Li Jing – The Epochtimes

Baru-baru ini rezim komunis Tiongkok meluncurkan larangan penayangan terhadap drama TV populer yang bersumber dari novel klasik. Drama itu diangkat dari novel Investiture of the Gods, atau Feng Shen Yanyi dalam bahasa mandarin.

Larangan ini tampaknya bertujuan untuk membasmi semua konten spiritual dan memicu gelombang kritik pada media sosial di Tiongkok. Netizen Tiongkok pun meratapi larangan terbaru ini.

Ditulis pada abad ke-16, novel epik ini menceritakan kembali tentang perang antara dewa dan setan selama kemorosotan Dinasti Shang (1600-1046 SM) dan kebangkitan Dinasti Zhou (1046-256 SM).

Novel itu menceritakan, Raja Zhou, penguasa terakhir Dinasti Shang, disihir oleh selirnya Daji yang kerasukan iblis dan menjalani kehidupan pesta pora dan kemewahan. Pasangan itu dengan kejam mengeksploitasi orang-orang dan mengeksekusi orang-orang yang berani menentangnya, termasuk para pejabatnya yang setia, para jenderal, dan bahkan ratu dan putranya.

Muncul Raja Ji Fa memulai perang melawan Zhou untuk mengakhiri tirani.  Kedua belah pihak mengerahkan makhluk gaib – dewa, makhluk abadi, setan, dan manusia dengan kekuatan gaib. Kisah itu berakhir dengan penggulingan Raja Zhou dan kematian iblis rubah.

Drama 50-episode berdasarkan novel itu sangat populer di Hunan Satellite TV, saluran TV terbesar kedua di Tiongkok. Hingga akhirnya saluran TV itu mengumumkan pada tanggal 3 Juni akan memperpendek 12 episode terakhir menjadi dua episode.  Kemudian membatalkan penayangan tanpa pemberitahuan lebih lanjut.

Belum ada penjelasan resmi yang diberikan, apakah dua episode penutup akan ditampilkan. Hingga kini masih tetap menjadi misteri.

Kebanyakan orang Tionghoa yang berkomentar di media sosial menilai larangan itu adalah tentang ketakutan pihak berwenang Komunis Tiongkok bahwa program ini akan membangkitkan kembali kepercayaan spiritual di Tiongkok.

Beberapa orang berpikir  larangan itu terjadi sehari sebelum peringatan 30 tahun Pembantaian Lapangan Tiananmen pada tanggal 4 Juni, raja dan pejabat yang korup dalam tayangan serial itu akan mengingatkan orang-orang akan pejabat Komunis Tiongkok. Serial itu juga dikaitkan bahwa pembunuhan kejam terhadap orang yang tidak bersalah  akan membangkitkan ingatan akan pembantaian 1989 silam.

Topik tabu lainnya, satu contoh sensor terbaru di industri hiburan dan media sosial Tiongkok. Pada pertengahan Mei lalu, mesin pencari buatan Tiongkok, Baidu, menyebabkan kegemparan di media sosial setelah menghapus semua posting sebelum 2017 di Tieba, komunitas online-nya dengan pengguna 1,5 miliar.

“Ini adalah 15 tahun sejarah netizen Tiongkok dihapus,” tulis seorang pengguna Internet.

Pada akhir Mei, Administrasi Dunia Maya Shanghai memberangus Qidian.com, sebuah platform membaca online di Tiongkok bagi para penulis independen dengan dugaan akumulasi lebih dari 1 juta karya sastra.

Beberapa penulis mengatakan pihak berwenang melarang konten yang mencakup politik, gangster, dan pornografi. Penyebutan ciuman, seks, atau bahkan merangkul juga dapat menyebabkan penghapusan konten.

Selain itu, karakter dalam pekerjaan khusus — seperti polisi, militer, agen khusus, dan petugas pemadam kebakaran — mungkin tidak terkait dengan aktivitas seksual dalam literatur. Akan tetapi larangan itu dinilai hanya klise belaka.

Rumor beredar di Internet mengatakan bahwa larangan lain termasuk adegan pertempuran, dewa, biksu, Buddha dan Tao, hantu atau roh dalam genre fantasi, kritik terhadap nihilisme kekuatan kekaisaran, adegan pembunuhan, tentara dengan kekuatan gaib, sihir , agama, dan deskripsi tubuh manusia di bawah leher.

Meskipun rumor seperti itu belum diverifikasi atau dibantah, netizen di Tiongkok meratapi hilangnya “kebebasan” berbicara yang sudah cukup menyedihkan.

“Mengapa kamu tidak melarang semuanya dan membiarkan kami hanya menghafal kutipan pemimpin komunis?” demikian salah satu netizen mengeluh dalam salah satu postingan.

“Kami tidak diizinkan untuk peduli dengan politik atau berita. Sekarang kita bahkan tidak bisa menghibur diri dengan membaca novel. Bagaimana orang Tionghoa bisa bertahan? ” tambah komentar netizen lainnya.

Meskipun konten kekerasan dan pornografi sering dinyatakan sebagai alasan penyensoran, target utama Komunis Tiongkok sebenarnya adalah konten spiritual, karena orang beriman lebih sulit untuk dimanipulasi dan dikendalikan.

Sejak pendiriannya, rezim komunis Tiongkok telah menjadikannya prioritas untuk mencabut beribu-ribu keyakinan spiritual dari masyarakat Tiongkok untuk memberi jalan mulusnya ideologi komunis.

Setelah beberapa dekade melakukan tindakan keras terhadap agama-agama tradisional, termasuk Budha, Taoisme, dan Kristen, rezim memulai perang habis-habisan terhadap latihan meditasi spiritual Falun Gong, latihan qigong paling populer di negara itu.

Selama dua dekade sejak larangan itu, Komunis Tiongkok telah mengambil segala tindakan yang mungkin untuk memblokir semua penyebutan kelompok yang sangat teraniaya dan hanya mengizinkan retorika  Komunis Tiongkok.

Sekarang perang terhadap spiritualitas telah mencapai puncaknya bahkan lebih dalam dan lebih luas. Contoh baru-baru ini adalah rezim Komunis Tiongkok telah mengedit kutipan dari karya agung dunia yang termasuk dalam buku pelajaran sekolah Tiongkok. Semua kata dan frasa yang mengandung implikasi spiritual — yaitu Tuhan, Alkitab, kepercayaan, doa, istirahat dengan damai — telah dihapus.

Sebagai contoh, dalam kisah The Little Match Girl, kalimat, “… neneknya telah memberitahunya bahwa ketika sebuah bintang jatuh, roh naik ke Surga.” Sekarang berbunyi, “… ketika sebuah bintang jatuh, seseorang telah pergi. “

Laporan 1 juta atau lebih Muslim Uighur ditahan di kamp-kamp pendidikan ulang rahasia dan dipaksa untuk meninggalkan keyakinan mereka dan tradisi telah menjadi berita utama dunia  yang mengkhawatirkan komunitas internasional.

Komunis Tiongkok dinilai terlalu panik dan  hiper paranoia atas keamanan publik dan kontrol bicara, terutama sejak perang perdagangan AS-Tiongkok, mencerminkan rasa ketidakamanan ideologis yang ekstrem oleh rezim komunis.

“Reaksi Komunis Tiongkok menunjukkan bahwa Tiongkok dan AS berada dalam perang nyata, Ini perang antar ideologi. Dan sudah waktunya untuk mencari tahu siapa pemenangnya, ”  kata Liao Shiming seorang kolumnis keuangan dan komentator. (asr)

Share

Video Popular