Wu Huo melaporkan dari Prancis

Pada awal Juli “Freedom News” Prancis menerbitkan sebuah laporan investigasi. Laporan itu untuk pertama kalinya mengungkapkan, media Barat telah disusupi oleh Komunis Tiongkok. 

Laporan itu menganalisa bagaimana  Komunis Tiongkok berinvestasi besar-besaran dalam propaganda di media Barat untuk mempertahankan citra baik otoritas Beijing di dunia internasional.  

Pada awal Maret tahun ini Reporters Without Borders telah menerbitkan sebuah laporan investigasi terperinci dengan judul: “Tatanan baru media dunia yang dituntut oleh Tiongkok.”

Teks lengkap laporan sebanyak 52 halaman, masing masing dalam bahasa Mandarin, Inggris dan Prancis. Laporan mengungkap secara mendalam tentang bagaimana cara Komunis Tiongkok menyusupkan pengaruhnya ke Barat melalui media.

Laporan “Freedom News” berdasarkan kata pengantar pawai besar warga Hong Kong menentang amandemen “Peraturan Ekstradisi”, diberi judul sebagai: “Propagande: comment la Chine s『infiltre à l』Ouest atau Propaganda: Bagaimana Komunis Tiongkok menyusupi dunia Barat,” sebagai laporan.

Latar belakang munculnya ‘Tambahan penerbitan’ tentang Tiongkok di media Prancis

Artikel “Freedom News” pertama-tama menyebutkan bahwa pada 9 Juni, ada jutaan warga Hong Kong turun ke jalanan untuk memrotes amandemen “Peraturan Ekstradisi.”Namun “China Daily”, media propaganda  Komunis Tiongkok, tanpa ragu melaporkan dalam versi bahasa Inggris bahwa “Ada 800.000 orang mendukung amandemen Rancangan Undang Undang itu”.

Satu minggu kemudian, pada 16 Juni, 2 juta warga Hong Kong sekali lagi berpawai besar. Jumlah itu terhitung seperempat dari populasi Hong Kong, dan menciptakan rekor tertinggi dalam sejarah Hong Kong.

“ChinaDaily” malah mengatakan bahwa para orang tua Hong Kong berpawai menentang campur tangan Amerika Serikat. Artikel itu mengatakan bahwa kebohongan itu tidak mencegah “Surat kabar Le Figaro” untuk menyisipkan “China Watch” sebagai tambahan penerbitan. Topiknya menunjukkan bagaimana makmurnya Tiongkok dan potret Xi Jinping sebagai sekretaris jenderal Komite Pusat Komunis Tiongkok.

Tambahan penerbitan yang membuat orang sangsi itu yang disusun dan ditulis oleh ”ChinaDaily”,  dibayar oleh seseorang dengan cek bernominal besar di sekitar 30 surat kabar berpengaruh di seluruh dunia. Misalnya “The New York Times” dan dibagikan gratis yang mencakup 13 juta pembaca. 

Surat kabar Inggris “The Guardian”, mengungkapkan bahwa kantor berita “The Daily Telegraph” setiap tahunnya menerima 860.000 Euro biaya iklan untuk menerbitkan majalah bulanan “China Watch”.

Opini mengatakan bahwa sebenarnya iklan mahal ini tidak memiliki rahasia apa-apa, hanyalah yang digunakan Komunis Tiongkok untuk membentuk opini publik dan memengaruhi kebijakan politik dan bisnis asing. Dalam kata-kata Mao Zedong itu adalah “senjata ajaib”. Kalau meminjam kata-kata Xi Jinping: “Ceritakan kisah Tiongkok dengan baik”. 

Tentu saja, Komunis Tiongkok bukanlah pemerintah pertama yang menggunakan propaganda media untuk membangun pengaruh asingnya.  Prancis dan Inggris sejak awal tahun 1920-an sudah mulai mengadopsi strategi itu, namun tidak dapat dibandingkan dengan Komunis Tiongkok. 

Artikel itu mengatakan bahwa  otoritas Beijing tidak membiarkan dan tidak mengijinkan kritikan atau komentar miring. Menurut dokumen Komite Sentral Komunis Tiongkok yang diungkapkan pada 2013, kebebasan pers bahkan terdaftar sebagai salah satu dari “tujuh bahaya Barat”. Diantaranya juga termasuk hak asasi manusia dan independensi peradilan.

Menurut laporan berjudul “Tatanan baru media dunia yang dituntut oleh Tiongkok”, dalam 10 tahun terakhir Komunis Tiongkok telah menghabiskan 1,3 miliar Euro setiap tahunnya untuk menyebarkan suara Beijing ke seluruh dunia. 

Hal itu membuat Komunis Tiongkok memiliki media yang menyentuh massa audiovisual asing. Media itu seperti jaringan TV Global China yang dikelola oleh pemerintah yang  saat ini disiarkan di 140 negara di seluruh dunia. Ada juga China Radio International yang disiarkan dalam 65 bahasa.

Dalam penyelidikan “Freedom News” yang pernah menghubungi Kantor Berita Xinhua untuk wawancara dan hasilnya tidak pernah menerima balasan. Laporan  mengatakan bahwa Kantor Berita Xinhua tidak seperti kantor berita umum. Tidak peduli apakah itu mengirim email atau menelepon, tidak akan pernah ada jawaban.

Artikel itu juga mengatakan bahwa ketika reporter pergi ke Kantor Berita Xinhua yang berada di pinggiran Paris dan berbicara dengan cara menjual iklan, pihak Xinhua mengusulkan paket iklan. 

Paket itu adalah  50 kali penerbitan tambahan, 3 video ditambah 5 foto dan harganya sekitar 1.800 Euro. Tentu saja dalam situasi krisis media cetak saat ini, kontrak semacam ini sangat menarik.

Artikel itu juga mengungkapkan bahwa pada akhir Maret tahun ini, ketika Xi Jinping mengunjungi Prancis dan tiba di pantai selatan Nice, beberapa media utama Prancis seperti “Le Monde”, “Le Figaro”, “Les Echos”, dan”Le Parisien” semuanya menerbitkan iklan humas berbahasa mandarin. Konten dan foto disediakan oleh Kantor Berita Xinhua.

Contoh lain adalah saluran komersial stasiun televisi BFM Prancis meluncurkan program “ChineEco” yang artinya Ekonomi Tiongkok pada November tahun lalu. Program itu disiarkan setiap malam pukul 23:50 waktu setempat.

Program yang berlangsung selama beberapa menit itu diedit oleh China Radio International (RCI). Pada awal acara menggunakan bahasa Prancis memperkenalkan beberapa topik ramah Tiongkok dan kemudian mengundang para pakar ekonomi untuk membahas manfaat berinvestasi di Tiongkok.

Stéphane Soumier dari stasiun televisi BFM yang bertanggung jawab untuk menandatangani kontrak kerja sama program itu, mengatakan kepada “Freedom News” bahwa syarat kontrak yang diusulkan RCI  berbunyi, “Anda berbicara tentang topik bisnis Tiongkok, kami memberikan sponsor, kami mempertahankan kedaulatan atas isi program, mengundang tamu para pengusaha. Di bawah premis menguntungkan bagi  Tiongkok  maka dapat mempublikasikan kritik tentang Tiongkok.”

Di akhir artikel itu ada kutipan peringatan yang dikemukakan oleh NadègeRolland, seorang peneliti di Badan Studi AsiaWashington.

Peringatan itu  berbunyi,  “Pekerjaan infiltrasi yang dilakukan oleh Beijing bersifat serba pelik dan berjangka panjang. Hal yang lebih penting lagi adalah infiltrasi itu tidak berwujud, yaitu melakukan pengaruh dari norma, nilai dan hukum, semua negara demokrasi terlibat didalamnya dan setiap negara demokrasi harus tetap waspada.” (lin/whs /rp/asr) 

 Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular