Erabaru.net. Polisi Rusia menindak keras terhadap demonstran di Moskow, pada  Sabtu, 27 Juli. Polisi juga memukuli demonstran dan menangkap lebih dari 1.000 orang. Massa menuntut pemilu berlangsung dengan jujur dan adil.

Melansir dari Associated Press, demonstran menolak pengucilan kandidat oposisi dari pemungutan suara untuk pemilu dewan kota Moskow. Saking brutalnya, Polisi Rusia  menyerbu ke sebuah stasiun TV yang menyiarkan aksi protes.

Polisi bergulat dengan pengunjuk rasa di sekitar kantor walikota. Bahkan kadang-kadang menyerang kerumunan dengan tongkat. Kantor berita negara Tass dan RIA-Novosti melaporkan, polisi mengatakan sebanyak 1.074 orang ditangkap selama demonstrasi terjadi, yang berlangsung lebih dari tujuh jam.

Bersamaan dengan penangkapan sebagian besar demonstran kalangan muda. Sejumlah aktivis oposisi yang ingin mencalonkan diri untuk dewan kota juga diciduk di seluruh kota sebelum aksi protes. 

Alexei Navalny, tokoh oposisi Rusia yang paling terkemuka, dijatuhi hukuman 30 hari penjara pada Rabu lalu. Ia dituduh menyerukan aksi protes ilegal. 

Para pengunjuk rasa, yang menurut polisi berjumlah sekitar 3.500 orang. Mereka meneriakkan slogan-slogan termasuk “Rusia akan bebas!” dan slogan “Siapa yang kamu pukul?.”  Seorang wanita muda terlihat berdarah setelah dipukuli polisi di bagian kepala.

Polisi mengenakan helm menerobos masuk ke studio video Navalny ketika sedang melakukan siaran YouTube dari aksi protes. Polisi pun menangkap pemimpin program Vladimir Milonov. 

Polisi Rusia selanjutnya menggeledah Dozhd, stasiun TV internet yang meliput aksi protes. Bahkan pemimpin redaksi, Alexandra Perepelova, diperintahkan untuk menjalani pemeriksaan di Komite Investigasi.

Polisi akhirnya membubarkan pengunjuk rasa dari area kantor walikota. Akan tetapi banyak demonstran berkumpul kembali di alun-alun sekitar satu kilometer jauhnya. Penangkapan polisi kemudian dimulai. Polisi lalu memukuli sejumlah demonstran di tanah dengan ayunan pentungan, sementara demonstran lain berusaha mendorong polisi.

Sebelum aksi protes, beberapa anggota oposisi ditahan, termasuk Ilya Yashin, Dmitry Gudkov, Ivan Zhdanov dan  Lyubov Sobol. Semuanya dibebaskan pada sore hari. Akan tetapi, Zhdanov dan Sobol kembali hadir di aksi protes. Mereka kemudian kembali ditangkap. 

Tidak ada informasi langsung tentang tuduhan apa yang mungkin dihadapi oleh pegiat Oposisi. Pernah menjadi urusan lokal yang tidak penting. Pemilihan September mendatang untuk dewan kota Moskow telah mengguncang panggung politik Rusia. Ini ketika Kremlin berjuang  menghadapi pandangan yang sangat berlawanan di ibu kota yang berpenduduk 12,6 juta jiwa.

Otoritas pemilihan melarang beberapa kandidat oposisi untuk mencalonkan diri. Kandidat oposisi diduga tidak memiliki dukungan tanda tangan pencalonan mereka. Larangan ini memicu aksi protes, bahkan sebelum bentrokan pada Sabtu lalu di Moskow.

Dewan kota Moskow, memiliki 45 kursi.  Bertanggung jawab atas anggaran kota yang besar. Parlemen sekarang dikendalikan oleh partai Rusia Bersatu pro-Kremlin. Semua kursi memiliki masa jabatan lima tahun.Kembali siap untuk diperebutkan dalam pemilu 8 September mendatang. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular