Frank Fang – The Epochtimes

Duta Besar  United State Commission on International  Religious Freedom (USCIRF) atau Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama  Internasional,  Sam Brownback baru-baru ini menyampaikan kata-kata keras sebagai respon upaya keras rezim Komunis Tiongkok untuk menekan agama di Tiongkok.

Pada tanggal 7 Juni, Brownback memberikan pidato di sebuah acara yang diadakan di think tank AS, Heritage Foundation, berjudul “Menanggapi Krisis di Xinjiang.”

Departemen Luar Negeri AS memperkirakan bahwa rezim Komunis Tiongkok sejauh ini telah menahan lebih dari 1 juta etnis minoritas Muslim, termasuk Uyghur, Kazakstan, dan Kirgistan ke kamp-kamp interniran untuk indoktrinasi politik.

Mantan Senator AS ini mengatakan Komunis Tiongkok akan gagal dalam upaya mereka yang mereka lakukan hari ini untuk mengendalikan agama di seluruh Tiongkok. Mereka berusaha melakukan sesuatu yang tidak pernah berhasil dilakukan pemerintah dalam jangka panjang.

Mantan Gubernur Negara Bagian Arkansas, AS ini menunjukkan bahwa terlepas dari fakta bahwa konstitusi Tiongkok menjamin kebebasan beragama, akan tetapi Komunis Tiongkok terus “menginjak-injak” hak asasi manusia yang mendasar ini.

“Mereka berusaha untuk pergi dari kerajaan manusia untuk mengendalikan kerajaan Tuhan — itu akan gagal,” kata Brownback.

Brownback mengidentifikasi beberapa agama yang berada di bawah “permusuhan ekstrem” dari Komunis Tiongkok : Buddhisme, Islam, Kristen, dan Falun Gong. Dia meminta semua negara untuk mengutuk apa yang Komunis Tiongkok lakukan “dalam perang terhadap Iman ini.”

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual tradisional berdasarkan latihan meditasi dan ajaran moral tentang Sejati-Baik-Sabar. Popularitas kelompok yang luar biasa itu — perkiraan resmi menempatkan jumlah penganut di Tiongkok sekitar 100 juta pada akhir 1990-an — dipandang oleh pemimpin Komunis Tiongkok saat itu, Jiang Zemin sebagai ancaman terhadap kekuasaannya.

Pada 20 Juli 1999, Jiang meluncurkan penganiayaan di seluruh negeri untuk menangkap praktisi dan melemparkan mereka ke penjara, pusat pencucian otak, kamp kerja paksa, dan bangsal psikiatris – sebagai upaya  memaksa mereka meninggalkan keyakinan mereka. Hingga saat penganutnya masih ditangkap dan ditahan oleh komunis Tiongkok.

Brownback berbicara secara mendalam tentang masalah serupa yang dihadapi kelompok minoritas Muslim di Tiongkok pada saat ini. Mereka bisa “ditahan secara sewenang-wenang” oleh otoritas Komunis Tiongkok karena perilaku seperti menumbuhkan janggut, mengenakan jilbab, menghadiri kegiatan keagamaan, menunaikan Ibadag Ramadhan, berbagi tulisan agama, dan berdoa.

Rezim Komunis Tiongkok juga menerbitkan daftar nama-nama Islam ilegal untuk anak-anak, yang menurut Brownback “menyakitkan.” Mereka yang tidak patuh tidak akan dapat menerima pendaftaran rumah tangga.

Pada kesempatan itu, Brownback  mengecam Komunis Tiongkok atas upayanya untuk membenarkan kamp dengan menyebut mereka “pusat pelatihan kejuruan,” yang mana ada “menara penjaga dan kawat berduri yang memisahkan antara guru dan murid.”

Duta Besar AS sebelumnya bertemu dengan sekelompok orang Uighur di pengasingan yang sekarang tinggal di Amerika Serikat. Sekitar 30 orang dalam kelompok itu mengatakan mereka kehilangan anggota keluarga di Xinjiang.

“Pemerintahan Trump sangat prihatin dan menganggap penindasan ini sebagai upaya yang disengaja oleh Beijing untuk mendefinisikan ulang dan mengendalikan identitas, budaya, dan kepercayaan yang lebih lemah,” kata Brownback.

Dia menambahkan menyesali keputusan yang dia buat pada tahun 2000, ketika itu dia sebagai seorang senator Amerika Serikat yang mewakili Kansas. Dia memilih mendukung pemberian status permanen negara yang paling disukai atau most favored nation –MFN-  ke Tiongkok.

MFN adalah tingkat status perlakuan dalam perdagangan internasional. Pada tahun 2.000,  Presiden Bill Clinton secara permanen memberikan status MFN ke Tiongkok. Setahun kemudian, Tiongkok menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Saya melakukannya dengan berpikir bahwa keterlibatan ekonomi dengan Tiongok secara bertahap akan mengubah perilaku politik mereka — bahwa dengan mengalami peluang ekonomi yang lebih besar, Tiongkok secara bertahap akan memberikan lebih banyak kebebasan politik, karena mereka semakin terlibat dengan Barat. Saya salah dalam penilaian itu, seperti banyak orang lain pada waktu itu,”demikian disampaikan Brownback. (asr)

Share

Video Popular