Suatu hari, putrinya yang saat itu sedang memakai sweater, hilang. Sejak itu setiap tahunnya, Nyonya Xiulin selalu merajut sebuah sweater baru, untuk putrinya.

Erabaru.net. Pada tanggal 18 Mei, belasan keluarga serta tetangga Nyonya Gui Xiulin berkumpul di lapangan Nanhu, di Fuyang (Anhui) dengan spanduk ucapan selamat, untuk menyambut kedatangan kembali putrinya yang telah diculik.

Sekitar jam 10 pagi, Lu Wei turun dari sebuah bus. Nyonya Gui Xiulin langsung berlari dan memeluk putrinya sambil menangis, dia berulangkali mengatakan, “Maafkan Ibu nak.”

Nyonya Xiulin bertemu dengan putrinya pada tanggal 18 Mei. Kredit: chinanews.com

Pada tanggal 7 Maret 1982, Nyonya Xiulin, yang saat itu berusia 30 tahun, sedang merawat dua anaknya di rumah. Putrinya yang saat itu berusia 2,5 tahun, Lu Wei, meminta ijin kepada Ibunya untuk pergi bermain dengan tetangganya. Namun setelah dia pergi, dia tidak jua kembali.

Keluarga Xiulin memikirkan banyak cara, mencari ke banyak tempat, namun tidak juga menemukan petunjuk. Ibu ini menyalahkan dirinya sendiri dan bersumpah akan menemukan putrinya.

Nyonya Xiulin kemudian melakukan 3 pekerjaan setiap hari, berusaha mengumpulkan uang, agar bisa pergi ke banyak tempat untuk menemukan putrinya yang hilang. Suatu kali, ketika dia merindukan putrinya yang saat hilang itu mengenakan sebuah sweater, dia merajut sebuah sweater. Sejak itu, setiap tahunnya, Ibu ini akan merajut sebuah sweater baru untuk putrinya, yang sampai sekarang sudah berjumlah 38 sweater.

Pada tanggal 9 Mei, Nyonya Xiulin yang telah berusia 69 tahun, menerima “hadiah” terbesar dalam hidupnya, sebuah yayasan amal, Baby Home, memberinya kabar bahwa mereka telah menemukan putrinya, dengan metode tes DNA.

Sang Ibu telah merajut 38 sweater selama 38 tahun, untuk putrinya. Kredit: chinanews.com

Ternyata, menantu wanita Nyonya Gui Xiulin telah memposting informasi perihal mertuanya di situs web Baby Home, dan kemudian menyimpan data DNA suaminya.

Sang putri yang hilang, Liu Wei (kini berusia 40 tahun), mengatakan bahwa dia tinggal di area Sanming (Fujian), sudah menikah dan punya anak. Dia menceritakan bahwa ketika masih kecil, orangtua yang mengadopsinya memberitahu kepadanya bahwa mereka hanya menerima dirinya, dan tidak ada informasi lain apapun, jadi mereka juga tidak tahu dimana orangtua balita yang mereka adopsi.

Tahun 2016, pasangan orangtua yang mengadopsi Liu Wei, memposting informasi untuk menemukan kerabat yang hilang, dan menghubungi yayasan Baby Home, mengambil data DNA, untuk disimpan di pusat data situs tersebut, untuk kemudian dibandingkan dengan orang lain yang juga sedang mencari kerabatnya yang hilang. (Jul)

Sumber: tinnhanh.dkn.tv

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular