a. Sejarah Singkat ‘Konsensus’ dalam Ilmu Iklim

Pada tahun 1988, the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim didirikan. Salah satu misinya yang penting adalah untuk mengevaluasi penelitian ilmiah yang ada setiap lima tahun dan mengeluarkan pernyataan otoritatif mengenai perubahan iklim. Hal tersebut seharusnya membangun konsensus ilmiah mengenai isu-isu iklim dan memberikan dasar ilmiah untuk pembuatan kebijakan.[37]

Laporan IPCC mengenai Perubahan Iklim sering mencakup daftar ribuan penulis pertama, penulis bersama, dan pengulas. Oleh karena itu kesimpulan dalam laporan IPCC sering digambarkan sebagai konsensus dari ribuan ilmuwan top dunia.

Pada tahun 1992, the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk mencapai stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang akan mencegah interferensi antropogenik yang bahaya pada sistem iklim. Orang harus mencatat bahwa sudah diasumsikan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia dan berbahaya.

Kemudian, IPCC ditugaskan mengidentifikasi “pengaruh manusia terhadap iklim” dan “dampak lingkungan dan sosial-ekonomi yang berbahaya dari perubahan iklim.” [38] Asumsi UNFCC bahwa manusia adalah penyebab perubahan iklim berbahaya telah membatasi ruang lingkup apa yang harus diidentifikasi oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim. Juga, jika perubahan iklim tidak berbahaya atau tidak disebabkan semata-mata oleh industri, maka pembuatan kebijakan tidak akan diperlukan, dan tidak akan ada alasan untuk keberadaan IPCC. Konflik kepentingan semacam itu juga telah membatasi fokus penyelidikan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim. [39]

Laporan IPCC  Menghapus Pernyataan yang Tidak Pasti

Tepat sebelum Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim merilis Laporan Penilaian Kedua pada tahun 1995, Frederick Seitz, seorang ahli fisika terkenal di dunia, mantan presiden Akademi Sains Nasional, dan presiden Universitas Rockefeller di New York, memperoleh salinan laporan tersebut. Frederick Seitz kemudian menemukan bahwa sebagian besar isi laporan tersebut diubah setelah lulus tinjauan ilmiah dan sebelum dikirim untuk dicetak. Semua ketidakpastian mengenai aktivitas manusia yang mempengaruhi perubahan iklim telah dihapus.

Artikel Frederick Seitz di The Wall Street Journal menyatakan: “Selama lebih dari 60 tahun saya sebagai anggota komunitas ilmiah Amerika Serikat, …Saya tidak pernah menyaksikan korupsi proses tinjauan para rekan yang lebih mengganggu daripada peristiwa yang mengarah pada laporan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim ini.”[40]

Pernyataan yang dihapus mencakup sebagai berikut: [41]

“Tidak ada penelitian yang dikutip di atas yang menunjukkan bukti jelas bahwa kita dapat menghubungkan perubahan iklim yang diamati dengan penyebab spesifik peningkatan gas rumah kaca.”

“Tidak ada penelitian sampai saat ini yang secara positif menghubungkan semua atau sebagian [dari perubahan iklim yang diamati sampai saat ini] dengan penyebab [buatan manusia] antropogenik.”

“Setiap klaim deteksi positif perubahan iklim yang bermakna cenderung tetap kontroversial sampai ketidakpastian dalam total variabilitas alami dari sistem iklim berkurang.”

Meskipun kemudian IPCC mengklaim bahwa semua modifikasi disetujui oleh penulis, perubahan tersebut mengungkapkan bagaimana pelaporan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim dipengaruhi oleh politik. Laporan evaluasi tidak mengandung penelitian asli, tetapi sebagian besar merangkum penelitian yang ada. Karena penelitian yang ada mengandung begitu banyak pandangan yang berbeda, untuk “mencapai konsensus,” sebagaimana ditetapkan untuk dilakukan, Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim menyingkirkan pandangan yang berlawanan.

Pada bulan April 2000, Laporan Penilaian Ketiga IPCC menyatakan dalam drafnya, “Ada pengaruh manusia yang nyata terhadap iklim global.” Versi yang diterbitkan pada bulan Oktober tahun yang sama mengatakan: “Kemungkinan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca antropogenik telah berkontribusi secara bermakna terhadap pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir.” Dalam kesimpulan resmi akhir, pernyataan itu bahkan lebih kuat: “Sebagian besar pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir kemungkinan disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca.”

Ketika juru bicara Program Lingkungan PBB, Tim Higham, ditanya mengenai dasar ilmiah dari perubahan retorika tersebut, jawabannya adalah jujur: “Tidak ada sains baru, tetapi para ilmuwan ingin menyampaikan pesan yang jelas dan kuat kepada pembuat kebijakan.” [42 ]

Dengan kata lain, Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim memberikan tugas pekerjaan rumah untuk Panel IPCC, membuat jawaban yang mereka inginkan adalah jelas. Panel IPCC kemudian mengirimkan apa yang diperlukan.

Laporan IPCC Terlalu Menekankan ‘Konsensus Bencana’

Paul Reiter, seorang profesor di Institut Pasteur di Perancis, adalah seorang ahli terkemuka mengenai malaria dan penyakit yang ditularkan serangga lainnya. Ia tidak setuju dengan laporan IPCC, dan harus mengancam untuk memulai gugatan terhadap Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim untuk menghapus namanya dari daftar dua ribu ilmuwan teratas yang dikatakan telah mendukung laporan tersebut. Ia mengatakan bahwa IPCC “membuat seolah-olah semua ilmuwan top setuju, tetapi itu adalah tidak benar.” [43]

Dalam kesaksiannya kepada Senat Amerika Serikat pada tanggal 25 April 2006, Paul Reiter mengatakan: “Aspek yang menyakitkan dari debat ini adalah bahwa ‘sains’ palsu ini disahkan di forum masyarakat oleh panel-panel berpengaruh dari ‘para ahli.’ Saya merujuk terutama pada IPCC. Setiap lima tahun, organisasi yang berbasis di Amerika Serikat ini menerbitkan ‘konsensus para ilmuwan top dunia’ pada semua aspek perubahan iklim. Terlepas dari proses yang meragukan di mana para ilmuwan ini dipilih, konsensus semacam itu adalah masalah politik, bukan masalah sains. ”[44] Para pencinta lingkungan hidup telah mempromosikan gagasan bahwa penyakit yang ditularkan serangga seperti malaria akan mendatangkan malapetaka saat pemanasan iklim berlanjut, yang juga merupakan argumen utama IPCC. Seperti yang dinyatakan Bloomberg pada tanggal 27 November 2007, “Pemanasan global akan membuat jutaan orang lebih berisiko terkena malaria dan demam berdarah, menurut sebuah laporan PBB yang menyerukan peninjauan mendesak terhadap bahaya kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.” [45] Tetapi Paul Reiter tidak mengakui korelasi sederhana ini antara pemanasan iklim dengan penyebaran penyakit menular.

Paul Reiter menunjukkan bahwa malaria tidak terbatas pada daerah tropis. Wabah besar malaria terjadi di bekas Uni Soviet pada tahun 1920-an, dan satu lagi di kota Archangel (Arkhangelsk) dekat Lingkaran Arktik, di mana ada tiga puluh ribu kasus malaria yang menyebabkan sepuluh ribu kematian.[46] Menurut laporan tahun 2011 di Nature, para ilmuwan menemukan bahwa, berlawanan dengan asumsi sebelumnya, penularan malaria dari nyamuk melambat seiring meningkatnya suhu. [47] Laporan ini menegaskan pendapat Paul Reiter.

Pengunduran diri ilmuwan lain dari IPCC juga menunjukkan IPCC telah menggunakan dugaan “konsensus bencana” sebagai bagian dari kebudayaan operasionalnya.
Christopher Landsea, seorang peneliti badai di Administrasi Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat dan salah satu penulis utama laporan penilaian keempat IPCC, mengundurkan diri dari IPCC pada bulan Januari 2005. Dalam sebuah surat terbuka, ia menyatakan, “Saya secara pribadi tidak dapat dengan itikad baik melanjutkan untuk berkontribusi pada proses yang saya anggap termotivasi oleh agenda yang sudah terbentuk sebelumnya dan tidak ilmiah secara ilmiah.” Ia mendesak IPCC untuk memastikan bahwa laporan tersebut akan menganut ilmu pengetahuan daripada sensasionalisme.[48]

Christopher Landsea tidak setuju dengan penulis utama laporan IPCC mengenai hubungan antara badai dengan perubahan iklim. Penulis utama IPCC (yang bukan ahli dalam penelitian badai) menekankan bahwa pemanasan iklim akan menyebabkan badai yang lebih hebat, tanpa data faktual yang kuat untuk mendukung klaimnya. Christopher Landsea menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa catatan sejarah tidak dapat membuktikan korelasi semacam itu; secara teoritis, bahkan jika ada korelasi, maka korelasi tersebut adalah tidak bermakna dan dapat diabaikan.

David Deming, seorang ahli geologi dan geofisika di Universitas Oklahoma, memperoleh data suhu 150 tahun silam untuk Amerika Utara dengan mempelajari inti es, dan menerbitkan artikel penelitiannya di Science. Pendukung konsensus kemudian menganggap David Deming sebagai orang yang menerangkan konsensus. Dalam sidang Senat Amerika Serikat, David Deming mengatakan bahwa penulis utama IPCC mengiriminya email yang mengatakan, “Kita harus menyingkirkan periode hangat abad pertengahan.” [49] Periode hangat abad pertengahan mengacu pada pemanasan iklim di wilayah Atlantik Utara antara sekitar tahun 950 hingga 1150 Masehi. Menghapus periode ini dalam kurva historis perubahan iklim akan memperkuat klaim bahwa pemanasan hari ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ada banyak insiden seperti itu. Dalam bukunya Red Hot Lies, How Global Warming Alarmists Use Threats, Fraud, and Deception to Keep You Misinformed atau Kebohongan Komunis, Bagaimana Pemanasan Global Memperingati Para Pemerhati dengan Menggunakan Ancaman, Kecurangan, dan Penipuan untuk Membuat Anda Misinformasi, Christopher C. Horner, seorang peneliti senior Amerika Serikat di Competitive Enterprise Institute, mendaftarkan banyak penulis IPCC asli yang menentang kesimpulan dan operasinya yang dipolitisasi oleh Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim. [50] Mereka telah mengajukan pertanyaan yang wajar dengan data pendukung dan telah menantang apa yang disebut konsensus IPCC. Namun, dalam lingkungan akademik dan media saat ini, suara mereka telah diabaikan.

Share

Video Popular