Olivia Li – The Epochtimes

Kepemimpinan puncak Komunis Tiongkok terbelah dan  Xi Jinping dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda dan berbagai motif. Ia berada dalam situasi yang sangat rumit dan sulit sebagaimana diungkapkan oleh orang dalam.

Setelah putaran terakhir perundingan dagang dengan Amerika Serikat berakhir tanpa kesepakatan pada bulan Mei lalu, media pemerintah Tiongkok telah melaporkan kepada warga Tiongkok bahwa komunis Tiongkok tidak akan menerima persyaratan yang diusulkan oleh delegasi Amerika Serikat karena mereka merusak kedaulatan dan martabat nasional Tiongkok.

Selain itu, Departemen Propaganda Pusat Partai Komunis Tiongkok mengeluarkan perintah untuk stasiun TV utama untuk mengudarakan sebanyak 70 film dengan tema patriotisme.

Pada tanggal 26 Juni, sehari sebelum Xi berangkat ke KTT G20, juru bicara rezim Xinhua News Agency sekali lagi mengecam faksi pro-Amerika dan memperingatkan bahwa semua harus tetap waspada terhadap mereka yang “melemparkan granat ke belakang” pada saat “dua tentara” secara langsung saling berhadapan. “

Pertikaian dan Kekacauan

Orang dalam dari Beijing yang merupakan putri dari sesepuh Partai Komunis Tiongkok, kepada Epoch Times berbahasa Mandarin dengan syarat identitasnya dirahasiakan mengungkapkan frasa “melempar granat ke belakang” berarti pertikaian dalam kepemimpinan puncak Komunis Tiongkok.

Dia menjelaskan bahwa sehubungan dengan perang dagang AS-Tiongkok, ada dua pendapat berbeda di antara para pemimpin di level puncak. Salah satunya adalah bahwa Tiongkok perlu mempertahankan hubungan yang baik dengan Amerika Serikat.

Jika Tiongkok memilih untuk bertarung dengan Amerika Serikat, kedua negara akan menderita dan itu juga tidak baik untuk kepentingan Komunis Tiongkok.

Sisi lain, mereka yang memegang ideologi garis keras Mao Zedong, percaya bahwa komunis Tiongkok tidak boleh menyerah kepada Amerika Serikat dan harus berjuang sampai akhir.

Menurut orang dalam ini, media corong Komunis Tiongkok mengecam “kapitulator” berlanjut sampai sehari sebelum kunjungan Xi ke Jepang; rupanya mereka menyebut Xi sebagai kapitulator. Dia mengatakan kepemimpinan puncak Beijing sangat terpecah dan dalam kekacauan.

Sumber ini mengungkapkan : “Beberapa orang memasang jebakan untuk membuatnya sangat sulit bagi Xi, beberapa ingin dia bertarung dengan Amerika Serikat, beberapa memiliki agenda rahasia mereka sendiri, beberapa adalah pendukung Xi. Ini situasi yang sangat rumit.”

Xi Memiliki Ucapan Akhir

Menurut “pangeran” wanita ini, meskipun garis keras telah mengambil kendali atas media dan opini publik, Xi adalah Ketua Partai Komunis Tiongkok, dan di Tiongkok, Ketua selalu memiliki kata akhir tentang isu-isu penting.

Menurut pendapatnya, Xi ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, ketika ia secara terbuka menyebut Presiden Trump sebagai “teman saya” dalam pidato di Rusia.

Orang dalam itu mengungkapkan : Selain itu, Xi tidak akan berpegang teguh pada pendirian, karena itu akan mengganggu Washington.  Ketika kedua negara terus-menerus bertempur, itu akan melibatkan masalah lain, seperti Taiwan.

Sumber ini menuturkan : “Xi harus mempertimbangkan banyak faktor, termasuk stabilitas sosial dan stabilitas kekuatan politik dan karier politiknya sendiri. Dia harus mempertimbangkan semua ini ketika dia berbicara dengan Presiden Trump.”

Ia menambahkan : “Sangat penting bahwa dia membuat penilaian sendiri ketika dia dikelilingi oleh orang-orang dengan pendapat dan motif yang berbeda. Dia juga harus bisa memberi tahu siapa yang mendukungnya dan siapa yang menjebaknya.”

”Adapun mereka yang membuat perangkap untuk Xi, orang dalam itu menunjukkan bahwa kampanye anti-korupsi Xi tidak pergi jauh ke atas untuk membawa ke pengadilan Jiang Zemin dan Zeng Qinghong, yang merupakan “harimau nomor satu dan nomor dua. ”

Untuk diketahui, istilah Pejabat korup tingkat tinggi di Tiongkok disebut sebagai “harimau.”

Sumber ini berkata : “Jika Anda tidak menjatuhkannya, mereka pasti akan menjebak Anda dan membuat masalah bagi Anda; kekuatan politik Anda pasti tidak menentu.”

Lebih mendalam ia membeberkan bahwa “Beberapa pejabat telah melayani di bawah beberapa pemimpin Tiongkok yang berbeda. Bisakah tipe orang ini loyal kepada Xi? Sangat sulit untuk mengatakannya. ”

Meskipun sumber ini tidak menyebut nama orang itu, sangat mungkin dia merujuk kepada Wang Huning, selaku kepala propaganda Komunis Tiongkok.

Propaganda hawkish yang diprakarsai oleh Wang telah menempatkan Xi dalam situasi yang sangat sulit dalam hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Jika dirunut ke belakang, Wang Huning telah bekerja untuk mantan pemimpin Tiongkok Jiang Zemin dan Hu Jintao. Selama masa jabatan Jiang, Wang dipromosikan untuk bekerja di pemerintah pusat berdasarkan rekomendasi kuat dari Zeng Qinghong dan Luo Gan. (asr)

Wartawan Epoch Times, Luo Ya dan Zhang Dun berkontribusi pada laporan ini.

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular