Reuters 

Sebanyak setengah dari jumlah babi yang dikembangbiakkan di Tiongkok telah mati karena Flu babi Afrika atau disembelih karena penyebaran wabah itu.

Melansir dari Reuters, 30 Juni lalu, angka matinya babi-babi ini diprediksi naik dua kali lipat lebih banyak dari yang dilaporkan secara resmi. Melonjaknya angka kematian babi ini, berdasarkan perkiraan dari empat orang yang memasok peternakan besar di Tiongkok.

Sementara itu, perkiraan lebih konservatif, penurunan jumlah induk babi berakibat  menyisakan masalah dalam pasokan daging favorit di negara itu. Dampaknya, mendorong kenaikan harga pangan. Selain itu, mematikan mata pencaharian  dalam ekonomi pedesaan yang mencakup 40 juta jiwa peternak babi.

“Sekitar 50 persen induk babi mati,” kata Edgar Wayne Johnson, seorang dokter hewan yang telah menghabiskan 14 tahun di Tiongkok. Dia mendirikan Enable Agricultural Technology Consulting, sebuah perusahaan layanan perternakan yang berbasis di Beijing dengan klien di seluruh negeri.

Tiga eksekutif lain di produsen vaksin, pakan aditif dan genetika juga memperkirakan kerugian 40 hingga 50 persen. Jumlah ini berdasarkan penurunan penjualan untuk produk-produk perusahaan mereka. Termasuk, pengetahuan langsung tentang sejauh mana wabah mematikan itu di peternakan seluruh negeri.

Kerugian tidak hanya dari babi yang mati terinfeksi atau dimusnahkan. Tetapi, terhadap peternak yang mengirim babi ke pasar lebih awal ketika wabah ditemukan di sekitarnya. Peternak dan orang dalam industri ini kepada Reuters,  menurut para analis, telah menjaga harga babi dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, harga mulai melonjak secara substansial pada bulan ini.  Kementerian pertanian Tiongkok mengatakan harga melonjak hingga 70 persen dalam beberapa bulan mendatang sebagai akibat dari wabah tersebut. Daging babi menyumbang lebih dari 60 persen dari konsumsi daging di Tiongkok.

Tiongkok adalah negara yang memproduksi separuh babi dunia. Pihak Tingkok menyebut bulan ini, jumlah induk babi menurun dengan rekor 23,9 persen pada Mei dari tahun sebelumnya, penurunan ini sedikit lebih jauh dari pada keseluruhan babi potong.

Induk babi dewasa yang dibiakkan untuk menghasilkan anak babi potong, terhitung sekitar satu ekor dari 10 ekor babi di Tiongkok. Penurunan jumlah babi ini biasanya serupa dengan penurunan  output daging babi, sebagaimana diungkapkan oleh pakar industri.

Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok, tidak menanggapi faksimili yang meminta komentar. Pertanyaan Reuters ini tentang klaim kerugian jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan secara resmi.  Dikatakan pada 24 Juni penyakit ini telah “dikendalikan secara efektif,” seperti dilaporkan oleh media pemerintah, Xinhua.

Pemberi pinjaman pertanian dari Belanda, Rabobank mengatakan pada bulan April bahwa kerugian produksi daging babi dari wabah Flu Babi Afrika dapat mencapai 35 persen. Pan Chenjun, analis senior, merevisi jumlah yang lebih tinggi untuk memperhitungkan penyembelihan dalam skala luas dalam beberapa bulan terakhir.

Flu babi Afrika, yang tidak ada obatnya dan tidak ada vaksin, membunuh hampir semua babi yang terinfeksi. Meskipun tidak membahayakan bagi manusia.

Sejak kasus pertama kalinya di Tiongkok yang dilaporkan pada Agustus 2018 — virus ini mirip dengan strain yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir di Rusia, Georgia, dan Estonia.

Virus ini telah menyebar ke setiap provinsi dan di luar perbatasan Tiongkok. Meskipun ada langkah-langkah yang diambil oleh Beijing untuk mengekang penyebarannya.

Sejauh ini, Rezim Komunis Tiongkok telah melaporkan terjadinya 137 wabah Flu Babi Afrika.  Tetapi lebih banyak lagi yang tidak dilaporkan, paling terbaru di provinsi selatan seperti Guangdong, Guangxi, dan Hunan, menurut keterangan dari empat petani dan seorang pejabat yang baru-baru ini diwawancarai oleh Reuters.

Skala luas dan terfragmentasi dari sektor perternakan Tiongkok, birokrasi rahasia dan apa yang secara luas diyakini oleh para pakar industri sebagai kualitas data Tiongkok yang buruk, membuat penyebaran penyakit ini sepenuhnya mustahil untuk dipastikan.

“Hampir semua babi di sini mati,” kata seorang petani di daerah Bobai di wilayah Guangxi, Tiongkok barat daya. Guangxi memproduksi lebih dari 33 juta ekor babi pada tahun 2017, dan merupakan pemasok utama ke Tiongkok selatan.

“Kami tidak diizinkan untuk melaporkan penyakit babi,” katanya kepada Reuters. Sumber ini menolak untuk mengungkapkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang telah menahan para petani karena “menyebarkan desas-desus” tentang penyakit tersebut. Reuters tidak dapat memverifikasi isu ini.

Pihak berwenang di kota Yulin, yang mengawasi wilayah Bobai, mengkonfirmasi wabah penyakit terhadap seekor babi pada 27 Mei. Itu adalah yang kedua yang dilaporkan di wilayah tersebut setelah kasus di kota Beihai pada 19 Februari lalu. Biro urusan pertanian dan pedesaan di wilayah Guangxi tidak menanggapi faks Reuters yang meminta komentar kasus ini.

Reuters juga berbicara kepada para petani di kota-kota Zhongshan, Foshan dan Maoming di provinsi tetangga Guangdong. Mereka semuanya telah kehilangan ratusan atau ribuan ekor babi akibat penyakit ini dalam tiga bulan terakhir. Belum ada wabah yang dilaporkan secara resmi di kota-kota tersebut. Tidak ada petani yang setuju untuk diidentifikasi. Biro pertanian provinsi Guangdong dan Hunan juga tidak menanggapi faks yang meminta komentar dari Reuters.

Tiongkok memiliki 375 juta ekor babi pada akhir Maret, 10 persen lebih sedikit  pada waktu yang sama tahun lalu, menurut Biro Statistik Nasional (NBS). Laporan statistik mencakup  38 juta ekor induk babi, jumlah penurunan 11 persen pada tahun itu, kata NBS.

Banyak pemasok dari pihak industri mengatakan mereka percaya penurunan aktual jauh lebih buruk. Dick Hordijk, kepala eksekutif di koperasi Belanda Royal Agrifirm, mengatakan kepada stasiun radio Belanda BNR bulan lalu, bahwa keuntungan perusahaannya di Tiongkok akan terhapus oleh penyakit itu, yang menyebar seperti “tumpahan minyak.”

“Seratus persen dari bisnis kami difokuskan pada babi, setengahnya sekarang hilang, Itu bencana bagi para petani dan hewan,” katanya.

Stephan Lange, wakil presiden untuk kesehatan hewan di Tiongkok dari perusahaan farmasi swasta Boehringer Ingelheim, yang membuat vaksin, dan Johnson sebagai dokter hewan yang berbasis di Beijing, mengatakan kerugian lebih tinggi dari 50 persen terjadi di kantong negara.

Provinsi penghasil ternak besar termasuk Hebei, Henan, dan Shandong diyakini oleh sebagian orang yang sangat terpukul dalam industri ini. Di Shandong, provinsi penghasil babi terbesar keempat di Tiongkok, lebih dari setengah peternakan dengan jumlah besar tak memiliki induk babi betina, menurut perkiraan Johnson. Perkiraan ini berdasarkan percakapannya dengan para petani dan produsen babi yang lebih besar.

Biro pertanian Shandong tidak menanggapi faks yang memintai komentar tentang masalah ini. Pihak berwenang di sana sebelumnya mengatakan  babi gembala menyusut 41 persen dalam tujuh bulan hingga Februari 2019, bahkan setelah hanya melaporkan satu kejadian wabah. 

Henan mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Reuters bahwa hanya ada dua kasus wabah terkait penyakit ini.

Babi potong jatuh 16,5 persen pada kuartal pertama, karena berbagai faktor termasuk harga pasar dan Flu babi Afrika, sebagaimana dilaporkan otoritas Henan tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Menurut Johnson, di Hebei, provinsi utara yang mengelilingi Beijing, banyak kabupaten memiliki sedikit induk babi yang tersisa.

Hebei hanya melaporkan satu kasus wabah — pada Februari tahun ini — tetapi survei kementerian pertanian yang diterbitkan secara online mengatakan babi potong turun 32 persen pada kuartal pertama. Provinsi Hebei mengatakan kepada Reuters dalam sebuah pernyataan mengklaim situasi Flu babi Afrika “stabil” dan membantah pernyataan bahwa ada sedikit Induk babi yang tersisa.

Beijing telah berulang kali meminta para petani untuk memasukkan kembali babi ternak, tetapi menempatkan induk babi ke sebuah peternakan yang telah terinfeksi Flu babi Afrika sangat berisiko, seperti diungkapkan para pakar. 

Virus ini dapat bertahan selama berminggu-minggu di luar inang, berpotensi hidup di sebuah peternakan yang belum didesinfeksi sepenuhnya.

Stephan Lange mengatakan beberapa pelanggannya telah mulai menata kembali lahan perternakan yang kosong, tetapi  beberapa kasus penyakitnya kembali muncul. “Jelas masih ada banyak rasa tidak aman. Jika Anda terinfeksi ulang lagi, itu benar-benar banyak uang yang Anda hilangkan,” katanya.

Peternak Bobai, yang sekarang tidak memiliki cara untuk melunasi utangnya, mengatakan, ia tidak memiliki niat memulai kembali perternakannya, bahkan jika ia mampu melakukannya.

“Saya tidak berani memelihara babi, Anda tidak dapat melihat virus dengan mata Anda. Virus masih di sini, ada virus di kandang babi, ” kata petani ini.

 

Oleh Dominique Patton dan Hallie Gu/Reuters via The Epochtimes

Share

Video Popular