H. Universitas ‘Pendidikan-Ulang’: Cuci Otak dan Kerusakan Moral

Dengan tumbuhnya ideologi Marxis di seluruh universitas, kebijakan kampus sejak tahun 1980-an semakin terfokus untuk mencegah pernyataan “yang menghina”, terutama ketika menyinggung masalah wanita atau etnis minoritas.

Menurut cendekiawan Amerika Donald Alexander Downs, dari tahun 1987 hingga 1992, sekitar tiga ratus universitas di Amerika Serikat menerapkan kebijakan untuk pengaturan bicara, menciptakan sistem pelarangan paralegal yang melarang penggunaan bahasa yang dianggap menghina kelompok dan topik sensitif. [50]

Mereka yang mendukung larangan ini mungkin bermaksud baik, tetapi tindakan mereka mengarah pada hasil yang menggelikan, karena semakin banyak orang mengklaim hak untuk tidak tersinggung karena alasan apa pun. Sebenarnya, tidak ada hak seperti itu menurut hukum, tetapi keunggulan kebudayaan Marxisme telah memungkinkan siapa pun untuk mengklaim hubungan dengan kelompok tertindas, dengan alasan seperti kebudayaan, keturunan, warna kulit, jenis kelamin, orientasi seksual, dan sebagainya. Staf administrasi di universitas secara konsisten memberikan perlakuan istimewa kepada mereka yang mengklaim menjadi korban.

Menurut logika Marxis, yang tertindas secara moral adalah benar dalam semua keadaan, dan banyak orang tidak berani mempertanyakan keaslian klaim mereka. Logika yang mutahil ini didasarkan pada pemelintiran kriteria untuk menilai apa yang bermoral. Ketika identitas dan sentimen kelompok meningkat (dalam Leninisme dan Stalinisme, ini disebut tingkat kesadaran kelas yang tinggi), rakyat secara tidak sadar meninggalkan standar tradisional mengenai kebaikan dan kejahatan, menggantikannya dengan pemikiran kelompok. Ini paling nyata dimanifestasikan di negara komunis totaliter, di mana kelas sosial rendah yang “tertindas” diberi pembenaran karena membunuh “penindas” yaitu pemilik tanah dan kapitalis.

Kecenderungan untuk membuat klaim sewenang-wenang atas bahasa yang menghina atau diskriminatif dimulai oleh para sarjana kebudayaan Marxis yang mengarang serangkaian konsep baru untuk memperluas definisi diskriminasi. Di antara ini adalah ide seperti “agresi-mikro,” “memicu peringatan,” “ruang yang aman,” dan seterusnya. Administrator universitas memperkenalkan kebijakan terkait dan pendidikan wajib, seperti pelatihan sensitivitas dan pelatihan keragaman.

Mikro-agresi mengacu pada pelanggaran non-verbal tersirat yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, dengan dugaan pelaku mungkin sama sekali tidak menyadari implikasinya. Jenis pelanggaran atau ketidaktahuan yang tidak disengaja ini diberi label “tidak sensitif” (Leninisme atau Stalinisme akan menganggap ini sebagai kesadaran sosial yang rendah). Pelatihan kepekaan telah menjadi aspek utama dalam menyesuaikan mahasiswa baru yang masuk perguruan tinggi. Mahasiswa diberitahu apa yang tidak boleh diucapkan dan pakaian mana yang tidak boleh dikenakan, jangan sampai mereka melakukan mikro-agresi yang melanggar peraturan universitas.

Di beberapa kampus, frasa “selamat datang di Amerika” tidak dapat dikatakan karena itu mungkin merupakan diskriminasi dan dianggap sebagai agresi-mikro: Hal ini dapat menyinggung kelompok etnis yang secara historis menderita perlakuan tidak adil di Amerika Serikat, seperti penduduk asli Amerika, Afrika, Jepang, dan Tiongkok, mengingatkan mereka mengenai sejarah memalukan yang diderita oleh nenek moyang mereka.

Berikut ini adalah di antara daftar panjang pernyataan yang dianggap sebagai agresi-mikro oleh Universitas California: “Amerika Serikat adalah wadah peleburan” (diskriminasi rasial), “Amerika Serikat adalah negeri yang penuh peluang,” dan “pria dan wanita memiliki peluang keberhasilan yang sama” (menyangkal ketidaksetaraan gender atau etnis). [51] Agresi-mikro adalah alasan untuk disiplin administrasi, karena agresi-mikro mencegah pembentukan “ruang yang aman.”

Sebuah agresi-mikro tipikal terjadi di kampus Universitas Indiana-Universitas Purdue di Indianapolis. Seorang mahasiswa kulit putih, yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan, diberitahu oleh Kantor Tindakan Afirmatif kampus bahwa ia telah melanggar Peraturan Pelecehan Rasial karena ia telah membaca buku berjudul “Notre Dame vs Klan: Bagaimana Orang Irlandia Bertempur Mengalahkan Ku Klux Klan” di ruang istirahat kampus. Dua rekan mahasiswa tersebut yang juga adalah karyawan merasa tersinggung karena sampul buku tersebut menampilkan foto pertemuan Ku Klux Klan, dan mengajukan keluhan bahwa pilihan sang mahasiswa untuk membaca buku tersebut di ruang istirahat merupakan pelecehan ras. Kemudian, setelah tekanan dari kelompok-kelompok seperti Yayasan Hak Individu dalam Pendidikan, Universitas Indiana-Universitas Purdue di Indianapolis mengakui bahwa mahasiswa tersebut tidak bersalah. [52]

Pelatihan sensitivitas dan pelatihan keanekaragaman pada dasarnya sebanding dengan program pendidikan-ulang yang berlangsung di bekas Uni Soviet dan di Tiongkok. Tujuan pendidikan-ulang adalah untuk memperkuat konsep kelas: “Kelas borjuis” dan “kelas tuan tanah” (mirip dengan pria kulit putih) harus mengenali dosa asal mereka sebagai anggota kelas yang menindas, dan kelompok yang seharusnya tertindas harus memiliki pemahaman “yang benar” mengenai kebudayaan “borjuis”. Tekanan diberikan pada mereka untuk membersihkan “penindasan yang terinternalisasi” yang mereka alami sehingga mereka dapat mengenali kondisi penindasan mereka. Ini mirip dengan bagaimana pendidikan feminis mengajarkan wanita untuk melihat feminitas tradisional sebagai konstruksi patriarki.

Menurut analisis kelas Marxis, pribadi adalah politis: Dianggap salah untuk memahami masalah dari sudut pandang penindas yang ditunjuk. Oleh karena itu, untuk mereformasi pandangan rakyat mengenai dunia dan memastikan rakyat sepenuhnya mengikuti program Marxis, setiap kata dan tindakan yang menyangkal penindasan kelas atau perjuangan kelas akan dihukum berat. Pelatihan sensitivitas diadakan untuk sepenuhnya mengungkapkan “ketidakadilan sosial,” untuk mengubah orientasi sudut pandang kelompok “yang tertindas” (wanita, etnis minoritas, homoseksual, dan sebagainya).

Sebagai contoh, pada tahun 2013, Universitas Northwestern mengharuskan semua mahasiswa untuk menyelesaikan kursus mengenai keanekaragaman sebelum lulus. Menurut instruksi universitas tersebut, setelah menyelesaikan kursus, mahasiswa akan dapat “memperluas kemampuannya untuk berpikir kritis” (belajar untuk mengklasifikasikan kelas), “mengenali posisinya sendiri dalam sistem yang tidak adil” (mengenali komponen kelas mereka), dan memikirkan kembali “kekuatan dan hak istimewa mereka” (untuk menempatkan diri pada posisi kelas “tertindas”). [53]

Contoh khas lainnya adalah program pendidikan-ulang ideologis yang dimulai pada tahun 2007 di Universitas Delaware. Disebut sebagai “pengobatan” untuk sikap dan kepercayaan yang salah, program ini diwajibkan untuk 7.000 mahasiswa. Tujuannya adalah untuk membuat mahasiswa menerima pandangan yang mengatur isu-isu seperti politik, ras, gender, dan lingkungan.

Asisten residen di universitas tersebut diminta untuk membahas kuesioner satu per satu dengan para mahasiswa, dan memberikan mahasiswa kuesioner mengenai ras dan jenis kelamin apa yang akan mereka kencani, dengan tujuan membuat mahasiswa menjadi lebih terbuka untuk berkencan di luar kelompoknya. Ketika seorang asisten residen bertanya kepada seorang mahasiswi kapan ia menemukan identitas gendernya (sebagai lawan dari seks biologis), mahasiswi tersebut mengatakan bahwa hal itu bukanlah urusan asisten residen. Asisten residen tersebut melaporkan mahasiswi tersebut ke administrasi universitas. [54]

Indoktrinasi politik massa ini tidak hanya mencampurkan standar untuk membedakan nilai-nilai moral, tetapi juga sangat memperkuat egoisme dan individualisme.
Apa yang dipelajari oleh para mahasiswa muda adalah bahwa mereka dapat menggunakan perasaan kelompok yang sangat dipolitisasi (politik identitas) untuk mengejar keinginan individu mereka sendiri. Hanya dengan mengklaim diri sebagai anggota kelompok yang diduga menderita penindasan, seseorang dapat menuduh dan mengancam orang lain atau menggunakan identitas ini untuk keuntungan pribadi. Ketika pendapat orang lain tidak sejalan dengan pendapat seseorang, orang lain tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran dan dilaporkan ke universitas, yang akan membatasi hak orang tersebut untuk berbicara.

Jika seseorang tidak menyukai ide-ide yang diungkapkan di surat kabar mahasiswa konservatif, misalnya, beberapa orang bahkan mungkin merasa pantas untuk membakar kertas surat kabar tersebut.

Apakah seseorang tersinggung atau tidak adalah masalah perasaan subyektif, tetapi hari ini, bahkan perasaan dianggap sebagai bukti objektif. Ini telah sampai pada titik di mana profesor universitas harus terus bertele-tele.

Baru-baru ini, mahasiswa di banyak universitas mulai menuntut bahwa sebelum mengajarkan konten tertentu, profesor harus terlebih dahulu mengeluarkan “pemicu peringatan,” karena beberapa topik diskusi atau bahan bacaan dapat menyebabkan reaksi emosional negatif. Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan karya-karya seperti Shakespeare “The Merchant of Venice” dan

penyair Romawi kuno Ovid “Metamorphoses” berakhir pada daftar sastra yang memerlukan peringatan pemicu. Beberapa universitas bahkan menganjurkan agar karya yang dianggap memicu emosi sebagian mahasiswa sedapat mungkin dihindari. [55]

Banyak mahasiswa yang tumbuh dalam suasana seperti ini dengan mudah menyakiti ego dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari perasaan tersinggung. Identitas kelompok (yaitu, versi lain dari “kesadaran kelas” yang diberitakan oleh komunisme) yang dipromosikan di kampus-kampus membuat para mahasiswa tidak mengetahui pemikiran independen dan tanggung jawab pribadi. Seperti mahasiswa radikal tahun 1960-an yang sekarang menjadi profesor mereka, para mahasiswa ini menentang tradisi.
Mereka menikmati seks bebas yang membingungkan, kecanduan alkohol, dan penyalahgunaan narkoba. Pidato mereka penuh dengan kata-kata kasar. Namun di bawah penghinaan mereka terhadap kebaktian duniawi, terdapat hati dan jiwa yang rapuh, tidak mampu menanggung pukulan atau kemunduran sedikit pun, apalagi mengambil tanggung jawab nyata.

Pendidikan tradisional mendorong pengendalian diri, berpikir mandiri, rasa tanggung jawab, dan pemahaman orang lain. Hantu komunisme ingin agar generasi berikutnya benar-benar meninggalkan sikap moralnya dan menjadi antek-antek hantu komunisme supaya hantu komunisme menguasai dunia.

Lanjut Baca Bab 12 Bagian II.

Daftar Pustaka :

[1] Robby Soave, “Elite Campuses Offer Students Coloring Books, Puppies to Get Over Trump,” Daily Beast,

https://www.thedailybeast.com/elite-campuses-offer-students-coloring-books-puppies-to-get-over-trump.

[2] Elizabeth Redden, “Foreign Students and Graduate STEM Enrollment,” Inside Higher Ed, October 11, 2017, https://www.insidehighered.com/quicktakes/2017/10/11/foreign-students-and-graduate-stem-enrollment.

[3] G. Edward Griffin, Deception Was My Job: A Conversation with Yuri Bezmenov, Former Propagandist for the KGB, (American Media, 1984).

[4] Scott Jaschik, “Professors and Politics: What the Research Says,” Inside Higher Ed, February 27, 2017, https://www.insidehighered.com/news/2017/02/27/research-confirms-professors-lean-left-questions-assumptions-about-what-means.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] “The Close-Minded Campus? The Stifling of Ideas in American Universities,” American Enterprise Institute website, June 8, 2016, https://www.aei.org/events/the-close-minded-campus-the-stifling-of-ideas-in-american-universities/.

[9] Fred Schwartz and David Noebel, You Can Still Trust the Communists… to Be Communists (Socialists and Progressives too) (Manitou Springs, Colo.: Christian Anti-Communism Crusade, 2010), 2–3.

[10] Zygmund Dobbs, “American Fabianism,” Keynes at Harvard: Economic Deception as a Political Credo. (Veritas Foundation, 1960), Chapter III.

[11] Robin S. Eubanks, Credentialed to Destroy: How and Why Education Became a Weapon (2013), 26.

[12] Walter Williams, More Liberty Means Less Government: Our Founders Knew This Well (Stanford: Hoover Institution Press, 1999), 126.

[13] David Macey, “Organic Intellectual,” The Penguin Dictionary of Critical Theory (London: Penguin Books, 2000), 282.

[14] Karl Marx, “Theses On Feuerbach” (Marx/Engels Selected Works, Volume One), 13–15.

[15] Bruce Bawer, The Victims’ Revolution: The Rise of Identity Studies and the Closing of the Liberal Mind (New York: Broadside Books, 2012), Chapter 1.

[16] Ibid.

[17] Franz Fanon, The Wretched of the Earth, trans. Constance Farrington (New York: Grove Press, 1963), 92.

[18] Jean Paul Sartre, “Preface,” The Wretched of the Earth, by Franz Fanon, 22.

[19] Roger Kimball, Tenured Radicals: How Politics Has Corrupted Our Higher Education, revised edition (Chicago: Ivan R. Dee, 1998), 25–29.

[20] Jonathan Culler, Literary Theory: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 1997), 4.

[21] Fredrick Jameson, The Political Unconscious: Narrative as a Socially Symbolic Act (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1981), Chapter 1.

[22] Roger Kimball, “An Update, 1998,” Tenured Radicals: How Politics Has Corrupted Our Higher Education, 3rd Edition (Chicago: Ivan R. Dee, 2008), xviii.

[23] Karl Marx, “The German Ideology” (Progress Publishers, 1968).

[24] “Most Cited Authors of Books in the Humanities, 2007,” Times Higher Education, https://www.uky.edu/~eushe2/Bandura/BanduraTopHumanities.pdf.

[25] Joshua Phillip, “Jordan Peterson Exposes the Postmodernist Agenda,” The Epoch Times, June 21, 2017, https://www.theepochtimes.com/jordan-peterson-explains-how-communism-came-under-the-guise-of-identity-politics_2259668.html.

[26] Roger Kimball, “The Perversion of Foucault,” The New Criterion, March 1993, https://www.newcriterion.com/issues/1993/3/the-perversions-of-m-foucault.

[27] David Horowitz and Jacob Laksin, One Party Classroom (New York: Crown Forum, 2009), 51.

[28] Ibid., 51–52.

[29] Bawer, The Victims’ Revolution: The Rise of Identity Studies and the Closing of the Liberal Mind, Chapter 3.

[30] Horowitz and Laksin, One Party Classroom, 3.

[31] David Horowitz, The Professors: The 101 Most Dangerous Academics in America (Washington D.C.: Regnery Publishing, Inc., 2013), 84–5.

[32] Horowitz and Laksin, One Party Classroom, 212.

[33] David Horowitz, Indoctrinate U.: The Left’s War against Academic Freedom (New York: Encounter Books, 2009), Chapter 4.

[34] Ibid.

[35] Horowitz and Laksin, One Party Classroom, 1–2

[36] Quoted from http://www.azquotes.com/author/691-Bill_Ayers.

[37] Horowitz, The Professors: The 101 Most Dangerous Academics in America, 102.

[38] “Who Won the Civil War? Tough Question,” National Public Radio, November 18, 2014, https://www.npr.org/sections/theprotojournalist/2014/11/18/364675234/who-won-the-civil-war-tough-question.

[39] “Summary of Our Fading Heritage: Americans Fail a Basic Test on Their History and Institutions,” Intercollegiate Studies Institute Website, https://www.americancivicliteracy.org/2008/summary_summary.html.

[40] “Study: Americans Don’t Know Much About History,” July 17, 2009, https://www.nbclosangeles.com/news/local/Study-Americans-Dont-Know-About-Much-About-History.html.

[41] Howard Zinn, A People’s History of the United States (New York: Harper Collins, 2003).

[42] Horowitz, The Professors: The 101 Most Dangerous Academics in America, 74.

[43] Dinesh D’ Souza, Illiberal Education: The Politics of Race and Sex on Campus (New York: The Free Press, 1991), 71.

[44] Paul Samuelson, “Foreword,” in The Principles of Economics Course, eds. Phillips Saunders and William B. Walstad (New York: McGraw-Hill College, 1990).

[45] Alan D. Sokal, “Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity,” Social Text No. 46/47 (Spring–Summer, 1996), 217–252.

[46] Alan D. Sokal, “A Physicist Experiments with Cultural Studies,” Lingua Franca (June 5, 1996). Available at http://www.physics.nyu.edu/faculty/sokal/lingua_franca_v4/lingua_franca_v4.html.

[47] Alan D. Sokal, “Parody,” “All Things Considered,” National Public Radio, May 15, 1996, https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=1043441.

[48] Alan D. Sokal, “Revelation: A Physicist Experiments with Cultural Studies,” in Sokal Hoax: The Sham That Shook the Academy, ed. The Editors of Lingua Franca (Lincoln, NE: University of Nebraska Press, 2000), 52.

[49] Thomas Sowell, Inside American Education: The Decline, The Deception, The Dogma (New York: The Free Press, 1993), 212–213.

[50] Donald Alexander Downs, Restoring Free Speech and Liberty on Campus (Oakland, CA: Independent Institute, 2004), 51.

[51] Eugene Volokh, “UC Teaching Faculty Members Not to Criticize Race-Based Affirmative Action, Call America ‘Melting Pot,’ and More,” The Washington Post, June 16, 2015, https://www.washingtonpost.com/news/volokh-conspiracy/wp/2015/06/16/uc-teaching-faculty-members-not-to-criticize-race-based-affirmative-action-call-america-melting-pot-and-more/?utm_term=.c9a452fdb00f.

[52] “Victory at IUPUI: Student-Employee Found Guilty of Racial Harassment for Reading a Book Now Cleared of All Charges,” Foundation for Individual Rights in Education, https://www.thefire.org/victory-at-iupui-student-employee-found-guilty-of-racial-harassment-for-reading-a-book-now-cleared-of-all-charges/.

[53] “Colleges Become Re-Education Camps in Age of Diversity,” Investor’s Business Daily,  https://www.investors.com/politics/editorials/students-indoctrinated-in-leftist-politics/.

[54] Greg Lukianoff, “University of Delaware: Students Required to Undergo Ideological Reeducation,” Foundation for Individual Rights in Education, https://www.thefire.org/cases/university-of-delaware-students-required-to-undergo-ideological-reeducation/.

[55] Alison Flood, “US Students Request ‘Trigger Warnings’ on Literature,” The Guardian, May 19, 2014, https://www.theguardian.com/books/2014/may/19/us-students-request-trigger-warnings-in-literature.

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab X – Menggunakan Hukum untuk Kejahatan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XI – Menodai Seni

Share

Video Popular