Eva Pu – The Epochtimes

Rezim komunis Tiongkok telah menggali tindakan masa lalu Maoisnya untuk dua inisiatif sosial dan propaganda baru yang mana baru-baru ini diluncurkan.  Menurut para analis, kampanye baru ini menunjukkan tanda-tanda mendalam terkait masalah ekonomi di Tiongkok.

Kebijakan sosial yang baru-baru ini diumumkan adalah Komunis Tiongkok ingin melihat lebih banyak “Talenta” pindah ke daerah pedesaan yang miskin, mengingatkan pada kampanye selama Revolusi Kebudayaan.

Ketika itu, Komunis Tiongkok memaksa jutaan anak muda perkotaan untuk bekerja di ladang bersama para petani untuk “Mendidik kembali” diri mereka sendiri.

Sementara itu, media yang dikelola pemerintahan Komunis Tiongkok telah gencar mempublikasikan propaganda yang mengingatkan kembali pada Long March — retret militer yang dilakukan oleh Tentara Merah pada Tahun 1930-an yang diromantisir oleh Partai Komunis Tiongkok.

Terjun ke Pedesaan

Pada 19 Juni, Kantor Umum Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok mengumumkan kebijakan yang mendorong “Talenta” untuk pindah ke daerah pedesaan yang miskin, menurut pemberitahuan yang diterbitkan oleh media corong Komunis Tiongkok, Xinhua.

Pengumuman itu juga meminta pemerintah daerah “menindaklanjuti dengan hati-hati berdasarkan kenyataan,” menambahkan bahwa kebijakan itu konsisten dengan prinsip bahwa “Partai memandu iringan berbakat.”

Para kritikus mengatakan bahwa langkah itu merupakan kemunduran terhadap Revolusi Kebudayaan beberapa dekade lalu, di mana sekitar 17 juta pemuda Tiongkok “borjuis” —sekitar 10 persen dari populasi kota di Tiongkok — dikirim ke pedesaan di bawah arahan pemimpin komunis saat itu Mao Zedong, untuk “mendidik kembali” diri mereka sendiri dengan bekerja di ladang bersama para petani.

Pengumuman 19 Juni itu adalah upaya kedua Komunis Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir memigrasi tenaga kerja dari pusat-pusat kota untuk merevitalisasi daerah pedesaan.

Sebelumnya pada bulan April, Liga Pemuda Komunis Tiongkok, sebuah organisasi untuk calon kader, mengumumkan rencana tiga tahun untuk mengatur setidaknya 10 juta lulusan perguruan tinggi Tiongkok untuk menjadi sukarelawan “membangun budaya, teknologi, dan bidang perawatan kesehatan di pedesaan sebelum 2022. “

Tujuan lain dari rencana tersebut, menurut Liga Pemuda itu, adalah untuk mempromosikan pembangunan desa dan menghilangkan kemiskinan.

Rencana itu telah mendapat reaksi keras dari para netizen di Tiongkok, dengan beberapa orangtua mengkritiknya sebagai terbelakang dan menyerukan anak-anak pejabat untuk menjalaninya.

Gerakan “Long March”

Selama beberapa minggu terakhir, banyak artikel muncul di portal media online Tiongkok, dengan sejumlah jurnalis menceritakan pengalaman mereka melintasi jalur Long March, mundur besar-besaran pasukan bersenjata Partai Komunis Tiongkok dari wilayah selatan pada 1930-an yang sejak itu dipropagandakan sebagai perjalanan heroik.

Sejak 11 Juni, sekitar 500 wartawan media negara telah bergabung dalam perjalanan yang diawasi oleh Departemen Publikasi Partai Komunis Tiongkok, agen pemerintah yang bertanggung jawab atas penyebaran propaganda, ketika Partai menandai tahun ke-70 kekuasaan otoriternya.

Laporan-laporan itu menggembar-gemborkan acara itu sebagai kursus “pendidikan Partai khusus”, menggambarkan pengalaman itu sebagai ziarah yang mengingatkan kepada jurnalis akan keuletan para prajurit komunis.

Tang Jingyuan, komentator politik yang berbasis di AS, mengatakan kepada The Epoch Times edisi bahasa Mandarin bahwa kampanye mengungkapkan adanya retakan yang mulai muncul dalam cengkeraman kekuasaan Komunis Tiongkok.

Tang mengungkapkan : “Dari atas ke bawah di Partai Komunis Tiongkok, ada perasaan bersama bahwa Partai menuju kehancurannya, jadi menggembar-gemborkan kampanye untuk ‘mengunjungi Long March’ hanyalah sebuah upaya untuk menemukan beberapa kepercayaan diri – mengangkat semangat dalam Partai dan di antara massa.”

Para analis mengungkapkan dua insiden yang tampaknya berlainan itu  bisa menjadi pertanda bahwa rezim Komunis Tiongkok berusaha untuk mengatasi ekonomi yang sedang berjuang, yang mana kini menderita kerugian lebih lanjut akibat perang dagang dengan Amerika Serikat.

Pertumbuhan output industri bulanan Tiongkok pada Mei turun ke level terendah selama 17-tahun, sementara penjualan ritel juga melamban.

Menurut Tang, sengketa perdagangan dengan AS, bersama dengan protes yang sedang berlangsung di Hong Kong, telah menempatkan rezim Komunis Tiongkok dalam posisi sulit. Sedangkan kekhawatiran yang paling mendesak adalah bagaimana mempertahankan ekonomi.

Tang menambahkan : “Jika AS benar-benar mengambil tindakan untuk memotong pasokan, Komunis Tiongkok tidak akan bisa bertahan lebih lama. Begitu ekonomi turun, Komunis Tiongkok akan kehilangan legitimasinya, dan ia mengetahui hal ini dengan baik, sehingga ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menutupi gambaran sebenarnya dari ekonomi yang lesu, betapapun banyak kepalsuan yang diperlukan.”

Para analis mengatakan, migrasi besar-besaran pemuda berpendidikan perkotaan seperti yang diumumkan pada April bisa menjadi solusi sementara bagi rezim Komunis Tiongkok untuk menyeimbangkan pertumbuhan pengangguran di daerah perkotaan dengan kurangnya tenaga kerja di pedesaan.

Meningkatnya tingkat pengangguran telah menjadi masalah sensitif bagi rezim Komunis Tiongkok karena dipandang sebagai indikator ketidakstabilan sosial.

Tiongkok akan mencatat rekor 8,34 juta lulusan perguruan tinggi baru tahun ini, membawa lebih banyak tekanan ke pasar kerja yang sudah bermasalah, menurut laporan Mei lalu oleh media pemerintah, Xinhua.

Menurut Voice of America, survei baru-baru ini menunjukkan bahwa sekitar setengah dari lulusan perguruan tinggi ini mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, mengingat tingkat pekerjaan aktual sekitar 52 persen.

Komentator politik Tiongkok yang berbasis di Kanada, Wen Zhao mengatakan dalam video 10 April di saluran YouTube-nya : “Tidak ada solusi untuk pengangguran, meskipun beberapa pemuda bergantung kepada orangtua untuk dukungan finansial, sementara beberapa memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi.”  (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular