi seseorang yang merasa nyaman dengan rangsangan ini konon adalah sehat. Perkawinan homoseksual disahkan mengikuti logika ini, dan tidak lama lagi pedofilia akan disahkan juga.

David Thorstad, seorang Trotskyite dan anggota Partai Komunis Amerika Serikat, mendirikan Asosiasi Cinta Pria/Anak Laki-Laki Amerika Utara. Tokoh penting lain dalam gerakan LGBT Amerika dan seorang promotor pedofilia adalah Allen Ginsberg, adalah seorang komunis dan pengagum Fidel Castro. Selain Asosiasi Cinta Pria/Anak Laki-Laki Amerika Utara, organisasi pedofil utama lainnya adalah Lingkaran Sensualitas Masa Kanak-Kanak, yang didirikan di California pada tahun 1971 oleh murid-murid komunis Jerman dan pelopor seks bebas Wilhelm Reich.

Banyak masalah tak terduga sebelumnya. Menurut standar penyesuaian psikologi saat ini, berbagai seks bebas yang menyesatkan yang dianjurkan oleh sosialis utopis Charles Fourier, termasuk inses, perkawinan kelompok, dan melakukan aktivitas seksual dengan binatang, juga dapat dianggap sebagai kondisi psikologis normal. Persatuan suami dan istri oleh Ilahi telah diputarbalikkan untuk melibatkan pasangan sesama jenis. Dengan demikian keluarga inses dan “perkawinan” antara manusia dan binatang dapat disahkan. Iblis menurunkan derajat manusia menjadi binatang buas, tanpa standar atau moral, sehingga pada akhirnya manusia akan dihancurkan.

Gerakan LGBT, seks bebas, dan feminisme telah mengepung struktur keluarga dan moralitas manusia, yang merupakan pengkhianatan terhadap pernikahan tradisional yang diatur Tuhan untuk umat manusia.

Memperlakukan kaum homoseksual sebagai sesama manusia adalah ramah dan baik, tetapi iblis telah memanipulasi kebaikan ini untuk menipu dan menghancurkan manusia yang telah lupa bahwa para dewa menciptakan pria dan wanita sesuai citra pada dewa dan menetapkan kondisi untuk menjadi manusia. Ketika seorang pria bukan lagi pria, dan seorang wanita bukan lagi wanita, ketika manusia meninggalkan kode moral Ilahi dan memihak iblis demi nafsu manusia, maka tidak ada jalan keluar dari jurang kutukan.

Kita mungkin dengan baik hati mengatakan “kami menghargai pilihanmu” kepada manusia yang telah tersesat dan berkeliaran di ujung jurang, tetapi hal ini hanya membuat manusia tersebut semakin dekat dengan bahaya. Belas kasih sejati adalah untuk memberitahu manusia yang telah salah arah untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, untuk mengarahkan manusia yang telah salah arah untuk kembali ke jalan yang lurus, dan untuk membantu manusia tersebut menghindari malapetaka – walaupun belas kasih sejati itu dibenci atau disalahpahami.

Share

Video Popular