Dr. Xie Tian

Berbincang dengan seorang teman yang bekerja di media massa Barat di Washington DC pada Maret lalu, ia adalah seorang tokoh senior di bidang media massa, memiliki pengalaman yang sangat kaya baik di Eropa, Asia, dan Amerika, memiliki pandangan yang unik terhadap masyarakat Barat dan Timur.

Dalam perbincangan itu ia bertanya, “Coba Anda katakan, pengalaman Presiden Trump sebagai pengusaha di New York, termasuk gaya negosiasi dan filosofi bisnisnya, apakah menimbulkan dampak besar terhadap jabatan presidennya dan perundingan dagang?” Saya berkata topik ini sangat menarik, di Tiongkok terdapat gaya yang berbeda antara pedagang Shanxi, pengusaha Canton, pedagang Huizhou, pengusaha Zhejiang dan lain-lain yang memiliki gaya berbeda, tradisi dan filosofi dagang masing-masing daerah juga berlainan.

New York adalah kota bisnis kelas dunia, apakah New York juga memiliki gaya khas tersendiri? Ini harus kita teliti lebih lanjut. Tapi melihat gaya negosiasi Trump, memang mampu mencengangkan komunis Tiongkok, membuat Komunis Tiongkok menggila, dan menyudutkan Komunis Tiongkok di gang buntu!

Di Tiongkok ada pedagang Shanxi, pedagang Kanton, pedagang Huizhou, pedagang Zhejiang, pedagang Suzhou, pedagang Shandong dan lain-lain yang memiliki gaya berbeda, hal ini berkaitan dengan tradisi dan filosofi dagang di masing-masing daerah.

Korea juga memiliki pengusaha dengan keunikan daerahnya masing-masing. Seperti di kalangan pengusaha Korea, dulu ada perbedaan pedagang Uiju dan pedagang Gaesong. Pedagang Uiju yang mahir dalam perdagangan antar negara mengedepankan ‘kepercayaan’ sebagai prinsip utama, sedangkan pengusaha Gaesong yang mahir dalam perdagangan dalam negeri menjadikan ‘tawar menawar’ sebagai hal utama.

Orang Uiju mengutamakan ‘etika bisnis’, orang Gaesong mengutamakan ‘teknik dagang’; satu etika satu Teknik, masing-masing memiliki keunggulannya. Menariknya adalah, di mata masyarakat Korea, etika berbisnis orang Tiongkok sangat berbeda dengan ‘etika bisnis’ mereka, dan disebut dengan ‘prinsip jual beli’.

‘Etika bisnis’ memandang kepercayaan sebagai hal utama, sedangkan ‘prinsip jual beli’ mengedepankan ‘hati-hati’. Tentu saja penilaian orang Korea ini mungkin agak bias, karena etika bisnis tradisional Tiongkok, seperti filosofi bisnis pedagang Shanxi, juga mengutamakan ‘kepercayaan’; dalam manajemen internalnya maupun perdagangan dengan pihak luar, pengusaha Shanxi juga selalu menjalankan prinsip ini.

Kembali ke topik tadi, apakah di Amerika tidak memiliki perbedaan daerah seperti ini? Sepertinya tidak begitu ada. Faktanya, perbedaan wilayah di AS tidak begitu besar, dan sama sekali tidak ada perbedaan desa dengan kota, pekerja dengan petani, yang hanya ada di negara totalitarian dan bersifat rasial anti kemanusiaan.

Jika dikatakan Trump sebagai pengusaha New York apakah memiliki kepribadian yang unik, seperti wilayah New York (wilayah New England di timur laut Amerika), maupun di bagian selatan, di bagian barat, perilaku bisnis pada dasarnya tidak jauh berbeda, karena arus pergerakan masyarakat AS sangat besar, kaum berbakat, arus barang, model bisnis, arus dana dan lain-lain, tidak ada pembatasan apa pun. Model bisnis yang baik, metode operasional yang terbaik, akan dengan cepat menyebar ke seluruh AS, setiap orang cenderung mengarah pada prinsip yang paling ekonomis, paling efektif dan perilaku paling baik.

Namun ada satu hal, yang sama bagi masyarakat dunia. Baik pedagang Shanxi dari Tiongkok, maupun pedagang Uiju dari Korea dan pengusaha Amerika, kesamaan itu adalah, seluruh masyarakat, seluruh suku bangsa dan negara, pada akhirnya tidak bisa meninggalkan “ketulusan” dan “kepercayaan / integritas” sebagai etika utama dalam berbisnis, tidak ada pilihan lain, ini adalah kesamaan universal.

Lalu, apa perbedaan strategi dagang dan seni negosiasi Trump, dengan gaya berbisnis pada masyarakat AS secara keseluruhan? Dengan kata lain, apa prinsip sejati pada jurus negosiasi bisnis Barat? Mengapa seni negosiasi Trump kini terlihat telah membuat Komunis Tiongkok menggila, Zhongnanhai sama sekali tak berdaya mengatasinya, sembari terus mengulur waktu, juga merasakan Trump ingin membuat mereka merasakan rasa sakit saat dikuliti!

Menurut pernyataan tokoh dari wadah pemikir (think tank) Komunis Tiongkok, yang paling merisaukan para pemimpin komunis Tiongkok saat ini adalah, mereka tidak mampu “memprediksi” langkah yang akan diambil Trump selanjutnya, sama sekali tidak tahu kartu apa yang berikutnya akan dimainkan oleh Trump! Apakah kartu Korea Utara? Atau kartu Laut Tiongkok Selatan? Atau kartu Taiwan? Atau kartu teknologi? Atau kartu HAM? Atau kartu menyingkirkan komunis? Komunis Tiongkok sama sekali tidak tahu. Karena tidak tahu, maka menjadi ketakutan; karena tidak bisa meraba kartu apa saja yang dimiliki oleh Trump, maka berulang kali salah mengeluarkan kartu; karena tidak mengenal lawan bahkan tidak mengenal diri sendiri (atau tidak berani mengenal kondisi diri), maka setiap hari hidup dalam ketakutan.

Menurut logika, seorang presiden yang memiliki konsep memerintah negara seperti Trump, sebenarnya sangat mudah untuk diprediksi, cukup dengan melakukan hal yang benar saja. Memahami misi sejarah Trump maka tidak akan sulit melihat setiap langkah Trump selalu sesuai logika, sesuai moral, sesuai tren.

Hanya Komunis Tiongkok dan think tanknya yang picik, karena tidak memahami Amerika yang sebenarnya, aspirasi rakyat AS yang sebenarnya, dan sikap ‘kaum protestan Anglo-Saxon kulit putih’ yang sebenarnya, sehingga Komunis Tiongkok selalu salah tafsir.

Dunia Barat menyebut kaum kulit putih arus utama sebagai WASP, bukan dalam makna kumbang besar, tetapi singkatan dari ‘White Anglo-Saxon Protestants’. Kata ini asalnya adalah ungkapan yang sangat baik terhadap suatu kelompok masyarakat, umumnya adalah kaum kulit putih penganut Kristen Protestan berdarah Inggris yang kaya dan memiliki hubungan sosial yang baik. Para sosiolog kadang kala juga menggunakan istilah ini dalam menyebutkan kaum Protestan di barat laut atau utara Eropa, terlepas dari apa pun status sosialnya.

Sebelum Perang Dunia II, kelompok ini pada dasarnya mendominasi bidang ilmu pengetahuan di AS, juga sosial, budaya dan kelompok politik pada Partai Republik AS.

Sejak era tahun 60an, seiring dengan bangkitnya pemikiran paham liberal dan dekadensi budaya di tengah masyarakat Barat, kekuatan yang tradisional dan konservatif ini mulai redup, bahkan istilah ‘WASP’ ini pun memiliki sejumlah corak negatifnya.

Namun hingga saat ini mereka masih mendominasi bidang finansial, bisnis, hukum dan institusi akademis di AS maupun di Barat. Menurut penuturan, lewat perkawinan campur dan nepotisme, nyaris memonopoli elit masyarakat Barat. Mulai dari berbagai perguruan tinggi ternama dalam Liga Ivy seperti Harvard, Yale, Princeton, sampai Seven Sisters, adalah wilayah kekuasaan kaum WASP, juga menjadi lembaga akademis yang paling didambakan oleh etnis Tionghoa yang konservatif.

Tingkat pendidikan mereka paling tinggi, rasio lulusan gelar magister juga paling tinggi; mayoritas adalah umat gereja uskup, gereja presbiterian, Anglican dan gereja Kristus. Mereka lebih makmur dibandingkan dengan mayoritas kelompok agama lainnya. Para elit di dunia bisnis dan hukum AS adalah wilayah kekuasaan mereka. Lebih dari seabad sebelum tahun 1964, mereka adalah anggota Partai Republik.

Hingga beberapa dekade terakhir, baru ada sebagian anggota Partai Demokrat bergabung di dalamnya. WASP mencakup 72% dari peraih penghargaan Nobel bidang ekonomi di AS, mereka memborong penghargaan Nobel bidang kimia antara tahun 1901 hingga 1972, dan 60% penghargaan medis, serta 59% penghargaan fisika. Ini adalah suatu kelompok yang berkontribusi terhadap umat manusia.

Masyarakat umumnya tahu keluarga ‘orang kaya lama’ (old money), seperti Vanderbilt, hotel Astors, klan Rockefeller, DuPont, Roosevelt, Forbes, Whitney and Morgan, adalah representatif yang tipikal dari kaum WASP.

Bagaimana nilai sosial kaum WASP ini? Penulis prosa AS yakni Joseph Epstein mengatakan, kaum WASP telah mengembangkan ‘semacam gaya kepemimpinan yang tenang dan low profile’. Kepemimpinan yang tenang dan low profile, konkrit namun tidak memamerkan, bukankah ini juga merupakan gaya kepemimpinan tipikal tradisional Tiongkok!

Kaum WASP terkadang dianggap orang aneh/nyentrik, namun intisari dalam budayanya, seperti tradisi, karakteristik, catatan khusus dan totem, norma kehidupan mereka, seperti ikatan keluarga yang akrab, tanggung jawab dan janji, gigih dan tegar, bukankah itu semua adalah kualitas yang sangat baik, juga merupakan warisan yang luar biasa di dalam tradisi Tiongkok?

Dari sudut pandang seorang Timur yang hidup di Barat, menurut penulis, manusia harus memberi pengakuan dan penghormatan yang layak terhadap energi positif yang diwariskan oleh peradaban Barat ini kepada umat manusia, dan menyerap seluruh intisarinya.

Dan, Trump, sebenarnya adalah representatif dari generasi baru pada masyarakat kulit putih Barat yang memiliki makna tradisi ini. (SUD/WHS/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular