Roh komunisme tidak lenyap dengan disintegrasi Partai Komunis di Eropa Timur

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita

Daftar ISI

Pengantar

1-Akar Komunis dari Environmentalisme

a.Tiga Tahapan Environmentalisme
b.Environmentalisme dan Marxisme: Akar yang Sama
c.Marxisme Ekologis
d.Sosialisme Ekologis
e.Politik Hijau: Hijau Adalah Merah Baru
f.Eko-Terorisme
g.Greenpeace: Bukan Kisah Damai

2. Mitos Konsensus mengenai Perubahan Iklim

a. Sejarah Singkat ‘Konsensus’ dalam Ilmu Iklim
b. Membangun Dogma di Komunitas Ilmiah

Daftar Pustaka

Pengantar

Bumi adalah lingkungan hidup umat manusia, menyediakan makanan, sumber daya, dan kondisi untuk pembangunan. Bumi telah memungkinkan manusia untuk makmur selama ribuan tahun.

Kemanusiaan berinteraksi erat dengan lingkungan alam. Baik kebudayaan tradisional Tiongkok maupun Barat menekankan hubungan simbiosis jinak antara manusia dengan alam.
Seperti yang ditulis oleh filsuf Tiongkok kuno, Dong Zhongshu dalam Embusan Mewah Musim Semi dan Musim Gugur, “Segala sesuatu di bumi diciptakan untuk kepentingan manusia.” [1] Artinya adalah bahwa tujuan Sang Pencipta adalah untuk menawarkan kondisi bagi umat manusia untuk hidup, dan semua hal di bumi dapat digunakan oleh manusia. Pada saat yang sama, manusia harus mengikuti prinsip-prinsip langit dan bumi dalam kehidupannya, dan dengan demikian menggunakan segala sesuatu secara tidak berlebihan serta secara proaktif memelihara dan menjaga lingkungan alami tempat manusia hidup.

Kebudayaan tradisional Barat menyatakan bahwa Sang Pencipta menyediakan lingkungan alami bagi manusia dan meminta manusia untuk mengelolanya. Dengan demikian, manusia harus menghargai dan memanfaatkan lingkungan alam. Dalam filosofi kebudayaan tradisional Tiongkok, ada keseimbangan antara segalanya, serta keharusan untuk menghindari bahaya.
Doktrin Konfusianisme mengenai Jalan Tengah menyatakan: “Sistem hukum yang sama inilah yang dengannya semua makhluk yang diciptakan diproduksi dan dikembangkan masing-masing dalam urutan dan sistemnya tanpa saling melukai; bahwa operasi Alam berjalan tanpa konflik atau kebingungan.”[2]

Orang Tiongkok kuno menghargai perlindungan lingkungan hidup. Menurut catatan sejarah, pada masa Yu yang Agung: “Dalam tiga bulan musim semi, orang-orang tidak membawa kapak ke hutan sehingga hutan dapat tumbuh subur. Dalam tiga bulan musim panas, orang-orang tidak menebarkan jala di sungai sehingga ikan dapat berkembang biak.”[3]

Zengzi, seorang cendikiawan Konfusianisme, menulis, “Kayu hanya boleh ditebang pada musim yang tepat dan hewan hanya boleh disembelih pada waktu yang tepat.” [4] Ini menunjukkan gagasan tradisional Tiongkok mengenai sikap tidak berlebih-lebihan dalam segala hal serta menghargai dan melindungi alam lingkungan hidup.

Setelah Revolusi Industri, polusi menyebabkan kerusakan ekologis yang parah, dan masyarakat Barat mulai menyadari masalah ini. Setelah undang-undang dan standar perlindungan lingkungan hidup diterapkan, polusi industri ditangani secara efektif dan kesehatan lingkungan hidup meningkat pesat. Dalam prosesnya, kesadaran masyarakat akan perlindungan lingkungan hidup adalah tumbuh sangat besar, dan secara luas diakui bahwa melindungi lingkungan hidup adalah tujuan yang tepat.

Kita harus membedakan beberapa gagasan: Perlindungan lingkungan hidup, gerakan lingkungan hidup dan environmentalisme. Perlindungan lingkungan hidup, seperti namanya, adalah perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Sejak awal peradaban manusia, orang-orang telah memahami perlunya melakukan hal ini, dan tidak ada hubungannya dengan ideologi politik tertentu.

Gerakan lingkungan hidup adalah gerakan sosial dan politik seputar masalah lingkungan hidup. Tujuan utamanya adalah untuk mengubah kebijakan lingkungan hidup, serta pemikiran dan kebiasaan masyarakat, melalui gerakan massa, hasutan politik, dan pengaruh media.
Environmentalisme adalah filosofi dan ideologi yang menekankan perlunya melindungi lingkungan hidup dan hidup berdampingan secara harmonis antara masyarakat manusia dengan ekologi alam.

Motivasi di balik perlindungan lingkungan hidup dan environmentalisme adalah tidak sama dengan motivasi komunisme — tetapi komunis unggul dalam membajak gerakan massa dan memanipulasi gerakan massa demi keuntungan komunis.

Dengan demikian, kita melihat bahwa sejak awal environmentalisme modern, komunis secara sistematis telah memilih gerakan tersebut.
Isu-isu seputar environmentalisme hari ini adalah sangat kompleks: Gerakan ini menggunakan retorika yang sensasional dan keinginan orang-orang yang tulus untuk melindungi lingkungan hidup demi menciptakan gerakan politik global. Banyak partisipan adalah orang yang bermaksud baik, memiliki rasa keadilan, dan benar-benar peduli dengan masa depan umat manusia.

Namun, apa yang tidak disadari banyak orang adalah bagaimana komunis menggunakan lingkungan hidup untuk mengklaim landasan moral yang tinggi untuk tujuan mempromosikan agendanya sendiri. Inilah bagaimana perlindungan lingkungan hidup menjadi sangat dipolitisasi, dijadikan ekstrem, dan bahkan berubah menjadi agama palsu — tetapi tanpa dasar moral tradisional. Propaganda yang menyesatkan dan berbagai tindakan politik wajib telah menjadi dominan, mengubah environmentalisme menjadi semacam “komunisme-ringan.”

Bab ini akan fokus pada bagaimana environmentalisme sebagai ideologi terkait dengan komunisme, dan bagaimana gerakan pencinta lingkungan hidup dibajak, dimanipulasi, dan dipilih untuk melayani tujuan komunisme, serta dampak yang akan ditimbulkan jika tetap tidak dicegah.

I. Akar Komunis dari Environmentalisme

Komunisme telah membuat persiapan yang rumit di banyak bidang untuk penghancuran umat manusia. Berasal dari Eropa, komunisme meluncurkan revolusi kekerasan dan merebut kekuasaan di dua kekuatan besar Timur – Rusia dan Tiongkok. Kamp komunis dan masyarakat Barat memasuki konfrontasi panjang selama Perang Dingin. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan blok komunis

Eropa Timur, komunis mulai menabur faktor-faktornya di masyarakat Timur dan Barat dan juga berusaha untuk mendirikan pemerintahan global yang dikendali dengan ketat.

Untuk mencapai tujuan ini, komunisme harus menciptakan atau menggunakan “musuh” yang mengancam semua umat manusia dan mengintimidasi masyarakat di seluruh dunia untuk menyerahkan kebebasan individu dan kedaulatan negara. Menciptakan kepanikan global mengenai menjulangnya bencana lingkungan hidup dan ekologi tampaknya hampir merupakan jalan yang tak terhindarkan untuk mencapai tujuan ini.

a. Tiga Tahapan Environmentalisme

Pembentukan dan pengembangan gerakan lingkungan hidup sangat terkait dengan komunisme. Secara khusus, pengembangannya telah melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah masa persiapan teoretis, yang dapat dihitung dari publikasi Manifesto Komunis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels pada tahun 1848 hingga Hari Bumi pertama di tahun 1970.

Pada awal tahap ini, Karl Marx dan para muridnya tidak menganggap lingkungan hidup sebagai fokus wacana teoretisnya, tetapi ateisme dan materialisme Marxis secara alami adalah konsisten dengan kecenderungan utama lingkungan hidup. Karl Marx menyatakan bahwa kapitalisme bertentangan dengan alam (yaitu, lingkungan hidup). Murid-murid Karl Marx merancang istilah “ekosistem” dan diam-diam memasukkan environmentalisme dalam mata pelajaran tertentu di mana environmentalisme akan berfermentasi.

Dalam dekade terakhir tahap awal ini, dari tahun 1960 hingga 1970, dua buku terlaris – Silent Spring (1962) dan Population Bomb (1968) – muncul di Amerika Serikat. Environmentalisme memasuki arena masyarakat dengan kedok “perlindungan lingkungan hidup.”

Peristiwa penting pada awal tahap kedua adalah Hari Bumi pertama yang diadakan pada tahun 1970, tak lama setelah itu pada tahun 1972 Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan Konferensi Lingkungan Hidup Manusia yang pertama di Stockholm. Pada tahap ini, sejumlah organisasi dengan cepat terbentuk dan aktivitasnya meningkat. Di Amerika Serikat dan Eropa, sejumlah organisasi tersebut mendorong pemerintah melalui propaganda, protes, dan aktivisme dengan kedok penelitian ilmiah, undang-undang, pertemuan, dan sebagainya.

Pada tingkat makro, kontra-kebudayaan tahun 1960-an berfungsi hampir seperti parade militer unsur-unsur komunis di Barat, yang tampil dengan memilih hak-hak sipil dan gerakan anti-perang, kemudian dengan cepat menyebar ke bentuk lain dari pertempuran anti-kapitalis, termasuk gerakan feminis, gerakan homoseksual, dan banyak lagi.

Setelah tahun 1970-an, setelah gerakan anti-Perang Vietnam surut, gagasan komunis memulai proses pelembagaannya yang disebut “perjalanan panjang menuju institusi,” sementara juga membanjiri feminisme dan environmentalisme — dan ini adalah akar penyebab meningkatnya ideologi dan hasutan ahli lingkungan hidup.

Salah satu kekuatan terpenting yang memikul panji lingkungan hidup di tahun 1970-an adalah kaum hippi, tulang punggung kontra-kebudayaan. Faktanya, komunisme sedang dalam proses pengemasan ulang di bawah panji lingkungan hidup setelah kegagalannya dalam Perang Dingin, dengan maksud untuk memperkenalkan komunisme global dengan nama lain.

Fase ketiga dimulai pada malam menjelang akhir Perang Dingin. Pada tahun 1988, PBB membentuk Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim, dan konsep pemanasan global mulai memasuki ranah politik. [5] Menjelang runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990, sebuah konferensi lingkungan hidup internasional diadakan di Moskow. Dalam sebuah pidato, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mendukung pembentukan sistem pemantauan lingkungan hidup internasional, menandatangani perjanjian untuk melindungi “zona lingkungan hidup yang unik,” menyatakan dukungan untuk program lingkungan hidup PBB, dan menyerukan konferensi tindak-lanjut (diadakan pada Juni 1992 di Brasil). [6]

Hampir semua pencinta lingkungan hidup Barat menerima proposal ini, dan pada tahap ini, memandang pemanasan global sebagai ancaman utama bagi umat manusia. Propaganda yang menggunakan perlindungan lingkungan hidup sebagai alasan untuk kebijakan yang kasar tiba-tiba meningkat, dan jumlah serta skala hukum dan peraturan lingkungan hidup berkembang pesat.

Environmentalisme telah menjadi alat utama untuk membatasi kebebasan warga di seluruh dunia, merampas negara-negara yang berdaulat, dan membatasi serta memerangi masyarakat bebas di Barat. Hasilnya adalah bahwa setelah berakhirnya Perang Dingin, para mantan komunis Uni Soviet, serta komunis dan para rekannya yang mengembara di Barat, semuanya mulai lagi bergabung dengan gerakan perlindungan lingkungan hidup. Environmentalisme muncul sebagai kekuatan di panggung dunia dan semakin mulai menerima gagasan komunis.

b. Environmentalisme dan Marxisme: Akar yang Sama

Dalam pemahaman orang-orang yang percaya pada agama ortodoks, baik Timur maupun Barat, manusia diciptakan oleh Tuhan dalam gambar-Nya sendiri, dan dengan demikian kehidupan manusia diberkahi dengan nilai, tujuan, dan martabat yang lebih tinggi daripada bentuk kehidupan lain di bumi. Demikian juga, lingkungan hidup alami diciptakan oleh Tuhan. Manusia memiliki kewajiban untuk memelihara alam, yang hadir untuk manusia — bukan sebaliknya.

Di mata ateis dan materialis, kehidupan manusia tidak memiliki kualitas khusus. Frederick Engels menulis dalam salah satu esainya, “Hidup adalah mode keberadaan albumin [yaitu, protein] tubuh.” [7] Dalam pandangan ini, kehidupan manusia tidak lebih dari sekedar konfigurasi protein yang unik, intinya tidak berbeda dengan hewan atau tumbuhan — dengan demikian, adalah masuk akal bahwa manusia dapat dirampas kebebasannya, dan bahkan nyawanya, atas nama melindungi alam.

Pada tahun 1862, dalam sebuah buku mengenai kimia organik, kimiawan Jerman Justus von Liebig, kolega Karl Marx, mengkritik petani Inggris karena menggunakan kotoran burung yang diimpor sebagai pupuk. Pertanian Inggris mendapat manfaat dari kotoran burung, suatu pupuk yang efisien, dan hasil panen meningkat secara bermakna. Pada pertengahan abad kesembilan belas, Inggris memiliki banyak sumber makanan berkualitas tinggi. Bisnis kotoran burung telah menguntungkan pengusaha di berbagai negara, serta petani dan masyarakat Inggris.

Mengapa Justus von Liebig ingin mengutuk praktik ini? Justus von Liebig berkata, pertama, bahwa proses pengumpulan kotoran burung merusak alam; kedua, pedagang mengeksploitasi buruh dengan upah yang rendah; ketiga, hasil makanan yang tinggi merangsang pertumbuhan populasi, yang, pada gilirannya, membutuhkan lebih banyak makanan, melebihi apa yang dapat disediakan oleh alam; dan keempat, lebih banyak orang dan ternak berarti lebih banyak pupuk kandang dan sampah. [8]

Pada saat itu, ketika menulis Das Kapital, Karl Marx dengan cermat mempelajari karya Justus von Liebig. Karl Marx memuji karya Justus von Liebig karena telah “berkembang dari sudut pandang ilmu alam, sisi negatif, yaitu, bersifat merusak, pertanian modern.” [9] Seperti Justus von Liebig, Karl Marx menganggap segala upaya untuk menciptakan kekayaan dengan menggunakan sumber daya alam sebagai siklus yang kejam, dengan kesimpulan bahwa “pertanian rasional tidak sesuai dengan sistem kapitalis.” [10]

Setelah Vladimir Lenin dan Partai Bolshevik-nya meluncurkan kudeta di Rusia, mereka segera mengumumkan “Dekrit Tanah” dan “Dekrit Hutan” untuk menasionalisasi sumber daya lahan, hutan, air, mineral, hewan, dan tanaman, dan mencegah masyarakat menggunakan sumber daya tersebut tanpa izin. [11]

Ahli meteorologi dan penulis Amerika Brian Sussman menulis dalam bukunya Eco-Tyranny: How the Left’s Green Agenda Will Dismantle America atau Tirani Lingkungan Hidup: Bagaimana Agenda Hijau Kiri Akan Membongkar Amerika Serikat bahwa gagasan Karl Marx dan Vladimir Lenin adalah sangat konsisten dengan gagasan para pencinta lingkungan hidup saat ini. Dalam pandangan mereka, tidak ada yang berhak mendapatkan keuntungan dari sumber daya alam.

“Apakah itu untuk menyelamatkan hutan, paus, siput, atau iklim, semuanya kembali ke keyakinan yang mengakar bahwa pencarian keuntungan semacam itu tidak bermoral dan pada akhirnya akan menghancurkan planet ini kecuali dihancurkan,” tulis Brian Sussman. [12]

Gerakan lingkungan hidup global ini telah melibatkan sejumlah besar pemikir, politisi, ilmuwan, aktivis sosial, dan tokoh media. Ulasan ini tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyebutkan pikiran, pidato, dan tindakan mereka semua secara lengkap, tetapi ada satu tokoh yang tidak dapat diabaikan: Maurice Strong, pendiri Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Maurice Strong, seorang warganegara Kanada, juga menyelenggarakan Konferensi PBB mengenai Gerakan Konferensi Lingkungan Hidup Manusia pada tahun 1972 dan Konferensi Lingkungan Hidup dan Pembangunan pada tahun 1992. Ia adalah keponakan laki-laki dari Anna Louise Strong, seorang jurnalis pro-komunis terkenal yang menetap di Tiongkok. Maurice Strong, yang sangat dipengaruhi oleh bibinya, menggambarkan dirinya sebagai “seorang sosialis dalam ideologi dan kapitalis dalam metodologi.” [13]

Maurice Strong telah menempati posisi penting dalam gerakan lingkungan hidup global.” Maurice Strong berbagi pandangan dari pengunjuk rasa lingkungan hidup yang paling radikal, tetapi bukannya berteriak hingga serak di barikade polisi saat konferensi global, ia adalah Sekretaris Jenderal dalam bidang ini, yang membuat keputusan.” [14]

Pandangan yang dianut oleh badan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Maurice Strong tampaknya hampir identik dengan Marxisme, sebagaimana ditulis oleh Brian Sussman: “Kepemilikan tanah pribadi adalah instrumen utama untuk mengumpulkan kekayaan dan oleh karena itu berkontribusi terhadap ketidakadilan sosial. Karena itu, kendali masyarakat atas penggunaan lahan sangatlah diperlukan. ”[15] Maurice Strong memilih untuk menetap di Beijing setelah pensiun dan meninggal pada tahun 2015.

Natalie Grant Wraga, seorang pakar Uni Soviet yang sudah meninggal, melakukan studi mendalam mengenai masalah ini dan menulis: “Perlindungan lingkungan hidup dapat digunakan sebagai dalih untuk mengadopsi serangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk merusak basis industri negara-negara maju…Ini juga dapat berfungsi untuk memperkenalkan ketidaknyamanan dengan cara menurunkan standar hidup mereka dan menanamkan nilai-nilai komunis.”[16]

Faktanya, lingkungan hidup tidak hanya berasal dari bekas blok komunis. Lingkungan hidup berjalan lebih jauh dan berhubungan dengan tujuan keseluruhan komunisme untuk melemahkan penyebab kebebasan di seluruh dunia.

c. Marxisme Ekologis

Pada titik di abad kesembilan belas dan kedua puluh, ilmuwan Inggris Ray Lankester dan Arthur Tansley mengembangkan gagasan mengenai ekologi dan ekosistem. Keduanya adalah Sosialis Fabian, sebuah variasi Marxisme. Ray Lankester adalah ahli zoologi dan, pada usia yang relatif muda, menjadi teman Karl Marx yang menua.

Ketika Karl Marx di tahun-tahun usianya yang menua, Ray Lankester sering mengunjungi rumah Karl Marx dan salah satu yang hadir di antara sedikit orang yang menghadiri pemakaman Karl Marx. Ray Lankester pernah sekali menulis kepada Karl Marx mengatakan bahwa ia sedang mempelajari Das Kapital, tulisan Karl Marx pada tahun 1867, “dengan kesenangan dan keuntungan terbesar.”[17]

Arthur Tansley adalah tokoh paling penting dalam ekologi dan botani selama periode itu di Inggris, dan sebagai ketua pertama Masyarkat Ekologis Inggris, ia adalah penemu istilah “ekosistem.” Saat kuliah di Universitas London, Arthur Tansley sangat dipengaruhi oleh Ray Lankester. [18]

Tautan asal antara gagasan ekologis dengan Marxisme tampaknya muncul dalam hubungan antara Ray Lankester, Arthur Tansley, dan Marxisme ini — meskipun, tentu saja, ekologi dan environmentalisme bukanlah hal yang sama. Ekologi adalah mengenai hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan hidup, sedangkan environmentalisme berkaitan dengan bencana ekologis. Namun, ekologi terkait erat dengan lingkungan hidup karena memberikan dasar teoretis untuk mendefinisikan bencana ekologis. Marxisme ekologis, yang diturunkan dari ekologi, adalah langkah lebih jauh dari gagasan ini.

Marxisme ekologis menambahkan konsep krisis ekologis sebagai tambahan argumen kaum Marxisme mengenai krisis ekonomi kapitalisme. Marxisme ekologis berusaha untuk memperluas dugaan konflik antara borjuasi dengan kelas sosial bawah dengan cara menambahkan konflik yang melekat antara produksi dengan lingkungan hidup. Ini adalah teori krisis ganda atau konflik ganda. Dalam teori Marxis, konflik dasar kapitalisme adalah antara kekuatan produktif dan hubungan produksi, yang disebut konflik primer. Konflik sekunder terjadi antara lingkungan produksi (ekosistem) dan kekuatan produktif serta hubungan produksi bersama. Dalam teori ini, konflik primer mengarah ke krisis ekonomi, sedangkan konflik sekunder mengarah ke krisis ekologis. [19]

Perkembangan kapitalisme selama satu abad membuktikan Marxisme adalah salah setelah prediksi yang gagal bahwa kapitalisme akan runtuh akibat krisis ekonomi. Sebaliknya, kapitalisme malah terus makmur. Sebagai tanggapan, gagasan krisis ekologis menjadi alat komunisme ketika para sarjana Kiri menemukan bahwa Marxisme dapat menjadi dasar teoritis untuk environmentalisme, sehingga meradikalisasi gerakan dan pandangan dunia ahli lingkungan hidup.

Share

Video Popular