- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Trump Memperingatkan Tiongkok : Tidak Ada Lagi Kesepakatan Berunding Jika Terus Mengulur Waktu

oleh Yu Jian

Perundingan perdagangan AS – Tiongkok dilanjutkan di Shanghai, pada Selasa 30 Juli. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin dan perwakilan perdagangan Robert Lighthizer memimpin delegasi menuju Shanghai. Mereka berunding selama dua hari. Pihak Tiongkok dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Liu He. Menteri Perdagangan Tiongkok Zhong Shan juga diperkirakan masuk sebagai anggota delegasi.

Pada hari itu Presiden Trump mengirim serangkaian pesan melalui Twitter. Isinya memperingatkan, jika Tiongkok ingin berunding setelah pemilu AS, maka yang menunggu mereka adalah kesepakatan yang lebih buruk. Amerika Serikat tidak akan lagi mencapai kesepakatan dengan Tiongkok.

Trump dalam cuitannya menyebut, kinerja ekonomi Tiongkok sangat buruk serta terburuk dalam 27 tahun terakhir. Trump menulis, seharusnya Tiongkok sudah mulai membeli produk AS. Akan tetapi tidak ada indikasi tentang pembelian itu. 

Menurut Trump, hal demikian adalah masalah Tiongkok. Pemerintahan negara itu dinilai tidak dapat mewujudkan apa yang mereka janjikan. Trump mengungkapkan dalam 3 tahun terakhir, skala ekonomi AS justru jauh lebih besar dari Tiongkok. 

Dua hari sebelum perundingan pada 28 Juli, Pejabat komunis Tiongkok mengklaim Tiongkok telah mengimpor jutaan ton kedelai AS. Selanjutnya, sedang menegosiasikan harga produk pertanian AS lainnya. 

Namun demikian, pihak AS mengatakan, bahwa kedelai yang dibicarakan itu sudah dipesan beberapa bulan lalu. Pihak Tiongkok belum melakukan pemesanan baru untuk membeli kedelai AS.

Pesan Trump di Tweet mengindikasikan, bahwa AS tidak percaya dan skeptis terhadap janji yang disampaikan Tiongkok. Lebih lanjut Trump menulis bahwa Tiongkok mungkin sedang menunggu hasil pemilihan umum tahun depan. 

Trump menjelaskan, ketika tim AS sedang bernegosiasi dengan mereka, tetapi mereka sering kali pada akhirnya berubah pikiran. Sikap itu demi kepentingan mereka sendiri. Mereka mungkin menunggu ‘Biden yang mengantuk’ keluar sebagai pemenang pemilu. Pada saat itu, mereka dapat menandatangani perjanjian dengan Partai Demokrat. Tentunya, yang menguntungkan mereka. Sehingga mereka mengambil keuntungan dari Amerika Serikat. Sebagaimana yang terjadi dalam 30 tahun terakhir.

Bahkan mengambil keuntungan yang lebih besar dan lebih murah daripada sebelumnya. Namun, penundaan mereka berarti, jika Trump menang, maka akan mendapatkan persetujuan yang lebih buruk dari sekarang, atau tidak memiliki perjanjian dengan komunis Tiongkok. 

Trump mengatakan, semua kartu berada di tangan AS. Hal inilah yang tidak pernah dimiliki oleh para pemimpin Amerika di masa lalu. Trump mengungkapkan, bahwa perang dagang telah menyebabkan 5 juta orang di Tiongkok kehilangan pekerjaan. Perang dagang juga menyebabkan, 2 juta pekerja manufaktur menganggur.

Pada bulan Mei lalu, ekspor AS ke Tiongkok sebenarnya naik menjadi 9,1 miliar dolar AS. Akan tetapi impor melonjak menjadi 39,3 miliar dolar AS. Hal inilah yang menyebabkan total defisit tahun ini menjadi 137,1 miliar dolar AS. Jumlah ini sebenarnya berkurang 15 miliar dolar AS dari periode yang sama tahun 2018. Menurut perhitungan pihak AS, defisit perdagangan AS  dengan Tiongkok tahun lalu mencapai 419,5 miliar dolar AS.

Harapan AS terhadap pertemuan di Shanghai tidak tinggi

Sebelum negosiasi perdagangan kali ini, Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama merilis sinyal yang bernada relatif rendah. Akan tetapi, Tiongkok menggunakan bahasa kasar untuk menghujat Amerika Serikat, Ini yang membuat dunia luar berpendapat, tampaknya sulit untuk membuat terobosan dalam negosiasi ini.

Trump pekan lalu mengatakan, ia mengetahui bahwa pihak Tiongkok mungkin memainkan taktik mengulur-ulur waktu. Kedua belah pihak mungkin tidak mencapai kesepakatan sebelum bulan November 2020. Akan Tetapi ketika Trump keluar sebagai pemenang pemilu pada tahun 2020, Tiongkok akan segera menandatangani perjanjian. “Ketika saya menang, mereka akan segera menandatangani perjanjian”.

Trump juga mendesak WTO untuk melakukan reformasi. Langkah itu untuk menghapuskan status negara berkembang bagi Tiongkok. Trump mengatakan bahwa komunis Tiongkok adalah salah satu negara yang menipu sistem WTO. Tentunya, dengan mengorbankan kepentingan Amerika Serikat. Sedangkan, Larry Kudlow, kepala penasihat ekonomi Gedung Putih kepada media mengatakan bahwa dirinya juga tidak optimis dengan pembicaraan perdagangan kali ini. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :