Erabaru.net. Sebuah konglomerat pelayaran  raksasa yang dimiliki oleh rezim Tiongkok menolak untuk menyewakan ruang kantor di gedung yang dimilikinya di New York City kepada Amnesty International cabang Amerika Serikat, sebuah organisasi yang kritis terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok.

Amnesty International cabang Amerika Serikat mengatakan kepada The New York Times bahwa saat akan menandatangani perjanjian sewa pada tanggal 5 Mei untuk ruang kantor di Wall Street Plaza, pemilik gedung, Orient Overseas, mengatakan bahwa induk perusahaan barunya, Cosco Shipping Holdings Co., memerintahkan untuk menghentikan acara tersebut.

Seorang juru bicara kelompok hak asasi manusia mengatakan mereka diberitahu bahwa mereka “bukan penyewa terbaik” untuk ruang kantor menara berlantai 33 di Pine Street di Manhattan Rendah. Orient Overseas, anak perusahaan pelayaran Hong Kong, Orient Overseas Container Line, telah memiliki bangunan tersebut selama hampir 50 tahun, menurut The NY Times.

Namun pada tahun 2017, Cosco Shipping membeli Orient Overseas dengan harga USD 6,3 miliar, menjadikannya salah satu operator pengiriman peti kemas terbesar di dunia dan salah satu perusahaan pelayaran impor terbesar di Amerika Serikat. Cosco Shipping juga memiliki kepemilikan atas investasi real estat Orient Overseas — termasuk 88 Pine Street, satu-satunya properti Amerika Serikat  milik Orient Overseas — menurut The NY Times.

NY Times mengatakan Cosco Shipping tidak menanggapi pesan yang meminta komentar.

Amnesty International telah mendesak tindakan terhadap penindasan massal oleh rezim Tiongkok terhadap umat Muslim etnis minoritas di Beijing. Amnesty International telah ditolak aksesnya ke kamp-kamp tahanan di wilayah Xinjiang.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia lainnya mengklaim bahwa lebih dari 1 juta orang Uyghur dari Xinjiang ditahan di kamp-kamp yang disebut pendidikan ulang, di mana mereka dipaksa untuk menyangkal imannya dan berjanji setia kepada Partai Komunis Tiongkok. Warga Uyghur lainnya tunduk pada pengawasan online terus-menerus dan pengumpulan sampel vokal, pemindaian iris, dan pengambilan sampel DNA.

Amnesty International juga melaporkan mengenai penganiayaan terhadap praktisi  Falun Gong di Tiongkok. Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual Tiongkok tradisional dengan ajaran moral berdasarkan Sejati, Baik, dan Sabar.

Diperkenalkan kepada masyarakat Tiongkok pada tahun 1992, Falun Gong segera mendapatkan popularitas, dengan perkiraan resmi sekitar 100 juta praktisi Falun Gong di daratan Tiongkok pada tahun 1999. Khawatir popularitas itu mengancam otoritas rezim Tiongkok, pemimpin Partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin meluncurkan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di seluruh negeri  pada bulan Juli 1999, menangkap dan mengirim praktisi Falun Gong ke fasilitas penahanan, kamp kerja paksa, dan pusat pencucian otak dalam upaya untuk memberantas keyakinannya.

Pada tahun 2015, Amnesty International cabang Taiwan membantu menyelamatkan praktisi Falun Gong bernama Chen Zhenping, yang ditahan dan disiksa oleh rezim Tiongkok karena keyakinannya. Chen Zhenping ditahan di penjara wanita di Provinsi Henan selama tujuh tahun, di mana ia disiksa dan dipaksa melakukan kerja paksa. Amnesty International telah menangani kasus Chen Zhenping pada tahun 2012.

Dalam tiga tahun berikutnya, anggota Amnesty International menerapkan tekanan terus-menerus terhadap penganiaya Chen Zhenping, sambil memohon kepada pemerintah dan media Finlandia, dan juga otoritas Tiongkok. Chen Zhenping dibebaskan dan dipertemukan kembali dengan putrinya di rumah barunya di Finlandia pada bulan Oktober 2015. (Vv)

Associated Press, The Epoch Times berkontribusi pada artikel ini.

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular