oleh : Cang Shan

Novelis dan Penulis, Mark Twain pernah mengatakan :  To a man with a hammer, everything looks like a nail.  Yang mana artinya, bagi orang yang memegang palu, segala sesuatu mirip paku.

Perkataan ini dimaknai, Pedoman yang dimiliki seseorang untuk memecahkan permasalahan menentukan perspektif dan pilihan solusi dari seseorang.

Masalah yang dimiliki Beijing sekarang adalah ia memegang palu, hanya saja menemukan bahwa Hong Kong bukanlah seperti paku yang dipikirkan oleh pemerintahan Komunis Tiongkok.

Palu rezim komunis Tiongkok adalah alat diktator di bawah sistem otokratis. Penempaan alat semacam itu membutuhkan berbagai kondisi.

Pertama-tama, lingkungan harus tertutup termasuk media yang tertutup. Seluruh sumber daya sosial  dimonopoli, dan lingkungan budaya tertutup.

Dalam lingkungan seperti itu, sumber daya sosial eksklusif untuk kediktatoran. Kediktatoran dapat merampas properti orang kapan saja yang ia inginkan. Lingkungan budaya yang tertutup mencakup penyensoran ideologi dan nilai-nilai.

Kedua, rejim perlu membuat orang mengikuti pelatihan teroris jangka panjang di lingkungan ini.

Kondisi ini dibentuk pada saat yang sama dengan alat politik otoriter. Ini memerlukan proses “penempaan” yang memakan waktu  implementasi dan akumulasi secara bertahap.

Mari kita meminjam konsep dari buku Daniel Kahneman yang berjudul “Thinking, Fast and Slow.”  Ketika “sistem 2” di otak menyelesaikan proses perhitungan, statistik, dan perhitungan logika, “sistem 1” mengambil alih dan melanjutkan dengan operasi otomatis hemat energi.

Setelah Komunis Tiongkok  membentuk alat kediktatorannya, rezim kemudian memasuki mekanisme otomatis untuk penilaian dan penanganan masalah.

Mereka biasanya tidak membedakan perbedaan antara masalah tertentu tetapi menyederhanakan klasifikasi dan menemukan apa yang disebut “solusi terbaik.”

Palu kediktatoran hanya dapat digunakan secara efektif di bawah kondisi otoriter, sesuatu yang tidak sepenuhnya terbentuk di Hong Kong.

Jika Komunis Tiongkok ingin menggunakan otokrasi di Hong Kong, maka Komunis Tiongkok menetapkan kondisi sistem otoriter dalam jangka waktu lama yang kemungkinan akan dibanjiri oleh darah. Hal inilah yang diberlakukan oleh Komunis Tiongkok dan agen-agennya di Hong Kong.

Perkembangan kemanusiaan selama ribuan tahun telah mengarah pada prinsip-prinsip kebebasan, keterbukaan, kesetaraan, dan toleransi.

Ketika kita berbicara tentang sistem sosial modern, keterbukaan, kemakmuran, toleransi, dan kebebasan adalah yang harus dimiliki, bahkan jika kita mengabaikan demokrasi, supremasi hukum, dan sebagainya.

Sistem peradaban modern memiliki konotasi ini secara umum. Dengan tidak adanya demokrasi yang lengkap, Hong Kong masih merupakan sistem sosial dengan karakteristik peradaban modern.

Ini mendorong fakta bahwa ketika Beijing melambaikan palu, ia tidak mencapai efek yang sama seperti di daratan Tiongkok. Terkadang hasil yang sebaliknya terjadi.

Cang Shan adalah Pemimpin Redaksi biro The Epoch Times Hong Kong

Share

Video Popular