oleh Li Yun

 Setelah perang dagang Tiongkok – AS kembali memanas, Wang Huning, anggota Komite Tetap Partai Komunis Tiongkok, selain meluncurkan hasutan untuk anti-Amerika Serikat. Ia juga mengendalikan sistem propaganda untuk memancing perang opini melalui tambang logam tanah jarang.

 Namun, semua tambang logam tanah jarang di Tiongkok dikendalikan oleh 5 keluarga besar faksi Jiang Zemin seperti Zeng Qinghong, Liu Yunshan dan Luo Gan dan lainnya.

 Di saat suhu perang dagang sedang meninggi, pada paro kedua bulan Mei lalu Xi Jinping pergi ke propinsi Jiangxi untuk mengadakan inspeksi industri logam tanah jarang di sana. Tampaknya Xi merilis sinyal ingin memanfaatkan logam tanah jarang sebagai kartu AS untuk melawan AS. Meskipun sampai sekarang belum menurunkan perintah “memainkan kartu tersebut”.

 Seorang cendekiawan politik Taiwan Dong Liwen mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa Amerika Serikat telah bersiap meladeni tantangan perang logam tanah jarang dari Tiongkok. Malahan Tiongkok yang membatalkannya. Akhirnya, Xi Jinping-lah nantinya yang bakal menghadapi dilema pahit yang datang dari dalam dan luar.  Sedangkan dilema utamanya adalah yang datang dari dalam negeri.

 Logam tanah jarang adalah bahan baku penting untuk membuat senjata berteknologi tinggi seperti rudal. Beberapa netizen telah mempublikasikan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa isu tentang perang logam tanah jarang yang dirilis komunis Tiongkok itu sebenarnya adalah “kartu busuk” yang menyusahkan rakyat.

 Produksi logam tanah jarang Tiongkok menyumbang 95% dari total produksi dunia, tetapi cadangan riil saat ini telah menurun sampai di bawah 30%, Amerika Serikat adalah yang kedua di dunia dengan cadangan 15% dunia, Persemakmuran Negara-Negara Merdeka yang dipimpin Rusia menyumbang 22%, dan Australia menyumbang 6%.

 Sebelum Tiongkok mengekspor logam tanah jarang pada tahun 1973, Amerika Serikat adalah pemasok terbesar logam tanah jarang di dunia. Eksploitasi logam tanah jarang, membuat Tiongkok harus membayar sangat mahal atas dampak terhadap lingkungan.

 Analisis menyebutkan bahwa di sinilah kepintaran Amerika Serikat, pertama ia rela mengimpor dari Tiongkok, setelah tambang itu habis AS kemudian beraksi.

 Pada tahun 2010, Amerika Serikat memulai persiapan penambangan logam tanah jarang di Mountain Pass, California dan diluncurkan kembali pada 2012. Oleh karena itu, pada tahun 2012, produksi logam tanah jarang AS mencapai 800 ton, mencapai nol terobosan dalam beberapa tahun terakhir, dan pada tahun 2013 produksinya sudah meningkat menjadi 4.000 ton.

 Dengan selesainya pembangunan fasilitas pemrosesan, produksi logam tanah jarang Mountain Pass akan semakin meningkat di masa depan. Jika Tiongkok mengendalikan ekspor logam tanah jarang, Amerika Serikat mampu berswasembada. Selain itu, Amerika Serikat juga dapat sepenuhnya membeli logam tanah jarang Tiongkok melalui negara ketiga.

 Jika Tiongkok berhenti menjual logam tanah jarang kepada Amerika Serikat, itu sama dengan memberikan kesempatan kepada Amerika Serikat untuk menuntut komunis Tiongkok di WTO. Oleh karena itu, “kartu As” yang hendak dimainkan komunis Tiongkok itu sudah tak lagi berbobot.

 Logam tanah jarang Tiongkok dikuasai kelompok Jiang Zemin

 Epoch Times pada 4 Juni melaporkan bahwa sebelum tahun 1990-an, ekspor logam tanah jarang global bergantung pada permintaan AS. Sejak awal masa Deng Xiaoping berkuasa, komunis Tiongkok dengan penuh semangat mengembangkan strategi logam tanah jarang dengan mengeksploitasinya tanpa memikirkan kerusakan lingkungan dan menjualnya dengan harga murah.

 Sebanyak 98% dari total tambang logam tanah jarang Tiongkok tersebar di Daerah Otonomi Mongolia Dalam, Propinsi Jiangxi, Guangdong, Sichuan, Shandong dan wilayah lainnya.

 Perusahaan-perusahaan utama yang terlibat dalam eksploitasi logam tanah jarang termasuk China Northern Rare Earth (Group), Ganzhou Xitu Mining Industry, Rising Nonferrous Metals Co., Chinalco Rare Earth & Metals Co. Ltd, China Minmetals Corporation, Xiamen Tungsten Co., Ltd, dan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering and Construction Co. Ltd.

 Namun, provinsi-provinsi utama di mana terdapat deposit logam tanah jarang hampir semuanya sudah dikuasai oleh Kelompok Jiang Zemin. Mereka telah lama mengendalikan wilayah yang berkepentingan dengan politik dan ekonomi Tiongkok.

 Di antaranya, Mongolia Dalam merupakan sarangnya Liu Yunshan yang mantan anggota fraksi Jiang. Jiangxi adalah sarangnya Zeng Qinghong, orang nomor dua kelompok Jiang Zemin. Sichuan adalah sarangnya Zhou Yongkang, Shandong adalah sarangnya Wu Guanzheng, Zhang Gaoli, Jiang Yikang dan lainnya. Adapun Fujian juga berkaitan dengan hampir sepuluh orang pejabat senior tingkat nasional yang mantan faksi Jiang pada saat ini atau masa lalu.

 Menurut laporan itu, setelah tensi perang dagang meningkat, anggota Komite Tetap Jiang Huning memanipulasi sistem propaganda komunis Tiongkok untuk menghasut perang logam tanah jarang. Tujuan kelompok Jiang adalah ingin “melempar” Xi Jinping ke front paling depan perang dagang dengan AS.

 Wang Huning dianggap sebagai “otak” para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok. Dia pertama kali dipromosikan oleh Jiang Zemin, mantan Ketua Partai Komunis Tiongkok. Dia tetap memegang jabatan tinggi pada era Hu Jintao dan Xi Jinping. Meskipun Wang berusaha menghindari menunjukkan faksi dirinya, namun kebanyakan orang percaya bahwa Wang Huning adalah orang dari kelompok Jiang Zemin.

 Dapat juga dikatakan bahwa Wang adalah bidak catur yang disisipkan ke dalam kubu Hu Jintao dan Xi Jinping.

 Pada awal perang dagang, Wang Huning pernah dicurigai telah “menyesatkan” Xi Jinping agar Xi menjadi bulan-bulanan kerusakan ekonomi Tiongkok oleh perang dagang.

 Pada awal bulan Mei, delegasi perundingan Tiongkok tiba-tiba mengingkari komitmen yang sudah dibuat dalam perundingannya dengan AS selama 10 bulan dan menuntut negosiasi dilakukan mulai awal lagi. Hal ini jelas membuat AS marah kemudian menaikkan tarif yang sempat ditunda.

 Menurut pendapat publik, Han Zheng, anggota Politbiro Standing Committee, menentang kesepakatan yang telah dibuat negosiator Tiongkok dan media yang dikendalikan oleh faksi Jiang berturut-turut menyampaikan berita yang menuntut agar Xi Jinping bertanggung jawab penuh atas “hasil negosiasi” itu.

 Alasan di balik itu tak lain adalah bahwa fraksi Jiang masih tidak puas dengan kondisi saat ini, dan bersemangat untuk kembali berkuasa dengan coba merusak reputasi Xi Jinping, menjatuhkan Xi Jinping melalui “kesalahan-kesalahan”-nya. (Sin/asr)

Share

Video Popular