Erabaru.net. Ini telah menjadi rekor dunia yang belum pernah dipecahkan hingga hari ini. Kegigihan dan tekad yang dimiliki pria ini adalah alasan dia selamat. Ini adalah kisah nyata yang terjadi pada masa Perang Dunia Kedua.

Selama Perang Dunia Kedua, seorang pria tiongkok bernama Poon Lim dan 52 orang lainnya berada di sebuah kapal milik perusahaan Inggris yang berlayar dari Cape Town, Afrika Selatan ke Suriname, Amerika Selatan.

Sebuah kapal selam Jerman telah mendeteksi kapal ini dari sekitar 750 mil di sebelah timur Amazon. Dalam dua menit, dua torpedo diluncurkan dan mereka menenggelamkan kapal itu. Hanya Poon Lim yang berhasil selamat dari serangan itu.
 
Setelah kapal ditenggelamkan oleh kapal selam Jerman, Poon Lim menghabiskan 133 hari di atas rakit di permukaan Laut Atlantik Selatan.

Pada saat itu, Poon Lim berada di atas kapal bernama SS Ben Lomond


 
Meskipun kapal dibuat untuk mengangkut berton-ton muatan sekaligus, kecepatan bukanlah titik kuatnya.

Ayah Poon Lim telah mengirimnya untuk bergabung dengan kakak lelakinya yang bekerja sebagai pegawai kabin di kapal penumpang Inggris ini. Orangtua Poon Lim memutuskan untuk mengirimnya ke luar negeri dalam upaya untuk menghindari anak-anak mereka dipaksa masuk wajib militer sebagai tentara di Tiongkok untuk mempertahankan diri dari serangan Jepang.

Ketika kapal Poon Lim mulai tenggelam, pria muda itu dengan cepat meraih jaket keselamatan dan melompat ke laut. Jika Poon Lim tidak melakukannya, kemungkinan ia akan terluka dan terbakar dalam ledakan yang terjadi di kapal. Poon beruntung bahwa dia menemukan rakit buatan manusia selebar 2,4 meter yang hanyut di laut.

Dan untungnya di dalam rakit itu penuh dengan bahan makanan, seperti potong cokelat, biskuit, makanan kaleng, bongkahan gula, lampu kilat, dua kotak rokok, beberapa korek api, seutas tali, dan 40 liter air. Karena ini, Poon mampu bertahan hidup di tengah lautan. Setelah persediaan makanan habis, ia mulai beradaptasi. Dia mulai memancing dan mengumpulkan air hujan menggunakan kain kanvas dari jaket keselamatannya.
 
Karena dia tidak bisa berenang, dia memutuskan untuk melilitkan tali di pinggangnya yang diikat ke rakit untuk keselamatannya.

Dia menggunakan kawat dari lampu kilat sebagai pengait untuk menangkap ikan

Setiap kali dia melihat ikan hiu muncul di sekitar rakitnya, Poon mengambil kesempatan untuk mencoba dan menangkap salah satu dari mereka dengan menggunakan ikan kecil yang dia tangkap sebelumnya.

Ilustrasi.

Dia memperhitungkan kekuatan hiu dan memastikan dia menggunakan kait yang lebih tebal.
 
Ketika tidak ada hujan untuk waktu yang lama, Poon terpaksa meminum darah hiu yang dia bunuh untuk menghindari dehidrasi. Dia akan memotong usus hiu dan meletakkan di bawah sinar Matahari di mana cairan itu bisa diekstraksi untuk diminum. Dia tahu teknik ini aman karena merupakan metode memasak masakan Hainan.

Setelah terdampar di lautan untuk jangka waktu yang lama, Poon menderita mabuk laut parah, terbakar sinar Matahari dan kemrosotan kesehatan psikologisnya ketika dia melihat banyak kapal melewatinya yang tidak menawarkan bantuan.

Sebuah kapal pengangkut melewati rakitnya tetapi mengabaikan permohonannya. Kapal berikutnya yang dilihatnya adalah kapal induk milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Mereka juga tidak berhenti untuk membantunya. Poon menduga mereka tidak mau menolongnya karena mereka pikir dia bekerja untuk Tiongkok atau Jepang.

Kegigihan dan tekad Poon Lim untuk bertahan hidup telah menjadi inspirasi bagi semua orang, termasuk tokoh-tokoh terkenal

Poon Lim menghitung jumlah hari yang dihabiskannya di lautan dengan pertama-tama mengikat simpul pada panjang tali yang ia miliki, tetapi kemudian memutuskan bahwa tidak ada gunanya menghitung hari, dan mulai menghitung bulan purnama.

Ketika Poon menyadari warna air telah berubah, dia tahu dia sudah dekat dengan daratan. Pada tanggal 5 April 1943, ia diselamatkan oleh tiga nelayan Berasil. Dia telah menghabiskan total 133 hari terdampar di rakit kehidupan di tengah lautan.

Dia dibawa ke Belem tiga hari setelah para nelayan menemukannya dan dirawat di rumah sakit selama empat minggu sehingga dia bisa pulih

Poon kehilangan 4 kg saat dia keluar di laut. Hingga saat ini belum ada yang mengalahkan rekornya untuk waktu yang lama yang pernah dihabiskan seseorang untuk bertahan hidup sendirian di tengah lautan.

Sebelum dia meninggal pada tahun 1991, Poon Lim berkata, “Saya harap tidak ada yang akan memecahkan rekor yang saya buat.”(yant)

Sumber: Goodtimes

Share

Video Popular