Erabaru.net. Brian Goldner, CEO dari produsen mainan terkenal, Hasbro, pada Selasa 27 Agustus lalu mengatakan, kepindahan perusahaan dari Tiongkok bermanfaat bagi perusahaan. Soal permintaan Trump agar perusahaan-perusahaan AS meninggalkan Tiongkok, Hasbro mengatakan pemindahan itu tidak sulit untuk diikuti.

Saat  wawancara dengan CNBC, Goldner berkata : Pada akhir 2020 mendatang, pihaknya melihat peluang. Di antara produk mainan anak-anak yang dijual untuk pasar AS, sebagian produk yang diproduksi di Tiongkok akan turun sekitar 50% atau lebih. Ia percaya pada 2023 mendatang, produksinya akan mencapai sepertiganya.

Goldner mengatakan, proses pengalihan rantai pasokan berjalan sangat lancar. Dia juga mengatakan bahwa perusahaan mainan telah fokus pada diversifikasi operasi manufaktur sejak 2012 karena “alasan risiko perusahaan.” Goldner mengungkapkan, melihat peluang besar di Vietnam, India, Meksiko dan wilayah lain. Selain itu, bakal memproduksi lebih banyak di AS. Hal demikian disampaikan Goldner dalam program “Squawk on the Street” CNBC.

Saat ini sengketa perdagangan AS-Tiongkok semakin meningkat selama sebulan terakhir. Trump mengatakan dalam cuitannya, agar perusahaan-perusahaan besar Amerika yang hebat untuk segera mulai mencari lokasi produksi sebagai pengganti Tiongkok, termasuk membawa pulang perusahaan  dan membuat produk di AS. 

Menurut Goldner, meskipun perusahaan tidak memiliki pabrik di mana pun di dunia. Di AS, pihaknya menghasilkan sekitar 20% dari pendapatan mereka untuk bisnis AS. Bagi Hasbro secara global, ini sekitar dua pertiga dari bisnis mereka yang keluar dari Tiongkok. Akan tetapi turun secara substansial dari hampir 90 persen pada tahun 2012. 

Hasbro yakin bahwa ia akan dapat menarik sebagian besar bisnisnya dari Tiongkok dalam waktu dekat. Mainan termasuk dalam daftar kenaikan tarif atas produk Tiongkok senilai $ 300 miliar. Tarif 10% yang semula akan dikenakan pada 1 September, kemudian oleh Presiden Trump kenaikan Tarif atas barang-barang Tiongkok senilai 160 miliar dolar AS, termasuk mainan, ditunda hingga 15 Desember 2019. Goldner mengungkapkan, sangat senang melihat bahwa pemerintah telah menunda kenaikan tarif pada kategori mainan sampai lebih dekat dengan liburan natal.

Dalam mengatasi dampak tarif pada konsumen, ia mengatakan bahwa Hasbro akan menanggung biaya ini. “Kami sedang melakukan percakapan dengan pengecer kami, dan tentu saja kami akan meneruskan biaya-biaya itu,” katanya.

Pada KTT G7 di Prancis, Trump pada Senhin (26/8), mengatakan dalam konferensi pers bersama Presiden Prancis Emanuel Macron : “Dalam beberapa bulan terakhir, kenaikan tarif telah memberi dampak besar pada komunis Tiongkok. Trump mengatakan, mereka telah kehilangan 3 juta pekerjaan. Dan akan segera menjadi lebih dari 3 juta. Sedangkan, rantai pasokan mereka runtuh, saat rantai pasokan yang terputus, tidak ada yang pernah melihatnya sebelumnya. Trump menegaskan, Ketika situasi itu terjadi, akan sangat sulit untuk pulih kembali. 

Dalam artikel yang di surat kabar the Epoch Times, Cheng Xiaonong, sarjana ekonomi-politik dan Doktor ilmu sosial di Princeton University, New Jersey, AS, mengatakan, bahwa jika konfrontasi ekonomi Tiongkok-AS terbentuk, perusahaan multinasional di Tiongkok atau yang telah melakukan pemesanan jangka panjang di Tiongkok mau tidak mau harus menghindari risiko. Di satu sisi mengalihkan sebagian pesanan, sambil mulai membangun jalur pasokan baru di negara lain, dan tentu saja membutuhkan waktu proses.

Robert Atkinson, presiden Yayasan Teknologi dan Inovasi Informasi AS, kepada VOA mengatakan, bahwa pemerintah komunis Tiongkok tidak punya pilihan yang lebih baik untuk menyelesaikan pemindahan perusahaan asing, selain mencapai kesepakatan dagang dengan AS sesegera mungkin. 

Dia mengatakan, Apa yang dapat  Tiongkok lakukan sekarang adalah seoerti menghentikan pendarahan. Tiongkok tidak dapat meminta Perusahaan untuk kembali lagi ke Tiongkok. Hal ini tidak akan terjadi. Jika Tiongkok setuju mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat, proses ini mungkin akan melambat. 

Namun, Tiongkok dinilai sulit untuk memulihkannya. Pasalnya, pihak  perusahaan multinasional akan selalu merasa agak ragu dengan produksi mereka di Tiongkok, karena ternyata produksi mereka di Tiongkok tidak aman seperti yang diperkirakan.  (jon)

Share

Video Popular