Ntdtv.com

Erabaru.net. Unjuk rasa terbaru pada Rabu 12 Juni 2016 lalu  massa Hong Kong menyerbu gedung parlemen atau dikenal dengan Dewan Legislatif. Mereka  memaksa penundaan pembacaan kedua undang-undang ekstradisi yang diusulkan dan meminta pihak berwenang membatalkan RUU ekstradisi yang diusulkan untuk memungkinkan tersangka yang dicari di daratan Tiongkok dikirim melintasi perbatasan negara untuk diadili.

Pada sore hari waktu setempat, polisi dituduh menggunakan senjata tidak mematikan untuk memaksa pembubaran massa di lokasi kejadian, polisi memukul massa dan menyebabkan cedera serius sejumlah besar pengunjuk rasa.

Netizens mengatakan bahwa banyak dari mereka adalah polisi militer dari Tiongkok. Pasca pembubaran paksa, polisi sebaliknya mengatakan massa demonstran sebagai “perusuh.”

Polisi Hong Kong mengeluarkan siaran pers pada pukul 5:42 waktu setempat dengan topic demonstrasi massa pada hari “kerusuhan” dan menyatakan bahwa pihak kepolisian akan mengambil tindakan tegas untuk menghentikan “kerusuhan”.

Selanjutnya, polisi antihuru-hara di luar gedung parlemen mulai bertindak brutal untuk membersihkan lokasi unjuk rasa.  

 Sebelum pembersihan lokasi demonstran pada 9 hingga 12 Juni, terjadi konflik kecil antara polisi dan demonstran, yang menyebabkan warga dan polisi terluka.

Namun, banyak netizen mengatakan bahwa massa melakukan protes damai. Mereka curiga komunis Tiongkok akan mengulangi tragedi 4 Juni di lapangan Tiananmen, mengirim agen khusus ke dalam barisan pengunjuk rasa untuk membuat masalah, mengintensifkan konflik antara polisi dan massa demonstran, dan menciptakan alasan untuk penindasan.

Menurut sejumlah besar tweet dan foto serta video yang dirilis oleh netizen, dalam aksi pembersihan lokasi unjuk rasa pada 12 Juni itu, polisi menggunakan semprotan merica, gas air mata, dan peluru karet, yang menyebabkan cedera serius pada sejumlah besar demonstran. Selain itu, polisi juga memukul orang-orang dengan pentungan.

Banyak beredar foto dan video massa demonstran yang mengalami cedera serius akibat kebrutalan polisi. Ada demonstran yang muntah darah, ada yang cedera pada mata, dan bekas lubang peluru di tubuh mereka. Sumber mengatakan bahwa polisi menggunakan bean bag round yakni kantong kain kecil yang berisi pellet dan peluru karet.

 Ada juga video yang memperlihatkan beberapa petugas polisi memukul massa. Beberapa netizen mengungkapkan bahwa beberapa petugas polisi yang memukul massa berbicara bahasa Mandarin.  Selain itu, video yang diunggah netizen mengatakan bahwa sejumlah besar polisi militer dari Tiongkok memasuki Hong Kong dari Shenzhen pada Selasa malam 11 Juni yang lalu.

Sejarah terulang kembali, harap perhatian dari komunitas internasional, dan pemerintah Amerika Serikat. Sejumlah besar polisi bersenjata Komunis Tiongkok yang berbicara bahasa Mandarin menuju ke Dewan Legislatif dari Central Ferry Piers. Komunis Tiongkok secara ilegal telah menegakkan hukum di Hong Kong. Mereka memukul dan menangkap orang-orang, tak lama lagi mungkin akan mengerahkan tank. “Hei anjing komunis, mana tank-nya ? ! mana….mana tank-nya, ayo kerahkan lagi? !

 Informasi dari lokasi kejadian mengatakan, bahwa pada saat pembersihan lokasi unjuk rasa, pemerintah Hong Kong telah memutus sinyal jaringan di tempat kejadian, dan untuk telepon juga sangat sulit. Sementara polisi keamanan publik langsung memukul demonstran yang ditemui.

 Pada pagi 12 Juni 2019,  massa Hong Kong mulai mengepung gedung Dewan Legislatif, mencegah anggota dewan memasuki gedung, dan memblokir beberapa jalan. Pada saat yang sama, mereka mulai melakukan mogok kerja, mogok kota yakni aktivitas kegiatan bisnis dihentikan, dan mogok kuliah.

Siangnya pada hari yang sama, Dewan Legislatif mengumumkan penundaan pembacaan kedua undang-undang ekstradisi yang diusulkan, tetapi tidak menentukan sampai kapan waktu penundaan itu.

Anggota dari Partai Demokrat dan publik khawatir pihak berwenang akan menggelar kembali sidang parlemen kapan saja, namun, mereka akan terus meningkatkan aksi protes selama Pemerintah Hong Kong tidak menarik amandemen itu.  (Jon/rp/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular