- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian II)

oleh Tim Editorial “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita, oleh tim editorial Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis.

Daftar ISI

5. Bagaimana Komunisme Menghancurkan Keluarga di Barat (lanjutan)

b. Mempromosikan Feminisme dan Menolak Keluarga Tradisional (lanjutan)
c. Menyimpangkan Struktur Keluarga Melalui Homoseksualitas
d. Mempromosikan Perceraian dan Aborsi
e. Menggunakan Sistem Kesejahteraan untuk Mendukung Keluarga Orangtua Tunggal
f. Mempromosikan Budaya yang Memburuk

6. Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Menghancurkan Keluarga

a. Memecah Keluarga Demi Kesetaraan
b. Menggunakan Perjuangan Politik untuk Mengubah Suami dan Istri Melawan Satu Sama Lain
c. Menggunakan Aborsi Secara Paksa untuk Mengendalikan Penduduk

7. Konsekuensi Serangan Komunisme terhadap Keluarga

Daftar PUSTAKA

5. Bagaimana Komunisme Menghancurkan Keluarga di Barat (lanjutan)

b. Mempromosikan Feminisme dan Menolak Keluarga Tradisional (lanjutan)

Hasil Gerakan Feminis: Keluarga yang Terpisah, Hubungan yang Merosot, Bingung terhadap Peran Seks

Feminisme sekarang lazim di semua bagian masyarakat. Menurut survei publik yang dilakukan oleh Universitas Harvard pada tahun 2016, sekitar 59 persen wanita menyatakan dukungannya terhadap pandangan feminis.

Terlepas dari perbedaan fisiologis organ reproduksi pria dan wanita, semua perbedaan fisik dan psikologis lainnya antara pria dan wanita, termasuk perbedaan perilaku dan kepribadian, salah satu pernyataan utama feminisme kontemporer adalah konstruksi sosial dan budaya. Dengan logika ini, pria dan wanita harus sepenuhnya setara dalam semua aspek kehidupan dan masyarakat, dan semua manifestasi “ketidaksetaraan” antara pria dan wanita adalah hasil dari budaya dan masyarakat yang menindas dan seksis.

Sebagai contoh, jumlah pria yang bekerja sebagai eksekutif di perusahaan besar, akademisi tingkat tinggi di universitas elit, dan pejabat senior pemerintah jauh melebihi jumlah wanita di posisi yang sama.

Banyak feminis percaya ini terutama disebabkan oleh seksisme, padahal sebenarnya perbandingan yang adil antara jenis kelamin dapat dilakukan hanya ketika mempertimbangkan faktor-faktor seperti kemampuan, jam, etos kerja, dan sejenisnya. Keberhasilan dalam posisi tingkat tinggi seringkali membutuhkan kerja lembur dengan intensitas tinggi dalam jangka panjang – pengorbanan akhir pekan dan malam hari, pertemuan darurat secara tiba-tiba, perjalanan bisnis yang sering, dan sebagainya.

Memiliki anak cenderung mengganggu karier wanita, dan wanita cenderung menyediakan waktu untuk dihabiskan bersama keluarga dan anak-anaknya daripada mendedikasikan diri sepenuhnya untuk pekerjaannya. Selain itu, orang-orang dengan bakat untuk mengisi posisi tingkat tinggi cenderung memiliki kepribadian yang kuat, sedangkan wanita cenderung lebih lembut dan lebih menyenangkan.

Ini adalah alasan utama mengapa wanita mengisi sebagian kecil dari posisi tingkat tinggi. Namun, feminis menganggap kecenderungan wanita untuk bersikap lembut dan mengorientasikan dirinya di sekitar keluarga dan anak-anak sebagai sifat yang dipaksakan kepada wanita oleh masyarakat seksis. Menurut feminisme, perbedaan-perbedaan ini harus dikoreksi dengan layanan seperti tempat penitipan anak di tempat umum dan bentuk kesejahteraan lainnya. [1]

Feminisme kontemporer tidak dapat mentolerir penjelasan mengenai ketidaksetaraan antara pria dan wanita yang mendasarkan argumennya pada perbedaan fisiologis dan psikologis alami antara pria dan wanita. Semua kesalahan harus diletakkan di bawah pengondisian sosial dan moralitas tradisional.

Pada tahun 2005, Lawrence Summers, presiden Universitas Harvard, berbicara di sebuah konferensi akademik untuk membahas mengapa wanita lebih kecil kemungkinannya daripada pria untuk mengajar di bidang sains dan matematika di universitas ternama. Selain menyoroti jam kerja selama 80 jam setiap minggu dan jadwal kerja tak terduga yang diperlukan untuk posisi-posisi ini (waktu sebagian besar wanita akan dicadangkan untuk keluarga), Lawrence Summers mengusulkan bahwa pria dan wanita mungkin hanya berbeda dalam kompetensi mereka ketika datang ke sains dan matematika maju.

Meskipun mendukung pernyataannya dengan studi yang relevan, Lawrence Summers menjadi sasaran protes organisasi feminis yaitu Organisasi Nasional untuk Wanita. Kelompok itu menuduh Lawrence Summers melakukan seksisme dan menuntut pemecatan Lawrence Summers. Lawrence Summers dikritik habis-habisan di media dan dipaksa untuk mengeluarkan permintaan maaf publik atas pernyataannya. Lawrence Summers kemudian menyumbang 50 juta dolar Amerika Serikat untuk meningkatkan keragaman fakultas Harvard. [2]

Pada tahun 1980, Science Magazine menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa siswa pria dan wanita di sekolah menengah pertama memiliki perbedaan bermakna dalam kemampuan penalaran matematis, di mana kinerja siswa pria lebih baik daripada siswa wanita. [3]

Sebuah studi selanjutnya yang membandingkan skor uji matematika SAT untuk pria dan wanita menunjukkan pria peserta ujian empat kali lebih cenderung mencapai skor yang lebih tinggi dari 600, dibandingkan dengan wanita peserta ujian. Kesenjangan ini bahkan menjadi lebih ekstrem di ambang batas 700 poin, di mana pria peserta ujian 13 kali lebih banyak mencapai skor ini daripada wanita peserta ujian. [4]

Tim peneliti yang sama melakukan penelitian lain pada tahun 2000, menemukan bahwa baik pria peserta ujian maupun wanita peserta ujian SAT yang menunjukkan kejeniusan matematika pada skor SAT mereka cenderung untuk memperoleh gelar lanjutan dalam bidang sains dan yang berhubungan dengan matematika, dan merasa puas dengan prestasi mereka. Dengan demikian, argumen Lawrence Summers didukung oleh data ilmiah.

Beberapa laporan mencatat bahwa perlakuan Lawrence Summers setelah konferensi 2005 mencerminkan kebijakan pendidikan ulang yang digunakan oleh rezim komunis untuk menekan para pembangkang. Bahkan karena penyebab ketidaksetaraan belum ditentukan, kesetaraan hasil ditegakkan dengan mendorong “keragaman” – yaitu, memastikan ada lebih banyak instruktur wanita dalam mata pelajaran matematika dan ilmiah.

Mudah melihat hubungan antara feminisme dan sosialisme. Diplomat dan ilmuwan politik Prancis abad ke-19 Alexis de Tocqueville mengatakan: “Demokrasi dan sosialisme tidak memiliki kesamaan kecuali satu kata, kesetaraan. Tetapi perhatikan perbedaannya: Demokrasi mencari persamaan dalam kebebasan, sosialisme mencari persamaan dalam pengekangan dan perbudakan.”[5]

Semua ini tidak dimaksudkan untuk membuktikan bahwa pria lebih unggul dari wanita dalam kecerdasan atau kemampuan, karena bakat pria dan wanita terwujud dalam kompetensi yang berbeda. Upaya yang disengaja untuk menghilangkan perbedaan antara kedua jenis kelamin bertentangan dengan akal sehat dan mencegah pria dan wanita untuk memenuhi potensi mereka.

Sementara alasan untuk perbedaan psikologis dan intelektual antara pria dan wanita mungkin tidak segera jelas, menyangkal perbedaan fisik dan reproduksi pria dan wanita bertentangan dengan fakta. Dalam pandangan tradisional baik Timur dan Barat, pria adalah figur pelindung. Adalah wajar jika petugas pemadam kebakaran berjenis kelamin pria. Namun, kaum feminis, yang meyakini kesetaraan absolut antara pria dan wanita, menuntut agar wanita melakukan tugas-tugas tradisional pria, dengan hasil yang tidak terduga.

Pada tahun 2005, Pemadam Kebakaran New York memungkinkan seorang wanita menjadi petugas pemadam kebakaran tanpa melewati uji coba fisik, yang biasanya mencakup menyelesaikan tugas sambil mengenakan tangki oksigen dan peralatan lainnya seberat 23 kg. Petugas pemadam kebakaran lainnya menyatakan keprihatinan mengenai hal ini, mengatakan bahwa rekan kerja yang tidak dapat memenuhi standar pasti akan menciptakan beban dan bahaya bagi anggota tim lainnya dan bagi masyarakat.

Pemadam kebakaran akhirnya mempekerjakan wanita tersebut untuk menghindari gugatan: Kelompok-kelompok feminis telah lama menyalahkan standar fisik Pemadam Kebakaran New York yang tinggi sehingga menciptakan proporsi yang rendah bagi wanita sebagai anggota pasukan pemadam kebakaran. [6] Pemadam Kebakaran Chicago menghadapi tantangan yang sama dan dipaksa untuk menurunkan standar guna meningkatkan jumlah wanita petugas pemadam kebakaran.

Di Australia, banyak pemadam kebakaran kota telah menerapkan kuota gender. Untuk setiap pemohon laki-laki yang dipekerjakan, seorang wanita harus dipekerjakan juga. Untuk memenuhi persyaratan ini, standar fisik yang sangat berbeda telah ditetapkan untuk pria dan wanita meskipun mereka melamar pekerjaan yang sama, yaitu berbahaya danmenimbulkan stres yang tinggi.

Kampanye yang tidak logis demi kesetaraan hasil ini tidak berhenti di situ. Kuota menciptakan gesekan antara pria dan wanita sebagai petugas pemadam kebakaran. Wanita petugas pemadam kebakaran melaporkan bahwa rekan kerja pria menyalahkannya karena tidak memenuhi syarat dan tidak kompeten. Kelompok feminis mengaitkan keluhan ini sebagai “penindasan” dan “tekanan psikologis.” [7] Situasi ini menciptakan medan pertempuran baru bagi kaum feminis untuk bertarung demi kesetaraan.

Tetapi kemustahilan ini adalah langkah yang disengaja dalam rencana roh komunisme: Dengan menantang patriarki yang sepatutnya – yaitu, masyarakat tradisional – feminisme merusak keluarga tradisional dengan cara yang sama seperti perjuangan kelas digunakan untuk melemahkan sistem kapitalis.

Dalam budaya tradisional, sudah pasti bahwa pria harus maskulin dan wanita harus feminin. Pria memikul tanggung jawab untuk keluarga dan komunitasnya dengan cara melindungi wanita dan anak-anak – struktur yang sangat patriarkal yang ditentang oleh feminisme dengan alasan bahwa hal tersebut memberi keuntungan yang tidak adil bagi pria sembari mengekang wanita. Feminisme tidak memiliki tempat bagi semangat tradisional kesatria atau perilaku sopan. Dalam dunia feminis, pria bagaikan pria di atas kapal Titanic yang tenggelam yang tidak rela mengorbankan tempat mereka di sekoci di mana seharusnya penumpang wanita dapat memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.

Perang feminisme melawan patriarki juga telah memasuki ranah pendidikan. Pada tahun 1975, sebuah pengadilan Pennsylvania yang memutuskan gugatan terhadap Federasi Atletik Antar-Pennsylvania memerintahkan agar sekolah-sekolah harus melibatkan siswa pria dan wanita dalam semua kegiatan fisik, termasuk gulat dan sepak bola Amerika. Siswa wanita tidak diizinkan berpantang hanya berdasarkan jenis kelaminnya. [8]

Dalam bukunya tahun 2013 The War Against Boys: How Misguided Feminism Is Harming Our Young Men yang artinya Perang Melawan Anak Laki-laki: Bagaimana Feminisme Membahayakan Anak Muda Kita, Christina Hoff Sommers berpendapat bahwa maskulinitas sedang diserang. [9] Ia memamerkan contoh Sekolah Menengah Atas Penerbangan di Queens, New York, yang terutama menerima siswa dari keluarga berpenghasilan rendah. Sekolah mengangkat anak-anak ini ke standar prestasi akademik yang tinggi yang menduduki peringkat sebagai salah satu sekolah menengah atas terbaik di Amerika menurut Berita dan Laporan Dunia Amerika Serikat.

Sekolah Menengah Atas Penerbangan tersebut mengkhususkan diri dalam mengajar murid-muridnya melalui proyek-proyek langsung seperti membangun pesawat mekanik listrik, dan tidak mengherankan, suasana kelas sangat didominasi oleh dunia pria. Siswa wanita, yang lebih sedikit jumlahnya, juga berprestasi luar biasa dan dihormati oleh rekan dan instrukturnya.

Namun demikian, Sekolah Menengah Atas Penerbangan tersebut menghadapi kritik yang semakin meningkat dan ancaman tuntutan hukum dari organisasi feminis yang menuntut agar lebih banyak siswa wanita yang diterima. Berbicara di Gedung Putih pada tahun 2010, pendiri Pusat Hukum Wanita Nasional khusus membahas masalah di Sekolah Tinggi Penerbangan sebagai kasus “isolasi gender” dan berkata, “Kami hampir tidak akan berpuas diri sampai kami memiliki kesetaraan mutlak, dan kami belum berhasil mewujudkannya.”

Bagi kaum feminis, membesarkan anak laki-laki untuk mengejar sifat-sifat maskulin berupa kemandirian dan petualangan, dan mendorong anak perempuan untuk bersikap lembut, perhatian, dan berorientasi keluarga, tidak lebih dari penindasan dan ketidaksetaraan gender.

Feminisme modern memaksa masyarakat menuju masa depan yang bebas gender dengan menyerang karakteristik psikologis pria dan wanita yang menjadi ciri khas masing-masing jenis kelamin. Hal ini mengandung pengertian yang sangat parah bagi anak-anak dan orang muda yang berada di tahun-tahun pembentukan jati dirinya dan di antara mereka semakin banyak yang diperkirakan menjadi homoseksual, biseksual, atau transgender.

Ini sudah berlangsung di beberapa negara Eropa, di mana semakin banyak anak melaporkan merasa bahwa mereka dilahirkan dengan tubuh fisik yang salah. Pada tahun 2009, Layanan Pengembangan Identitas Gender, yang berbasis di Tavistock dan Kepercayaan Fondasi NHS Portman di London, menerima 97 rujukan untuk transisi seks. Pada 2017, Layanan Pengembangan Identitas Gender menerima lebih dari 2.500 rujukan semacam itu setiap tahun. [10]

Masyarakat tradisional menganggap persalinan dan pendidikan anak-anak sebagai tugas suci wanita, yang ditahbiskan oleh Tuhan atau Surga. Dalam catatan sejarah baik Timur maupun Barat, di belakang setiap pahlawan besar adalah seorang ibu yang hebat. Feminisme membuang tradisi ini sebagai penindasan patriarkal, dan berpendapat bahwa mengharapkan wanita untuk bertanggung jawab dalam membesarkan anak-anaknya adalah contoh penting penindasan ini.

Sastra feminis kontemporer penuh dengan pengaduan keibuan dan kehidupan pernikahan sebagai sesuatu yang monoton, membosankan, dan tidak memuaskan. Bias pandangan redup ini terlihat jelas ketika mempertimbangkan kehidupan pribadi para feminis terkenal. Hampir semua feminis terkenal menderita hubungan yang rusak atau pernikahan yang gagal, atau tidak memiliki anak.

Feminisme telah membuka pintu bagi semua jenis gagasan konyol. Ada feminis yang bersikeras bahwa “pribadi adalah politik” dan melihat konflik rumah tangga sebagai perang gender. Beberapa menganggap parasit pria yang memperbudak pikiran dan tubuh wanita. Feminis lainnya menggambarkan anak-anak sebagai penghalang bagi wanita yang ingin mencapai potensi penuh dan mengklaim bahwa akar penindasan ada dalam struktur keluarga.

Feminisme modern secara terbuka menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk menghancurkan keluarga tradisional. Pernyataan khas meliputi: “Prasyarat untuk pembebasan wanita adalah mengakhiri sistem perkawinan.” [11] “Pilihan untuk melayani dan dilindungi dan rencana untuk menjadi pembuat keluarga adalah pilihan yang tidak seharusnya.” [12] “Kita tidak dapat menghancurkan ketidaksetaraan antara pria dan wanita sampai kita menghancurkan pernikahan.” [13]

Gerakan feminis menyelesaikan masalah sosial yang sepatutnya terjadi dengan cara mempromosikan degenerasi moral dan menghancurkan hubungan manusia atas nama “pembebasan.” Menurut Sylvia Ann Hewlett, seorang ahli ekonomi Amerika dan spesialis gender, feminisme modern adalah faktor utama yang berkontribusi pada sejumlah besar ibu rumah tangga tunggal, sementara perceraian tanpa cela benar-benar menyediakan cara yang nyaman bagi pria untuk meninggalkan tanggung jawabnya. Ironisnya, serangan feminisme pada struktur keluarga yang ada berfungsi untuk menghancurkan surga yang menjamin kebahagiaan dan keamanan kebanyakan wanita.

Perceraian yang mudah tidak memerdekakan wanita. Studi menemukan bahwa 27 persen wanita yang bercerai hidup di bawah garis kemiskinan, persentase tiga kali lebih tinggi daripada pria yang bercerai. [14] Roh komunisme tidak peduli hak kaum wanita. Feminisme hanyalah alatnya untuk menghancurkan keluarga dan merusak kemanusiaan.

c. Menyimpangkan Struktur Keluarga Melalui Homoseksualitas

Gerakan lesbian, gay (homoseksual), biseksual, dan transgender (disingkat LGBT) telah dikaitkan erat dengan komunisme sejak utopian pertama mulai menggembar-gemborkan praktik homoseksualitas sebagai hak asasi manusia. Karena gerakan komunis mengklaim membebaskan manusia dari ikatan moralitas tradisional, ideologi komunisme secara alami menyerukan hak LGBT sebagai bagian dari program “seks bebas”. Banyak pendukung seks bebas yang dengan setia mendukung homoseksualitas adalah kaum komunis atau berbagi pandangan mereka.

Gerakan LGBT besar pertama di dunia dimulai oleh tokoh senior Partai Sosial Demokrat Jerman selama tahun 1890-an. Dipimpin oleh Magnus Hirschfeld, kelompok ini mempromosikan homoseksualitas sebagai “alami” dan “moral.” Pada tahun 1897, Komite Ilmiah-Kemanusiaan, yang dikenal di Jerman sebagai Wissenschaftlich-humanitäres Komitee, didirikan oleh Magnus Hirschfeld untuk menyokong penyebab LGBT dan memulai kampanye publik pertamanya tahun itu.

Pada tahun 1895, ketika penulis Inggris Oscar Wilde diselidiki karena hubungan seksualnya dengan pria lain, Partai Sosial Demokrat adalah satu-satunya kelompok yang teguh membela. Pemimpin Partai Sosial Demokrat Eduard Bernstein mengusulkan RUU untuk membatalkan hukum yang melarang sodomi.

Salah satu contoh seks bebas paling radikal di era tersebut mengikuti Revolusi Oktober Bolshevik di Rusia. Kebijakan seksual Soviet, yang dibahas sebelumnya dalam bab ini, menghapuskan larangan hukum mengenai hubungan homoseksual, menjadikan Uni Soviet sebagai negara paling liberal di dunia berdasarkan standar sayap kiri.

Pada tahun 1997, Kongres Nasional Afrika di Afrika Selatan mengesahkan konstitusi pertama di dunia yang mengakui homoseksualitas sebagai hak asasi manusia. Kongres Nasional Afrika, anggota International Sosialis (sebelumnya cabang dari International Kedua yang sudah tidak ada lagi), secara konsisten mendukung homoseksualitas.

Terinspirasi oleh Komite Ilmiah-Kemanusiaan Magnus Hirschfeld, pada tahun 1924, Henry Gerber mendirikan Masyarakat untuk Hak Asasi Manusia, organisasi hak LGBT Amerika pertama. Masyarakat untuk Hak Asasi Manusia berumur pendek, karena beberapa anggotanya ditangkap segera setelah didirikan. Pada tahun 1950, komunis Amerika Harry Hay mendirikan Masyarakat Mattachine di kediamannya di Los Angeles. Organisasi ini adalah kelompok LGBT berpengaruh pertama di Amerika Serikat, yang merilis publikasi sendiri dan diperluas ke daerah lain.

Pada tahun 1957, ahli zoologi Evelyn Hooker menyatakan dalam penelitiannya bahwa tidak ada perbedaan mental antara pria homoseksual dengan pria heteroseksual. Karyanya kemudian menjadi “dasar ilmiah” utama yang digunakan untuk membenarkan homoseksualitas. Evelyn Hooker memiliki hubungan dengan anggota Masyarakat Mattachine, yang membujuknya untuk mendukung homoseksualitas. Studinya telah dikritik karena memilih semua subjeknya dari jajaran Masyarakat Mattachine. [15]

Pada 1960-an, mengiringi gelombang seks bebas dan gerakan hippie, penyebab homoseksual dipublikasikan. Pada tahun 1971, Organisasi Nasional untuk Wanita, sebuah organisasi feminis utama di Amerika, menyatakan dukungannya untuk hak kaum homoseksual.

Pada tahun 1974, Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat mengutip penelitian Evelyn Hooker sebagai bukti utama untuk menghilangkan homoseksualitas dari daftar gangguan mental. Namun dalam pemungutan suara yang sebenarnya, keputusan ini ditentang oleh 39 persen anggota Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat. Dengan kata lain, penelitian itu jauh dari meyakinkan dengan suara bulat.

Evelyn Hooker dan para peneliti tindak lanjutnya memilih hasil uji penyesuaian sebagai ukuran status psikologis homoseksual. Sederhananya, jika seseorang dapat beradaptasi dengan masyarakat, mempertahankan harga diri dan hubungan interpersonal yang baik, dan tidak memiliki hambatan psikologis dalam kehidupan sosial yang biasa, maka ia dapat dianggap sebagai orang normal secara psikologis.

Pada tahun 2015, Dr. Robert L. Kinney III menerbitkan sebuah artikel di jurnal medis Lincore yang membahas kekurangan dalam standar yang digunakan Evelyn Hooker untuk menentukan ada tidaknya gangguan mental.

Sebagai contoh, ada jenis penyakit mental yang disebut xenomelia, yang menciptakan keinginan kuat pada penderitanya untuk memotong anggota tubuhnya yang sehat dan berfungsi. Mirip yang terjadi pada beberapa kaum homoseksual yang merasa yakin bahwa mereka dilahirkan dengan organ seks yang salah, penderita xenomelia sangat percaya bahwa satu atau lebih bagian tubuhnya bukan miliknya. Penderita xenomelia sepenuhnya mampu beradaptasi dengan masyarakat, mempertahankan harga diri dan hubungan interpersonal yang baik, dan tidak memiliki hambatan psikologis untuk berfungsi dalam masyarakat. Penderita xenomelia mengalami kepuasan saat anggota tubuh yang mengganggu diamputasi dan melaporkan bahwa tindakan tersebut meningkatkan kualitas hidupnya. [16]

Laporan Robert Kinney mengutip penyakit mental lainnya. Sebagai contoh, orang-orang dengan jenis gangguan psikologis tertentu menikmati makan plastik, korban yang tidak bunuh diri yang menderita penyakit lain memiliki keinginan kuat untuk melukai dirinya secara fisik, dan sebagainya. Penderita-penderita ini sering memiliki “penyesuaian” sosial yang baik, terbukti telah mendapatkan gelar sarjana. Namun, semua kondisi ini adalah kelainan psikologis yang diakui oleh komunitas ilmiah. [17]

Banyak penelitian memastikan bahwa kaum homoseksual memiliki angka penularan AIDS yang jauh lebih tinggi, lebih sering melakukan bunuh diri dan menyalahgunakan obat dibandingkan populasi umum, bahkan di negara seperti Denmark, di mana pernikahan sesama jenis telah lama sah dan tidak ditabukan. [18] [19] Prevalensi AIDS dan sifilis di kalangan kaum homoseksual adalah antara 38 dan 109 kali dari populasi normal. [20] Sebelum terobosan dalam pengobatan AIDS yang dibuat pada tahun 1990-an, usia rata-rata kaum homoseksual adalah delapan tahun hingga dua puluh tahun lebih pendek dari populasi rata-rata. [21] Fakta-fakta ini tidak menunjukkan bahwa kaum homoseksualitas adalah normal atau sehat.

Ketika gerakan LGBT terus tumbuh, label “homofobia” yang “benar secara politis” digunakan untuk menyerang penentang homoseksualitas dan para ahli yang menyajikan temuan bahwa homoseksualitas adalah penyakit mental terpinggirkan. Sejumlah besar kaum homoseksual telah memperoleh gelar dalam bidang psikologi dan psikiatri dan telah menjadi “ahli” dalam “studi aneh.”

Bukti ilmiah yang diduga dikutip secara luas hari ini untuk mendukung homoseksualitas sebagai perilaku “normal” adalah “Laporan Gugus Tugas mengenai Respons Terapi yang Sesuai untuk Orientasi Seksual,” yang ditulis oleh kelompok kerja yang ditunjuk oleh Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat pada tahun 2009. Robert Kinney mencatat bahwa dari tujuh anggota kelompok kerja, enam, termasuk ketua, adalah kaum homoseksual atau biseksual. Studi ini tidak dapat dianggap netral secara ilmiah.

Joseph Nicolosi, mendiang presiden Institut Studi Gay dan Lesbian Nasional, mengungkapkan bahwa pada saat itu, para ahli yang paling memenuhi syarat telah mendaftar untuk bergabung dengan kelompok kerja, tetapi karena para ahli ini berasal dari sekolah akademik yang mendukung penggunaan perawatan untuk mengoreksi homoseksualitas, tidak ada yang diterima. [22] Nicholas Cummings, mantan presiden Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, mengatakan dalam sebuah pernyataan publik bahwa politik mengalahkan ilmu pengetahuan dalam Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, yang telah diambil alih oleh para pendukung hak kaum homoseksual. [23]

Saat ini, standar penyesuaian yang didukung oleh “ahli” studi aneh dan pendukung gerakan homoseksual juga banyak digunakan oleh Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat untuk mengukur kelainan psikologis-seksual lainnya, seperti pedofilia.

Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, seorang pedofil didefinisikan sebagai orang dewasa yang merasa sangat terangsang atau memiliki fantasi seksual saat melihat seorang anak, terlepas dari apakah rangsangan ini ditindaklanjuti atau tidak. Tetapi selama seorang pedofil mampu menunjukkan “penyesuaian,” maka orientasi seksual pedofil harus dianggap “normal.” Sebaliknya, hanya ketika pedofil merasa malu, konflik batin, atau jenis tekanan psikologis yang melemahkan lainnya maka dianggap sebagai suatu gangguan.

Standar diagnosis ini benar-benar bertentangan dengan nilai manusia normal: Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat, seseorang yang merasa malu dan bersalah karena memiliki rangsangan yang tidak dapat diterima adalah sakit mental, tetapi seseorang yang merasa nyaman dengan rangsangan ini konon adalah sehat. Perkawinan homoseksual disahkan mengikuti logika ini, dan tidak lama lagi pedofilia akan disahkan juga.

David Thorstad, seorang Trotskyite dan anggota Partai Komunis Amerika Serikat, mendirikan Asosiasi Cinta Pria/Anak Laki-Laki Amerika Utara. Tokoh penting lain dalam gerakan LGBT Amerika dan seorang promotor pedofilia adalah Allen Ginsberg, adalah seorang komunis dan pengagum Fidel Castro. Selain Asosiasi Cinta Pria/Anak Laki-Laki Amerika Utara, organisasi pedofil utama lainnya adalah Lingkaran Sensualitas Masa Kanak-Kanak, yang didirikan di California pada tahun 1971 oleh murid-murid komunis Jerman dan pelopor seks bebas Wilhelm Reich.

Banyak masalah tak terduga sebelumnya. Menurut standar penyesuaian psikologi saat ini, berbagai seks bebas yang menyesatkan yang dianjurkan oleh sosialis utopis Charles Fourier, termasuk inses, perkawinan kelompok, dan melakukan aktivitas seksual dengan binatang, juga dapat dianggap sebagai kondisi psikologis normal. Persatuan suami dan istri oleh Ilahi telah diputarbalikkan untuk melibatkan pasangan sesama jenis. Dengan demikian keluarga inses dan “perkawinan” antara manusia dan binatang dapat disahkan. Iblis menurunkan derajat manusia menjadi binatang buas, tanpa standar atau moral, sehingga pada akhirnya manusia akan dihancurkan.

Gerakan LGBT, seks bebas, dan feminisme telah mengepung struktur keluarga dan moralitas manusia, yang merupakan pengkhianatan terhadap pernikahan tradisional yang diatur Tuhan untuk umat manusia.

Memperlakukan kaum homoseksual sebagai sesama manusia adalah ramah dan baik, tetapi iblis telah memanipulasi kebaikan ini untuk menipu dan menghancurkan manusia yang telah lupa bahwa para dewa menciptakan pria dan wanita sesuai citra pada dewa dan menetapkan kondisi untuk menjadi manusia. Ketika seorang pria bukan lagi pria, dan seorang wanita bukan lagi wanita, ketika manusia meninggalkan kode moral Ilahi dan memihak iblis demi nafsu manusia, maka tidak ada jalan keluar dari jurang kutukan.

Kita mungkin dengan baik hati mengatakan “kami menghargai pilihanmu” kepada manusia yang telah tersesat dan berkeliaran di ujung jurang, tetapi hal ini hanya membuat manusia tersebut semakin dekat dengan bahaya. Belas kasih sejati adalah untuk memberitahu manusia yang telah salah arah untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, untuk mengarahkan manusia yang telah salah arah untuk kembali ke jalan yang lurus, dan untuk membantu manusia tersebut menghindari malapetaka – walaupun belas kasih sejati itu dibenci atau disalahpahami.

d. Mempromosikan Perceraian dan Aborsi

Sebelum tahun 1969, hukum negara di seluruh Amerika Serikat mengenai perceraian didasarkan pada nilai agama tradisional. Agar perceraian dipertimbangkan, diperlukan klaim kesalahan yang sah dari salah satu atau kedua pasangan. Agama Barat mengajarkan bahwa pernikahan didirikan oleh Tuhan. Keluarga yang stabil bermanfaat bagi suami, istri, anak-anak, dan semua masyarakat. Karena alasan ini, gereja dan undang-undang negara bagian Amerika Serikat semuanya menekankan pentingnya melestarikan pernikahan, kecuali dalam situasi yang meringankan.

Tetapi pada tahun 1960-an, ideologi Sekolah Frankfurt telah menyebar ke masyarakat. Perkawinan tradisional diserang, dan yang paling parah adalah diserang oleh liberalisme dan feminisme.
Liberalisme menolak sifat pernikahan Ilahi dengan merendahkan definisi pernikahan sebagai kontrak sosial antara dua orang, sementara feminisme memandang keluarga tradisional sebagai instrumen patriarki dalam penindasan wanita.

Perceraian dipromosikan sebagai pembebasan wanita dari “penindasan” pernikahan yang tidak bahagia, atau jalan bagi wanita menuju kehidupan petualangan yang mendebarkan. Pola pikir ini mengarah pada legalisasi perceraian yang tidak salah, yang memungkinkan salah satu pasangan untuk membubarkan pernikahan sebagai hal yang tidak dapat didamaikan dengan alasan apa pun.

Angka perceraian Amerika Serikat tumbuh pesat pada tahun 1970-an. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, lebih banyak pernikahan yang berakhir bukan karena kematian tetapi karena ketidakcocokan. Dari semua pasangan yang menikah pada tahun 1970-an, hampir setengahnya bercerai.

Perceraian memiliki efek yang dalam dan tahan lama pada anak-anak. Michael Reagan, putra angkat mantan Presiden Ronald Reagan, menggambarkan pemisahan orangtuanya: “Perceraian adalah di mana dua orang dewasa merampas segala sesuatu yang penting bagi seorang anak – rumah, keluarga, keamanan, dan perasaan dicintai dan dilindungi – dan dua orang dewasa tersebut menghancurkan semuanya, meninggalkan puing-puing di lantai, kemudian pergi berlalu dan meninggalkan anak tersebut untuk membersihkan kekacauan itu.”[24]

Mempromosikan “hak untuk aborsi” adalah salah satu metode yang digunakan setan untuk menghancurkan manusia. Awalnya, diskusi mengenai aborsi yang dilegalisasi terbatas pada keadaan tertentu, seperti pemerkosaan, inses, atau ancaman terhadap kesehatan ibu.

Para pendukung seks bebas percaya bahwa seks tidak boleh terbatas pada batas-batas pernikahan, tetapi kehamilan yang tidak diinginkan menghadirkan hambatan alami untuk gaya hidup seks bebas. Kontrasepsi mungkin gagal, sehingga promotor hubungan seks tidak terbatas menjadi penyebab dilegalkannya hak-hak aborsi. Pada Konferensi Kependudukan dan Pembangunan Internasional PBB tahun 1994 di Kairo, secara terbuka ditetapkan bahwa “hak reproduksi” adalah hak asasi manusia yang wajar, termasuk hak untuk “kehidupan seks yang aman dan memuaskan,” yang mencakup aborsi berdasarkan permintaan. [25]

Pada saat yang sama, para feminis memperkenalkan slogan “Tubuhku, Hakku” untuk menyatakan bahwa wanita berhak untuk memilih apakah akan melahirkan atau membunuh anak yang dikandungnya. Perdebatan berkembang dari memungkinkan aborsi dengan syarat khusus hingga memberi kekuatan pada wanita untuk mengakhiri kehidupan manusia secara sepihak.
Sementara menggoda manusia untuk mengikuti nafsunya, iblis menggunakan feminisme dan seks bebas untuk mempromosikan pembantaian bayi dalam kandungan. Manusia tidak hanya telah dituntun untuk melakukan kejahatan yang mengerikan, namun manusia juga telah meninggalkan pemahaman tradisional bahwa hidup adalah suci.

e. Menggunakan Sistem Kesejahteraan untuk Mendukung Keluarga Orangtua Tunggal

Pada tahun 1965, hanya 5 persen anak yang lahir dari ibu yang belum menikah. [26] Pada waktu itu, dianggap wajar bahwa anak-anak akan tumbuh dan mengenal ayah biologisnya.

Namun, pada tahun 2010-an, ibu yang tidak menikah menyumbang 40 persen dari kelahiran. [27] Dari tahun 1965 hingga 2012, jumlah keluarga orangtua tunggal di Amerika melonjak dari 3,3 juta menjadi 13 juta. [28] Meskipun beberapa ayah tetap tinggal bersama, melalui hidup bersama atau menikah kemudian, mayoritas anak yang lahir dari ibu tunggal ini tumbuh tanpa ayahnya.

Ayah berperan sebagai teladan bagi putranya, mengajar putranya bagaimana menjadi seorang pria, dan memperlihatkan kepada putrinya bagaimana rasanya dihargai dalam cara yang pantas bagi seorang wanita.

Anak-anak sangat menderita karena ketiadaan seorang ayah. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa ayah sering menderita harga diri yang rendah. Mereka cenderung bolos sekolah dan putus sekolah dengan rata-rata setinggi 71 persen. Banyak dari anak-anak tersebut menggunakan narkoba, bergabung dengan geng, dan melakukan kejahatan: 85 Persen pemuda yang dipenjara dan 90 persen gelandangan dibesarkan di rumah tangga yang tidak memiliki ayah. Pengalaman seksual dini, kehamilan remaja, dan bersetubuh dengan siapa saja adalah hal biasa. Orang-orang yang tumbuh tanpa ayahnya adalah 40 kali lebih cenderung melakukan pelanggaran seks dibandingkan dengan populasi lainnya. [29]

Institut Brookings menawarkan tiga saran utama bagi kaum muda yang ingin keluar dari kemiskinan: Lulusan sekolah menengah umum, mendapatkan pekerjaan penuh-waktu, dan menunggu hingga usia 21 tahun untuk menikah dan memiliki anak. Secara statistik, hanya 2 persen orang Amerika yang memenuhi kondisi ini hidup dalam kemiskinan, dan 75 persen dianggap kelas menengah. [30] Dengan kata lain, menyelesaikan pendidikan seseorang, mencari pekerjaan, menikah pada usia yang sesuai, dan memiliki anak dalam batas-batas pernikahan adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab yang menjalani kehidupan yang sehat dan produktif.

Kebanyakan ibu tunggal bergantung pada amal pemerintah. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Heritage Foundation menggunakan data statistik terperinci untuk menunjukkan bahwa kebijakan kesejahteraan yang sangat dianjurkan oleh kaum feminis sebenarnya mendorong terciptanya rumah tangga dengan ibu tunggal, bahkan hingga menghukum pasangan yang menikah karena mereka akan menerima lebih sedikit manfaat. [31] Pemerintah telah secara efektif menggantikan peran ayah dengan cara memberi kesejahteraan.

Kebijakan kesejahteraan tidak membantu keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya, kebijakan kesejahteraan hanya mendukung jumlah keluarga orangtua tunggal yang semakin meningkat. Anak-anak yang berasal dari rumah tangga seperti itu rentan terhadap kemiskinan, hasilnya adalah lingkaran setan memperluas ketergantungan pada bantuan negara. Inilah yang ingin dicapai oleh roh komunisme: Mengendalikan setiap aspek kehidupan individu melalui perpajakan yang tinggi dan pemerintahan yang hadir di mana-mana.

f. Mempromosikan Budaya yang Memburuk

The Wall Street Journal menerbitkan laporan yang mengutip Biro Sensus Amerika Serikat menemukan bahwa pada tahun 2000, 55 persen orang berusia antara 25-34 tahun menikah, dan 34 persen orang berusia antara 25-34 tahun belum pernah menikah. Pada tahun 2015, angka-angka ini telah berubah di mana 40 persen orang berusia antara 25-34 tahun menikah dan 53 persen orang berusia antara 25-34 tahun belum pernah menikah. Kaum muda di Amerika Serikat menghindari pernikahan karena dalam budaya dewasa ini, jenis kelamin dan pernikahan dianggap terpisah. Untuk apa mereka menikah? [32]

Dalam lingkungan yang merosot ini, trennya mengarah pada hubungan yang kasual dan tanpa ikatan. Seks tidak ada hubungannya dengan kasih sayang, tanpa menyinggung komitmen dan tanggung jawab. Yang lebih menakutkan lagi adalah banyak sekali berbagai orientasi seksual. Situs profil sosial opsi profil pengguna Facebook, misalnya, memasukkan enam puluh jenis orientasi seksual yang berbeda. Jika orang muda bahkan tidak tahu apakah ia adalah pria atau wanita, bagaimana ia memandang pernikahan? roh komunisme yang jahat telah menggunakan hukum dan masyarakat untuk sepenuhnya mengolah kembali konsep yang diberikan Tuhan ini.

Homoseksualitas dan perilaku seksual merosot lainnya pada awalnya disebut sebagai “sodomi” dalam bahasa Inggris. Sodomi adalah rujukan Alkitab mengenai kota Sodom, yang dimusnahkan di bawah murka Allah atas praktik kemunduran seksual oleh manusia. Kata “sodomi” berfungsi sebagai peringatan bagi umat manusia bahwa konsekuensi bencana akan terjadi jika manusia menyimpang dari prinsip Ilahi. Gerakan hak kaum gay bekerja sangat keras untuk menyesuaikan istilah “gay,” sebuah kata yang awalnya memiliki makna positif, dan bertujuan mengarahkan manusia untuk berbuat dosa lebih lanjut.

“Perzinaan” dahulu merupakan istilah negatif yang merujuk pada kebiasaan seksual yang tidak bermoral. Kini, istilah perzinaan telah dipermudah menjadi “hubungan seksual di luar nikah” atau “hidup bersama.” Dalam Surat Merah oleh Nathaniel Hawthorne, protagonis Hester Prynne melakukan perzinaan dan berjuang untuk mengubah dirinya melalui pertobatan, tetapi dalam masyarakat saat ini, pertobatan tidak diperlukan: Para pezina dapat menikmati hidup dengan percaya diri dan bangga. Dahulu kesucian digunakan untuk menjadi kebajikan dalam budaya Timur dan Barat. Kini, kesucian diperlakukan sebagai lelucon masa lalu yang sudah kuno untuk masa kini.

Mengadili homoseksualitas dan moralitas seksual dilarang di bawah kediktatoran kebenaran politik. Satu-satunya sikap yang dapat diterima adalah menghormati “pilihan bebas” orang lain. Hal ini berlaku tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga di seluruh dunia akademik, di mana moralitas dipisahkan dari kenyataan praktis. Hal-hal yang menyimpang dan merosot telah dinormalisasi. Manusia yang menuruti nafsunya tidak merasakan tekanan atau rasa bersalah. Rencana iblis untuk penghukuman manusia sedang berlangsung.

Orang-orang Barat di bawah usia 50 tahun hampir tidak dapat mengingat budaya yang dahulu ada di masyarakat, di mana hampir semua anak tumbuh dengan kehadiran ayah biologisnya. “Gay” berarti “bahagia.” Gaun pengantin berwarna putih mewakili kesucian. Konten pornografi dilarang disiarkan di TV dan radio. Namun, semuanya ini tidak berlaku hanya dalam waktu enam puluh tahun, karena iblis benar-benar menjungkirbalikkan cara hidup tradisional.

6. Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Menghancurkan Keluarga

a. Memecah Keluarga Demi Kesetaraan

Slogan Mao Zedong “Wanita Memegang Setengah Langit” kini telah membuka jalannya ke Barat sebagai slogannya feminis yang trendi. Ideologi bahwa pria dan wanita adalah sama, dipromosikan di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok, pada dasarnya tidak berbeda dengan feminisme Barat. Di Barat, “diskriminasi gender” digunakan sebagai senjata untuk mempertahankan keadaan “kebenaran politik.” Di Tiongkok, meskipun berbeda dalam praktiknya, label “chauvinisme pria” digunakan untuk efek perusakan yang serupa.

Kesetaraan gender yang dianjurkan oleh feminisme Barat menuntut kesetaraan hasil antara pria dan wanita melalui langkah-langkah seperti kuota gender, kompensasi finansial, dan standar yang diturunkan. Di bawah slogan Partai Komunis Tiongkok bahwa wanita memegang setengah langit, wanita diharapkan untuk menunjukkan kemampuan yang sama dalam pekerjaan yang sama yang dilakukan oleh rekan pria. Wanita yang berusaha melakukan tugas yang hampir tidak memenuhi syarat dipuji sebagai pahlawan dan diberikan kehormatan sebagai pemegang spanduk merah pada Hari Wanita Sedunia pada tanggal 8 Maret.

Poster-poster propaganda pada tahun 1960-an atau 1970-an biasanya menggambarkan wanita yang tegap dan kuat secara fisik, sementara Mao Zedong secara antusias meminta wanita untuk mengubah hobi berias menjadi hobi memakai seragam militer. Menambang, memotong kayu, membuat baja, bertarung di medan perang – setiap jenis pekerjaan atau peran terbuka untuk wanita.

Pada tanggal 1 Oktober 1966, People’s Daily memuat cerita berjudul “Para Gadis Juga Dapat Menyembelih Babi,” yang menjelaskan seorang gadis berusia 18 tahun yang adalah seorang selebritas setempat, bekerja sebagai pekerja magang di rumah jagal, di mana mempelajari Pemikiran Mao Zedong membantunya bekerja dengan berani untuk menyembelih babi. Ia berkata, “Jika anda tidak mampu membunuh babi, bagaimana anda berharap untuk membunuh musuh?” [33]

Meskipun wanita Tiongkok “memegang setengah langit,” kaum feminis di Barat masih menemukan bahwa kurangnya kesetaraan gender di banyak daerah di Tiongkok. Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok, misalnya, tidak pernah memiliki anggota wanita, karena khawatir hal ini akan mendorong gerakan sosial untuk hak-hak politik yang lebih, seperti demokrasi, yang akan menjadi ancaman bagi aturan totaliter Partai Komunis Tiongkok.

Karena keprihatinan yang sama, Partai Komunis Tiongkok juga menahan diri untuk tidak mendukung homoseksualitas secara publik, alih-alih bersikap netral terhadap masalah ini. Namun, melihat homoseksualitas sebagai alat yang mudah digunakan dalam penghancuran umat manusia, Partai Komunis Tiongkok mendorong homoseksualitas untuk tumbuh di Tiongkok dengan menggunakan pengaruh media dan budaya populer. Sejak tahun 2001, Perhimpunan Psikiatri Tiongkok tidak lagi mencantumkan homoseksualitas sebagai gangguan mental. Media juga diam-diam mengganti kata “gay” dengan “kawan,” sebuah istilah dengan konotasi yang lebih positif. Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya Partai Komunis Tiongkok menyetujui acara LGBT Tiongkok – Shanghai Pride Week.

Pendekatannya mungkin berbeda-beda, tetapi di mana-mana iblis mengejar tujuan yang sama: Untuk menghapuskan cita-cita tradisional istri yang baik dan ibu yang pengasih, untuk memaksa wanita meninggalkan karakter lembutnya, dan untuk menghancurkan harmoni antara pria dan wanita yang diperlukan untuk menciptakan keluarga yang seimbang dan membesarkan anak-anak dengan baik.

b. Menggunakan Perjuangan Politik untuk Mengubah Suami dan Istri Melawan Satu Sama Lain

Nilai tradisional Tiongkok didasarkan pada moralitas keluarga. Iblis tahu bahwa cara paling efektif untuk merusak nilai tradisional adalah mulai dari menyabotase hubungan manusia. Dalam perjuangan politik berkelanjutan yang dimulai oleh Partai Komunis Tiongkok, anggota keluarga melaporkan satu sama lain kepada pihak berwenang dalam persaingan gila untuk memperoleh status politik yang lebih baik. Dengan mengkhianati orang terdekatnya, anggota keluarga dapat menunjukkan sikap taat yang lebih tegas dan lebih loyal dalam mendukung peraturan Partai Komunis Tiongkok.

Pada bulan Desember 1966, sekretaris Mao Zedong bernama Hu Qiaomu diseret ke Institut Besi dan Baja Beijing, di mana putri kandungnya naik ke panggung dan berteriak, “Hancurkan kepala anjing Hu Qiaomu!” Meskipun sang putri tidak benar-benar menghancurkan kepala ayahnya, ada orang yang melakukannya. Pada saat itu, ada keluarga “kapitalis” di kecamatan Dongsi di Beijing. Pengawal Merah memukuli pasangan tua keluarga tersebut sampai hampir mati dan memaksa putra mereka yang masih menuntut ilmu di sekolah menengah pertama untuk memukul orangtuanya. Sang putra menggunakan halter untuk menghancurkan kepala ayahnya yang menjadi gila sesudahnya. [34]

Seringkali, orang-orang yang dikutuk oleh Partai Komunis Tiongkok sebagai “musuh kelas” akan memungkiri keluarganya supaya keluarganya terhindari dari dampak. Bahkan “musuh kelas” yang melakukan bunuh diri pertama-tama harus memutuskan ikatan keluarga untuk mencegah Partai Komunis Tiongkok memburu anggota keluarganya setelah ia bunuh diri.

Misalnya, ketika ahli teori sastra Ye Yiqun dianiaya dan didesak untuk bunuh diri dalam Revolusi Kebudayaan, surat perpisahannya berbunyi, “Ke depan, satu-satunya hal yang dituntut dari anda adalah untuk dengan tegas mendengarkan kata-kata Partai Komunis Tiongkok, berpihak pada Partai Komunis Tiongkok dengan teguh, secara bertahap mengakui dosa-dosaku, membangkitkan kebencian terhadapku, dan dengan teguh memutuskan hubungan keluarga kami.”[35]

Penganiayaan terhadap latihan spiritual Falun Gong, yang telah berlanjut sejak tahun 1999, adalah kampanye politik terbesar yang diluncurkan oleh Partai Komunis Tiongkok di era modern. Strategi umum yang digunakan pihak berwenang terhadap praktisi Falun Gong adalah memaksa anggota keluarga mereka untuk membantu penganiayaan.

Partai Komunis Tiongkok memaksakan pelecehan administratif, hukuman keuangan, dan bentuk intimidasi lainnya kepada anggota keluarga agar mereka menggunakan segala cara untuk menekan praktisi Falun Gong agar melepaskan keyakinannya. Partai Komunis Tiongkok menyalahkan para korban penganiayaan karena berlatih Falun Gong, memberitahu praktisi Falun Gong bahwa keluarga mereka terlibat karena mereka menolak untuk mengkompromikan keyakinannya.

Banyak praktisi Falun Gong telah diceraikan atau dilucuti oleh orang yang mereka cintai karena bentuk penganiayaan ini. Mengingat banyaknya orang yang berlatih Falun Gong, keluarga yang tak terhitung jumlahnya telah tercabik-cabik oleh kampanye Partai Komunis Tiongkok.

c. Menggunakan Aborsi Secara Paksa untuk Mengendalikan Penduduk

Tidak lama setelah feminis Barat berhasil dalam pertempuran untuk melegalkan aborsi, wanita di Republik Rakyat Tiongkok melakukan aborsi yang diterapkan padanya oleh kebijakan keluarga berencana Partai Komunis Tiongkok. Pembunuhan massal terhadap bayi dalam kandungan telah mengakibatkan bencana kemanusiaan dan sosial dalam skala yang tak terhitung.

Partai Komunis Tiongkok mengikuti materialisme Marxis dan percaya bahwa melahirkan adalah suatu bentuk tindakan produktif yang tidak berbeda dengan produksi baja atau pertanian. Dengan demikian mengiringi filosofi perencanaan ekonomi diperluas ke keluarga, Mao Zedong berkata, “Manusia harus mengendalikan diri dan menerapkan pertumbuhan yang direncanakan. Kadang mungkin sedikit meningkat, dan terkadang berhenti.”[36]

Pada tahun 1980-an, rezim Tiongkok mulai menerapkan kebijakan satu anak dengan tindakan ekstrem dan brutal, seperti yang diperlihatkan oleh slogan-slogan yang dibentangkan di seluruh negeri: “Jika satu orang melanggar hukum, maka seluruh desa akan disterilkan.” “Lahirkan anak pertama, ikat kedua saluran rahim setelah melahirkan anak kedua, gugurkan kehamilan ketiga dan keempat!” (Slogan ini disederhanakan menjadi” Bunuh, bunuh, bunuh bayi ketiga dan keempat.”)” Kami lebih suka melihat darah yang mengalir daripada melihat banyak bayi dilahirkan.” “Sepuluh lebih kuburan lebih baik daripada tambahan satu kehidupan.” Aturan haus darah seperti itu ada di mana-mana di seluruh Tiongkok.

Komisi Keluarga Berencana menggunakan denda yang berat, penjarahan, pembongkaran, penyerangan, penahanan, dan hukuman lain semacam itu untuk menangani pelanggaran kebijakan satu anak. Di beberapa tempat, pejabat keluarga berencana membenamkan bayi-bayi di sawah. Wanita hamil yang tua juga tidak lolos. Bahkan beberapa hari lagi akan melahirkan, mereka dipaksa untuk melakukan aborsi.

Menurut statistik tidak lengkap yang diterbitkan dalam Buku Kesehatan Tahunan Tiongkok, jumlah total aborsi di Tiongkok antara tahun 1971 hingga 2012 setidaknya adalah 270 juta. Yaitu, lebih dari seperempat miliar bayi dalam kandungan dibunuh oleh Partai Komunis Tiongkok selama periode ini.

Salah satu konsekuensi paling serius dari kebijakan satu anak adalah bayi perempuan digugurkan atau dibuang, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan yang serius dalam rasio jenis kelamin orang Tiongkok di bawah usia 30 tahun. Karena kekurangan bayi perempuan, diperkirakan pada tahun 2020, akan ada sekitar 40 juta pria muda yang tidak dapat menikahi wanita usia subur.

Ketidakseimbangan seks buatan manusia di Tiongkok telah memicu masalah sosial yang serius, seperti peningkatan kasus pelecehan seksual dan pelacuran, perkawinan komersial, dan perdagangan wanita.

7. Konsekuensi Serangan Komunisme terhadap Keluarga

Karl Marx dan komunis lainnya menganjurkan penghapusan keluarga dengan menunjukkan dan membesar-besarkan keberadaan fenomena seperti perzinahan, pelacuran, dan anak haram, meskipun kenyataannya komunis sendiri juga bersalah atas hal-hal ini.

Kemerosotan moralitas yang terjadi secara bertahap di era Victoria mengikis institusi pernikahan yang sakral dan membawa manusia menjauhi ajaran Ilahi. Komunis mendesak wanita untuk melanggar sumpah perkawinannya demi kebahagiaan pribadi, tetapi akibatnya malah memperparah masalah.

“Solusi” hantu komunisme untuk penindasan dan ketidaksetaraan sama dengan menyeret standar moralitas manusia ke kedalaman neraka, yang menyebabkan perilaku yang dahulu secara universal dikutuk sebagai sesuatu buruk dan tidak termaafkan menjadi suatu norma baru. Dalam “kesetaraan” komunisme, semua menuju nasib yang sama — kehancuran.

Roh komunisme menciptakan kepercayaan yang keliru bahwa dosa bukan disebabkan oleh kemerosotan moralitas, tetapi oleh penindasan sosial. Roh komunisme menuntun manusia untuk menemukan jalan keluar dengan berpaling dari tradisi dan menjauh dari Tuhan. Roh komunisme menggunakan retorika kebebasan dan pembebasan yang indah untuk menganjurkan feminisme, homoseksualitas, dan penyimpangan seksual. Martabat wanita telah dilucutinya, tanggung jawab pria telah dirampoknya, dan kesucian keluarga telah diinjak-injaknya, mengubah anak-anak zaman sekarang menjadi mainan setan.

Lanjut Baca Bab Delapan.

DAFTRA PUSTAKA

[1]  “Jordan Peterson Debate on the Gender Pay Gap, Campus Protests and Postmodernism,” Channel 4 News, (January 16, 2018). https://www.youtube.com/watch?v=aMcjxSThD54&t=781s [1].

[2] Alan Findermay, “Harvard Will Spend $50 Million to Make Faculty More Diverse,” New York Times, (May 17, 2005). https://www.nytimes.com/2005/05/17/education/harvard-will-spend-50-million-to-make-faculty-more-diverse.html [2]

[3] C. P. Benbow and J. C. Stanley, “Sex Differences in Mathematical Ability: Fact or Artifact?” Science, 210 (1980):1262–1264.

[4] C. Benbow, “Sex Differences in Ability in Intellectually Talented Preadolescents: Their Nature, Effects, and Possible Causes,” Behavioral and Brain Sciences 11(2) (1988): 169–183.

[5] Friedrich Hayek, The Road to Serfdom (Chicago: University of Chicago Press, 1994).

[6] Susan Edelman, “Woman to Become NY Firefighter Despite Failing Crucial Fitness Test,” New York Post, (May 3, 2015). https://nypost.com/2015/05/03/woman-to-become-ny-firefighter-despite-failing-crucial-fitness-test/ [3].

[7] Una Butorac, “These Female Firefighters Don’t Want a Gender Quota System,” The Special Broadcasting Service, (May 24, 2017). https://www.sbs.com.au/news/the-feed/these-female-firefighters-don-t-want-a-gender-quota-system [4].

[8] Commonwealth of Pennsylvania, by Israel Packel, Attorney General, v. Pennsylvania Interscholastic Athletic Association (March 19, 1975).

[9] Christina Hoff Sommers, The War Against Boys: How Misguided Feminism Is Harming Our Young Men (New York: Simon & Schuster, 2013).

[10] Simon Osbone, “Angry Parents Blame New NHS Guidelines for Rise in Children Seeking Sex Changes,” The Daily and Sunday Express, (October 30, 2017). https://www.express.co.uk/news/uk/873072/Teenage-gender-realignment-schoolchildren-sex-change-nhs-tavistock-clinic-camhs [5].

[11] Declaration of Feminism. Originally distributed in June of 1971 by Nancy Lehmann and Helen Sullinger of Post Office Box 7064, Powderhorn Station, Minneapolis, Minnesota 55407 (November 1971).

[12] Vivian Gornick, as quoted in The Daily Illini (April 25, 1981).

[13] Robin Morgan, Sisterhood Is Powerful: An Anthology of Writings From the Women’s Liberation Movement (New York: Vintage, 1970), 537.

[14] Darlena Cunha, “The Divorce Gap,” The Atlantic,  https://www.theatlantic.com/business/archive/2016/04/the-divorce-gap/480333/ [6].

[15] Hilary White, “The Mother of the Homosexual Movement – Evelyn Hooker, Ph.D.,” The Life Site News, (July 16, 2007). https://www.lifesitenews.com/news/the-mother-of-the-homosexual-movement-evelyn-hooker-phd [7]

[16] Robert L. Kinney, III, “Homosexuality and Scientific Evidence: On Suspect Anecdotes, Antiquated Data, and Broad Generalizations,” Linacre Quarterly 82(4) (2015): 364–390.

[17] Ibid.

[18] P. Cameron, W. L. Playfair, and S. Wellum, “The Longevity of Homosexuals: Before and after the AIDS Epidemic,” Omega 29 (1994): 249–272.

[19] P. Cameron, K. Cameron, W. L. Playfair, “Does Homosexual Activity Shorten Life?” Psychological Reports 83(3 Pt 1) (1998): 847–66.

[20] David W. Purcell, Christopher H. Johnson, Amy Lansky, Joseph Prejean, Renee Stein, Paul Denning, Zaneta Gau, Hillard Weinstock, John Su, and Nicole Crepaz, “Estimating the Population Size of Men Who Have Sex with Men in the United States to Obtain HIV and Syphilis Rates,” The Open AIDS Journal 6 (2012): 98–107.

[21] R. S. Hogg, S. A. Strathdee, K. J. P. Craib, M.V. O’Shaughnessy, J. S. G. Montaner, M. T. Schechter, “Modelling the Impact of HIV Disease on Mortality in Gay Men,” International Journal of Epidemiology 26(3) (1997): 657–61.

[22] Joseph Nicolosi,“Who Were the APA ‘Task Force’ Members?”  https://www.josephnicolosi.com/collection/2015/6/11/who-were-the-apa-task-force-members [8]

[23] Matthew Hoffman, “Former President of APA Says Organization Controlled by ‘Gay Rights’ Movement,” The Life Site News, (June 4, 2012). https://www.lifesitenews.com/news/former-president-of-apa-says-organization-controlled-by-gay-rights-movement [9].

[24] Phyllis Schlafly, Who Killed The American Family? WND Books, (Nashville, Tenn. (2014).

[25] “Programme of Action of the International Conference on Population and Development,” International Conference on Population and Development (ICPD) in Cairo, Egypt, (5–13 September 1994).

[26] The Vice Chairman’s Staff of the Joint Economic Committee at the Request of Senator Mike Lee, “Love, Marriage, and the Baby Carriage: The Rise in Unwed Childbearing,” https://www.lee.senate.gov/public/_cache/files/3a6e738b-305b-4553-b03b-3c71382f102c/love-marriage-and-the-baby-carriage.pdf [10].

[27] Ibid.

[28] Robert Rector, “How Welfare Undermines Marriage and What to Do About It,” Heritage Foundation Report, (November 17, 2014). https://www.heritage.org/welfare/report/how-welfare-undermines-marriage-and-what-do-about-it [11]

[29] Schlafly, Who Killed The American Family?

[30] Ron Haskins, “Three Simple Rules Poor Teens Should Follow to Join the Middle Class,” Brookings, (March 13, 2013). https://www.brookings.edu/opinions/three-simple-rules-poor-teens-should-follow-to-join-the-middle-class/ [12]   

[31] Rector, “How Welfare Undermines Marriage and What to Do About It.”

[32] Mark Regnerus, “Cheap Sex and the Decline of Marriage,” The Wall Street Journal (September 29, 2017). https://www.wsj.com/articles/cheap-sex-and-the-decline-of-marriage-1506690454 [13]

[33] Yang Meiling, “Girls Can Slaughter Pigs Too,” People’s Daily (October 1 1966).

[34] Yu Luowen, My Family: My Brother Yu Luoke, World Chinese Publishing (2016).

[35] Ye Zhou, “The Last Decade of Ye Yiqun,” Wenhui Monthly no. 12 (1989).

[36] Pang Xianzhi, Jin Chongji, Biography of Mao Zedong (1949–1976), Central Party Literature Press, (Beijing 2003).

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar [14]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan [15]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan [16]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa [17]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur [18]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi [19]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I) [20]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II) [21]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan [22]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I) [23]