Teori Komunis Menembus Akademisi

Sejak tahun 1960-an, disiplin penelitian sastra di Amerika Serikat telah mengalami perubahan paradigma mendasar di berbagai sub-bidangnya, seperti sastra Inggris, sastra Prancis, dan sastra komparatif. Secara tradisional, kritikus sastra menghargai nilai moral dan estetika dari karya-karya klasik, menganggap sastra sebagai sumber penting untuk memperluas wawasan pembaca, mengembangkan karakter moralnya, dan menumbuhkan selera intelektualnya. Sebagai prinsip, teori sastra akademis adalah yang kedua setelah sastra itu sendiri, berfungsi sebagai bantuan untuk pemahaman dan interpretasinya.

Menanamkan tren populer dalam filsafat, psikologi, dan kebudayaan, berbagai jenis teori sastra baru muncul dalam komunitas akademik selama puncak kontra-kebudayaan di tahun 1960-an. Hubungan antara teori dan sastra dilemparkan secara terbalik karena karya aktual direduksi menjadi bahan untuk memvalidasi pendekatan interpretatif modern.[19]

Apa hakekat teori-teori ini? Secara bersama-sama, teori-teori akademis modern membuat kekacauan disiplin akademik tradisional, seperti filsafat, psikologi, sosiologi, dan psikoanalisis, dalam penggambaran kemerosotan masyarakat dan kebudayaannya. Seperti yang dikatakan oleh ahli teori sastra, Jonathan Culler: “Teori sering kali merupakan kritik yang menyebalkan terhadap akal sehat, dan lebih jauh, upaya untuk menunjukkan bahwa apa yang kita anggap remeh sebagai ‘akal sehat’ sebenarnya adalah konstruksi sejarah, khususnya teori yang kelihatannya sangat alami bagi kita sehingga kita bahkan tidak melihatnya sebagai teori.”[20]

Dengan kata lain, teori-teori akademis modern meremehkan, membalikkan, dan menghancurkan pemahaman mengenai benar dan salah, baik dan jahat, keindahan dan keburukan yang berasal dari keluarga tradisional, agama, dan etika, sementara menggantinya dengan sistem jahat tanpa memiliki nilai positif.

Mengupas kemasan akademik labirinnya, teori-teori ini disebut tidak lebih dari campuran klasik dan neo-Marxisme, Sekolah Frankfurt, psikoanalisis, dekonstruksionisme, pasca-strukturalisme, dan pasca-modernisme. Bersama-sama teori-teori ini membentuk poros yang bertujuan untuk menghancurkan fondasi peradaban manusia dan berfungsi sebagai kamuflase bagi komunisme untuk mencuri ke akademia Barat. Sejak tahun 1960-an, komunisme telah membuat terobosan cepat di bidang seperti sastra, sejarah, dan filsafat, membangun dominasinya dalam kemanusiaan dan ilmu sosial.

“Teori” seperti yang telah dibahas kurang lebih sama dengan “teori kritis.” Permutasi termasuk studi kritis yang baru muncul mengenai hukum, ras, gender, masyarakat, sains, kedokteran, dan sejenisnya. Peresapannya adalah manifestasi dari ekspansi sukses komunisme ke bidang akademik dan pendidikan, merusak anak muda dengan pemikiran menyimpang dan meletakkan jalan bagi penghancuran umat manusia yang akhirnya terjadi.

Politisasi Penelitian Sastra

Dari perspektif kritikus sastra Marxis, pentingnya teks sastra tidak terletak pada nilai intrinsiknya, melainkan pada bagaimana hal tersebut mencerminkan bahwa ideologi kelas penguasa — misalnya dalam hal jenis kelamin atau ras — menjadi kelas yang dominan. Dari perspektif ini, klasik dikatakan tidak memiliki nilai intrinsik sama sekali. Seorang ahli teori sastra Marxis Amerika langsung menyatakan bahwa “perspektif politik” merupakan “cakrawala absolut dari semua bacaan dan semua interpretasi.” [21] Dengan kata lain, semua karya sastra harus diperlakukan sebagai alegori politik, dan hanya ketika makna kelas, ras, jenis kelamin, atau penindasan seksual yang lebih dalam tidak ditemukan dapatkah pemahaman seseorang dianggap mendalam atau memenuhi syarat.

Rakyat negara komunis akrab dengan kritik sastra dogmatis semacam ini. Pemimpin komunis Tiongkok Mao Zedong mengevaluasi “Mimpi Rumah Mewah Berwarna Merah,” salah satu dari empat klasik Tiongkok yang hebat, sebagai berikut: “Empat keluarga, perjuangan kelas yang sengit, dan beberapa lusin kehidupan manusia.”

Di negara komunis, wacana sastra tidak selalu terbatas pada perdebatan menara gading yang beradab dan canggih. Kadang wacana sastra dapat berubah menjadi dorongan untuk perjuangan berdarah. Menanggapi seruan Mao Zedong untuk belajar dari pejabat Dinasti Ming bernama Hai Rui yang jujur dan tulus, sejarawan Wu Han menulis drama panggung “Hai Rui Dipecat.”

Pada tanggal 10 November 1965, Shanghai Wenhui News menerbitkan ulasan kritis dari drama tersebut. Ulasan tersebut ditulis oleh Yao Wenyuan dan direncanakan bersama oleh istri keempat Mao Zedong bernama Jiang Qing, dan ahli teori radikal Zhang Chunqiao. Dikatakan bahwa “Hai Rui Dipecat” adalah singgungan kepada Peng Dehuai, seorang jenderal Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok yang disingkirkan karena menentang “Tiga Bendera Merah” – tiga kebijakan Partai Komunis Tiongkok mengenai Garis Umum untuk Konstruksi Sosialis, Lompatan Jauh ke Depan, dan Komune Rakyat. (Tiga kebijakan ini menyebabkan Kelaparan Hebat di Tiongkok.) Kritik terhadap “Hai Rui Dipecat” menjadi sumbu yang memicu kebrutalan selama sepuluh tahun Revolusi Kebudayaan.

Pendekatan kasar komunis Tiongkok untuk menafsirkan semua karya sastra dalam hal perjuangan kelas dapat dikontraskan dengan kritik sastra yang jauh lebih halus yang ditemukan di perguruan tinggi Barat selama beberapa dekade terakhir.

Kritik sastra neo-Marxis Barat bagaikan virus yang menjadi lebih ganas dan lebih mematikan melalui mutasi tanpa akhir. Kritik sastra neo-Marxis Barat mengadaptasi teori lain sebagai senjatanya, menyeret karya-karya besar kebudayaan manusia — dari klasik Yunani dan Roma hingga novel karya Dante, Shakespeare, dan zaman Victoria — untuk dibedah dan dikonfigurasi ulang. Meskipun jenis komentar ini menggunakan jargon misterius untuk membuat lapisan kecanggihan, argumen utama biasanya bermuara pada tuduhan prasangka terhadap kelas, wanita, atau etnis minoritas yang dicabut haknya.

Kritik modern menyebut karya-karya ini sebagai milik suprastruktur kelas penguasa, dan menggambarkannya sebagai berefek mematikan massa pada saat mereka menindas dan mencegah mereka mencapai kesadaran kelas revolusioner. Seperti yang dikatakan oleh sarjana bahasa Inggris Roger Scruton, “Metode teoritikus sastra yang baru benar-benar merupakan senjata subversi: Upaya untuk menghancurkan pendidikan manusiawi dari dalam, untuk memutus rantai simpati yang mengikat kita pada kebudayaan kita.” [22]

Teori Ideologi Marxis

“Ideologi” adalah konsep inti kemanusiaan yang dipengaruhi Marxis. Karl Marx memandang moralitas, agama, dan metafisika secara kolektif sebagai ideologi. Karl Marx percaya bahwa ideologi dominan dalam masyarakat berbasis-kelas adalah ideologi kelas penguasa, dan bahwa nilai-nilainya tidak mencerminkan kenyataan sebagaimana adanya, tetapi sebaliknya. [23]

Neo-Marxisme abad kedua puluh telah menjadikan perusakan kebudayaan sebagai tahap revolusi yang diperlukan dan membuat referensi luas ke ideologi dalam sastranya. Marxis Hongaria Georg Lukács mendefinisikan ideologi sebagai “kesadaran palsu” sebagai lawan dari “kesadaran kelas.” Marxis Prancis Louis Althusser mengusulkan konsep “aparat negara ideologis,” yang meliputi agama, pendidikan, keluarga, hukum, politik, serikat buruh, komunikasi, kebudayaan, dan sebagainya, yang akan bekerja bersama dengan aparat negara yang brutal.

Kecanggihan yang licik dapat ditemukan dalam konsep ideologi. Setiap masyarakat atau sistem memiliki kekurangannya yang harus dijelaskan dan diperbaiki. Namun, Louis Althusser dan kaum Marxis lainnya tidak peduli dengan masalah khusus. Sebaliknya, mereka menolak sistem secara keseluruhan dengan alasan bahwa sistem tersebut adalah struktur yang didirikan dan dikelola oleh kelas yang berkuasa untuk menjaga kepentingannya.

Penyingkiran adalah aspek penting dari fiksasi Marxis pada ideologi, dan dapat dilihat dalam kritik ideologis Louis Althusser yang rumit. Bukannya memeriksa keunggulan yang terbukti dari argumen, pendekatan ideologis bergantung pada menuduh lawan menyembunyikan motif tersembunyi atau dari latar belakang yang salah. Sama seperti tidak ada yang dapat minum air dari sumur yang diracuni, membuat seseorang terkena desas-desus atau terkena bentuk pembunuhan karakter lainnya membuat pendapatnya tidak dapat diterima oleh publik — tidak peduli seberapa masuk akal atau logis pendapatnya tersebut.

Konsep Louis Althusser yang mencakup semuanya mengenai “aparatur negara ideologis” mencerminkan penghinaan ekstrem komunisme terhadap masyarakat manusia — tidak ada yang dapat diterima, kecuali penolakan dan penghancuran total. Ini adalah manifestasi tujuan komunisme untuk memberantas kebudayaan manusia.

Konsep ideologi Marxis bertumpu pada dalil yang keliru, abstrak, umum, dan berlebihan yang bertujuan membersihkan nilai-nilai moral tradisional. Sambil menutupi niat mereka yang sebenarnya dengan mengungkapkan kemarahan moral yang tampak, para Marxis telah menipu dan memengaruhi banyak orang.

Marxisme Pasca-modern

Pada awal 1960-an, sekelompok filsuf Prancis menciptakan apa yang segera menjadi senjata ideologis paling kuat untuk Marxisme dan komunisme dalam komunitas akademik Amerika. Perwakilan mereka di antaranya adalah Jacques Derrida dan Michel Foucault, dan data terbaru memberikan beberapa gambaran pengaruh mereka hari ini.
Pada tahun 2007, Michel Foucault adalah penulis kemanusiaan yang paling banyak dikutip, dikutip sebanyak 2.521 kali. Jacques Derrida berada pada peringkat ketiga, dikutip sebanyak 1.874 kali. [24] Telah dilakukan pengamatan yang membuka mata mengenai hubungan antara pasca-modernisme dengan Marxisme. [25] Kami merasa cenderung untuk menyebut mereka secara kolektif sebagai Marxisme pasca-modern.

Fakta bahwa bahasa memiliki dua makna dan beragam arti, dan bahwa sebuah teks mungkin memiliki interpretasi yang berbeda, telah menjadi pengetahuan umum setidaknya sejak zaman Yunani kuno dan pra-kekaisaran Tiongkok.

Teori dekonstruksi Jacques Derrida adalah tipuan rumit yang menggabungkan ateisme dan relativisme dan bekerja dengan membesar-besarkan ambiguitas bahasa untuk mengacaukan teks bahkan teks yang artinya jelas dan terdefinisi dengan baik.

Tidak seperti ateisme konvensional, Jacques Derrida mengekspresikan pandangannya dalam bahasa para filsuf. Akibatnya, sudut pandangnya tidak hanya merusak gagasan mengenai Tuhan, tetapi juga merusak konsep rasionalitas, otoritas, dan makna yang dikaitkan dengan kepercayaan tradisional, ketika para ahli teori yang sejalan dengan Jacques Derrida melaksanakan dekonstruksi mereka terhadap istilah-istilah ini. Setelah menipu banyak orang dengan melapis bagian luar kedalaman intelektualnya, teori dekonstruksionis merajalela di seluruh umat manusia dan menjadikannya sebagai salah satu alat komunisme yang paling ampuh untuk menghancurkan keyakinan, tradisi, dan kebudayaan.

Michel Foucault pernah bergabung dengan Partai Komunis Prancis. Inti teori Michel Foucault berkisar pada gagasan bahwa tidak ada kebenaran, yang ada hanyalah kekuatan. Karena kekuasaan memonopoli hak untuk menafsirkan kebenaran, segala sesuatu yang mengaku kebenaran adalah munafik dan tidak dapat dipercaya. Dalam bukunya “Discipline and Punish,” Michel Foucault mengajukan pertanyaan berikut: “Apakah mengejutkan bahwa penjara menyerupai pabrik, sekolah, barak, rumah sakit, di mana semuanya itu menyerupai penjara?” [26] Dalam menyamakan institusi masyarakat yang sangat dibutuhkan dengan penjara dan berseru pada rakyat untuk menggulingkan “penjara-penjara ini,” Michel Foucault menjelaskan sifat antisosial teorinya.

Dipersenjatai dengan senjata dekonstruksi, teori Michel Foucault, dan teori kritis lainnya, para sarjana telah menstigma tradisi dan moralitas dengan merelatifkan semuanya. Mereka berkembang dengan aksioma seperti “semua penafsiran adalah penafsiran yang salah,” “tidak ada kebenaran, yang ada hanyalah penafsiran,” atau “tidak ada fakta, yang ada hanyalah penafsiran.” Mereka telah merelatifkan pemahaman konsep dasar seperti kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan seterusnya, lalu membuangnya sebagai sampah.

Para mahasiswa muda yang memasuki fakultas seni liberal tidak berani mempertanyakan otoritas instrukturnya. Tetap berpikiran jernih di bawah pemboman ideologis berkelanjutan yang mengikuti adalah tetap lebih sulit. Setelah diarahkan untuk mempelajari teori Marxis pasca-modern, sulit untuk membuat mahasiswa muda berpikir dengan cara lain. Ini adalah sarana utama di mana ideologi komunis telah mampu digunakan untuk mengacaukan kemanusiaan dan ilmu sosial.

Share

Video Popular