oleh Zhou Huixin

Amerika Serikat sekarang telah mengenakan tarif 25% untuk komoditas impor dari Tiongkok senilai USD. 200 miliar. Presiden Trump mengatakan bahwa masih ada komoditas senilai USD. 325 miliar yang sedang dalam proses kenaikan tarif 25%. Jika semua komoditas ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat dikenakan tarif impor sebesar itu, apa dampaknya terhadap perekonomian Tiongkok ? Dan apa pula dampaknya terhadap masyarakat Tiongkok ?

Renminbi devaluasi, inflasi naik

Menurut data yang dirilis oleh Bea Cukai Tiongkok pada 8 Mei, ekspor Tiongkok pada bulan April turun 2,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, lebih rendah dari targetnya yakni 3,0%. Turun jauh dari angka bulan Maret yang 14,2%. Ekspor ke AS anjlok 13% YOY.

Xie Tian, ​​seorang profesor di Aiken School of Business di University of South Carolina, Amerika Serikat dalam sebuah acara di NTDTV mengatakan bahwa penurunan ekspor bulan April mungkin merupakan pengaruh dari efek jeda kenaikan tarif AS.

“Jika ekspor Tiongkok terus menurun, itu akan memberikan tekanan terhadap penurunan nilai Renminbi. Jika komunis Tiongkok membiarkan depresiasi itu terjadi, maka ia akan diklaim oleh Amerika Serikat memanipulasi valuta asing. Membuat komunis Tiongkok berada dalam situasi yang dilematis, tidak ada dukungan ekspor, dan tidak berani membiarkan nilai mata uangnya (RMB) menyusut,” kata Xie Tian.

Profesor Tian Yuan, ​​seorang komentator politik yang tinggal di Amerika Serikat percaya bahwa komunis Tiongkok akan tetap mempertahankan nilai tukarnya. “Karena ia tidak ingin Renminbi terdepresiasi dengan cepat, lalu menyebabkan investor asing hengkang dari Tiongkok, cara terbaik adalah mempertahankan agar mata uangnya relatif stabil, pada angka antara 7 – 7,5, ini adalah bentuk yang paling menguntungkan baginya”.

“Masalahnya, apakah ia memiliki kemampuan untuk mempertahankan nilai tukarnya di angka itu ? Jika gagal maka barang-barang impor akan naik”, kata Tian Yuan.

Analisa Zhang Tianliang, kolumnis Epoch Times dan komentator politik mengatakan bahwa nilai mata uangnya akan sedikit menurun. Meskipun penurunan tajam dapat mengurangi efek dari kenaikan pajak, tetapi itu juga akan diklaim oleh Trump sebagai usaha memanipulasi nilai tukar, dengan demikian AS bisa menggebuk Tiongkok dengan menaikkan lagi tarif, sehingga menjadi perang mata uang antara kedua belah pihak.

Cara lain adalah melepaskan pertukaran bebas Renminbi, sehingga Renminbi akan terdepresiasi dengan tajam, mungkin saja USD 1. = RMB. 10 atau lebih dari sepuluh Renminbi atau USD.20. Jika itu dapat dikonversi secara bebas, maka Trump tidak dapat mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok memanipulasi nilai tukar, karena ini ditentukan oleh pasar.

Namun, dengan konsekuensi yang sangat serius. Analisis Zhang Tianliang menyebutkan : Jika Renminbi terdepresiasi tajam, misalnya, jika terdepresi satu atau dua kali, maka PDB akan turun tajam, dan itu akan menjadi 1/2 atau 1/3 dari aslinya. Ini adalah masalah kehilangan muka bagi rezim Beijing. Karena Tiongkok dikenal sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, PDBnya berada di angka USD. 11 triliun. Jika kita bagi 2 atau bagi 3, PDB Tiongkok lebih rendah daripada Jerman atau Prancis”.

Ia mengambil Rusia sebagai contoh mengatakan bahwa PDB Rusia setahun saat ini adalah USD. 1,28 triliun, lebih rendah dari Korea Selatan, itu akibat Rusia menginvasi Krimea pada tahun 2014 dan terkena sanksi dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Nilai Rubel anjlok  dari USD.1 = RUB 30 menjadi USD.1 = RUB 80. Tahun 2013, sebelum sanksi diberlakukan, PDB Rusia sekitar USD. 2,3 triliun. Perang mata uang memiliki dampak besar terhadap PDB suatu negara.

“Komunis Tiongkok tidak berani membiarkan mata uangnya terdepresiasi. Jika PDB-nya terpotong separo, maka tekanan politik yang dihadapi Xi Jinping akan semakin besar. Oleh karena itu, komunis Tiongkok masih akan mempertahankan nilai tukar mata uangnya”.

“Agar tidak dituduh memanipulasi mata uang oleh Trump, komunis Tiongkok tidak akan membiarkan Renminbi terdepresiasi tajam, tetapi akan dibiarkan terdepresiasi sedikit untuk melakukan lindung nilai atas kenaikan tarif dan penurunan ekspor yang diakibatkannya”.

Zhang Tianliang berpendapat bahwa dengan turunnya nilai Renminbi maka harga barang akan naik, “Tiongkok adalah importir makanan dan energi terbesar di dunia. Tiongkok mengimpor 130 juta ton biji-bijian per tahun dan 402 juta metrik ton minyak mentah. Komunis Tiongkok mengeluarkan dana lebih dari USD. 100 miliar setiap tahunnya untuk membeli biji-bijian dan minyak mentah. Jika Renminbi terdepresiasi, biji-bijian dan minyak mentah yang dibayar dengan dolar AS, harganya akan naik setelah tiba di pasar domestik”.

“Kedua hal ini adalah dasar dari semua komoditas. Ketika harga energi naik, semua biaya produksi industri akan meningkat, kenaikan harga pangan juga akan berpengaruh pada semua area”, kata Zhang.

Rantai industri beralih, lapangan kerja berkurang

Liu Dabang, ketua kehormatan Federasi Usaha Kecil dan Menengah Hongkong yang telah mendirikan pabrik di Dongguan selama 30 tahun. Sejak perang dagang berkobar, ia juga mempertimbangkan untuk memindahkan pabriknya ke Asia Tenggara atau negara-negara lain. Namun, memindahkan pabrik bukan masalah kecil, ditambah dengan seringnya terdengar bahwa negosiasi perdagangan AS – Tiongkok berjalan ‘cukup bagus’, tetapi sekarang tarif 25% yang cukup berat itu tetap diberlakukan. Ia mengatakan kepada wartawan : “Tidak akan teratasi, mau tidak mau harus hengkang”.

Baru-baru ini, bos Foxconn Terry Gou saat menerima wawancara eksklusif dari reporter situs web cw.com.tw mengatakan bahwa pihaknya bermaksud untuk memindahkan beberapa jalur produksinya dari kota Shenzhen dan Tianjin ke Kaohsiung, Taiwan.

Profesor Tian Yuan mengatakan bahwa pada tahun 2012 dan 2013, industri di Tiongkok yang terkait dengan ekspor memiliki total 80 juta hingga 90 juta karyawan. Setelah perang dagang, jumlah orang yang terkena dampaknya, termasuk karyawan beserta kerabat, jumlahnya diperkirakan mencapai 400 juta orang.

“Pengalihan rantai industri sudah berlangsung pada saat perang dagang baru dimulai. Pengenakan tarif USD. 200 miliar mempercepat hengkangnya modal asing dari Tiongkok. Apalagi Taiwan meluncurkan aksi ‘investor Taiwan kembali ke Taiwan’. Kabarnya sudah ada 52 perusahaan manufakturing yang telah kembali untuk berproduksi di Taiwan”.

Ia mengatakan : “Hanya dalam 4 bulan, dikabarkan bahwa arus modal yang mengalir kembali ke Taiwan telah mencapai NT. 280 miliar, memberikan 27.000 kesempatan kerja bagi Taiwan. Lapangan kerja yang sebelumnya berada di daratan Tiongkok. Selain itu, masih ada lebih dari 40 orang pengusaha Taiwan yang sedang mengantri untuk bersiap kembali ke Taiwan”.

Sejak perang dagang, beberapa perusahaan asing asal AS telah mengalihkan dananya ke India, Vietnam, Indonesia. Sebagaimana dilaporkan media Jepang bahwa komoditas yang terkena dampak tarif, termasuk komponen elektronik, mesin, dan produk kimia. Produk tersebut sebagian besar dihasilkan oleh perusahaan Jepang di Tiongkok. Beberapa perusahaan Jepang yang masih ‘wait and see’ kemungkinan akan hengkang dari daratan Tiongkok begitu tarif diberlakukan.

Xie Tian mengatakan bahwa industri yang terkait manufaktur dan pengalihan rantai industri akan menyebabkan krisis pengangguran di Tiongkok. “Memasuki musim panas, masalah ini akan menjadi semakin serius. Kita tahu bahwa sekitar 8 juta orang mahasiswa akan segera memasuki pasar kerja”.

“Pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun, tingkat pengangguran makin tinggi, tekanan terhadap nilai Renminbi makin kuat, ditambah lagi dengan permasalahan kredit macet pemerintah daerah, masalah gelembung real estate, masalah ini semua akan menjadi semakin serius disebabkan karena kekurangan valuta asing.  Komentator ekonomi daratan Tiongkok sendiri telah mengatakan bahwa ‘The Gray Rhino’, yakni peristiwa krisis berskala besar yang memiliki dampak besar berpotensi menimpa ekonomi Tiongkok”, katanya.

 Uang dari pasar saham dan real estate

Dalam ekonomi normal, jika mata uang terdepresiasi dan industri terpukul, pasar saham akan turun. Jadi pasar saham dianggap sebagai barometer dari kondisi ekonomi suatu negara. Tapi pasar saham Tiongkok bukan pasar saham masyarakat normal. Beberapa netizen menyebutnya “arena judi kasino” dan “mesin uang tunai pemerintah Tiongkok”.

Zhang Tianliang menggambarkan, bahwa ketika Renminbi menghadapi tekanan depresiasi dan valuta asing mulai berkurang secara bertahap, untuk meningkatkan likuiditas dana di masyarakat, mereka akan menurunkan standar perbankan dan melepaskan likuiditas sehingga masyarakat dapat terus beroperasi di bawah dorongan uang.

Namun, uang yang sedang banjir di pasar ini akan mengalir masuk ke bidang sirkulasi, tetapi tidak akan masuk ke industri fisik, karena industri ekspor terpengaruh, banyak pabrik tutup dan PHK, uang ini akan mengalir ke pasar saham, pasar perumahan, pasar obligasi, produk manajemen kekayaan, masuk bidang-bidang spekulasi, uang cari uang.

Ia mengatakan bahwa setelah tarif diterapkan, pasar saham mungkin saja tidak turun, tetapi bergejolak, naik sedikit atau bahkan meroket.

“Kami dapat melihat dari transaksi pasar saham pada hari Jumat (10 Mei). Harga saham di pasar saham yang awalnya telah anjlok di pagi hari. Akhirnya setelah “tim nasional” memasuki lapangan untuk menunjang pasar pada sore harinya, indeks saham langsung ditarik ke atas. Banyak orang awam mungkin merasa bahwa mereka bisa menarik keuntungan dari pasar saham, kerugiannya bisa berkurang”.

“Pasar saham Tiongkok tidak mencerminkan kuantitas dasar ekonomi, tetapi pasar kebijakan. Hanya bandar yang menghasilkan uang di pasar saham, tetapi para investor ritel itu tak akan mampu bertanding dengan bandar, saya pikir masyarakat Tiongkok sebaiknya menjauhi pasar saham Tiongkok”, katanya.

Zhang Tianliang menyarankan masyarakat daratan Tiongkok untuk menjauh pasar saham, juga pasar perumahan karena risiko pasar perumahan bahkan lebih besar. “Saham masih bisa dijual keesokan harinya meskipun terjadi kerugian. Tetapi perumahan tidak akan bisa dibuang dalam satu atau dua bulan, bahkan setengah tahun. Setelah pasar perumahan jatuh, harga turun dan makin tidak ada orang yang mau membelinya. Oleh karena itu, pasar perumahan dan pasar saham seyogyanya dijauhi”.

Efek domino

Ada pendapat bahwa PDB tahunan Tiongkok adalah 11 triliun, dan perdagangan dengan Amerika Serikat adalah 500 miliar, hanya menyumbang 5%. Oleh karena itu, jika Tiongkok sama sekali tidak berdagang dengan Amerika Serikat, ekonomi Tiongkok tidak akan terpengaruh.

Zhang Tianliang percaya bahwa ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut karena ekonomi memiliki efek berganda.

Ia menjelaskan, berapa banyak kesempatan kerja yang telah diciptakan di Tiongkok dengan perdagangan USD. 500 miliar ? Berapa banyak industri hulu dan hilir yang telah Anda hasilkan ? Selain itu, berapa banyak PDB yang akan didorong oleh populasi yang telah dipekerjakan ?

Selain itu, ekonomi bukan hanya masalah uang, tetapi juga masalah pikiran orang. Misalnya, jika ekonomi suatu tempat baik dan investor berpikir bahwa ada masa depan yang menjanjikan, maka ia akan menginvestasikan sejumlah besar uangnya di sana, dan kemakmuran dapat menarik lebih banyak dana untuk diinvestasikan.

Sebaliknya, jika ekonomi tidak bagus, akan muncul situasi divestasi. Setelah kenaikan tarif, banyak ekspektasi terhadap ekonomi Tiongkok berubah dari optimisme menjadi pesimisme. Banyak modal ditarik kembali, karena ekonomi tidak berjalan normal, dana makin banyak  ditarik investor. Ini dapat menggiring untuk memasuki sebuah lingkaran setan.

“Ketika Trump ingin menaikkan tarif, itu membawa banyak ketidakpastian bagi perekonomian Tiongkok. Banyak produsen sudah mulai menarik diri. Siapa pun yang melakukan bisnis pasti tidak menyukai adanya ketidakpastian. Sekarang tambahkan 25%, lalu bagaimana jika esok hari menjadi 45% ?

Zhang Tianliang mengatakan : “Dengan depresiasinya mata uang, pabrik yang sebelumnya memiliki omset penjualan 10 juta yuan, jika ditukarkan dengan dolar AS masih bisa memperoleh lebih dari 1 juta dolar AS. Sekarang setelah yuan didevaluasi, maka dolar yang dibawa makin berkurang. Ini juga merupakan kerugian yang tidak dapat diterima. Oleh karena itu, banyak investor memilih hengkang untuk menghindari kerugian seperti itu. Ini memang merupakan hambatan besar bagi perekonomian Tiongkok”.

Bagaimana dengan “nasib” orang banyak ?

Pasar perumahan dan pasar saham baik untuk dihindari, Renminbi terdepresiasi, harga-harga barang naik. Bagaimana masyarakat Tiongkok “menjaga kantong” mereka ?

Pada 7 Mei, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional mengeluarkan pesan di situs webnya yang ditujukan kepada pemerintah baik pusat maupun daerah untuk melakukan pemantauan terhadap jenis, kualitas, dan kualitas jumlah persediaan makanan di dalam negeri. Radio France International menjelaskan bahwa ini mungkin terjadi karena ketegangan devisa yang diakibatkan oleh perang dagang, yang mungkin dapat menyebabkan kekurangan stok pangan.

Zhang Tianliang menyarankan, sesuai dengan analisis yang dibuat Radio France International, semua orang dapat menimbun sedikit bahan makanan, setidaknya kehidupan terlindungi. Selain itu, Anda dapat membeli emas dan mata uang asing lainnya untuk disimpan.

Profesor Tian Yuan menyarankan masyarakat yang berduit untuk keluar negeri, yang tidak berkemampuan bisa menggunakan VPN untuk melihat situs web luar negeri, memahami perkembangan situasi, dan menemukan cara untuk menghindari masalah pada waktunya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular