Erabaru.net. Setelah putaran terakhir perundingan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok  yang berakhir pada tanggal10 Mei tanpa kesepakatan, media yang dikelola pemerintah Tiongkok menggenjot upaya propaganda untuk menggambarkan Amerika Serikat sebagai musuh, menyalahkan Amerika Serikat karena kurangnya kemajuan dalam negosiasi tersebut, sementara juga peringatan warganegara Tiongkok untuk bersiap menghadapi masa sulit yang akan datang.

“Washington mencoba mengemukakan istilah yang merusak kedaulatan dan martabat Tiongkok, atau yang secara serius tidak setara dan tidak realistis. Permintaan itu membuat perundingan menjadi lebih sulit,” isi salah satu dari dua editorial yang diterbitkan oleh Global Times, sebuah surat kabar yang dikendalikan oleh People’s Daily, corong Partai Komunis Tiongkok, pada tanggal 12 Mei.

Perselisihan

Setelah pembicaraan berakhir, Phoenix Television, penyiar pro-Beijing yang berbasis di Hong Kong, menerbitkan transkrip wawancara oleh media pemerintah Tiongkok dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He, yang memimpin delegasi perdagangan Tiongkok.

Dalam wawancara itu, Liu He mengatakan ada tiga perselisihan yang belum terselesaikan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, perselisihan pertama karena pihak Tiongkok ingin semua tarif dihapuskan.

Perselisihan kedua adalah mengenai janji Tiongkok untuk membeli lebih banyak barang dari Amerika Serikat. Menurut Liu He, kedua belah pihak memiliki pandangan berbeda mengenai volume perdagangan.

Kata Liu He, perselisihan ketiga adalah karena Tiongkok percaya perjanjian itu tidak seimbang. “Setiap bangsa memiliki martabatnya,” kata Liu He.

Sementara itu, pejabat Amerika Serikat dan laporan Reuters, mengutip pemerintah dan sumber swasta Amerika Serikat, mengatakan bahwa Tiongkok telah mengingkari komitmen yang dirancang untuk mengubah undang-undang untuk menyelesaikan keluhan inti yang menyebabkan Amerika Serikat memberlakukan tarif hukuman tahun lalu, seperti pencurian kekayaan intelektual dan rahasia dagang dari Amerika Serikat; transfer teknologi secara paksa; kebijakan persaingan; akses ke layanan keuangan; dan manipulasi mata uang.

Mengatasi klaim Amerika Serikat tersebut, Liu He mengatakan Tiongkok berpikir adalah normal untuk melakukan perubahan sebelum kesepakatan akhir.

Liu He juga membantah bahwa Tiongkok telah mencuri rahasia dagang Amerika Serikat. “Tiongkok adalah negara yang dapat  dipercaya,” bantah Liu He.

Dalam beberapa bulan terakhir, jaksa Amerika Serikat telah menuduh semakin banyak perusahaan, peretas, dan mata-mata Tiongkok karena diduga mencuri kekayaan intelektual dari perusahaan Amerika Serikat. Yang lainnya sudah dijatuhi hukuman.

Bahkan ketika diskusi perdagangan akan dimulai di Washington, Global Times mengeluarkan editorial pada tanggal 9 Mei, menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki niat buruk.

Editorial Global Times menyamakan negosiasi perdagangan yang akan datang di ibukota Amerika Serikat tersebut dengan peristiwa “Perjamuan Hongmen,” sebuah insiden terkenal dari sejarah Tiongkok di mana perjamuan disiapkan dalam upaya untuk membunuh tamu.

Mengulangi pernyataan sebelumnya, Global Times mengatakan perselisihan itu adalah hasil dari “permintaan yang tidak masuk akal dari Amerika Serikat ” berdasarkan pada “pemahaman yang salah bahwa Amerika Serikat secara alami merupakan pihak yang memiliki hak istimewa dalam hubungan bilateral karena kekuatan nasionalnya.”

Bersiap Untuk Menghadapi yang Terburuk

Namun dalam editorial yang lain pada tanggal 12 Mei, Global Times mengakui bahwa kenaikan tarif yang baru diumumkan menjadi 25 persen pada barang Tiongkok senilai USD 200 miliar akan membawa “skenario terburuk” bagi Tiongkok untuk ditangani.

“Perang tarif sekarang sedang diperjuangkan pada tingkat setinggi mungkin,” kata artikel tersebut. “Pada tahap ini, kami sedang mempersiapkan diri kami, secara progresif, untuk ‘skenario terburuk’ ini secara mental dan strategis,” menyinggung fakta bahwa ekonomi Tiongkok dapat menderita akibat perselisihan dagang.

Editorial Global Times menggambarkan strategi negosiasi Tiongkok sebagai “berjuang sambil bernegosiasi,” mencatat bahwa Tiongkok akan tetap tangguh meskipun ada banyak kemungkinan.

“Untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat Tiongkok, dan menjaga perkembangan jangka panjang rakyat Tiongkok, Tiongkok pasti mampu menghadapinya,” bunyi tulisan itu.

Pemimpin redaksi surat kabar tersebut, Hu Xijin, juga menerbitkan artikel tanggal 7 Mei di WeChat, platform media sosial Tiongkok yang populer, menyerukan kepada generasi muda Tiongkok untuk bersiap menghadapi “badai hebat” yang menghadang.

Hu Xijin menulis bahwa anak-anak muda Tiongkok di bawah usia 30 tumbuh di lingkungan yang damai tanpa perang atau kekacauan yang bermakna. Tetapi “dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, mereka akan menghabiskan hidupnya di tengah pertikaian yang berlangsung terus-menerus atau intens antara Amerika Serikat dengan Tiongkok,” kata Hu Xijin.

Hu Xijin menggambarkan Amerika Serikat dan negara-negara Barat sebagai musuh “yang berusaha membajak Tiongkok saat Tiongkok berjalan di jalurnya.”

Agenda Beijing

Dalam editorial terpisah dari tanggal 7 Mei, Global Times mengungkapkan agenda Beijing yang sebenarnya: “[Semoga] perang dagang akan membawa kekacauan kepada masyarakat Amerika, dan sebagai hasilnya, pemilih Amerika akan mengirim presiden lain ke Gedung Putih pada pemilihan tahun 2020.”

Presiden Donald Trump tampaknya telah meramalkan bahwa dalam posting Twitter tanggal 11 Mei: “Saya pikir Tiongkok merasa dipukuli hingga begitu parah dalam negosiasi baru-baru ini sehingga Tiongkok mungkin juga menunggu pemilu berikutnya, tahun 2020, untuk melihat apakah Tiongkok beruntung bila terpilih Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat – di mana Tiongkok akan terus mencabik-cabik Amerika Serikat sebesar USD 500 miliar per tahun…” (Olivia Li/ Vv) 

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular