- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Akankah Situasi Hong Kong Bakal Berakhir Seperti Tragedi Lapangan Tiananmen 1989?

James Gorrie

Saat aksi protes yang diwarnai kekerasan terus berlanjut, bagaimanakah Xi Jinping akan merespons? Bagaimana protes Hong Kong di kemudian hari? Situasi di Hong Kong tetap lancar dan tidak dapat diprediksi.

Haruskah sekitar dua juta pengunjuk rasa menyebut penundaan  RUU ekstradisi yang didukung Beijing sebagai kemenangan dan pulang ke rumah?

RUU ekstradisi adalah Undang-Undang Keamanan Nasional Pasal 23 yang diberlakukan Beijing.  Undang-Undang ini akan memungkinkan Komunis Tiongkok untuk menangkap yang diinginkan sebagai tersangka dan membawa mereka ke Beijing untuk diadili. 

Akan tetapi, dikarenakan para pemrotes telah memenangkan pertempuran itu, apakah selanjutnya? Dapatkah para pemrotes bahkan menghentikan momentum gerakan jika mereka ingin melakukannya? Jawabannya Mungkin. Bahkan jika mereka bisa, pada titik ini sepertinya tidak mungkin terjadi.

Aksi Protes Berkembang Pesat

Kini aksi protes memasuki minggu ketujuh. Bersamaan itu, aksi kekerasan meningkat dan pemrotes menyerukan “diakhirinya kebrutalan polisi,” dengan plakat yang berbunyi : “Penyelidikan Independen Untuk Aturan Hukum.” Itu patut dipuji, tetapi mereka sepertinya tidak akan mendapatkan dukungan dari pemerintah. 

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam, secara terbuka membungkuk ke arah Beijing. Ini ketika Carrie Lam menggambarkan para pengunjuk rasa sebagai “anak-anak yang keras kepala.” Itu bukan pertanda yang baik untuk dalam waktu dekat. 

Kehadiran polisi anti huru-hara baru-baru ini, bersama dengan penyerang yang kejam berkemeja putih, Mereka pun menyerang demonstran, jurnalis dan warga.  

Yang terakhir ini dilaporkan mereka bagian dari mafia Asia yang dikenal sebagai Triad. Mereka pro-Komunis Tiongkok dan bertindak sebagai proxy untuk Komunis Tiongkok. 

Pergeseran dalam sifat protes itu sendiri sedang berlangsung. Kini, dampaknya dalam skala yang jauh lebih besar.  Yang mendasari kemarahan para pemrotes adalah penolakan terhadap Komunis Tiongkok. Faktor lainnya adalah upaya Komunis Tiongkok untuk menghilangkan kebebasan politik dan berbicara yang telah dinikmati Hong Kong selama lebih dari seabad. 

Para pengunjuk rasa, dalam kata-kata dan tindakan mereka, merupakan ancaman langsung terhadap kekuasaan dan kekuasaan Komunis Tiongkok dan Xi Jinping.

Masalah Besar untuk Beijing

Xi Jinping memiliki beberapa kepentingan yang bersaing untuk diseimbangkan.  Beberapa di antaranya mempertahankan kontrol politik, berjibaku dengan perang perdagangan dengan Amerika Serikat dan menopang kontraksi ekonomi. Sementara itu, pada saat yang sama memberikan janjinya kepada dunia untuk membuka lebih banyak pasar Tiongkok. 

Sementara itu, ia harus mengontrol ketat Hong Kong, jangan sampai kelihatan kelemahannya sehingga memicu protes yang bakal meletus di tempat lain. Tetapi ketika aksi protes terus berlanjut, Xi mungkin merasa terpaksa untuk segera mengakhiri pembangkangan yang berbahaya atas kekuasaannya. Bahkan, dia mungkin sudah mengirim telegram atas niatnya. 

Surat kabar resmi China People’s Daily memuat komentar yang berjudul, “Otoritas Pusat Tidak Dapat Ditantang,” menyebut protes itu “tidak dapat ditolerir.” Itu tampaknya mungkin menjadi peringatan bagi pengunjuk rasa. Bahkan kepada Carrie Lam.

Di sisi lain, menurut orang dalam Komunis Tiongkok, ketika berbicara kepada The Epoch Times, Xi telah mengeluarkan tiga aturan mengenai situasi Hong Kong, yang melarang:

Pertama, Pertumpahan darah

Kedua, Penggunaan senjata

Ketiga, Kekuatan militer

Akankah Xi berpegang teguh pada dekrit ini? Laporan Beijing mengatakan kepada Amerika Serikat bahwa pasukan militernya yang berbasis di Hong Kong tidak akan mengambil tindakan apa pun.  Tampaknya, membenarkan informasi orang dalam, seperti halnya penggunaan proxy dan senjata pengendali kerusuhan yang tidak mematikan oleh polisi.

Muncul pertanyaan, Lapangan Tiananmen Xi Jinping? Namun demikian, perbandingan dengan Lapangan Tiananmen sedang digambarkan. Apakah itu realistis?

Selama enam minggu pada musim semi 1989 silam, para demonstran mahasiswa pro-demokrasi berkumpul di lapangan yang sekarang terkenal. Aksi itu mengecam korupsi Komunis Tiongkok. Mereka menggalang kebebasan yang lebih dari ekonomi dan politik. 

Tujuan mahasiswa pro Demokrasi adalah untuk menjatuhkan komunisme di Tiongkok. Mahasiswa ingin menggantinya dengan sistem demokrasi.

Kepemimpinan Komunis Tiongkok mengetahui betul, jika mereka harus menghapus aspirasi kebebasan dari pemuda kelas menengah dan kaya yang sedang muncul di Tiongkok atau Partai Komunis Tiongkok akan selesai. 

Tetapi mereka juga tahu, mereka harus memberikan sesuatu kepada orang-orang dengan imbalan untuk menghancurkan gerakan kebebasan. Tawaran itu jelas dipangkas. Komunis Tiongkok akan memungkinkan kebebasan ekonomi yang lebih besar. Bahkan, peluang sebagai imbalan untuk mengambil kebebasan politik dari atas meja.

Hong Kong memiliki kemiripan dengan pemberontakan Lapangan Tiananmen dengan beberapa cara yang jelas. Memprotes  penindasan oleh Komunis Tiongkok adalah benang merahnya. Akan Tetapi pada tahun 1989, para mahasiswa berusaha di Tiongkok untuk melepaskan  kediktatoran. Di Hong Kong, mereka menolak memakainya.

Akhir dari “Satu Negara, Dua Sistem?”

Komentar terakhir Xi Jinping tampaknya memperluas perlakuan khusus yang diberikan kepada Hong Kong dan Makau. 

Pernyataannya mengakui status “unik dan tak tergantikan” sebagai faktor kunci dalam pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan  hubungannya dengan seluruh dunia. Namun Xi menegaskan, keduanya harus mengakui tuntutan Beijing untuk “keamanan nasional.” 

Dia tampaknya menawarkan kedua peran yang lebih besar dalam hubungan Tiongkok dengan dunia. Akan tetapi untuk mendapatkan itu, mereka pertama-tama harus tunduk pada otoritas absolutnya.

Tidak jelas bahwa siapa pun di Hong Kong akan menerima Xi atas kata-katanya. Kecuali, mungkin, Kepala Eksekutif Lam. Dia pasti harus mengerti, protes itu membahayakan karier politiknya. 

Kreadibilitasnya sendiri juga tidak terlalu tinggi di Hong Kong. Apa yang tampak lebih jelas adalah, konsep “satu negara, dua sistem” mungkin mencapai titik puncak yang tidak terhindarkan.

Pengunjuk rasa menyadari, mereka telah mencapai titik yang tidak dapat kembali. Pengunjuk rasa sedang berjuang untuk menjaga hak-hak mereka.

Tidak diragukan lagi, Xi memahami hal itu. Tetapi ia juga tahu bahwa jika dia tidak bisa mengendalikan Hong Kong, maka dia tidak sepenuhnya bisa mengendalikan Tiongkok. 

Aksi para pemrotes yang menggeruduk Kantor Penghubung Hong Kong- Beijing pada 21 Juli, sebagai simbol dan properti Komunis Tiongkok sudah menggarisbawahi hal itu.

Tetapi alih-alih menerima protes langsung, Xi memutuskan untuk menyalahkannya atas campur tangan Amerika.  Memang, itulah prosedur standar Komunis Tiongkok ketika berkonflik. Bahkan, walaupun Komunis Tiongkok tidak dapat menjelaskan bagaimana atau mengapa Amerika melakukannya. 

Namun, ada titik terang dalam drama Hong Kong.  Pertama, Xi Jinping mendapati dirinya dalam  lose-lose situation atau kebalikan dari Win-wins solution. Pendekatan garis keras selanjutnya akan merusak ekonomi yang sudah rapuh. 

Belum lagi kedudukannya di seluruh dunia. Tetapi pendekatan yang lebih lembut menyampaikan kelemahannya  yang mana tentu menyakitinya. Entah bisa merusak kedudukannya di dalam Partai Komunis Tiongkok. Ada juga potensi sambutan cahaya khusus dalam skenario yang sangat gelap ini. 

Masyarakat Taiwan juga tahu persis kebrutalan rezim yang mungkin akan segera dihadapi oleh para demonstran Hong Kong. Mereka dengan berani menawarkan perlindungan politik kepada para demonstran. 

James Gorrie adalah seorang penulis yang tinggal di Texas. Dia adalah penulis “The China Crisis.”

Video Rekomendasi :