1. Roh Komunisme di Universitas di Barat

a. Keparahan Sayap Kiri di Fakultas-Fakultas Universitas

Salah satu penyebab terpenting dari mahasiswa memeluk ideologi sosialis atau komunis, atau mahasiswa dipengaruhi oleh ideologi radikal seperti feminisme dan lingkunganisme (akan dibahas kemudian dalam buku ini), adalah kenyataan bahwa sebagian besar staf di universitas Amerika bersandar ke Kiri.

Dalam sebuah studi tahun 2007 berjudul “Pandangan Sosial dan Politik Profesor Amerika,” di antara 1.417 anggota fakultas perguruan tinggi penuh-waktu yang disurvei, 44,1 persen menganggap dirinya adalah liberal, 46,1 persen menganggap dirinya adalah moderat, dan hanya 9,2 persen menganggap dirinya adalah konservatif. Di antara mereka, proporsi konservatif di masyarakat universitas sedikit lebih tinggi (19 persen), dan liberal sedikit lebih rendah (37,1 persen).

Di perguruan tinggi seni, 61 persen anggota fakultas adalah liberal, sedangkan konservatif hanya 3,9 persen. Studi ini juga mencatat bahwa anggota fakultas yang hampir pensiun lebih berhaluan Kiri daripada anggota fakultas baru. Dalam kelompok usia 50-64 tahun, 17,2 persen menyatakan diri sebagai aktivis sayap Kiri. Studi ini juga menyatakan bahwa sebagian besar anggota fakultas universitas mendukung hak homoseksualitas dan aborsi. [4]

Studi setelah tahun 2007 juga memastikan para profesor di universitas empat-tahun di Amerika Serikat lebih berhaluan Kiri. Sebuah studi yang diterbitkan di Econ Journal Watch pada tahun 2016 mensurvei pemilih status pendaftaran profesor di departemen sejarah dan ilmu sosial di empat puluh universitas terkemuka di Amerika Serikat. Di antara 7.243 profesor yang disurvei, ada 3.623 profesor adalah Partai Demokrat dan 314 profesor adalah Partai Republik, atau rasio 11,5:1. Di antara lima departemen yang disurvei, departemen sejarah adalah yang paling tidak seimbang, dengan rasio 35:1. Bandingkan ini dengan survei serupa di tahun 1968: Di antara para profesor sejarah pada saat itu, rasio Demokrat:Republik adalah 2,7:1. [5]

Survei lain untuk fakultas universitas empat-tahun pada tahun 2016 menemukan bahwa kecenderungan politis fakultas adalah tidak seimbang, terutama di wilayah New England. Berdasarkan data tahun 2014, survei menemukan bahwa rasio profesor liberal dengan profesor konservatif di perguruan tinggi dan universitas nasional adalah 6:1. Di wilayah New England, rasio ini adalah 28:1.[6] Sebuah studi tahun 2016 oleh Pew Research Center menemukan bahwa 31 persen orang yang pernah belajar di sekolah pascasarjana memiliki pandangan liberal, 23 persen cenderung berpandangan liberal, hanya 10 persen memiliki pandangan konservatif, dan 17 persen cenderung berpandangan konservatif. Studi ini menemukan bahwa sejak tahun 1994, orang-orang yang telah menerima pendidikan tingkat pascasarjana telah meningkat secara bermakna dalam memegang pandangan liberal. [7]

Para sarjana yang menghadiri seminar di American Enterprise Institute pada tahun 2016 mengatakan bahwa sekitar 18 persen ilmuwan sosial di Amerika Serikat menganggap dirinya adalah kaum Marxis, dan hanya 5 persen menganggap dirinya adalah konservatif. [8]

Senator Ted Cruz pernah mengomentari fakultas hukum dari sebuah universitas bergengsi tempat ia pernah menuntut ilmu. “Di fakultas tersebut, lebih banyak yang mendeklarasikan dirinya sebagai Komunis daripada dari Partai Republik. Jika anda meminta mereka untuk memilih apakah negara ini harus menjadi negara sosialis, 80 persen akan memilih ya, dan 10 persen akan berpikir hal tersebut terlalu konservatif,” kata Ted Cruz.[9]

Komunisme memulai memasuki pendidikan Amerika sejak ia berakar di Amerika Serikat. Sejak awal abad ke-20, banyak intelektual Amerika telah menerima ide komunis atau varian sosialis Fabian. [10]

Gerakan kontra-kebudayaan tahun 1960-an menghasilkan sejumlah besar mahasiswa muda anti-tradisional. Dalam tahun-tahun pembentukan orang-orang ini, mereka sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Marxisme dan teori Sekolah Frankfurt. Pada tahun 1973, setelah Presiden Nixon menarik pasukan Amerika dari Perang Vietnam, kelompok-kelompok mahasiswa yang terkait dengan gerakan anti-perang mulai memudar menjadi tidak jelas, karena alasan utama untuk melakukan protes telah hilang. Tetapi radikalisme yang digodok oleh gerakan mahasiswa berskala besar ini tidak lenyap.

Mahasiswa radikal tetap melanjutkan studi pascasarjana di bidang sosial dan budaya — dalam bidang jurnalisme, sastra, filsafat, sosiologi, pendidikan, studi budaya, dan sejenisnya. Setelah menerima gelar tersebut, mereka mulai berkarier di lembaga-lembaga yang paling berpengaruh terhadap masyarakat dan kebudayaan, seperti universitas, media berita, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah. Apa yang membimbing mereka pada waktu itu terutama adalah teori “pawai panjang menuju lembaga-lembaga” yang diajukan oleh seorang Marxis bernama Italia Antonio Gramsci. “Pawai panjang” ini bertujuan untuk mengubah tradisi terpenting peradaban Barat.

Filsuf Sekolah Frankfurt, Herbert Marcuse dianggap sebagai “bapak baptis spiritual” oleh mahasiswa Barat yang memberontak. Pada tahun 1974, Herbert Marcuse menegaskan bahwa Kiri Baru adalah tidak mati, “dan Kiri Baru akan bangkit kembali di universitas.” [11] Faktanya, Kiri Baru tidak hanya berhasil bertahan: Pawai panjang melalui lembaga-lembaga itu adalah sukses besar-besaran. Seperti yang ditulis oleh seorang profesor radikal:

“Setelah Perang Vietnam, banyak dari kami tidak hanya merangkak kembali ke bilik sastra kami; kami melangkah ke posisi akademik. Dengan berakhirnya perang, visibilitas kami hilang, dan tampaknya untuk sementara waktu — bagi yang tidak patuh — bahwa kami telah menghilang. Sekarang kami memiliki masa jabatan, dan pekerjaan membentuk kembali universitas telah dimulai dengan sungguh-sungguh.”[12]

Istilah “radikal kedudukan tetap” diciptakan oleh Roger Kimball dalam bukunya dengan nama yang sama, diterbitkan pada tahun 1989. Istilah ini merujuk pada mahasiswa radikal yang telah aktif dalam gerakan anti-perang, hak sipil, atau feminis tahun 1960-an dan kemudian masuk universitas untuk mengajar dan memperoleh masa jabatan pada tahun 1980-an.

Dari sana, mereka menanamkan sistem nilai politik mereka kepada mahasiswa dan menciptakan generasi baru radikal. Beberapa generasi baru radikal ini menjadi kepala departemen dan dekan. Tujuan karya ilmiah mereka bukan untuk mengeksplorasi kebenaran, tetapi untuk memanfaatkan akademisi sebagai alat untuk merusak peradaban dan tradisi Barat. Mereka bertujuan untuk menumbangkan masyarakat arus utama dan sistem politik dengan menghasilkan lebih banyak revolusioner seperti mereka.

Setelah radikal kedudukan tetap, profesor dapat berpartisipasi dalam berbagai komite dan memiliki suara yang berpengaruh dalam merekrut anggota fakultas baru, menetapkan standar akademik, memilih topik untuk tesis pascasarjana, dan menentukan arah penelitian. Mereka memiliki banyak kesempatan untuk menggunakan kekuasaannya untuk menyingkirkan kandidat yang tidak sesuai dengan ideologi mereka. Karena alasan ini, individu yang lebih berpikiran tradisional yang mengajar dan melakukan penelitian sesuai dengan konsep tradisional terus disingkirkan. Ketika profesor dari generasi yang lebih tua pensiun, mereka yang menggantinya kebanyakan adalah cendekiawan sayap Kiri yang telah diindoktrinasi dengan ide komunis.

Antonio Gramsci, yang menciptakan “pawai panjang melalui lembaga-lembaga,” membagi para intelektual menjadi dua kubu: intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah tulang punggung yang mempertahankan budaya tradisional dan tatanan sosial, sementara intelektual organik, yang tergabung dalam kelas atau kelompok yang baru muncul, berperan kreatif dalam proses memperjuangkan hegemoni di kelas atau kelompoknya.[13] “Kelas sosial rendah” menggunakan intelektual organik dalam perjalanannya untuk merebut hegemoni kultural dan politis.

Banyak radikal kedudukan tetap mendefinisikan dirinya sebagai “intelektual organik” yang menentang sistem saat ini. Seperti Antonio Gramsci, mereka mengikuti aksioma Marxis: “Para filsuf hanya menafsirkan dunia, dengan berbagai cara. Namun, intinya adalah mengubahnya.”[14]

Dengan cara ini, pendidikan untuk kaum Kiri bukanlah menanamkan esensi pengetahuan dan peradaban manusia, tetapi mengutamakan mahasiswa untuk politik radikal, aktivisme sosial, dan “keadilan sosial.” Setelah lulus dan setelah bergabung dengan masyarakat, para mahasiswa tersebut melampiaskan ketidakpuasannya terhadap sistem masyarakat saat ini dengan cara memberontak terhadap kebudayaan tradisional dan menyerukan revolusi destruktif.

b. Membentuk Kembali Akademisi Tradisional Dengan Ideologi Komunis

Marxisme-Leninisme adalah ideologi penuntun untuk setiap subjek di negara komunis, sementara di Barat, kebebasan akademik adalah fokus utama. Selain standar moral dan norma akademik di mana-mana, tidak boleh ada bias yang mendukung tren intelektual tertentu. Tetapi sejak tahun 1930-an, sosialisme, komunisme, Marxisme, dan Sekolah Frankfurt telah memasuki perguruan tinggi Amerika yang berlaku, sangat mengubah kemanusiaan dan ilmu sosial.

Wacana Revolusioner Menguasai Kemanusiaan di Amerika

Dalam bukunya “Revolusi Korban: Bangkitnya Studi Identitas dan Penutupan Pikiran Liberal,” Bruce Bawer bertanya kepada Alan Charles Kors, seorang sejarawan di Universitas Pennsylvania, mengenai tiga orang yang ia pikir memiliki paling berpengaruh terhadap kemanusiaan di Amerika Serikat. Dengan jeda, Alan Charles Kors menyebut tiga buku: “Buku Catatan Penjara” karya Antonio Gramsci, “Ilmu Mendidik Orang-Orang Tertindas,” karya Paulo Freire, dan “Keburukan Bumi” karya Frantz Fanon.

Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia, tidak membutuhkan pengenalan lebih lanjut karena karyanya telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya. Paulo Freire, seorang ahli teori pendidikan Brasil, yang mengagumi Lenin, Mao Zeding, Fidel Castro, dan Che Guevara. “Ilmu Mendidik Orang-Orang Tertindas” milik Paulo Freire, yang diterbitkan pada tahun 1968 dan dicetak ulang dalam bahasa Inggris dua tahun kemudian, telah menjadi bagian dari bacaan wajib untuk lembaga akademik di Amerika Serikat.

Bruce Bawer mengutip pendidik Sol Stern, yang mengatakan bahwa “Ilmu Mendidik Orang-Orang Tertindas” tidak peduli dengan masalah pendidikan tertentu, tetapi lebih merupakan “saluran politik utopis yang menyerukan penggulingan hegemoni kapitalis dan penciptaan masyarakat tanpa kelas.” [16] Pekerjaan Paulo Freire tidak lebih dari mengulangi sudut pandang tertentu, yaitu hanya ada dua jenis manusia di dunia: penindas dan yang tertindas. Maka, manusia yang tertindas harus menolak pendidikannya, disadarkan karena keadaannya yang menyedihkan, dan bangkit untuk memberontak.

Frantz Fanon lahir di pulau Martinique di Laut Karibia dan bergabung dengan perang Aljazair melawan pemerintahan kolonial Prancis. Karyanya, “Keburukan Bumi,” diterbitkan pada tahun 1961, dengan kata pengantar oleh eksistensialis dan komunis Perancis Jean-Paul Sartre. Jean-Paul Sartre merangkum teorinya sebagai berikut: Penjajah Barat adalah perwujudan kejahatan; sedangkan orang non-Barat pada dasarnya mulia karena mereka dijajah dan dieksploitasi.

Frantz Fanon meminta rakyat di koloni untuk memberontak melawan kelas penguasa kolonial, menggunakan kekerasan sebagai titik temu mereka. Ia mengatakan bahwa pada tingkat individu, kekerasan adalah kekuatan pembersihan. “Ini membebaskan orang pribumi dari rasa rendah diri dan dari keputusasaan serta kelambanannya; hal tersebut membuatnya tidak takut dan mengembalikan harga dirinya.”[17]

Memeluk ide Frantz Fanon, Jean-Paul Sartre menulis dalam kata pengantar: “Karena pada hari-hari pertama pemberontakan anda harus membunuh: menembak jatuh satu orang Eropa berarti membunuh dua burung dengan satu batu, untuk menghancurkan seorang penindas dan orang yang ia tindas pada saat yang sama: Tetap ada orang yang mati, dan ada orang yang bebas; ada orang yang selamat, untuk pertama kalinya, merasakan tanah nasional di bawah kakinya.”[18] Gagasan Antonio Gramsci, Paulo Freire, dan Frantz Fanon adalah narasi menipu yang membujuk orang untuk menganggap sejarah dan masyarakat melalui kacamata perjuangan kelas. Begitu percikan kebencian kelas memasuki hatinya, mahasiswa belajar untuk membenci dan menentang struktur dan cara kerja masyarakat yang normal, di mana solusi yang tak terelakkan adalah pemberontakan dan revolusi.

Ahli teori atau aliran pemikiran mana yang memiliki pengaruh terbesar pada kemanusiaan dan ilmu sosial di perguruan tinggi Amerika adalah masalah perdebatan. Bagaimanapun juga, yang jelas adalah bahwa Marxisme, Sekolah Frankfurt, teori Freudian, dan pasca-modernisme (yang bekerja berdampingan dengan komunisme dalam menghancurkan kebudayaan dan moralitas) telah mendominasi bidang ini.

Share

Video Popular