He Qinglian

Pilpres Amerika Serikat tahun 2020 segera tiba. Dilihat dari perdebatan putaran pertama dan kedua para capres Partai Demokrat yang kurang menarik, media massa arus utama Amerika Serikat pun mulai cemas. Berbagai survei warga pun diluncurkan. Semua hanya ingin membuktikan selain kebijakan ekonominya, Trump sangat tidak disukai. 

Menurut situs analisa kampanye terhadap rangkuman hasil survei pilpres selama hampir 70 tahun, didapati dalam survey bersifat hipotesis pada periode awal pemilihan capres kedua partai yang belum pasti, tingkat akurasinya cenderung rendah. Dengan hasil terakhir pilpres selisih sekitar 11 persen. 

Masih segar dalam ingatan hasil pilpres Amerika Serikat pada 2016 sebanyak 90% survei, jauh melenceng dari kenyataan. Jadi hanya media massa yang sibuk membicarakan itu. Sementara mayoritas masyarakat hanya sekedar mendengarkan saja.

Satu-satunya yang bisa dipastikan adalah: Rencana kerja capres Partai Demokrat cenderung ekstrem kiri, perselisihan dan konflik rencana kerja pada kampanye kedua partai kali ini lebih parah dibandingkan 2016. 

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pilpres kali ini menentukan masa depan Amerika Serikat apakah akan menapaki jalan kapitalisme atau melangkah di jalan sosialisme. Secara langsung menentukan nasib negara Amerika.

Pilih Trump atau Demokrat, tentukan nasib Negara Amerika

Di masa pemerintahan Clinton dan Bush junior, baik memilih Partai Demokrat maupun memilih Partai Republik, lebih banyak merupakan pilihan antara kebijakan politik dengan ekonomi. 

Warga yang memilih Partai Demokrat umumnya setuju dengan pungutan pajak tinggi, pemerintahan besar, meningkatkan kesejahteraan. Sementara warga  yang memilih Partai Republik umumnya mendukung pungutan pajak yang relatif rendah, pemerintahan yang relatif kecil, mempertahankan otonomi mendasar Amerika sejak pendirian negara. 

Ditambah dengan 20% pemilih golput yang diperebutkan oleh kedua partai, pada bidang tertentu seperti sikap terhadap homoseksual cenderung sama. 

Kedua partai juga tidak akan pernah menyentuh agama Kristen, walaupun agama Kristen bukan merupakan agama nasional, namun mayoritas wilayah di bagian tengah dan barat Amerika Serikat merupakan Zona Alkitab – Bible Zone. Masyarakat percaya Tuhan akan membantu umatnya yang menolong dirinya sendiri, anti narkoba, bersikap serius dan konservatif terhadap pernikahan serta memiliki tanggung jawab keluarga. 

Ditambah lagi wilayah tengah dan barat, Amerika Serikat berpenduduk jarang. Kepemilikan senjata api adalah kebutuhan untuk menjaga keselamatan pribadi, agar dapat melindungi diri dan keluarga saat dibutuhkan. Namun setelah pemerintahan Obama, politik Amerika Serikat dan pemikiran kaum mudanya telah mengalami perubahan yang sangat besar.

Saat Obama berkampanye dalam pencalonan dirinya sebagai presiden, kata kunci yang digunakan adalah Change. Obama berjanji akan membawa perubahan bagi Amerika, tapi tidak disebutkan arah perubahannya. 

Selama 8 tahun pemerintahannya perubahan yang diciptakan dijadikan sebagai prestasi gemilang yang dapat memasuki sejarah. Obama mengerahkan segala upaya mendukung pencalonan Hillary sebagai presiden, karena Hillary telah berjanji akan melanjutkan seluruh “warisan politik” Obama.

Berikut ini beberapa situasi dan kondisi era Obama. 

Pertama, di dalam warisan politik Obama, bagian yang terpenting adalah politik identitas baru yang diwakili oleh warna kulit, yaitu memberikan perlakuan yang berbeda bagi warna kulit yang berbeda. 

Gerakan “Black Lives Matter” yang secara serius telah mencabik hubungan antar ras di Amerika dan antara polisi dengan warga sipil, didorong hingga ke posisi puncaknya akibat pidato Obama yang sifatnya berkecenderungan parah. 

Seorang pemuda muslim yang bernama Ziad Ahmed, karena di kertas ujiannya telah menulis seratus kali “Black Lives Matter”, ia diterima di Gedung Putih oleh Obama pada 2015.  Ttidak hanya itu, Ahmed diterima oleh Stanford University, juga Yale University dan Princeton University yang berusaha merekrutnya masuk kuliah di sana. 

Perguruan tinggi di Florida, Virginia, dan Wisconsin, bahkan membuat keputusan konyol dengan memberikan nilai berbeda berdasarkan warna kulit pelajar.

Terkadang output sejarah itu memang sangat nyeleneh. Terpilihnya Obama sempat memicu harapan yang tinggi bagi orang Amerika untuk mewujudkan kesetaraan antar suku bangsa. 

Namun faktanya adalah, setelah Obama lengser, konflik rasial di Amerika, dan konflik antara warga kulit hitam dengan polisi, jauh lebih parah dibandingkan pada saat Obama menjabat. Hal itu berkaitan erat dengan sejumlah pernyataan sikapnya yang tidak layak pada saat terjadinya konflik.

Kedua, membangun kembali sejarah Amerika Serikat. 

Di masa pemerintahan Obama, kelompok gerakan sosial yang memprakarsai paham anti-rasisme, menyangkal Perang Sipil, aksi anarkis dengan membakar benda-benda peringatan terkait Perang Sipil terjadi di seluruh Amerika, dan disebut “Revolusi Kebudayaan Amerika”. 

Di suatu kota kecil bernama Durham di North Carolina, kaum sayap kiri menjatuhkan dan menghancurkan sebuah patung monumen budaya peringatan Perang Sipil berupa seorang prajurit.  Dewan Kota New Orleans lalu meloloskan resolusi, untuk menyingkirkan 4 monumen peringatan Perang Sipil yang tersisa bagi perwira dan prajurit dari selatan. 

Presiden Amerika Serikat yang ketiga Thomas Jefferson adalah penulis “Deklarasi Kemerdekaan” Amerika dan memprakarsai kebebasan beragama,  pencetus utama yang membuat Konstitusi Amerika. Juga yang berperan penting pada masa pendirian negara Amerika. Ia sangat dihormati. Bisa dibilang jika sejarah Amerika meninggalkan tokoh yang satu ini maka tidak akan bisa dijelaskan bagaimana negara itu terbentuk. 

Tetapi hanya karena ia sebelumnya merupakan seorang majikan budak, maka ia selalu menjadi sasaran yang diserang oleh kaum sayap kiri. Pada Juni 2019, Dewan Kota Charlottesville, Virginia, melakukan voting untuk membatalkan perayaan hari ulang tahun Thomas Jefferson sang majikan budak.

Pada 3 Juli 2019, capres 2020 dari Partai Demokrat yakni Beto O’Rourke menyatakan, bahwa bendera Betsy Ross yang melambangkan 13 negara bagian Amerika Utara tahun 1776 adalah simbol nasionalisme kulit putih. Seorang capres lainnya bernama Julián Castro juga menyamakan bendera itu dengan simbol “derita” konfederasi.

Kedua capres itu berpendapat bahwa bendera dengan 13 bintang itu adalah simbol kebencian. Faktanya, pada pelantikan Obama yang kedua, bendera yang melambangkan persatuan 13 negara bagian Amerika Serikat di masa awal pendirian negara itu ditempatkan di posisi yang sangat mencolok.Karl Marx membanggakan bahwa kaum proletar tidak memiliki tanah air, namun sebelum komunisme muncul, setiap negara sangat menghormati pewarisan sejarahnya. 

Di Tiongkok ada pepatah kuno: “Jika ingin menghancurkan suatu negara, maka terlebih dulu hancurkan sejarahnya.”

Perang kemerdekaan Amerika adalah awal bersejarah pendirian negara Amerika, jika bendera 13 negara bagian di Amerika Utara itu telah disangkal sedemikian rupa oleh kaum sayap kiri yang berpaham sosialis itu, lalu akan dibawa kemana negara Amerika? Itu sungguh suatu tanda tanya besar.

Pada 4 Juli 2019 adalah hari kemerdekaan Amerika, NYC Revolution Club yakni suatu organisasi ekstrem kiri yang beranggotakan warga negara Amerika Serikat berdarah Amerika Latin. Organisasi itu  menyatakan akan mewujudkan komunisme di seluruh dunia. Di akun twitter-nya menyerukan pada masyarakat agar ikut serta dalam kegiatan membakar bendera Amerika di Washington DC.

Mereka beranggapan bahwa bendera Amerika Serikat adalah simbol perbudakan. Amerika Serikat adalah bencana bagi umat manusia, dan Trump adalah fasis. Mereka memprakarsai dunia tanpa tapal batas negara.

Di tengah atmosfir seperti itu, prakarsa Presiden Trump “make America great again” telah menjadi kutukan di mata kaum sayap kiri. Bayangkan, selain di Amerika, negara mana lagi yang memiliki atmosfir politik seaneh ini?

Ketiga, membangun kembali konsep agama warga Amerika. 

Mengutip kata-kata George Orwell yang terkenal di dalam karyanya “Animal Farm” bahwa “semua hewan sama rata, namun sejumlah hewan tertentu lebih sama rata”, dengan kata lain “semua agama sama rata, namun sejumlah agama tertentu lebih sama rata”. 

Pada 21 April 2019 adalah Hari Paskah, di Srilanka telah terjadi serangkaian peristiwa serangan teroris yang dilakukan oleh ekstrimis yang telah mengakibatkan 290 orang tewas, 450 lainnya luka-luka. 

Mantan Presiden Amerika Serikat, Obama dan mantan Menteri Luar Negeri Hillary, menyampaikan ungkapan belasungkawa kepada para korban tewas yang merupakan umat Kristen. Namun anehnya mereka tidak disebut sebagai “Christians”, tapi disebut sebagai “Penyembah Paskah – Easter worshippers.” Pernyataan itu sontak memicu kemarahan negara-negara berbahasa Inggris.

Terhadap hal itu, komentator politik bernama Chip Tsao dalam artikel berjudul “Anti-Intelektual Pembenaran Politik” menertawakannya. 

Ia mengatakan dengan cara demikian: “Memainkan Pembenaran Politik (political correctness) sampai ke tahap se-ekstrem ini, tidak heran jika Obama sempat dicurigai sebagai pengkhianat  oleh kaum konservatif Amerika. Hillary juga dituding berperilaku mengkhianati Amerika, dan sepertinya memang ada kebenarannya. Orang yang tewas karena ledakan itu, beribadah ke gereja pada Hari Paskah, tentu saja mereka adalah umat Kristen. Umat Kristen adalah suatu identitas yang terhormat, bukan misalnya seorang pelacur yang diubah penyebutannya menjadi ‘pekerja seks komersil’. Sebutan ini tidak dianggap sebagai pelecehan, juga sama sekali tidak sensitif, tidak perlu sembunyi-sembunyi atau ditutup-tutupi, apalagi dengan menyebut mereka sebagai penyembah hari Paskah.”

Mengenai kebijakan dan prestasi Obama di Timur Tengah, terutama sangat pasif dalam berandil pada gerakan Arab Spring, yang akhirnya menjadikan berdirinya ISIS. Lalu menyebabkan arus pengungsi membanjiri daratan Eropa. 

Dari media massa arus utama Amerika Serikat dan survei warga yang saling bertolak belakang, masyarakat hanya bisa melihat masa depan yang ingin diperlihatkannya: warga Amerika tidak suka Trump, dan menyukai Partai Demokrat. 

Tapi perdebatan kampanye putaran pertama dan kedua Partai Demokrat telah berakhir. Satu hal yang membuat faksi pendiri Partai Demokrat semakin cemas adalah: Lebih dari 20 orang capres dari Partai Demokrat memperlihatkan silat lidah yang sangat tajam pada perdebatan, dan kondisi perang mulut itu sangat sengit.

Namun beberapa topik yang paling mereka perhatikan, seperti masalah asuransi kesehatan bagi warga, keberadaan imigran gelap di perbatasan dan pengendalian senjata api yang merupakan topik paling panas, sangat sedikit muncul usulan kebijakan yang kuat dan konkrit.

Penulis yang tinggal di Amerika, dengan jelas telah merasakan kaum sayap kiri ekstrem sedang memanfaatkan tabu political correctness yang tidak bertoleransi untuk memaksakan penerapan inisiatif mereka yakni:

Setiap orang mendapat tunjangan hidup dan pemerintah menanggung seluruh biaya pengobatan. Mendapat uang tanpa harus bekerja, tidak membayar iuran bisa mendapat asuransi tak terbatas. Namun mereka tidak pernah mempertanyakan dari mana uang itu berasal, seolah The Fed bisa mencetak uang dengan seenaknya.

Perluasan tanpa batas terhadap jenis kelamin. Pada tahun terakhir pemerintahan Obama telah ditandatangani instruksi toilet lintas jenis kelamin yang secara serius melanggar etika moral dan pemahaman umum. Dengan menetapkan semua sekolah negeri di seluruh Amerika Serikat setiap orang dapat memilih jenis toilet dan ruang gantinya sesuai dengan jenis kelamin yang diyakininya secara psikologis. 

Jenis kelamin yang ditetapkan dalam undang-undang di New York saat ini mencapai 31 jenis! 

Pengadilan HAM New York bahkan menyebarkan sebutan bagi setiap jenis kelamin tersebut, dan keliru dalam penyebutan, ancaman hukuman menanti. 

Jika dikatakan pilihan jenis kelamin adalah kebebasan pribadi, tapi hukum menetapkan setiap institusi bisnis jika tidak menghormati, atau tidak memberi kemudahan bagi jenis kelamin yang dipilih oleh orang tertentu, maka mungkin akan melanggar undang-undang yang ditetapkan oleh Komisi Hak Asasi Manusia – HAM New York. Itu akan menuai denda sebesar 6 digit dalam mata uang USD. Itulah tuntutan hak istimewa.

Kaum sayap kiri bahkan memprakarsai, biaya penggantian jenis kelamin dan semua biaya aborsi para wanita seluruhnya ditanggung oleh pemerintah federal.

Pembebasan narkoba, banyak negara bagian yang didominasi Demokrat telah melegalkan marijuana, dan telah membuka banyak toko-toko marijuana sebagai tempat layanan bagi para pemadat untuk mengisap marijuana. Berbagai prakarsa itu adalah untuk mengumbar nafsu tanpa perlu adanya pertanggungjawaban pribadi, membuat para wajib pajak yang membayar semuanya.

Di dalam sejarah umat manusia, hanya negara totaliter sosialisme yang menelurkan kata-kata larangan yang memaksa masyarakatnya berintrospeksi diri atau bungkam saja. 

Kaum sayap kiri Amerika Serikat menggunakan kata-kata larangan dari political correctness. Membuat semua prakarsanya berada pada posisi yang tidak dapat ditentang, dengan jalan membatasi kebebasan berpendapat orang lain. Begitu ada yang mengutarakan pendapat yang menentang prakarsanya, maka akan dikepung dengan kecaman secara massal. Contoh yang paling tipikal adalah saat dilakukan voting untuk mengangkat Hakim Agung Kavanaugh, Partai Demokrat mengorganisir anggotanya di Senat melakukan aksi protes yang sengit, sifatnya mengintimidasi yang oleh senat Partai Republik disebut “warga preman”.

Kasus baru-baru ini adalah seorang anak perempuan berusia 8 tahun karena meniru anggota kongres baru Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) yang berhaluan ekstrem kiri. Keluarganya kerap diteror dengan ancaman dibunuh oleh kaum sayap kiri dan akhirnya menutup saluran videonya.

Pilpres 2020, bagi masyarakat Internasional, jika mengharapkan Partai Demokrat terpilih, berarti membiarkan Partai Demokrat melanjutkan kebijakan internasional ala Obama. Juga melanjutkan keluar uang terus untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia. Namun bagi warga Amerika Serikat sendiri, hal ini menyangkut nasib negara Amerika kedepannya.

Karena kecenderungan paham sosialis dari Partai Demokrat telah sangat parah, maka rencana para capres dari Partai Demokrat juga semakin ekstrem kiri. Jika memilih Partai Demokrat berarti Amerika akan banting stir bercorak sosialisme, warisan politik yang ditinggalkan oleh pemerintahan Obama akan menjadi semakin kuat dan ekstrem. 

Kader senior di Partai Demokrat sendiri juga mulai khawatir. Kolumnis surat kabar “New York Times” Bret Stephens dalam “A Wretched Start for Democrats” mengkritik, ide para capres Demokrat menunjukkan bahwa partai itu tidak peduli pada kepentingan warga pemilih, tapi lebih tertarik membantu orang-orang selain para warga pemilih sendiri. 

Oleh sebab itu bagi warga Amerika Serikat, memilih Trump atau memilih capres Demokrat yang kehilangan orientasi negara sebagai presiden memiliki arti. Pertama, adalah pilihan untuk menentukan melangkah di jalan kapitalisme atau sosialisme. Kedua, adalah memilih gaya hidup yang sesuai pemahaman umum atau bertentangan dengan pemahaman umum.

Sama halnya dengan semua capres Demokrat, Trump juga tidak sempurna. Tapi memilih presiden bukan memilih orang yang bermoral sempurna, melainkan orang yang dapat menjamin kepentingan warganya. 

Memilih Trump, berarti meneruskan jalan yang telah ditempuh selama dua tahun terakhir ini. Pengangguran berkurang, mencegah imigran gelap, memperkuat militer Amerika Serikat, menaati hukum dan ketertiban. 

Memilih Partai Demokrat, berarti membuat Amerika Serikat dengan cepat menjadi negara sosialis. Ditambah lagi akan tumbangnya konsep-konsep: Pernikahan keluarga, pengakuan eksistensi negara dan konsepsi beragama dari tradisi orang Amerika. (SUD/whs/rp/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular