Erabaru.net. Tiongkok kehabisan pilihan untuk menyerang Amerika Serikat tanpa melukai kepentingannya sendiri, ketika Washington mengintensifkan tekanan pada Beijing untuk memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan dalam sebuah tantangan terhadap model ekonomi yang dipimpin negara Tiongkok.

Tiongkok mengatakan minggu ini akan mengenakan tarif lebih tinggi pada sebagian besar impor Amerika Serikat yang tercakup dalam daftar target revisi senilai USD 60 miliar. Isi daftar tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan daftar produk Tiongkok senilai USD 200 miliar yang dinaikkan tarifnya oleh  Washington.

Washington juga telah memanaskan situasi  perang dagang di bidang lain, mulai dari menargetkan perusahaan teknologi Tiongkok seperti Huawei dan ZTE hingga mengirim kapal perang melalui Selat Taiwan yang strategis.

Ketika tekanan meningkat, para pemimpin Tiongkok memaksa untuk tidak menghasilkan kesepakatan dan menghindari perang dagang berlarut-larut yang berisiko menghambat pembangunan ekonomi jangka panjang Tiongkok, menurut orang-orang yang akrab dengan pemikiran Tiongkok.

Tetapi Beijing sadar akan kemungkinan serangan balasan kaum nasionalis jika Tiongkok dipandang terlalu banyak menyerah pada Washington.

Menyetujui tuntutan Amerika Serikat untuk mengakhiri subsidi serta keringanan pajak untuk perusahaan milik negara dan sektor strategis juga akan membatalkan model ekonomi yang dipimpin negara Tiongkok dan melemahkan cengkeraman Partai Komunis Tiongkok terhadap ekonomi, kata mereka.

Kantor Informasi Dewan Negara, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perdagangan Tiongkok tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters.

Dari opsi pembalasan yang tersedia untuk Tiongkok, tidak ada yang tanpa risiko potensial.

Membatasi Impor Amerika Serikat

Sejak bulan Juli tahun lalu, Tiongkok secara kumulatif telah mengenakan tarif pembalasan tambahan hingga 25 persen pada barang Amerika Serikat sekitar USD 110 miliar.

Kontainer terlihat di Pelabuhan Laut Dalam Yangshan di Shanghai, Tiongkok pada tanggal 24 April 2018. (Aly Song / Reuters)

Berdasarkan data perdagangan Biro Sensus Amerika Serikat 2018, Tiongkok hanya memiliki sekitar USD 10 miliar produk Amerika Serikat, seperti minyak mentah dan pesawat terbang besar, yang tersisa untuk dikenakan kenaikan tarif sebagai pembalasan atas setiap tarif Amerika Serikat di masa mendatang.

Sebaliknya, Presiden Donald Trump mengancam tarif barang Tiongkok lainnya senilai USD 300 miliar.

Satu-satunya barang lain yang dapat dikenakan pajak oleh Beijing adalah impor layanan Amerika Serikat. Amerika Serikat memiliki surplus perdagangan jasa dengan Tiongkok sebesar USD 40,5 miliar pada tahun 2018.

Tetapi tampaknya Tiongkok tidak memiliki pengaruh yang lebih besar atas Amerika Serikat karena sebagian besar surplus itu ada di bidang pariwisata dan pendidikan, bidang yang akan lebih sulit bagi rezim Tiongkok untuk mundur secara bermakna, kata James Green, seorang penasihat senior di McLarty Associates, kepada Reuters.

Tiongkok lebih cenderung membangun lebih lanjut hambatan non-tarif pada barang Amerika Serikat, seperti menunda persetujuan peraturan untuk produk pertanian, kata James Green, yang hingga Agustus adalah pejabat Perwakilan Dagang di Kedutaan Amerika Serikat di Beijing.

Melukai Perusahaan Amerika Serikat

Analis perdagangan mengatakan Tiongkok dapat memberi penghargaan kepada perusahaan global lainnya dengan mengorbankan perusahaan Amerika Serikat, misalnya menggantikan pesawat Boeing dengan jet Airbus jika memungkinkan.

Tetapi ada risiko yang cukup besar bagi Tiongkok dalam mentransisikan pembalasannya dari perang tarif ke hambatan non-tarif pada perusahaan Amerika Serikat karena hal itu akan mengintensifkan persepsi mengenai ketidakadilan di Tiongkok dan mendorong beberapa perusahaan untuk mengalihkan sumber atau investasi di luar negara, kata mereka.

Donalds Trump telah meminta perusahaan Amerika Serikat untuk memindahkan produksi kembali ke Amerika Serikat.

“Konsekuensi jangka menengah dan panjang pada rantai pasokan sedang diremehkan. Saya akan sangat khawatir jika saya adalah Tiongkok,” kata Robert Lawrence, seorang rekan senior non-residen di Peterson Institute for International Economics, baru-baru ini kepada wartawan di Beijing, di mana sebuah kelompok dari pemikir bertemu dengan para pejabat senior Tiongkok.

Setelah negosiasi perdagangan mengalami kebuntuan pekan lalu dan mengarah pada pengenaan tarif baru, media pemerintah Tiongkok telah meningkatkan retorika nasionalis, bersumpah bahwa Tiongkok tidak akan dilecehkan.

Tetapi para analis mengatakan setidaknya untuk saat ini, Beijing sedang berusaha menjaga perang dagang agar tidak merembes ke arena politik yang lebih besar.

“Saya tidak berpikir mereka melihat itu sebagai kepentingan mereka, dan khawatir bahwa anti-Amerika akan berubah dengan sangat cepat menjadi anti-rezim,” kata James Green.

Mendevaluasi Yuan

Pelemahan yuan dapat membantu mengurangi dampak pada ekspor Tiongkok dari tarif Amerika Serikat yang lebih tinggi, tetapi setiap depresiasi yuan yang tajam dapat memacu pelarian modal, kata para analis.

Para pemimpin Tiongkok telah berulang kali mengatakan mereka tidak akan menggunakan depresiasi yuan untuk meningkatkan ekspor, dan bank sentral Tiongkok mengatakan tidak akan menggunakan mata uang sebagai alat untuk mengatasi gesekan perdagangan.

Yuan telah melemah lebih dari 2 persen terhadap dolar bulan ini karena perang dagang yang meningkat, tetapi analis mengatakan depresiasi kemungkinan cenderung didorong oleh pasar.

Menjatuhkan Kas Dana Amerika Serikat

Investor khawatir bahwa Tiongkok, yang merupakan kreditor asing Amerika Serikat terbesar, dapat mencairkan obligasi Treasury dan mengirim biaya pinjaman Amerika Serikat yang lebih tinggi untuk menghukum pemerintahan Donald Trump.

Tetapi sebagian besar analis mengatakan Tiongkok tidak akan melakukan tindakan seperti itu karena berisiko diskon besar-besaran tersebut yang akan membakar portofolio Tiongkok sendiri.

Kepemilikan Tiongkok atas kas dana Amerika Serikat adalah sangat besar mencapai USD 1,131 triliun pada Februari, menurut data terakhir Amerika Serikat. (Kevin Yao & Michael Martina/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular